Elisya

Elisya
121


__ADS_3

"Gak perlu, gue mundur..."


Arvie dengan cepat berbalik saat kalimat itu keluar dari mulut Dicky. Ia tau sahabatnya ini bukan tipe orang yang mudah menyerah dalam mendapatkan sesuatu. Namun jika ia menyerah, berarti hal itu sangat menyakitinya.


"Gue mohon Ky, biarin gue denger ini semua dari Elisya dulu. Lo bukan anak-anak lagi Ky, gue yakin lo bisa dewasa hadapin ini semua. Lo tenangin pikiran lo dulu. Gak akan ada keputusan yang tepat kalau lo ambil saat emosi..."tegas Arvie lalu keluar meninggalkan Dicky seorang diri.


Dicky mengacak rambutnya gusar. Lalu membaringkan tubuhnya dimatras. Saat itu pula rasa lelah yang teramat sangat mulai menyerangnya.


🕓🕓🕓


Elisya mengurung diri dikamarnya sehabis sarapan tadi. Gadis itu menangis terisak-isak sambil bersandar disamping ranjang. Ia menelungkup kan wajahnya diantara kedua lututnya sambil memeluk kakinya erat.


Arvie tiba-tiba datang kekamar Elisya. Membukanya tanpa permisi. Arvie bingung sekarang. Siapa yang harus ia salahkan. Bahkan adiknya terlihat sangat mengenaskan hanya karena Dicky mengabaikannya.


"Sya..."panggil Arvie sambil duduk disamping Elisya.


Elisya mendongakkan kepalanya. Menatap kearah Arvie dengan wajah bersimbah air mata. Memeluk sang Arvie sangat erat sambil menangis sesenggukan.


"E-elisya t-takut, bang Iky m-marah..."ucapnya terbata-bata disela tangisnya.


Arvie menghela nafas pelan, sambil mengelus kepala adiknya.


"Elisya? Lo sayang gak sama Dicky?..."tanya Arvie tiba-tiba.


Elisya menyembunyikan wajahnya didada bidang Arvie.


"E-elisya sa-sayang banget sama bang Iky..."jawabnya masih terbata.


Arvie terdiam. Lalu kenapa adiknya ini menemui Vano jika ia begitu menyayangi Dicky.


"Elisya, jujur sama gue. Lo kemana kemarin?..."tanya Arvie mulai serius.


Elisya menggelengkan kepalanya.


"Elisya ketaman deket rumah..."jawabnya pelan.


"Sama siapa Sya, jawab gue jujur kali ini..."tegas Arvie.


Elisya terdiam, ia tak menjawab pertanyaan Arvie sama sekali.


"Lo masih sayang sama Vano Sya?..."tanya Arvie lagi.


Elisya lagi-lagi menggeleng tanpa jawaban.


Arvie menghela nafasnya kasar.


"Hidup itu pilihan Elisya. Lo gak bisa egois. Lo harus pilih salah satu yang membuat hidup lo jauh lebih bahagia. Hanya satu Sya, bukan keduanya..."jelas Arvie

__ADS_1


Elisya mendongak memahami apa yang Arvie jelaskan.


"Lo harus berani ngambil keputusan. Lo harus konsisten jangan labil. Tentuin keputusan lo biar gak nyakitin siapapun disini..."tegas Arvie.


"Elisya gak ngapa-ngapain kok bang..."lirih Elisya pelan.


"Lo tau kenapa Dicky hindarin lo?..."tanya Arvie.


Elisya menggeleng kuat seolah mencari jawaban itu dari mulut Arvie.


"Siapa cowok yang gak sakit hati liat cewek yang dia sayang pelukan sama mantan kekasihnya. Lo bohongin gue Sya, lo ketemu Vano kan kemarin. Lo tau seberapa khawatirnya Dicky pas tau lo gak ada dirumah. Dia panik Sya. Dia sampai nyari lo kemana-mana. Dan yang dapat cuman liat lo pelukan sama Vano. Lo pikir gimana perasaan dia..."bentak Arvie.


Elisya bungkam. Mencoba mencerna apa yang dikatakan Arvie barusan. Ia dengan cepat melepaskan pelukannya pada Arvie. Mengusap kasar air matanya lalu dengan cepat berdiri.


"Bang Iky dimana, bang Iky salah paham sama Elisya bang hiks hiks..."tangis Elisya histeris.


"Diruang olahraga..."jawab Arvie tenang.


Elisya dengan cepat berlari kesana. Sedangkan Arvie mengikutinya dibelakang. Ia tentu ingin mendengar kebenaran itu keluar dari mulut adiknya sendiri.


Elisya berlari tergesa-gesa menuju ruang olahraga sambil menangis sesenggukan. Ia bahkan membuka pintu ruangan itu tanpa hati-hati hingga ia terjatuh kelantai. Ia meringis saat lututnya merasa sangat sakit karena itu.


Dicky yang melihat itu sangat kaget. Hatinya berperang dengan pikirannya. Ia tentu saja khawatir pada keadaan Elisya. Namun ia harus kuat pada pendiriannya. Ini salah Elisya.


Elisya tak memperdulikan rasa sakit di lututnya. Ia meneruskan langkahnya menuju Dicky yang kini sudah duduk dilantai menatapnya.


