Elisya

Elisya
86


__ADS_3

Dokter Riri masuk dengan dua orang suster disampingnya.


"Tante tolongin temen Sam..."ucap Sam panik.


Dokter Riri memutuskan untuk menyuntikkan obat penenang untuk Elisya. Elisya sangat histeris hingga bagian tangan yang diinfus mengeluarkan darah segar.


Perlahan Elisya mulai tenang. Arvie membaringkan Elisya ke tempat semula. Rasanya hancur sekali melihat adik kesayangannya menjadi selemah ini. Tolong kuatkan Elisya Tuhan.


"Biarkan pasien istirahat dulu, pasien mengalami syok berat. Ini sangat mempengaruhi kondisi kesehatan nya. Saya sudah memberikan vitamin untuk pasien. Biarkan pasien dirawat dulu sampai keadaan membaik. Saya permisi dulu..."pamit dokter Riri.


"Makasih tante..."ucap Sam.


Arvie mengacak rambutnya kasar. Bukan hanya Elisya yang kehilangan namun dirinya juga. Rasanya hidupnya roboh seketika. Ia terluka dengan sangat dalam.


Semesta benar-benar sedang tidak baik pada mereka. Baru saja mendapat kabar buruk atas kejadian yang menimpa orang tuanya, kini Arvie malah mendapatkan laporan jika semua perusahaan besar ayahnya serta beberapa aset rumah besar yang ada di Amerika kini sudah diambil alih orang lain. Dengan kasus pemalsuan tanda tangan.


Arvie semakin gusar saat ini. Belum selesai masalah yang satu. Kini masalah lainnya datang lagi. Seluruh kekayaan atas nama ayahnya sudah diambil alih. Entah siapa yang melakukan itu semua, yang pasti itu pasti bukan orang sembarangan. Tentu orang yang juga memiliki kekuasaan yang tinggi. Arvie sudah mengarahkan seluruh pengawal kepercayaan nya untuk mengurus masalah ini. Bahkan Arvie sudah memproses ke jalur hukum atas tuduhan pemalsuan tanda tangan.


"Apa rencana lo setelah ini Vie?..."tanya Farhan yang kini sudah merangkul pundak Arvie.


"Gue akan bawa Elisya ke Rusia, didekat gue dia akan aman. Dia cuman punya gue sekarang..."putus Arvie.


Bukan tanpa sebab Arvie memutuskan itu. Namun kemarin ia sudah mendapatkan kabar jika seluruh penumpang pesawat dinyatakan tewas. Tentu itu membuat Arvie sangat terpukul. Harapan hanya tinggal harapan. Nyatanya Tuhan berkata lain.


Korban akan dipulangkan ke rumah masing-masing. Tentu dengan keadaan tubuh yang tak utuh lagi. Itu semakin membuat Arvie terluka.


"Elisya sekolah Vie..."tegur Bella.


"Ini yang terbaik buat dia Bel, ini tanggung jawab gue. Elisya berhenti sekolah aja. Gue masih sanggup biayain hidup dia..."ucap Arvie yakin.


Meskipun kekayaan sang ayah sedang bermasalah. Namun Arvie tak takut sama sekali. Karena Arvie masih memiliki dua perusahaan besar di Rusia atas namanya sendiri, tentunya dibawah kekuasaan nya. Jadi ia tak perlu khawatir akan kekurangan uang. Ia masih punya apartemen yang besar untuk mereka tinggali. Namun Arvie berjanji akan mengambil alih kekayaan ayahnya yang memang harusnya menjadi miliknya dan Elisya.


"Lakuin apa yang terbaik buat Elisya kak, kalau dengan bawa Elisya ke Rusia adalah jalan terbaik. Lisa setuju kak..."ucap Lisa lemah.


"Lo udah gue anggap kaya adik gue sendiri Lis. Lo gak perlu khawatir soal keamanan lo. Karena gue akan menambah bodyguard yang berjaga-jaga di dekat rumah lo dan jagain lo juga..."ucap Arvie.


Lisa sontak berlari memeluk Arvie. Arvie membalas pelukan Lisa pelan.


"Makasih kak..."lirih Lisa pelan lalu melerai pelukannya.

__ADS_1


"Besok gue mau kita semua kumpul dirumah gue. Gue pengen berita tentang kecelakaan pesawat ini dirahasiakan dulu. Jangan ada yang tau kalau nyokap sama bokap gue adalah penumpang pesawat itu. Gue juga udah nyembunyiin identitasnya. Karena itu akan membahayakan keselamatan gue sama Elisya, dan juga perusahaan bokap gue. Tentu banyak musuh yang mengincar kekayaan bokap gue dan mencari-cari kelemahan keluarga gue. Besok jenazah bokap nyokap gue akan diantar kerumah, cukup kita semua dan orang kepercayaan gue yang boleh datang, sama nenek kakek gue..."ucap Arvie lantang.


