
Di kamar lain, Elisya tengah duduk di balkon kamarnya. Padahal angin cukup deras malam ini, namun gadis itu masih tak beranjak dari tempatnya. Ia masih terus menatap kearah bintang yang bersinar dengan terangnya sambil memeluk boneka yang dibelikan oleh Dicky. Dengan sebuah buku diary ditangannya.
Elisya termenung disana, sungguh ia merindukan kedua orang tuanya. Sangat rindu. Jika ada cara agar Elisya bisa bertemu mereka, ia tak akan berpikir dua kali untuk melakukan itu.
Tangan kecilnya perlahan menulis bait demi bait kalimat.
Dear diary
Tuhan...
Aku sedang merindukan seseorang yang telah engkau panggil duluan dariku.
Namun kadang kala aku kesusahan dalam menahan tangis ketika mengingat setiap momen dan kebersamaan yang kulalui bersama mereka.
Aku hanya ingin dipeluk dan bersandar dibahu mereka, menceritakan semua keluh kesahku.
Dan apa saja yang ku alami setelah kepergian mereka.
Aku ingin menceritakan serapuh apa aku tanpa mereka.
Aku hanya mengharapkan mereka.
Elisya tak sanggup lagi melanjutkan catatannya. Ia sudah terisak dalam tangisnya. Ia menutup bukunya dan lagi-lagi menatap kearah bintang yang paling terang.
"Mah pah hiks, Elisya harus apa? Elisya harus gimana tanpa kalian? Kalian semangat hidup Elisya, sekarang Elisya bisa apa tanpa kalian mah pah?..."Elisya menangis sejadi-jadinya menumpahkan segala rasa sesak dan rindu yang menggebu-gebu dalam dirinya.
Adalah rindu yang lebih menyakitkan dari merindukan orang yang sudah berada disamping Tuhan?
Bersyukur lah kamar itu kedap suara. Jadi suara tangisan Elisya tak terdengar keluar kamar.
Arvie tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Kamar Elisya nampak gelap, hanya lampu tidur yang menyala. Arvie menyalakan lampu kamar Elisya hingga matanya menangkap sosok Elisya yang tengah menangis terisak-isak dibalkon kamar.
Arvie panik, ia berlari menyusul Elisya. Menarik gadis itu dala pelukannya.
"Sya lo kenapa Sya?..."tanya Arvie panik.
Elisya masih belum menjawab. Tangisnya semakin menjadi-jadi dipelukan Arvie.
"Elisya pengen ketemu mamah papah bang hiks hiks..."tangisan gadis itu terdengar begitu memilukan.
Arvie meringis saat rasa sesak menyeruak dalam dirinya. Ia bahkan lupa bahwa adik kecilnya ini begitu rapuh sekarang.
__ADS_1
"Mereka udah bahagia disana Sya, hidup itu gak ada yang abadi. Gue juga terpukul dengan semua ini. Tapi kita harus kuat Sya, kita gak boleh lemah. Kita harus buktiin ke mamah papah kalau kita hebat, kita bisa banggain mereka..."bujuk Arvie menenangkan.
"Hiks Elisya bisa apa bang? Elisya butuh mereka..."lirih Elisya histeris dipelukan Arvie.
Arvie mengusap kasar air mata yang menetes dipipinya. Sungguh ia tak ingin terlihat serapuh ini dihadapan adik kecilnya. Meskipun jauh dilubuk hatinya ia ingin menangis sekencang-kencangnya.
"Lo punya gue Sya, kita hadapin semuanya bareng-bareng. Lo tatap mata gue, kita bisa kok Sya. Kita harus bisa bertahan hidup..."ucap Arvie menguatkan.
Elisya terdiam, ia masih terisak dalam tangisnya. Menampilkan betapa menyedihkannya ia tanpa orang tuanya.
Arvie perlahan melerai pelukannya, bersamaan dengan tangisan Elisya yang kian mereda.
Detik selanjutnya Arvie mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam yang cukup besar.
"For you..."ucap Arvie dengan senyuman manisnya.
Elisya nampak melongo kaget,
"For me? Apa ini bang?..."tanya Elisya bingung sambil menghela sisa air mata dipipinya.
