
Arvie menghentikan mobilnya didepan gerbang sekolah Elisya,
"Nanti gue jemput, lo jaga diri baik-baik..."ucap Arvie sambil mengelus kepala Elisya.
Elisya mengangguk lalu turun dari mobil Arvie berjalan menuju kelasnya.
Saat Arvie pergi meninggalkan sekolah Elisya, mobil Vano memasuki area parkir sekolah. Sedari tadi senyum Angel terus saja mengembang. Ia sangat senang karena hari ini Vano tak menjemput Elisya.
"Pulang bareng gue Van, ayo kekelas bareng..."ucap Angel bergelayut manja ditangan Vano.
"Lo duluan aja Ngel, gue mau ke kelas Elisya dulu..."ucap Vano.
Angel mendengus kesal,
"Ngga pokonya Lo harus kekelas bareng gue, ketemu dia kan bisa nanti. Ini udah hampir jam masuk kelas..."kesal Angel lalu menarik paksa Vano menuju kelasnya.
Elisya berjalan di koridor sekolah dengan santai. Sesampainya dikelas ia sudah disambut dengan tatapan tidak suka dari Lisa. Elisya duduk tanpa mempedulikan Lisa.
Lisa berbicara pada Rena teman sebangkunya dibelakang.
"Lo liat gak sih Ren, tadi Vano datang satu mobil sama Angel, mana Angel meluk tangan Vano lagi. Serasi banget gak sih..."ucap Lisa dengan suara keras, ia memang sengaja agar Elisya mendengarnya.
"Bukannya biasanya emang selalu gitu ya Lis, Vano kan emang suka sama Angel dari dulu, siapa sih yang gak mau sama Angel, udah cantik populer lagi. Gue rasa mereka serasi banget sih..."jawab Rena.
Lisa tersenyum meledek ke arah Elisya,
"Emang serasi banget sih mereka. Cuman ada cewek gak tau diri aja yang so so an mau jadi prioritas Vano, gak sadar diri banget ga sih..."ucap Lisa sambil tertawa kencang.
Elisya tentu saja mendengar semua itu, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Lisa.
"Segitu doang nyali lo, sampai gak berani ngomong langsung didepan orangnya. Gue ada disini Lisa. Ngomong langsung didepan gue. Takut lo sama gue?..."tegas Elisya.
Lisa bangkit dari duduknya sambil menepuk meja cukup keras membuat semua perhatian kelas menuju pada mereka berdua.
"Ups ada yang tersindir nih Ren..."ejek Lisa.
"Ya setidaknya gue tau diri lah, gak kaya lo..."ucap Elisya lantang.
Lisa tersulut emosi,
"Emang lo nggak pantas kan buat ka Vano hah, yang pantas itu ka Angel, gue yang cantik aja ga bisa dapetin ka Vano. Lo malah so so an jadi pacarnya. Belagu lo..."bentak Lisa.
Elisya tersenyum sinis,
"Cantik itu diakui Lisa bukan mengakui. Miris banget sih hidup lo. Bilang aja lo iri sama gue. Ups katanya iri itu tandanya gak mampu..."ledek Elisya.
Lisa mendorong bahu Elisya cukup keras,
"Gue iri sama lo? Mimpi lo hah. Gue jauh lebih baik dari lo..."ucap Lisa nampak tak tau diri.
Elisya menyeringai,
"Haus pujian ya lo, kasian banget sih. Gue peringatin lo ya Lisa..."ucap Elisya sambil mengusap pelan pipi mulus Lisa. Namun, Lisa menepisnya dengan kasar.
__ADS_1
"Lo tau kan gue siapa?..."Elisya menyeringai lagi terlihat sangat mengerikan. "Gue sebenernya gampang sih kalau mau ngancurin lo tapi gue gak sejahat itu..."sambung Elisya.
Lisa nampak kesusahan menelan salivanya. Ia tahu betul Elisya adalah salah satu pewaris keluarga Qiandra. Ia juga tahu seberapa besar kekuasaan keluarga Qiandra.
Karena merasa kesal dan takut yang bercampur menjadi satu Lisa berjalan meninggalkan kelas tanpa melihat siapapun.
Elisya tersenyum melihat kekalahan Lisa. Ia kembali duduk dengan tenang di kursinya. Sebenarnya Elisya tidak berniat mengancam Lisa. Meskipun ia cukup berkuasa tapi ia tak pernah menyalah gunakan kekuasaannya. Ia tak pernah menindas siapapun. Ia hanya ingin Lisa sadar akan kesalahannya.
🕓🕓🕓
Tanpa terasa jam Istirahat sudah tiba,
Elisya ke kantin lebih dulu tanpa menunggu Vano seperti biasanya. Entah kenapa hatinya masih kesal.
Tiba-tiba ada yang menyodorkan sebuah minuman kearah Elisya. Elisya menengok melihat siapa yang datang.
"Eh kak Sam, duduk kak..."sapa Elisya.
Sam tersenyum,
"Cewe cantik ko sendirian, gue temenin ya..."ucapnya.
