
Disebuah taman belakang kediaman Qiandra. Disanalah mereka semua berkumpul menikmati hidangan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Bahkan berbagai macam makanan yang mewah sudah tersaji dimeja besar itu.
Mereka semua duduk mengelilingi meja besar itu dikursi masing-masing. Sedang menikmati hidangan yang tersaji.
"Gimana sama tugas dari gue Vid?..."tanya Arvie sambil mengunyah makanannya.
David mendongak merasa namanya terpanggil.
"Beres Vie..."jawab David yakin.
"Ada apa bang?..."tanya Elisya mewakili rasa penasaran yang lainnya juga.
"Gue mau sekalian ngasih tau ke kalian. Malam ini akan ada acara peresmian gue dan adik gue Elisya sebagai pewaris dan penerus kepemimpinan perusahaan besar bokap gue. Sekaligus gue akan buat klarifikasi tentang kecelakaan kedua orang tua gue. Gue minta David mengundang semua rekan bisnis bokap gue..."jelas Arvie.
"Gue ikut seneng, akhirnya perusahaan itu bisa jadi milik orang yang semestinya..."jawab Bella.
"Iya Bel, kita semua berhasil..."jawab Arvie bangga.
"Kalian semua diharuskan berpakaian formal, buat yang cewek bisa pakai dress, buat yang cowok bisa pakai jas..."ucap Farhan menjelaskan.
"Dan jangan lengah sedikit pun, kejahatan bisa saja terjadi tanpa kita sadari. Jadi jaga diri kalian semua baik-baik..."pesan David.
Ini adalah pertama kalinya Arvie dan Elisya membuka identitas nya sebagai pewaris keluarga Qiandra. Tentu saja itu memungkinkan berbagai kejahatan menyerang mereka. Persaingan bisnis yang sangat ketat membuat keamanan mereka benar-benar harus diperketat lagi.
"Sya gue mau ngomong sama lo nanti..."ucap Lisa tiba-tiba. Membuat semua perhatian tertuju padanya.
"Ngomongin apaan Lis?..."tanya Elisya penasaran.
Elisya menatap mata Lisa, bersamaan dengan Lisa yang menatap mata Elisya dalam lalu mengangguk.
Seolah mengerti Elisya langsung mengangguk membuat semua yang ada disama mengernyitkan alisnya bingung.
__ADS_1
"Kalian liat? Wanita itu memang aneh. Bagaimana mereka bisa saling memahami hanya dengan saling menatap begitu, apa mereka punya indra ke enam..."kesal David tak terima.
"Coba lo tatap mata gue Vid..."ucap Farhan dramatis.
"Gamau gue, mata lo jelek..."jawab David cepat.
Semuanya tertawa seolah tak ada beban. Sesekali mereka berbagi cerita tentang keseharian mereka.
"Besok pagi kita akan ke Indonesia..."tegas Arvie membuat Elisya kaget.
"Indonesia? Really?..."tanya Elisya agak ragu dengan keputusan Arvie.
"Hm, kita pergi ke makam mamah papah, lo pasti kangen kan. Kita sekalian berkunjung kerumah nenek. Kemungkinan kita akan menginap selama seminggu disana..."jelas Arvie sambil mengusap pelan kepala adiknya.
"Aaa makasih abang, Elisya pengen banget ke makam mamah papah, Elisya juga kangen sama nenek kakek..."ucap Elisya antusias.
Mereka sudah menyelesaikan makan mereka. Bahkan terlihat beberapa pelayan sudah mulai berberes-beres.
Mereka perlahan bubar menuju kamar masing-masing. Begitu pula dengan Elisya yang menuju kamarnya diikuti oleh Lisa dan Bella disampingnya.
Tangan Elisya memutar gagang pintu kamarnya membuat kamarnya terbuka secara perlahan. Ia berjalan menuju ranjangnya yang penuh dengan hadiah. Diikuti oleh Lisa dan Bella dibelakangnya. Bahkan Bella dengan sigap mengunci pintu kamar Elisya.
Elisya mendadak bingung.
"Kok dikunci sih Bel?..."tanya Elisya penasaran.
"Kita mau ngomongin soal Vano Sya..."ucap Bella agak ragu. Lalu ikut serta duduk menghadap Elisya.
"Bella bener Sya, gue gak bermaksud bikin lo inget lagi sama dia, tapi gue bener-bener gak tega sama Vano Sya, gue tau dia jahat banget sama lo. Tapi kalau lo liat kondisi dia sekarang, lo gak akan tega Sya..."ucap Lisa sendu.
Elisya memang tak ingin tahu menahu lagi tentang masalalunya, tapi ia juga tak mau Vano menderita karenanya.
__ADS_1
"Ka Vano kenapa?..."tanya Elisya akhirnya buka suara.
"Lo pasti udah denger kabar dia dari orang lain kan. Sebelum kita berangkat kesini tante Yunita ibunya ka Vano sampai nangis-nangis kerumah gue cuman buat nanya keberadaan lo Sya. Ka Vano hancur Sya setelah kepergian lo..."jelas Lisa.
"Dia hampir bunuh diri untuk yang ketiga kalinya Sya, dia menyendiri dan gamau keluar dari kamar dia. Dia bahkan gak peduli sama kesehatan nya sekarang, dia pemabuk berat sekarang Sya, dia ke club, bermain dengan banyak wanita untuk melampiaskan emosinya. Dia rusak sekarang Sya..."lanjut Bella.
Elisya malah terlihat khawatir sekarang, memang ini bukan salahnya, tapi mengenai tante Yunita yang selama ini selalu baik padanya. Ia tak tega sungguh!
"Sekolah dia berantakan sekarang Sya, dia keluar masuk sekolah semaunya, tawuran gak jelas, bahkan dia kemarin hampir di keluarin dari sekolah karena mukul guru olahraga Sya, gila banget kan..."terang Lisa.
Elisya menghela nafasnya pelan.
"Terus lo berdua mau gue gimana?..."tanya Elisya meminta pendapat.
"Kita sama sekali gak minta lo balikan sama Vano, apalagi kita sekarang tau lo lagi dekat sama bang Iky. Tapi Sya, gue cuma pengen lo ketemu sama dia. Ya seenggaknya lo bisa bikin hidup dia jadi lebih baik, gue kasian sama tante Yunita Sya, gue juga sering liat Vano nangis didepan rumah lo yang emang udah kosong dari lama..."lirih Lisa pelan.
"Dia bener-bener nyesel Sya, gue mohon temuin Vano walaupun cuman sebentar, kalau lo gak bisa nemuin dai demi kita, seenggaknya lo temuin dia demi tante Yunita..."mohon Bella.
"Gue pikir-pikir dulu ya Bel, Lis..."putus Elisya nampak masih sangat ragu.
"Gue mohon Sya, temuin Vano, untuk yang terakhir kalinya mungkin. Demi kita Sya, demi tante Yunita, gue tau lo baik Sya, lo pasti gak mau hidup Vano hancur karena rasa penyesalan nya yang besar ke lo Sya..."mohon Bella nampak memelas.
Elisya menghembuskan nafasnya pasrah.
"Okey gue akan temuin dia nanti..."ucap Elisya membuat senyuman terbit dibibir Lisa dan Bella.
"Gue tau lo baik Sya, makanya kita berani minta ini ke lo..."ucap Bella senang.
"Udah ah yuk tidur dulu. Tapi sebelumnya bantu gue ngelepasin mahkota gue dulu nih, lumayan berat tau..."rengek Elisya.
Mereka bertiga tertawa bersama dengan penuh kebahagiaan dan melepas rasa rindu ketiga sahabat itu.
__ADS_1