"Gue percayakan semuanya sama Dicky untuk urus semua ini. Gue percayakan semuanya sama lo..."ucap Arvie sambil menunjuk kearah Dicky.


Dicky hanya berdehem tanda jika ia menyanggupi perintah Arvie.


"Gimana sama kesehatan Elisya?..."tanya Bella.


"Gue pastiin Elisya bisa pulang besok. Gue juga akan cari dokter terbaik untuk menangani adik gue..."jawab Arvie.


"Dimana Vano? Gue gak liat dia dari kemarin. Kemana tuh anak..."tanya Arvie.


Baik Bella, Lisa, maupun Sam terdiam saling menatap satu sama lain. Hingga akhirnya Sam angkat suara.


"Vano udah gak sama Elisya bang. Banyak hal yang terjadi sejak abang balik ke Rusia bulan lalu..."jawab Sam.


"Vano nyakitin adik gue..."tanya Arvie penuh penekanan.


Sam yang tak ingin menyembunyikan apapun. Akhirnya jujur dihadapan Arvie.


"Bukan cuman disakitin perasaan bang. Elisya juga difitnah dan ditampar sama Vano..."jawab Sam.


"Si brengsek itu berani-berani nya nampak adik gue. Vid..."ucap Arvie sambil menatap kearah David dengan tatapan emosi.


David yang langsung paham menoleh cepat kearah Arvie.


"Beri Vano pelajaran yang setimpal..."perintah Arvie.


"Perintah diterima..."jawab David lalu keluar dari ruangan itu dengan santai.


"Ky lo boleh pergi, siapin semuanya buat acara besok. Sekalian kasih tau nenek kakek gue..."perintah Arvie.


Tanpa suara apapun Dicky keluar dari ruangan itu.


"Dan lo Far, gue pengen lo usut tuntas soal kekayaan bokap gue. Gue yakin ada yang gak beres sama kasus ini. Karena semuanya seperti sudah direncanakan, mulai dari kecelakaan pesawat dan juga pengalihan harta bokap gue, semuanya seperti terstruktur. Gue percayakan semuanya sama lo Far. Selidiki semuanya yang mencurigakan..."perintah Arvie.


Dibalik sifat Farhan yang sering bercanda, jangan salah, ia juga bisa menjadi sangat serius. Ia juga handal dalam mencari informasi sesulit apapun. Maka dari itu Arvie mempercayakan semuanya pada Farhan.


"Gue bawa beberapa bodyguard lo..."ucap Farhan.

__ADS_1


Arvie mengangguk, bersamaan dengan Farhan yang pergi keluar ruangan. Mereka sudah mendapat tugasnya masing-masing.


Arvie tidak akan membiarkan semua ini. Semuanya terasa sangat mencurigakan. Siapa yang berani memalsukan tanda tangan ayahnya. Tentu saja bukan sembarang orang bisa melakukannya. Arvie curiga jika ini adalah orang-orang terdekatnya yang mengkhianatinya.


🕓🕓🕓


Di perjalanan pulang sekolah Vano dan Angel mengendarai mobil bersama.


"Malam ini ada makan malam keluarga Van, keluarga lo sama keluarga gue. Lo datang ya Van?..."ajak Angel.


"Pasti lah, deket juga lagian..."jawab Vano santai.


Tiba-tiba Vano dihadang oleh motor hitam yang berhenti tepat didepan mobil Vano. Hal itu membuat Vano dengan cepat keluar dari mobil.


"Woy ngapain lo..."teriak Vano.


David melepas helm nya lalu menyeringai ke arah Vano.


"Jadi ini pria brengsek yang berani nyakitin adik sahabat gue. Cih banci lo..."ledek David.


Vano yang tersulut emosi dengan cepat menyerang David. Jangan lupa Vano bukan tandingan David. David cukup handal dalam ilmu bela diri, siapa lagi yang melatihnya jika bukan Arvie.


Mudah sekali bagi David mengalahkan Vano. Bahkan David sudah memukul Vano membabi buta.


Angel berteriak histeris meminta tolong namun nihil. Jalan itu sangat sepi. Tak ada siapapun yang lewat.


Bugh


"Ini karena lo udah berani nyakitin adik sahabat gue..."


Bugh


"Ini karena lo udah fitnah adik sahabat gue..."


Bugh


"Dan ini karena tangan kotor lo udah berani nampak adik sahabat gue..."ucap David lantang.


Sedangkan Vano sudah terkapar tak sadarkan diri. Wajahnya penuh dengan luka lebam, dan darah segar mengalir di pelipis dan sudut bibirnya. David dengan santainya kembali menaiki motornya dan melaju meninggalkan Angel yang sudah menangis disamping Vano.

__ADS_1


__ADS_2