Dicky tersenyum getir. Namun ia cukup dewasa dalam hal ini. Bagaimana pun Elisya berhak menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Elisya punya hak atas itu.


Dicky hanya diam seraya mengangguk sebagai jawaban.


Elisya menghela nafasnya pelan lalu mulai menceritakan bagaimana kejadian sebenarnya.


Flashback on.


"Ka V-an-o..."panggil Elisya dengan suara bergetar. Untuk pertama kalinya ia melihat Vano menangis didepannya. Pria dingin yang dulunya selalu memasang muka jutek dan pemarah pada Elisya, lihatlah ia serapuh ini sekarang.


Vano tiba-tiba saja meraih kaki Elisya dan berjongkok didepannya seraya menangis.


"Elisya maafin gue. Kesalahan gue besar banget sampai lo mungkin gak akan maafin gue. Gue nyesel banget Sya..."lirih Vano rapuh.


Elisya dengan cepat menuntun Vano berdiri.


"Jangan gini ka Vano. Elisya udah maafin ka Vano kok. Kita duduk dikursi itu dulu..."jawab Elisya.


Mereka berdua duduk di kursi itu.


Elisya ikut menangis saat melihat serapuh apa Vano tanpanya.

__ADS_1


"Jangan nangis Sya, gue gak mau lo nangis lagi gara-gara gue si pria brengsek ini..."lirih Vano penuh dengan nada penyesalan.


"Semuanya sudah berlalu ka. Elisya juga udah lupain semua itu. Elisya cuman pengen ka Vano jadi pribadi yang lebih baik lagi..."pesan Elisya tulus.


"Gue mau lo Sya, gue sayang banget sama lo. Cuman lo sumber kebahagiaan gue. Kembali sama gue Sya, gue janji gak akan nyakitin lo lagi. Gue mohon Sya..."mohon Vano sambil menggenggam kedua tangan Elisya.


Elisya perlahan melepaskan genggaman tangan Vano.


"Ka Vano, semuanya udah beda kak. Elisya emang maafin ka Vano. Tapi buat balik lagi kaya dulu. Elisya gak bisa..."jawab Elisya pelan.


"Gue mohon Sya. Gue cinta banget sama lo. Gue tau kesalahan gue fatal banget, tapi tolong beri gue kesempatan satu kali lagi Sya..."mohon Vano tak menyerah.


"Elisya gak bisa kak, kalau kak Vano sayang sama Elisya. Elisya mohon kak Vano jangan gini lagi. Kasian tante Yunita sedih liat ka Vano gini..."jelas Elisya.


"Gue akan berubah kalau lo balik sama gue Sya, gue akan semangat kaya dulu lagi..."mohon Vano.


Kini Elisya lah yang meraih tangan Vano dalam genggamannya.


"Ka Vano, Elisya yakin kok ka Vano orang baik. Ka Vano juga udah dewasa. Ka Vano tau apa yang terbaik buat ka Vano. Elisya pengen ka Vano jauh lebih baik lagi kedepannya walaupun itu tanpa Elisya. Ka Vano harus berjuang demi diri ka Vano sendiri..."jelas Elisya.


"Elisya sudah bahagia sekarang, Elisya yakin kak Vano juga bahagia kalau liat Elisya bahagia juga. Elisya mohon sama kak Vano, ikhlaskan Elisya. Tuhan pasti kasih yang lebih baik lagi buat ka Vano..."pesan Elisya.


"Gue mau lo Sya..."mohon Vano tampak memelas.


"Ka Vano, Elisya gak pernah nyesel karena udah kenal ka Vano dulu. Elisya bahagia banget dulu waktu sama ka Vano. Tapi sekarang Elisya sudah punya kebahagiaan sendiri. Dan ka Vano juga harus gitu..."jawab Elisya.


"Ada banyak kenangan tentang kita Sya. Lo udah lupain semuanya?..."tanya Vano.


"Elisya gak lupa kak. Cuman itu kan dulu, kita harus melangkah kedepan. Kita cuman bisa ambil pelajaran dari masa lalu kita kak. Kita akan semakin dewasa. Jadi pemikiran kita juga harus dewasa..."nasehat Elisya.


Vano terdiam. Cukup lama. Sampai akhirnya.


"Sya, gue boleh peluk lo gak? Pelukan terakhir mungkin..."mohon Vano dengan tersenyum getir.


Elisya perlahan mengangguk. Vano dengan cepat memeluk Elisya erat. Mereka berdua menangis sesenggukan seolah mengeluarkan unek-unek mereka masing-masing.


"Gue janji akan jadi lebih baik lagi demi lo Sya, makasih sudah mau maafin gue. Gue sayang banget sama lo. Gue berharap lo bahagia walaupun gak sama gue. Gue pengen liat senyum lo terus. Itu kebahagiaan terbesar gue..."lirih Vano disamping telinga Elisya.


Elisya menyembunyikan wajahnya didada bidang Vano.


Sungguh ia bersyukur. Akhirnya ia bisa berdamai dengan masalalunya sekarang. Dan melanjut masa depannya bersama Dicky.


Flashback off.


🕓🕓🕓


Gimana readers? masih penasaran gak🤣

__ADS_1


__ADS_2