Elisya mengambil kotak itu dan perlahan membukanya. Wah indah sekali. Dalamnya ada satu gaun yang sangat cantik dengan mahkota yang melengkapinya.
"Happy birthday my Queen. Wish you all the best. Jangan sedih lagi, selalu bahagia demi gue Sya, gue cuman punya lo sekarang. Tolong kuat demi gue. Lo satu-satunya alasan gue berjuang untuk sukses sekarang..."ucap Arvie penuh makna.
Elisya tertegun. Ia bahkan lupa jika besok adalah hari ulang tahunnya.
"Thank you so much, I miss you bang..."ucap Elisya terharu.
"Gue pengen lo pakai gaun ini besok, gue ada kejutan buat lo. Sekarang lo Istirahat, gue tinggal dulu..."perintah Arvie.
"Of course. Sekali lagi makasih bang..."ucap Elisya.
Arvie mengangguk mengelus pelan kepala adiknya dan perlahan keluar dari kamar Elisya.
Elisya tersenyum memandang gaun indah dipangkuannya. Ini sangat indah, sungguh! Bahkan ia tak sabar menunggu besok agar bisa mengenakan gaun ini.
__ADS_1
Elisya tersenyum kala mengingat jika besok adalah hari ulangtahunnya. Ia berjalan meletakkan gaun dan mahkota pemberian Arvie keatas kasur. Lalu kembali melangkahkan kakinya ke balkon kamarnya. Berdiri disana sambil menatap kearah langit.
Matanya terpejam bersamaan dengan tangan yang ia genggam di depan dadanya. Ia mulai berdoa dalam hatinya. Berharap doa itu akan dikabulkan kelak.
Cukup lama Elisya memejamkan matanya. Menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya. Namun matanya tak kunjung terbuka.
Hingga sebuah kalung yang cantik melingkar indah dilehernya. Elisya sontak membuka matanya dan membalikkan badannya.
Ia kaget saat melihat Dicky yang tengah berdiri tepat dibelakangnya. Tangannya naik memegang kalung yang melingkar di lehernya.
Dicky mendekat samping Elisya lalu kemudian berbisik.
"Happy birthday my girl..."lirihnya pelan namun mampu membuat jantung Elisya berpacu dengan cepat.
"Kalung bintang?..."tanya Elisya heran.
Dicky mengangguk.
"Gue pernah bilang kalau gue pengen jadi bulan, dan lo bintangnya. Sebagai pelengkap dan memperindah hidup gue Sya. Kalung itu menggambarkan lo sebagai bintangnya. Pemilik cahaya terindah dalam hidup gue..."ucap Dicky puitis.
Elisya menatap Dicky haru. Sungguh ia sangat menyayangi pria didepannya ini. Sangat!
Tiba-tiba Dicky menyodorkan sebuah kotak yang cukup besar ke arah Elisya.
"Buka Sya..."ucap Dicky.
Elisya pun perlahan membuka kotak itu. Betapa terharunya Elisya tatkala menatap kalimat bertuliskan I LOVE YOU.
Elisya menghamburkan pelukan kearah Dicky.
"I love you too. Thanks bang, Elisya seneng banget..."jawab Elisya pelan.
Dicky tersenyum membalas pelukan Elisya. Mendekap gadis itu erat ke dalam pelukannya.
"Bahagia terus Sya, gue pengen nama gue yang jadi alasan kebahagiaan lo. Senyuman lo itu vitamin buat gue. Tetap kuat buat kita semua Sya. Lo berharga bagi gue. You my mine..."kalimat terakhir Dicky yang menyatakan jika Elisya adalah miliknya benar-benar membuat tubuh Elisya menghangat.
Meskipun tak ada sebuah lamaran? Ataupun meminta gadis itu untuk menjadi pacarnya? Tak ada. Namun itu pertama kalinya Dicky menyatakan cinta pada Elisya. Dan ini sangat membahagiakan.
__ADS_1
Malam ini begitu spesial bagi Elisya. Ia tak berharap lebih, beberapa hadiah yang telah ia terima dari orang yang ia anggap spesial ini benar-benar mampu membuatnya sangat bahagia. Sesederhana itu.
Ia tak mengharap hal-hal yang berlebihan. Ini lebih dari cukup, sungguh! Biarlah malam ini akan menjadi malam yang indah yang akan selalu ia ingat.