
Matahari sudah menyinari sang bumi dengan terangnya, seluruh warga bumi mulai beraktivitas seperti biasanya.
Kedua teman Arvie yaitu David dan Farhan masih saja tertidur dengan pulas nya karena tadi malam tidak tidur sampai hampir jam 3 pagi. Terkecuali Dicky, pria ini selalu bangun lebih pagi.
Arvie sudah siap sambil meraih kopernya,
"Ky anterin gue ke bandara..."ucap Arvie.
Dicky meraih kunci mobilnya lalu berjalan keluar apartemen.
Mereka menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke bandara.
"Thanks Ky, gue titip apartemen ke lo. Bilangin juga ke anak-anak yang lain kalau gue udah berangkat..."pamit Arvie.
"Hati-hati lo Vie, kalau udah nyampe kabarin kita-kita..."jawab Dicky.
Arvie terus berjalan sambil mengangkat satu jempolnya memberi kode kepada Dicky. Dicky pun meninggalkan bandara menuju apartemen.
🕓🕓🕓
Di kediaman Vano, pagi-pagi sekali Angel sudah datang kerumah Vano seperti biasanya. Untuk apalagi jika bukan untuk pergi kesekolah bersama. Kali ini mungkin agak berbeda, karena Angel terlihat sangat bersemangat ingin berangkat bersama Vano.
"Tante Vano nya mana sih, lama banget..."gerutu Angel.
"Bentar sayang, Vano nya lagi siap-siap..."Jawab Yunita.
Vano keluar dari kamarnya membuat senyum Angel merekah,
"Ayo Ngel gue anterin lo dulu, nanti gue mau jemput Elisya..."jujur Vano lalu mencium punggung tangan sang ibu.
Wajah Angel berubah menjadi kesal saat Vano menyebutkan nama Elisya,
"Mending gue minta gabung bertiga aja kali ya sama Elisya, biar Elisya tau kalau gue jauh lebih berarti dihidup Vano dari pada dia..."gumam Angel.
"Eh Van, gue bareng sama lo sama Elisya aja, sekalian gitu..."ucap Angel.
Vano menatap Angel sekilas,
"Terserah lo aja sih, ayo lah berangkat. Mah Vano berangkat..."teriak Vano sambil melangkahkan kakinya keluar rumah.
__ADS_1
Vano memasuki mobilnya disusul oleh Angel, memang perlakuan Vano cukup berubah saat Vano berpacaran dengan Elisya. Perhatiannya pada Angel sedikit berkurang, Vano kelihatan lebih memperhatikan Elisya.
"Ngel lo duduk dibelakang aja ya, biar nanti Elisya duduk disamping gue..."perintah Vano.
Angel mendengus kesal, ia pun berpindah menuju kursi belakang sambil menahan emosinya. Ia benar-benar tidak terima dengan perlakuan Vano yang lebih mengutamakan Elisya, sebut saja ia cemburu.
"Sekarang lo bisa perlakukan gue kaya gini Van, tapi gue bakal bikin lo bertekuk lutut dihadapan gue..."gumam Angel.
Vano menjalankan mobilnya menuju rumah Elisya.
🕓🕓🕓
"Pagi mah pah..."sapa Elisya yang keluar dari kamarnya dengan seragam sekolah rapi.
"Pagi sayang, sini sarapan dulu..."ucap Revina sambil mengoleskan beberapa roti dengan selai untuk Elisya, Revina juga membuatkan segelas susu hangat.
"Makasih mah..."ucap Elisya sambil mengunyah roti yang sudah disiapkan Revina.
"Papah berangkat dulu ya sayang, papa ada meeting pagi..."pamit Ferly.
"Hati-hati ya pah..."pesan Elisya lalu mencium punggung tangan sang ayah.
"Papa berangkat dulu mah..."pamit Ferly pada sang istri lalu mengecup puncak kepala Revina.
Revina tersenyum lalu mengangguk. Beriringan dengan kepergian Ferly, bi Ina menghampiri meja makan
"Non Elisya, den Vano sudah menunggu..."ucapnya.
Elisya tersenyum,
"Oh iya makasih ya bi..."ucap nya. Bi Ina mengangguk lalu meninggalkan meja makan.
"Mah Elisya berangkat dulu, kasian ka Vano udah nunggu..."pamit Elisya lalu mencium punggung tangan sang ibu.
"Hati-hati sayang..."jawab Revina.
Elisya berjalan keluar rumah, disana sudah terlihat Vano yang bersandar di samping mobilnya sambil menunggu Elisya.
Elisya tersenyum lalu menghampiri Vano. Elisya menghambur pelukan ke arah Vano tanpa menyadari Angel yang menatapnya dari dalam mobil dengan tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
"Ka Elisya kangen..."rengeknya.
Vano tersenyum lalu mengecup puncak kenapa Elisya,
"Kaka juga, sekarang kita berangkat ya, silahkan masuk..."ucap Vano sambil membukakan pintu mobilnya. Lalu disusul oleh Vano yang masuk ke mobilnya.
Angel sangat iri saat ini, ia benar-benar cemburu melihat Vano memperlakukan Elisya sangat spesial berbeda dengan dirinya.
Elisya kaget saat melihat ada Angel yang duduk di kursi belakang,
"Eh ada ka Angel..."ucap Elisya sambil tersenyum.
Angel nampak memaksakan senyum palsunya.
"Maaf ya Sya, kaka lupa bilang. Angel pengen berangkat bareng kita..."ucap Vano.
Elisya tersenyum,
"Ngga masalah ka..."jawab Elisya.
Vano pun mulai melajukan mobilnya menuju sekolah. Tak terlalu lama Vano sudah memarkirkan mobilnya diparkiran sekolah.
"Sya mau kaka antar kekelas nggak?..."tawar Vano.
"Ngga ka, Elisya sendiri aja..."jawab Elisya.
"Ya udah kamu kekelas aja, takut telat..."ucap Vano lalu mengecup bibir Elisya singkat.
Pipi Elisya memerah karena malu,
"Ka Vano malu, ada ka Angel..."ucap Elisya.
Angel benar-benar tidak tahan lagi melihat semua yang terjadi didepan matanya, ia keluar dari mobil Vano tanpa bicara sedikit pun. Dengan nafas terburu-buru ia berjalan menuju kelasnya.
Vano nampak tak terlalu peduli dengan hal itu,
"Angel nya udah pergi berarti sekarang boleh..."goda Vano.
"Ih ka Vano nakal, udah ah Elisya mau masuk kelas dulu..."ucap Elisya lalu keluar dari mobil Vano dengan cepat.
__ADS_1
Vano terkekeh melihat sikap Elisya, akhirnya ia pun meninggalkan mobilnya menuju ke kelasnya.