
Lisa berlari ke kelas sambil mengusap sisa-sisa air mata di pipinya. Namun ia sama sekali tidak menemukan kedua sahabatnya disana.
"Nay lo liat Elisya gak?..."tanya Lisa pada teman sekelasnya.
"Dia tadi pingsan Lis, terus dibawa ke UKS sama ketua kelas, sama ka Bella juga..."jawab Nayla.
Lisa kaget bukan main, Elisya pingsan? Ada apa dengannya. Dengan perasaan tidak karuan, Lisa berlari cepat menuju UKS.
"Bella, Elisya kenapa?..."tanya Lisa khawatir saat melihat wajah pucat pasi Elisya yang terbaring lemah diatas brankar UKS.
Bella pun tak kalah khawatir nya, ia bahkan mondar-mandir sedari tadi karena panik.
"Gue gak tau Lis, tadi dia ngeluh pusing sama gue. Terus gak lama setelah itu dia malah pingsan..."kata Bella khawatir.
"Kita bawa kerumah sakit sekarang aja. Gue takut terjadi apa-apa sama Elisya..."saran Lisa.
"Bentar gue telpon Sam dulu. Biar kita barengan kesana, tolong lo minta izin dulu ke guru biar kita bisa pergi ke rumah sakit..."ucap Bella. Hubungan antara Lisa dengan Sam memang sedang tidak baik-baik saja. Namun, Lisa lebih mengutamakan keselamatan Elisya dibanding urusan apapun.
Lisa berlari keluar menyetujui saran yang diberikan Bella. Bella pun langsung menghubungi Sam.
"Sam lo bisa ke UKS sekarang gak? ini Elisya pingsan. Kita mau bawa Elisya kerumah sakit..."ucap Bella khawatir.
"Oke gue kesana sekarang..."jawab Sam di seberang telpon sana.
Bella mengelus pelan rambut Elisya.
"Sya, lo kenapa sih. Lo bikin kita semua takut Sya, bangun dong Sya..."keluh Bella sambil terus menatap wajah pucat Elisya. Namun tak ada pergerakan sama sekali. Kesadaran Elisya belum juga kembali.
Tiba-tiba pintu UKS terbuka dengan kasar. Sam terlihat ngos-ngosan karena berlari cepat menuju UKS.
"Kita bawa sekarang..."ucap Sam lalu membopong tubuh Elisya berjalan menuju parkiran sekolah.
Lisa juga baru saja datang sambil membawa tas mereka. Baru saja ia mau masuk ke UKS Sam sudah berlari kecil keluar sambil membopong tubuh Elisya didekapannya.
"Buruan Lis, kita kerumah sakit sekarang..."ajak Bella sambil menarik sebelah tangan Lisa.
Sam meletakkan tubuh Elisya di mobilnya, tak lupa juga memasangkan sabuk pengaman untuk Elisya. Disusul Bella dan juga Lisa yang duduk dikursi belakang.
Sam nampak terburu-buru dalam menjalankan mobilnya. Sam memukul setir mobil nya berkali-kali saat mobilnya berhenti karena lampu merah.
"Sial..."lirih Sam geram. Ini hanya memperlambat perjalanan mereka.
"Sabar Sam, gue tau lo khawatir, kita juga khawatir. Tapi jangan gini juga..."keluh Bella.
__ADS_1
Sedangkan Lisa ia hanya diam saja, pikirannya hanya tertuju pada Elisya.
Setelah beberapa menit setelahnya akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Sam dengan cepat membopong tubuh Elisya dan meletakkan tubuh Elisya di atas brankar yang sudah disediakan suster.
Mereka bertiga mendorong brankar Elisya dengan cepat memasuki ruangan untuk diperiksa.
"Maaf kalian bisa tunggu diluar, dokter akan segera memeriksa keadaan pasien..."ucap seorang suster kepada Sam yang memaksa ingin masuk.
Bella menarik lengan Sam cukup keras. "Stop Sam, lo gila ya. Gue tau lo khawatir, sama gue sama Lisa juga khawatir. Tapi gak gini Sam. Lo bisa tenang gak sih..."emosi Bella.
Lisa tersenyum miris, begitu terlihat jelas Sam sangat mengkhawatirkan Elisya.
"Kalau gue yang ada didalam ruangan sana, apa kak Sam akan sekhawatir ini. Atau mungkin gak peduli..."gumam Lisa dalam hati.