Elisya tersenyum lalu mengangguk.
"Abang lo dateng Sya..."tanya Sam.
"Ia kak, kak Arvie datang. Cuman sampai lusa sih..."jawab Elisya sekenanya.
"Gue pengen ketemu deh nanti malam, gue kerumah lo ya. Mampir aja ..."ucap Sam.
Bruk...
Elisya kaget bukan main saat Sam tersungkur keras kelantai akibat pukulan dari Vano.
"Berani banget lo deketin cewe gue hah..."ucap Vano emosi.
Elisya bangkit dari duduknya dan berusaha melerai mereka berdua tetapi nihil. Vano menampar wajah Sam beberapa kali.
"Cukup Vano cukup. Hentikan semua ini. Sekarang kalian bertiga ikut saya keruang BK..."ucap bu Siska.
Ketiganya berjalan tanpa bicara satu sama lain.
"Ada apa ini Vano, kenapa harus berkelahi seperti ini?..."tanya bu Siska.
"Dia bu berani-berani nya deketin Elisya, saya gak suka..."ucap Vano lantang.
Elisya angkat suara,
"Maaf bu ini cuman salah paham. Kami mohon maaf bu. Lain kali saya usahakan ini tidak akan terjadi lagi..."ucap Elisya.
Bu Siska mengangguk,
"Ya sudah kembali ke kelas kalian masing-masing..."ucap bu Siska.
__ADS_1
Mereka bertiga pun keluar dari ruang BK.
Vano meraih tangan Elisya membawanya ke taman belakang sekolah.
"Lepas kak..."tangkis Elisya.
"Maksud kaka apa-apaan sih mukul kak Sam kaya gitu..."kesal Elisya.
"Aku gak suka kamu deket-deket sama cowo selain aku Elisya..."tegas Vano.
Elisya menghembuskan nafasnya pelan,
"Kak Sam itu udah aku anggap kaya kakak kandung aku sendiri, apa yang perlu kaka khawatiin..."jawab Elisya tidak ingin kalah.
Trauma yang dialami Vano membuatnya sangat posesif. Ia tak ingin miliknya diganggu oleh siapapun. Tanpa ia sadari caranya membuat Elisya kurang nyaman.
"Aku gak suka Elisya. Jangan dekat dengan siapapun selain aku..."ucap Vano lantang.
"Elisya gak boleh dekat sama cowo. Terus ka Vano apa? Jalan berdua sama ka Angel, berangkat berdua sama ka Angel, pegangan tangan segala. Kaka egois..."ucap Elisya. Matanya sudah mulai buram karena air mata yang terbendung di kelopak matanya.
Vano yang melihat Elisya hampir menangis, dengan cepat memeluk tubuh Elisya erat. Kecemburuan menguasai dirinya sampai tak bisa mengontrol emosi.
"Maafin kaka Sya, kaka lupa izin sama kamu. Angel maksa kaka Sya. Maafin kaka. Tolong jangan nangis. Kaka sayang banget sama kamu Sya. Maaf atas kecemburuan kaka Sya. Kaka janji nggak akan ninggalin kamu..."lirih Vano disamping telinga Elisya.
Elisya sudah tak bisa menahan air matanya lagi. Ia terisak dipelukan Vano.
"Elisya cemburu ka Vano dekat sama ka Angel..."ucap nya ditengah isakannya.
"Maaf..."lirih Vano lagi sambil terus memeluk erat tubuh mungil Elisya.
"Maaf udah bikin kamu cemburu Sya, Angel itu sahabat aku dari kecil. Aku cuman peduli sama dia sebagai sahabat Sya. Tolong ngertiin aku..."lirih Vano sendu.
Elisya melerai pelukannya lalu tersenyum,
"Dimaafin kok ka, Elisya akan coba ngertiin ka Vano. Tadi ka Vano cuman salah paham. kak Sam cuman kasih Elisya minum. ka Vano percaya kan sama Elisya..."jelas Elisya.
Vano mengusap pelan kepala Elisya.
"Makasih ya Sya, kaka takut banget kehilangan kamu Sya. Kamu berharga banget di hidup kaka. Kaka janji akan selalu percaya sama kamu dalam keadaan apapun..."ucap Vano lalu mengecup singkat pipi Elisya.
Pipi Elisya bersemu merah,
"Ka Vano Elisya malu..."rengeknya sambil menutup wajahnya.
Vano terkekeh melihat tingkat laku Elisya.
"Kayanya harus lebih sering deh. Biar terbiasa..."goda Vano.
Elisya menepuk pelan lengan Vano.
"Ayo cantik kaka antar ke kelas..."ucap Vano lalu merengkuh pinggang ramping Elisya. Seakan ingin menunjukkan pada dunia bahwa Elisya miliknya.
Angel yang mengintip di dekat kantin pun menghentakkan kakinya kesal.
__ADS_1
"Ko bisa gini sih. Awas aja gue nggak akan nyerah sampai Vano kembali ke pelukan gue..."kesal Angel lalu berjalan kembali ke kelasnya.