Elisya

Elisya
123


__ADS_3

Malam ini suasana terasa begitu membahagiakan. Semuanya lengkap disini. Arvie dan teman-temannya, Sam, Lisa, Bella, dan Elisya tentunya.


Mereka semua tengah berkumpul disofa depan televisi. Sembari menonton televisi dan menikmati beberapa cemilan dimeja itu.


Sedangkan Elisya tengah bersandar manja didada Dicky sambil memainkan ponselnya.


Mata David tiba-tiba terarah pada jari manis Elisya.


"Eh busett berlian berapa karat tuh. Lo dilamar Dicky Sya?..."tanya David heboh.


Elisya mengangguk malu-malu. Membuat Dicky terkekeh dan mendekap Elisya dalam pelukannya.


"Sultan emang beda ye, lamaran aja tuh cincin harganya selangit gila..."jawab Farhan tak kalah heboh.


"Gue jadi pengen..."potong Bella hanya bercanda saja.


"Lo mau yang kaya gitu Bel? Lebih mahal dari itu gue beliin buat lo..."jawab Arvie cepat.


"Aduh mundur deh gue, kalau Arvie udah bahas soal cincin gak berani ikut campur gue. Berlian segede gaban juga si Arvie mampu beli..."pasrah Farhan.


Bella bergelayut manja di lengan kekar Arvie. Bersamaan dengan tangan Arvie yang terangkat mengelus pelan kepala Bella.


"Gue cuman bercanda Vie..."jawab Bella.


"Tapi gue juga akan beliin cincin kaya gitu buat lo..."ucap Arvie.


"Iya deh Vie, kalah aja gue. Gak berani gue mah..."ucap David pasrah.


"Gue mau nikahin Elisya Vie..."ucap Dicky tegas.


"Gue gak masalahin hal itu Ky. Tapi gue pengen pernikahan lo sama adik gue diadakan setelah pernikahan gue sama Bella..."putus Arvie.


Dicky nampak menimang-nimang keputusan Arvie.


"Gue setuju. Setelah pernikahan lo sama Bella selesai gue akan langsung nikahin Elisya..."jawab Dicky tegas.


Arvie mengangguk menandakan jika ia setuju dan tidak merasa keberatan atas perkataan Dicky barusan.


"Emangnya pernikahan lo sama Bella kapan Vie?..."tanya Farhan dengan cemilan ditangannya.


"Bulan depan sih kayanya. Biarin Bella beresin ujian dia dulu. Soalnya gue mau dia tinggal sama gue di Amerika..."jawab Arvie mantap.


"Orang tua Bella gimana woy?..."tanya David protes.


"Gue akan bolak balik Amerika - Indonesia buat berkunjung kerumah orang tua Bella..."jawab Arvie enteng.


"Serah lu dah Vie, pusing gue..."pasrah Farhan tak mengerti jalan pikir temannya ini. Apakah ia gila? Tentu saja jarak Amerika ke Indonesia bukan jarak yang dekat.

__ADS_1


"Gue udah nyiapin rumah baru buat gue sama Elisya setelah nikah Vie. Biar lo sama Bella aja yang nempatin rumah utama Qiandra..."potong Dicky.


"Kapan lo beli rumah Ky? Gak ngomong lo sama gue..."protes David.


"Rumah biasa doang, buat gue sama Elisya. Di Amerika juga..."jawab Dicky.


"Jangan percaya Vid, rumah biasa apanya? Gue sih gak percaya kalau Dicky ngomong gitu. Berani taruhan gue tuh rumah udah kaya istana. Percaya deh sama gue. Biasa yang dimaksud Dicky itu mewah nan megah..."ucap Farhan menjabarkan.


Elisya tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan abang-abang nya itu. Begitupun dengan Bella yang sesekali tersenyum mendengar pembicaraan mereka.


"Gue tau ni kenapa si Dicky pindah. Karena gak mau diganggu ini mah. Mau bulan madu gitu..."goda David.


Elisya sontak menatap kearah Dicky seolah mengadu lewat tatapannya.


"Diam lo, Elisya gak suka lo bahas itu..."tegas Dicky paham.


Sontak David susah payah menelan salivanya.


"Pawang lo galak banget Sya..."nyali David menciut seketika.


"Udah ah yuk makan malam dulu semuanya. Bibi udah siapin buat kita semua..."ajak Elisya lalu beranjak menuju meja makan. Diikuti oleh semuanya.


🕓🕓🕓


Menghabiskan waktu malam yang cukup lama, mereka memutuskan untuk tidur dikamar yang tersedia. Berbeda halnya dengan Elisya yang tengah digendong Dicky ke kamar Elisya. Entahlah setelah masalah kemarin Elisya jadi jauh lebih manja.


