Elisya

Elisya
63


__ADS_3

Akhirnya author up lagi ni readers 🤗


Jangan lupa spam Like, Komen yang banyak dan Vote juga ya🥺


Author sedih karena yang mampir banyak tapi gak like, gak komen juga. Tolong like dan Komen ya guys biar author semangat ngetiknya.


Udah itu dulu deh. HAPPY READING 😍


____


Ketiga sahabat itu sudah beres berganti pakaian, mereka bertiga melangkahkan kakinya menuju lapangan.


Baru saja sampai lapangan Elisya sudah disambut dengan pemandangan yang begitu memilukan. Kelas Vano yang memang berada dekat dengan lapangan menampilkan jelas adegan Vano yang dengan telaten menyuapi Angel sarapan. Bahkan Vano tak pernah memperlakukan nya sespesial itu. Hatinya berdesir merasakan sesak yang teramat sangat.


Elisya tak kuat lagi, ia harus memberitahukan Vano tentang kebenaran ini. Ia berlari menyusul Vano yang tengah duduk disamping Angel. Membuat Bella dan Lisa kaget.


"Sya mau kemana lo..."teriak Bella.


Elisya tetap melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan panggilan Bella.


Akhirnya Bella dan Lisa bergegas mengikuti Elisya.


Elisya menarik tangan Vano untuk berdiri hingga membuat makanan yang ada ditangan Vano tumpah berserakan di lantai.


Vano dan Angel sontak berdiri karena kaget.


"Lo apa-apaan sih, dateng-dateng malah numpahin makanan Angel, dia belum makan ya asal lo tau. Punya otak kan lo? Mikir bego!..."


"Aku ini pacar kamu Vano, harusnya kamu ada disamping aku bukan dia..."bentak Elisya.


"Ngapain sih hah, mau cari muka lo sama gue, kemana cowok yang lo peluk-peluk kemarin hah, gatel banget jadi cewek..."ketus Vano.


Angel tersenyum senang mendengar penuturan Vano, "Jadi cewe mahalan dikit dong, kasian Vano harus dapet cewek gatel kayak lo..."ucap Angel lancang.


Elisya pikir Vano akan membelanya karena Angel telah menghinanya, lagi-lagi ia harus mengubur harapannya itu dalam-dalam. Karena yang terjadi sekarang Vano hanya diam menatapnya tanpa ada satu kata pembelaan pun keluar dari mulutnya.


"Brengsek lo ya, terus apa bedanya sama lo gatel ke cowok orang hah. Dasar ******. Jijik gue sama lo..."tukas Bella.

__ADS_1


Angel menggeram marah, "Diam ya lo, gak usah ikut campur. Kenapa hah? Iri lo sama gue? Takut tersaingi gitu?..."ejek Angel.


"Gak level banget kita bersaing sama perebut pacar orang kaya lo, rendah banget..."ucap Lisa angkat suara.


Elisya menghela nafasnya berkali-kali, menetralkan rasa sakit yang menyeruak dihatinya. Ia mengutak-atik telpon ditangannya lalu menyodorkan nya kearah Vano.


"Aku punya bukti kalau Angel cuman pura-pura sakit kak, kakak liat deh..."ucap Elisya.


Bukannya menerima nya Vano malah menepis tangan Elisya sangat keras hingga telpon Elisya retak dan berserakan dilantai bercampur dengan makanan yang tadinya juga tumpah.


Tangan Elisya bergetar, ia kaget dengan perlakuan Vano.


"Berhenti nuduh Angel yang nggak-nggak. Lo apa-apaan sih. Kalau lo gak suka sama Angel, gak gini caranya. Jangan fitnah orang Elisya..."bentak Vano keras.


Elisya memekik saat suara keras Vano menyeruak memasuki rongga telinganya.


"T-tapi itu buktinya kak..."ucap Elisya dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Omong kosong, kebohongan apalagi yang lo lakuin, kemarin lo udah nampar Angel, sekarang lo pengen fitnah dia lagi..."bentak Vano lagi.


"Lo keterlaluan Vano, gak punya hati. Lo punya otak mikir, lo pinter kan? Masa gak bisa bedain sama yang berhati malaikat mana yang berhati iblis kaya Angel..."tunjuk Lisa emosi.


"Jaga ya mulut lo, berani-berani nya lo hina gue kaya gitu..."ucap Angel yang tersulut emosi.


"Berisik, bawa teman kalian ini pergi dari hadapan gue, bilangin jadi cewek jangan gatel..."ucap Vano menatap sinis kearah Elisya.


"Kalau lo berani gangguin Angel lagi, gue gak akan segan-segan bertindak kasar sama kalian..."ucap Vano lantang.


Setelah mengatakan itu Vano melenggang pergi diikuti Angel yang bergelayut manja ditangan Vano.