Hampir 15 menit berlalu. Dokter wanita yang sedari tadi menangani Elisya sudah keluar.
"Gimana keadaan teman saya dok..."tanya Bella.
"Syukurlah tidak ada penyakit serius pada pasien. Pasien hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Kami sudah memberikan vitamin untuk pasien agar tubuhnya kembali sehat. Teman kalian sudah sadar, silahkan jika ingin menjenguk. Saya permisi dulu..."pamit sang dokter lalu berjalan meninggalkan ruangan Elisya.
Sam menghela nafas lega saat mendengar adik kecilnya baik-baik saja. Mereka bertiga masuk bersamaan keruangan Elisya.
Elisya tersenyum melihat kekhawatiran ketiga sahabatnya. Sungguh ia benar-benar bahagia memiliki mereka.
"Gue takut banget tadi..."ucap Lisa pelan.
"Sya, hey kamu baik-baik aja kan?..."tanya Sam sambil menggenggam erat telapak tangan Elisya.
"Lo mau apa, minum? Ada yang sakit gak?..."tanya Bella.
Elisya tersenyum senang, Tuhan benar-benar baik padanya. Menghadirkan orang-orang yang tulus menyayangi nya.
"Gue baik-baik aja kok..."jawab Elisya pelan.
Tiba-tiba telpon Lisa berdering. Lisa mengambil telpon dalam tasnya. Disana tertera nama Tante Revina.
"Sya mama lo telpon gue..."ucap Lisa senang.
"Angkat, tapi jangan bilang kalau gue disini. Gue gak mau mama khawatir..."lirih Elisya pelan.
"Hallo tante, apa kabar..."tanya Lisa.
"Tante baik sayang. Kamu gimana? Oh iya tante tadinya mau nelpon Elisya, eh telponnya ternyata gak aktif. Jadi tante khawatir ada apa-apa sama kalian..."
__ADS_1
"Lisa baik tante, ini Elisya juga baik-baik aja kok. Tante mau ngomong sama Elisya gak?..."bohong Lisa saat mengatakan Elisya baik-baik saja.
"Oh boleh kalau gitu..."
"Nih Sya, mama lo mau ngomong..."ucap Lisa lalu menyodorkan telponnya pada Elisya.
Dengan senang hati Elisya menerimanya.
"Hallo mah, ini Elisya. Maaf ya mah gak akan telpon mamah. Soalnya telpon Elisya lupa di charger..."ucap Elisya pelan.
"Iya gak papa sayang, hari ini mamah sama papah mau pulang. Kamu jaga diri baik-baik ya sayang...."
Elisya tersenyum senang.
"Hati-hati ya mah, Elisya tunggu..."ucap Elisya.
Panggilan pun berakhir, namun senyuman manis Elisya belum juga berakhir.
"Mamah papah mau pulang Lis..."ucap Elisya senang.
"Syukurlah gue ikut senang juga. Makanya lo harus cepat sehat biar orang tua lo gak sedih..."saran Lisa.
"Gue mau beresin masalah administrasi dulu ya, biar bisa pulang..."pamit Sam.
"Pakai uang Elisya aja kak, di tas Elisya ada black card..."lirih Elisya pelan.
Mata Bella melotot mendengar kata black card. Hanya orang bodoh yang tidak tau seberapa kaya pemilik black card itu.
"What black card?..."kaget Bella.
Sedangkan Lisa hanya menyenggol tangan Elisya. Lisa tentu sudah tau siapa Elisya ini. namun tidak dengan Bella.
"Lo punya black card Sya?..."tanya Sam heran.
"E-engga, tadi sa-salah ngomong aja. maksud aku ATM..."ucap Elisya terbata-bata menahan gugup.
"Ia bener, Elisya kalau bercanda emang suka gitu..."ucap Lisa berusaha membela Elisya.
"Ohh kirain, gue kira beneran tau..."jawab Bella.
Huft Elisya menghela nafas lega. Hampir saja jati dirinya terbongkar. Ia memang akan memberitahukan tentang dirinya, namun tidak sekarang.
"Yaudah pakai uang gue aja. sekalian mau tebus obat di UKS. Kalian ngobrol-ngobrol dulu aja..."pamit Sam lalu keluar dari ruangan itu.
__ADS_1