Elisya

Elisya
Bantuan kecil


__ADS_3

Seluruh panitia pelaksana kegiatan ulangtahun sekolah sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Hingga seluruh siswa-siswi mengalami jam kosong, karena para guru juga sibuk mempersiapkan.


"Sya bantuin aku anterin kotak P3K ini keruang UKS, aku masih sibuk nih..."ucap Lisa.


Merasa bosan Elisya menyetujui, ia mulai berjalan perlahan menuju ruang UKS yang berada disebelah lapangan basket.



Saat dalam perjalanan Elisya melihat ada beberapa siswa yg bergerombol, merasa penasaran Elisya pun mendekat. Elisya kaget karena disana terlihat Vano yang duduk diatas lapangan dengan kakinya yang sedikit berdarah.


"Ka Vano kenapa ka..."tanya Elisya memberanikan diri.


"Ini Vano jatuh tadi..."jawab Hendra.


Karena merasa memegang kotak P3K Elisya langsung berjongkok didepan Vano, dan mulai membuka kotak P3K itu. Saat ia ingin membersihkan luka Vano tangannya ditahan oleh Vano.


"Eh lo ngapain sih nyentuh-nyentuh gue..."ucap Vano ketus.


"Kak Vano gak tau lagi sakit masih aja suka marah-marah, aku mau bersihin lukanya, nanti infeksi..."jelas Elisya lalu mulai mengobati luka Vano tanpa memperdulikan reaksi Vano.


Vano hanya diam sambil mengamati wajah Elisya secara Intens.


"Cantik..."gumamnya, namun dengan cepat ia menepis pikiran bodohnya itu.


"Nih udah kak, lukanya udah aku obatin, kaka istirahat aja kekelas jangan main lagi kak..."ucap Elisya.


"Lo siapa sih nyuruh-nyuruh gue..."Vano angkat suara.


"Yee diperhatiin juga malah marah, yaudah deh aku pergi dulu, sama-sama ka Vano..."ucap Elisya cemberut karena Vano selalu saja kasar padanya padahal ia sudah menolong nya, tapi Elisya tak mau ambil pusing ia membereskan kotak P3K nya dan bergegas menuju UKS.


Vano masih terdiam dalam duduknya, seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba Aldi membuyarkan lamunan Vano.


"Lo sih Van gak tau terimakasih udah dia tolongin juga, langka loh Van, udah cantik, baik, kurang apalagi Van..."goda Aldi.


"Ahh diam lu ah..."Vano pun berdiri perlahan menuju kursi disamping lapangan sedangkan teman-temannya melanjutkan permainan.


"Tuh cewe siapa sih, selalu ada ganggu kehidupan gue, dimana-mana selalu ada..."gumam Vano lalu meminum minumannya.


Di Ruang UKS



Elisya nampak mengetuk pintu ruang UKS,


"Permisi bu saya boleh masuk..."


"Silahkan nak..."sahut bu Siska penjaga UKS.


"Ini bu kotak P3K nya maaf saya yang antar, soalnya Lisa lagi sibuk bu..."ucap Elisya sopan.


"Ga papa nak, terimakasih ya nak..."ucap bu Siska.


"Maaf ya bu tadi obatnya aku pakai sama perbannya soalnya bantuin ka Vano tadi jatuh dilapangan waktu main basket..."jelas Elisya canggung.


Ibu siska tersenyum mendengar penuturan Elisya


"Anak itu dari dulu tidak pernah hati-hati, masih saja suka terjatuh, terimakasih ya nak sudah menolong Vano..."


"Ibu kenal Ka Vano..."tanya Elisya penasaran.


"Saya ini adalah sahabat dari Ibunya Vano, jadi Vano sering sekali bermain dengan saya sewaktu kecil..."senyum terbit diwajah bu Siska.


"Kenapa ka Vano cuek banget ya bu sama cewe..."Elisya sedikit menyesal mengeluarkan pertanyaan itu. Untuk apa juga ia ingin tahu.


Bu Siska tersenyum menatap Elisya,


"Vano itu anaknya baik dan penyayang nak, Vano memiliki seorang kaka laki-laki bernama Anggara Mahesya tapi sudah meninggal, dulu istri dari Anggara selingkuh, mendengar hal itu membuat Anggara frustasi dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya..."terlihat raut wajah sedih dari bu Siska.

__ADS_1


Elisya terbawa suasana ia ikut merasakan kesedihan itu.


"Lalu apa yang terjadi bu..."tanya Elisya pelan.


"Sejak itu lah Vano terlihat tidak pernah peduli dengan wanita, ia merasa takut mengalami hal yang sama seperti Anggara..."sambung bu Siska.


"lalu dengan ka Angel?..."tanya Elisya lagi.


"Dia adalah sahabatnya dari kecil, itulah yang membuat Vano mampu menumbuhkan rasa percaya nya pada Angel..."sambung bu Siska lagi.


Elisya hanya terdiam mendengarkan penjelasan bu Siska, tiba-tiba bu Siska menepuk pundak Elisya.


"Jika kamu memang menyukai Vano, kejar dia nak, terus berusaha..."semangat bu Siska.


Elisya kaget dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Emm i-iya bu..."jawab Elisya terbata.


"Saya izin undur diri dulu bu, mau ke kelas..."Elisya pamit lalu mencium punggung tangan bu Siska.