Dicky mengukung Elisya dibawah tubuhnya. Kenapa gadis ini selalu saja memancing gairahnya. Ketahuilah Dicky juga pria normal. Mustahil jika ia tak terpengaruh sedikitpun sedangkan posisi mereka berdua dalam keadaan seperti itu.


Karena terbawa suasana Dicky mengikis jarak pada Elisya. Ia perlahan ******* pelan bibir Elisya. Elisya memejamkan matanya saat bibir Dicky melahap seluruh bibirnya dengan lembut.


Elisya perlahan mulai membalas ******* Dicky pada bibirnya. Bahkan tangannya sudah ia kalung kan di leher Dicky. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Seolah tak ada tanda-tanda akan berhenti.


Dicky yang sudah dibutakan oleh gairah, perlahan tangannya mulai bergerak. Meraba kaki jenjang Elisya membuat Elisya merasa geli karenanya.


Klak...


Pintu tiba-tiba terbuka menampilkan sosok Farhan yang terdiam dengan mulut menganga.


Berbeda halnya dengan Dicky dan Elisya yang sontak mengubah posisi menjadi duduk saking kagetnya.


Detik setelahnya Farhan tertawa kencang.


"Lain kali pintunya dikunci kali Ky, yakali pintu gak dikunci gini. Nih gue cuman anterin ponsel Elisya. Ketinggalan di meja makan tadi. Sorry ganggu bro..."ucap Farhan lalu perlahan menutup pintunya lagi tanpa wajah bersalah.


Tiba-tiba kepala Farhan menjenguk lagi dibalik pintu.


"Jangan ganas-ganas napa Ky, belum juga sah udah di gas aja..."ledek Farhan lalu berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


Elisya sedari tadi menyembunyikan wajahnya dibalik bantal karena merasa malu ketahuan oleh Farhan.


Sedangkan Dicky hanya santai-santai saja. Seolah yang barusan terjadi bukan sesuatu yang berbahaya.


Sekaligus kesal, kenapa Farhan harus datang disituasi seperti tadi. Arghhh Dicky akan memukulnya nanti.


"Bang Iky Esya maluuuuu..."rengek Elisya sambil menyembunyikan wajahnya didada bidang Dicky.


Dicky terkekeh kecil.


"Ngapain malu? Kan bentar lagi juga nikah sama gue. Biar terbiasa Sya, mau lanjut gak yang tadi?..."goda Dicky.


"Ihhh bang Iky ngeselin..."protes Elisya lalu membaringkan tubuhnya dan menutupinya dengan selimut tebal.


"Udah sekarang lo tidur. Gue mau urus Farhan dulu..."pamit Dicky lalu meninggalkan Elisya di kamarnya untuk istirahat.


🕓🕓🕓


"Besok kita ke Amerika. Sekaligus persiapan buat pernikahan gue sama Bella..."ucap Arvie sambil mengetik beberapa pesan di ponselnya.


"Gue sih ikut aja. Gimana baiknya aja sih..."sahut David sambil memakan snacks yang sedari tadi ia pegang.


Farhan berlari kencang memasuki kamar Arvie dengan nafas tersengal-sengal.


"Kenapa sih lo. Kaya dikejar setan aja..."kesal David kesal.


"Wah gila si Dicky, bisa juga ternyata tuh anak. Masa iya adik lo disikat juga sama Dicky Vie. Untung gue masuk ke kamar Elisya tadi. Kalau enggak beh bisa bahaya sih..."cerocos Farhan.


"Lo ganggu orang mulu, gak ada kerjaan lain apa..."ucap David kesal.


"Dicky tau batasan dia Han, dia gak akan melebihi batasnya sebelum waktunya tiba..."sahut Arvie.


"Ye bisa aja kan Dicky khilaf gitu..."sela Farhan tak mau kalah.


"Lagian mereka mau nikah juga, ngapain lo yang repot sialan..."tegas David.


Tiba-tiba Dicky berdiri tepat dibelakang tubuh Farhan. Memegang kuat kain baju Farhan.


"Kenapa Han? Ngomongin gue?..."tanya Dicky dingin.


"Enggak Ky, kita ngomongin sate tadi. Iyakan Vid..."jawab Farhan takut.


"Mana ada, jelas-jelas lo ejekin Iky tadi..."jawab David tanpa dosa.


Ingin rasanya Farhan membakar tubuh David dan memberikan dagingnya pada binatang buas. Kenapa pria itu tidak peka.


"Heheh gak ngomongin lo lagi. Ini gue diam Ky..."mohon Farhan.

__ADS_1


Dicky melepaskan tangannya pada baju Farhan membuat Farhan bernafas lega. Ia bahkan berniat lari dan menghindari Dicky saja.


__ADS_2