"Mampus lo..."ledek Angel.


"Lo bakalan nyesel Vano, dan disaat lo nyesel, semuanya udah gak bisa diperbaiki lagi..."teriak Bella.


Namun Vano seperti menulikan pendengaran nya, jangankan merespon, menoleh kebelakang pun ia enggan.


Bella dan Lisa menatap khawatir ke arah Elisya. Mungkin gadis itu sudah menangis karena mendapat kata-kata kasar dan bentakan keras dari Vano. Namun nyatanya tidak, Elisya malah tersenyum, pandangan nya terlihat kosong. Ia hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

__ADS_1


"Sya, lo gak papa kan?..."tanya Bella khawatir karena Elisya mendadak bungkam tanpa menangis sedikit pun.


"Sya nangis aja gak papa ko..."sambung Lisa lagi.


Demi Tuhan, Bella ingin Elisya yang selalu menangis setiap kali bertengkar dengan Vano, bukan Elisya yang diam seperti ini. Raganya disamping mereka tapi pikirannya sepertinya tidak. Dia seperti wanita yang mati rasa. Tersenyum dengan pandangan yang sulit diartikan.


Ia melangkahkan kakinya kembali kelapangan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.


Hati Elisya memang sakit, namun rasanya sakit itu tak berarti lagi untuknya. Ia lelah dengan semua ini. Bolehkah Elisya menyerah sekarang Tuhan? Ia lelah dengan semuanya!


Elisya pernah berdoa meminta agar diberikan kebahagiaan, dan Tuhan menjawabnya lewat Vano. Namun Elisya lupa meminta agar diberikan kebahagiaan itu selamanya, bukan hanya sebentar.


Jam olahraga sudah dimulai sedari tadi, bahkan mereka melakukan pemanasan dan beberapa gerakan lainnya. Sampai jam olahraga berakhir Elisya sama sekali tak berbicara ia hanya diam dengan tatapan kosong.


Bella dan Lisa menuntun Elisya ke kantin. Tak ada penolakan dari gadis itu. Ia hanya diam sambil melangkahkan kakinya ke kantin.


"Gue pesenin makanan ya..."ucap Bella.


Elisya hanya tersenyum lalu mengangguk,


"Lis jangan Elisya dulu ya, gue pesenin makanan..."ucap Bella.


"Ia Bel, tenang aja..."jawab Lisa cepat.


Tersisalah Elisya dan Lisa. "Gue tau lo sedih Sya, gue udah temenan sama lo dari kecil. Lo bahkan tau seberapa besar duka yang udah gue lalui. Gue sakit ngeliat lo kaya gini Sya, ngomong sama gue! Lampiasin rasa sakit lo ke gue! Lo boleh teriak sekencang-kencangnya, lo boleh marahin gue, lo boleh nangis. Tapi please! Gue mohon jangan diam kaya gini..."lirih Lisa sendu.


Elisya lagi-lagi tersenyum namun kali ini ia angkat suara saat melihat kekhawatiran yang teramat sangat dari wajah Lisa. "Gue baik-baik aja..."jawab Elisya sekenanya.


Lisa mengusap air mata yang membasahi pipinya, entah kenapa hatinya terasa sakit melihat Elisya diperlakukan seperti itu oleh Vano. Elisya yang memiliki hati sebaik malaikat, sahabat yang selalu ada untuknya, sahabat yang ada disaat suka maupun duka. Bagaimana bisa Lisa melakukan kesalahan sebesar itu pada Elisya. Ia menyesal setengah mati.


Jika boleh Lisa ingin semua rasa sakit Elisya digantikan oleh dirinya. Kenapa harus wanita sebaik Elisya yang disakiti? Kenapa bukan dirinya saja.


"Andai aja gue bisa gantiin posisi lo Sya, kenapa harus cewek sebaik lo yang disakitin sama Vano, kenapa gak gue aja yang dibentak sama Vano kaya tadi..."ucap Lisa dengan air mata yang mengalir dipipinya.


Elisya menangkup kedua pipi Lisa dengan kedua telapak tangannya. Ia tersenyum lalu menghapus pelan air mata Lisa. Ia mengerti kekhawatiran yang dirasakan sahabatnya ini. "Gue baik-baik aja, Believe me, please..."ucap Elisya yakin.


Lisa mengangguk lalu menghapus air matanya pelan. Mencoba senyuman termanisnya, ia senang Elisya masih ada disamping. Ya Elisya, salah satu semangat ia menjalani hidup setelah neneknya. Karena jika Elisya tidak datang ke kehidupan Lisa, mungkin saja Lisa sudah mengakhiri hidupnya sedari dulu. Saking beratnya beban yang harus ia tanggung. Namun, Tuhan dengan baiknya mengirimkan wanita sebaik Elisya untuk menyelamatkan hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2