Elisya

Elisya
60


__ADS_3

Elisya terus menyuap makanan kemulutnya hingga suapan terakhir. Ia meminum air dalam botol pelan. Matanya menatap kearah jendela rumah sakit. Entah kenapa hatinya terasa sesak. Semakin kesini hubungannya dengan Vano semakin tidak jelas. Untuk memutuskan Vano! Apakah ia sanggup melakukan itu? Lalu bagaimana dengan hatinya yang tidak baik-baik saja sekarang? Huft memikirkan nya saja sudah membuat kepalanya pusing.


Sam tiba-tiba masuk kedalam ruangan Lisa. Ia duduk tepat disamping Elisya.


"Jangan sedih, kaka nggak suka..."ucapnya yang seolah mengerti perasaan gadis disebelah nya itu.


Elisya membereskan bekas makannya lalu mulai memaksakan senyumannya, "Elisya nggak papa ka..."lirihnya pelan.


"Jangan pura-pura dihadapan aku Sya, aku tau kamu. Stop berpura-pura kalau kamu baik-baik aja. Sesekali kamu berhak ngeluh, wajar kalau manusia itu ngerasa cape..."jelas Sam.


Sam merengkuh tubuh Elisya dalam pelukannya. Memberikan ketenangan pada Elisya. Elisya hanya membalas pelukannya itu. Memang benar saja, pelukan itu sangat ia butuhkan sekarang.


"Elisya capek kak, kenapa hubungan Elisya jadi gini..."keluhnya pelan.


Sam mengelus puncak kepala Elisya penuh kasih sayang. Layaknya seorang kakak yang selalu menjaga adiknya.


"Ngeluh aja Sya, gak perlu pura-pura kuat didepan kaka, sesekali kamu harus meluapkan semua rasa sesak kamu Sya..."ucap Sam menenangkan.


Elisya tersenyum lalu semakin mempererat pelukannya. "Elisya sayang sama kak Sam..."lirihnya pelan.


Sam tersenyum, "Iya kaka sayang Elisya juga..."balas Sam.


Tanpa mereka sadari Lisa sedari tadi sudah bangun dan memperhatikan kedua insan yang tengah berpelukan itu. Kenapa ia merasa sedikit sesak? Ada apa dengannya? Oh sudah cukup, ia tak boleh mengulangi kesalahan yang sama lagi pada Elisya. Mungkin ini hanya perasaan nya saja. Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan membuang berbagai macam pikiran buruk yang menyerangnya.

__ADS_1


Sam mulai melerai pelukannya bersamaan dengan Revina dan Ferly yang memasuki ruangan dengan wajah panik.


"Mamah..."panggil Elisya lalu bangkit menghambur pelukan kepada sang ibu.


"Sayang kamu nggak papa? Udah makan?..."tanya Revina khawatir.


Elisya mengangguk pelan. "Udah mah, ada Sam juga yang jagain Elisya..."lerai Ferly.


Revina dan yang lainnya pun berjalan mendekati brankar Lisa. Revina mengelus pelan kepala Lisa.


"Cepat sembuh ya sayang. Gak boleh banyak pikiran. Semuanya ada jalan keluarnya. Jangan menyerah..."pesan Revina.


Mata Lisa nampak berbinar-binar, setelah kepergian kedua orang tuanya. Hal ini lah yang paling ia rindukan. Kehangatan dari seorang ibu. Itu ia dapatkan dari Revina.


Lisa meneteskan air matanya terharu, "Lisa boleh peluk tante gak?..."lirihnya pelan.


Lisa menangis terisak-isak. Ia sangat bersyukur bisa mengenal keluarga Elisya yang begitu sangat baik padanya dan keluarganya. Jika mereka tidak ada entah apa yang terjadi pada hidup Lisa sekarang. Mungkin saja sudah sedari lama ia mengakhiri hidupnya yang menyakitkan ini.


"Hiks, makasih tante. Keluarga tante baik banget sama Lisa. Lisa bingung harus bales kebaikan tante gimana lagi?..."lirih Lisa disela isakannya.


Revina tersenyum tulus, "Tante udah anggap kamu kaya anak tante sendiri, jangan sungkan sama tante ya sayang..."lirih Revina lagi.


"Sama om juga, om gak mau kalah. Om juga udah anggap kamu kaya anak om sendiri..."ucap Ferly tak mau kalah. Tawa pecah dalam ruangan itu. Begitupun dengan Sam yang ikut senang melihat keadaan Lisa yang sudah mulai membaik.

__ADS_1


🕓🕓🕓


Setelah perbincangan yang cukup panjang Revina dan Ferly memutuskan untuk pulang. Dengan Elisya dan Sam yang menginap menemani Lisa dirumah sakit. Dokter bilang besok Lisa sudah bisa beraktivitas kembali dengan saran agar rutin berkonsultasi dengan dokter psikologi. Tentu semua saran itu disetujui oleh Elisya dan orang tuanya. Elisya berjanji akan membawa Lisa ke dokter psikologi terbaik.


"Sayang mamah sama papa pulang dulu ya, Sam tolong jaga Elisya sama Lisa ya..."pesan Revina.


"Siap tante..."jawab Sam cepat.


"Om percayakan semuanya sama kamu..."ucap Ferly sambil menepuk-nepuk pelan bahu Sam.


Mereka berdua pun keluar meninggalkan ruangan Lisa.


"Lis lo istirahat dulu. Biar cepet pulih..."ucap Sam.


Lisa mengangguk dan mulai merapikan selimut nya sendiri. Perlahan mulai memejamkan matanya.


Sam meraih pergelangan tangan Elisya. Elisya hanya menurut saja. Ternyata Sam menuntunnya duduk disofa.


"Tiduran dipaha kaka Sya, besok sekolah nanti capek..."pesan Sam.


Elisya menggeleng pelan, "Jangan dong kak, nanti kaka tidurnya gimana? Kalau kaka pegal gimana?..."tanya Elisya khawatir.


Sam terkekeh kecil, "Kaka bisa tidur sambil sandaran disofa ko, udah ayo buruan..."ucap Sam.

__ADS_1


Sam melepaskan jaketnya. Elisya hanya menurut saja, ia berbaring tepat di atas paha Sam. Sam meletakkan jaketnya tepat diatas tubuh Elisya, menyelimuti gadis itu agar tak kedinginanan. Lalu mulai menyandarkan kepalanya untuk segera tidur.


Lisa menyaksikan semua itu. Ia memang belum bisa tidur. "Seberuntung itu hidup lo Sya. Sesayang itu kak Sam sama lo..."lirih Lisa sendu.


__ADS_2