
Gerak-gerik Elisya tidak lepas dari pandangan seseorang.
"Sayang siapa yang nyiapin apinya nih..."tanya Yunita.
"M-maaf mah kalau Elisya lancang, tapi tadi Elisya yang buat..."ucap Elisya gugup.
"Ngga papa sayang, kamu bisa..."tanya Yunita.
"Bisa tante..."sahut Elisya.
"Vano tolong ambilin daging di kulkas..."perintah Yunita.
Vano langsung beranjak menuju dapur.
Tersisa Elisya dan Yunita ibu Vano.
"T-tante..."ucap Elisya terbata.
"Ia sayang ada apa..."jawab Yunita.
Elisya memberanikan dirinya berbicara dengan ibu Vano.
Elisya membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah gelang.
"Tante, ini kayanya gelang tante deh Elisya nemu tadi disana. Elisya yakin ini punya tante..."ucap Elisya.
Yunita tersenyum senang.
"Ia tante lupa nih pasti, makasih ya sayang..."jawab Yunita lalu memeluk erat Elisya.
Elisya yang bingung hanya diam saja lalu membalas pelukan ibu Vano.
Flashback on
Yunita nampak melepas gelangnya dan melemparkannya ke rerumputan.
Yunita berniat ingin mengetes kejujuran Elisya. Ia hanya ingin memastikan bahwa Elisya wanita baik-baik.
Dulu ia pernah melakukan itu pada Angel, tapi diluar dugaannya Angel malah mengambilnya. Dari situlah Yunita nampak sangat kecewa pada Angel.
Saat Yunita meninggalkan Elisya sendiri, ia sebenarnya tidak pergi ke toilet, melainkan hanya bersembunyi dibalik jendela rumahnya.
Ia sedikit terkejut saat melihat Elisya memasukkan gelangnya kedalam tasnya, Yunita nampak menghembuskan nafas kasar.
"Sepertinya dia sama saja seperti Angel..."gumam Yunita.
Tak ingin ambil pusing Yunita keluar menghampiri mereka.
Tanpa ia sangka Elisya malah mengembalikan gelangnya. Yunita sangat senang dan sontak memeluk Elisya.
Flashback off
Merasa lama dipeluk Elisya melonggarkan pelukannya.
"Tante, apa tante baik-baik saja..."tanya Elisya khawatir.
Yunita melepaskan pelukannya.
"Iya sayang, tante baik, ayo kita mulai, tuh Vano udah dateng..."tunjuk Yunita.
"Nih mah udah Vano bawain..."ucap Vano lalu duduk.
Mereka pun memulai kegiatan mereka.
__ADS_1
Elisya dan Vano terlihat sibuk memanggang daging yang sudah ia potong dari tadi siang. Sedangkan Yunita memperhatikan keduanya.
"Aww..."Elisya meringis karena tak sengaja tangannya menyentuh panggangan.
Vano terlihat sangat panik lalu berlari mengambil kotak P3K dirumahnya.
"Sya, hati-hati dong, sini biar kaka aja yang panggang ini, kamu duduk aja sama mama..."ucap Vano.
"Ngga mau ka Elisya mau bantuin ka Vano, lagian cuman luka kecil ko, gak sakit..."senyum Elisya.
Vano yang terlihat panik ingin memerban tangan Elisya tapi Elisya menolaknya.
"Ini hanya luka kecil ka, jangan berlebihan..."jelas Elisya lagi.
Vano langsung mengangkat tubuh Elisya sontak membuat mata Elisya terbelalak melihat kelakuan Vano.
"Ka turunin kak, malu ada mama kaka lo ini..."rengek Elisya.
Vano tak bergeming lalu menurunkan tubuh Elisya disamping sang ibu.
Yunita tersenyum senang melihat betapa anaknya sangat mengkhawatirkan Elisya.
"Kamu duduk disini sama mama, biar aku yang nyelesain itu..."ucap Vano lalu mengelus lembut rambut Elisya.
Elisya yang merasa sangat malu hanya mengangguk saja
"Baru kali ini tante liat Vano mengkhawatirkan wanita selain Angel sahabatnya, dan wanita itu adalah kamu sayang, tante senang jika kamu diperlakukan baik oleh Vano..."ucap Yunita mengelus kepala Elisya.
"Apa kak Vano sangat menyukai ka Angel tante..."tanya Elisya ragu.
Yunita tersenyum nampak mengerti arah dari pertanyaan Elisya barusan.
"Tante rasa Vano tidak menyukai Angel, itu hanya sebatas rasa peduli dan melindungi sahabat kecilnya itu..."jelas Yunita.
Yunita menyadari hal itu.
"kamu menyukai anak tante sayang?..."tanya Yunita.
Elisya terlihat gelagapan mendengar pertanyaan ibu Vano.
"Emm e-enga ko tante, Elisya cuman adik kelas kak Vano..."
Yunita terkekeh.
"Jangan berbohong sayang, tante tau dari cara kamu menatap anak tante..."
Wajah Elisya merona karena ketahuan oleh ibu Vano.
"Kayanya ka Vano gak akan suka sama Elisya tante, kak Vano gak mudah percaya sama wanita..."ucap Elisya menunduk.
Yunita kini mengerti kegelisahan Elisya.
"Sayang lihat tante, berusahalah yang terbaik untuk kalian, tante percaya kamu bisa mengambil kepercayaan Vano..."tutur Yunita.
Elisya nampak kaget dengan ucapan ibu Vano.
"Apa tante tidak marah aku menyukai anak tante..."tanya Elisya dengan polosnya.
"Tante senang kamu dekat dengan Vano, tante juga merestui hubungan kalian, kejar cinta kamu sayang..."ucap Yunita tersenyum.
Elisya pun mengangguk tanda mengerti.
Vano sama sekali tidak mendengar percakapan kedua orang itu, karena sedari tadi ia sibuk menyelesaikan panggangannya, sedangkan Elisya dan sang ibu duduk beberapa langkah dari belakang Vano.
__ADS_1
"Mah, nih sudah siap dagingnya, udah mateng nih..."ucap Vano mendekati sang ibu dan Elisya.
Mereka bertiga pun menyantap hidangan layaknya sebuah keluarga.
"Aaa..."Vano tiba-tiba menyodorkan makanan ke mulut Elisya.
Elisya nampak ragu namun akhirnya tetap membuka mulutnya.
"Tante, om nya kemana..."tanya Elisya.
"Papanya Vano lagi ada kerjaan diluar kota, mungkin lusa baru kembali Sya..."jawab Yunita.
Elisya hanya mengangguk.
Setelah beberapa saat mereka sudah selesai makan.
Jam menunjukkan pukul 10 malam.
Elisya nampak sibuk mengumpulkan piring-piring bekas mereka makan.
"Sayang kamu ngapain..."tanya Yunita.
"Ini tante mau nyuci piringnya..."jawab Elisya spontan.
"Ga perlu Sya disini ada art ko..."jawab Vano cepat.
"Iya sayang gak usah repot-repot, nanti tante nyuruh art aja..."sambung Yunita.
"Elisya aja ya tante, Elisya udah terbiasa ko, biasanya kalau dirumah Elisya juga sering nyuci piring gini walaupun punya art juga..."jujur Elisya.
Yunita tersenyum senang,
"Ya sudah tante bantu ya sayang..."jawab Yunita.
Elisya mengangguk senang.
"Vano kamu bisa tunggu diruang tamu atau mau kekamar dulu..."
"Iya mah Vano nonton TV aja..."jawab Vano cepat.
Mereka pun mulai melakukan kegiatan masing-masing.
Yunita nampak sibuk mencuci piring bersama Elisya.
"Elisya kamu sudah masak ngga?..."tanya Yunita.
"Bisa ko tante, walaupun gak terlalu lihai tapi Elisya tetap usaha ko tante..."jawab Elisya sopan.
"Tante bangga sama kamu, kamu anak yang baik, tante seneng banget kamu bisa dekat sama anak tante, jagain anak tante ya Elisya, bantu dia menghilangkan traumanya..."Yunita nampak sedih.
"Elisya akan usaha tante..."jawab Elisya lalu tersenyum.
Setelah selesai mereka menghampiri Vano yang tengah sibuk menonton TV.
"Van nih anterin Elisya, kasian pulang malam-malam..."perintah Yunita.
"Siap mah, Vano sama Elisya pamit dulu..."ucap Vano lalu mencium punggung tangan ibunya.
"Tante Elisya pamit ya, makasih sudah diundang kesini..."pamit Elisya lalu ikut mencium punggung tangan Yunita.
"Sering-sering kesini ya sayang, hati-hati dijalan..."ucap Yunita.
Elisya dan Vano pun mulai memasuki mobil dan memulai perjalanan.
__ADS_1