Bu Siska hanya mengangguk


"Wanita yang cantik dan kelihatan sangat tulus..."gumamnya.


Sedangkan Elisya buru-buru meninggalkan UKS dan dengan cepat menuju kelasnya, ia merasa sangat gugup dan kaget dengan ucapan bu Siska tadi.


_____


Tibalah jam pulang sekolah.


Elisya berjalan menuju gerbang sekolah.


"Sya maaf ya kaka gak bisa nganterin kamu nih, soalnya tugas kaka masih banyak, kamu tau kan kaka ketua osis disini jadi otomatis kaka yang akan handle semuanya..."sapa Sam.


"Santai aja kali ka, Elisya bisa pulang sendiri ko, kaka lanjutin aja pekerjaan kaka..."Elisya tersenyum.


"Yaudah Sya kaka duluan ya, udah ditungguin tuh..."Sam pamit undur diri.


Elisya hanya mengangguk. Ia kini melanjutkan perjalanan nya untuk pulang.


Tanpa sengaja mata Elisya berhenti pada sosok Vano yang terlihat kesusahan berjalan karena kakinya yang terdapat cedera dan sedikit darah tadi pagi.


Elisya merasa kasian melihat Vano, dengan cepat ia berlari menghampiri Vano.


"Sini kak aku bantuin ke mobil..."sapa Elisya sopan.


"Ga usah gue bisa sendiri, lo gak usah sok baik sama gue..."jawab Vano kasar lalu menepis tangan Elisya.


Elisya nampak tak patah semangat, semakin Vano menolaknya ia malah semakin penasaran.


Vano berusaha berdiri walaupun kakinya masih sakit tapi ia berusaha sekuat mungkin didepan Elisya. Tiba-tiba keseimbangan tubuh Vano berkurang hingga membuatnya hampir jatuh.


Elisya dengan sigap menangkap tubuh kekar Vano. Elisya seperti sedang memeluk Vano, padahal ia hanya menahannya saja. Begitu juga dengan Vano, ia begitu erat memegang punggung Elisya karena hampir jatuh.


Tatapan mereka bertemu beberapa saat, Vano langsung membuang pandangannya dan melepaskan tangannya pada punggung Elisya. Pipi Elisya merona seketika, ia merasa malu dan juga gugup sekali.


"Udah aku bilang kan ka biar aku bantu..."ucap Elisya menetralkan keadaan.


Vano hanya diam dan membiarkan Elisya meletakkan tangan Vano di bahunya lalu membantu Vano berjalan.


Elisya berjalan dengan sangat hati-hati sambil menuntun Vano, setelah sampai diparkiran ia membuka pintu mobil Vano.


"Sini ka aku bantu duduk..."ucap Elisya sedangkan Vano masih saja diam.


Kini Vano sudah duduk didalam mobilnya.


"Yaudah kak, sekarang kaka pulang duluan..."pamit Elisya.

__ADS_1


Sebelum Elisya menjauh Vano sudah menangkap tangan Elisya.


"Naik..."ucapnya singkat.


Elisya langsung paham apa yang dimaksud Vano, karena ia tak ingin Vano marah lagi ia langsung bergegas masuk ke mobil Vano.


Didalam perjalanan hanya hening, tidak ada percakapan sama sekali, mereka terlihat sibuk dengan isi kepala mereka masing-masing.


"Stop kak, ini udah sampai, makasih yah kak udah anterin aku..."Elisya langsung bergegas keluar dari mobil Vano.


Sedangkan Vano hanya berdehem tanda mengiya kan.


Elisya sudah berlari masuk kerumah beringingan dengan Vano yang melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Kini Vano terlihat sudah memasukkan mobilnya di bagasi rumahnya.



"Pak Adi tolongin Vano dong..."panggil Vano.


Pak Adi sang satpam langsung berlari menghampiri Vano.


"Kenapa tuan..."


"Biasalah jatuh dikit, bantu aku kerumah..."perintah Vano.


Pak Adi pun langsung membantu Vano dan mengantarkan sampai ke sofa.



Vano duduk dengan santai disana.


"Eh Vano udah pulang sayang..."sapa Yunita Mahesya sang ibu.


Vano tersenyum ramah.


"Udah ko mah..."jawab Vano.


Yunita terlihat sudah duduk disamping putranya itu.


"Vano kaki kamu kenapa sayang, ko diperban gini..."ucapnya khawatir.


"Biasalah mah jatuh pas main basket, tapi udah dibersihin kok..."ucap Vano.


Yunita merasa sedikit lega.


"Tante Siska ya yang bantu kamu..."


"Bukan mah tapi adik kelas Vano..."ucap Vano spontan.


Seketika senyum merekah dibibir Yunita, selama ini ia takut Vano benar-benar trauma dengan kejadian yang kakanya alami, hingga Vano tak pernah melirik wanita manapun kecuali Angel sahabat kecilnya.


"Siapa sayang, ngga dikenalin ke mamah?..."tanya Yunita antusias.


"Ngapain mah, orang adik kelas doang, ngeselin lagi, kerjaan nya ngerepotin Vano mulu..."ucap Vano kesal.


"Jangan gitu Van nanti kemakan omongan sendiri, baru tahu rasa kamu. Cantik gak Van..."tanya Yunita penasaran.


"Cantik mah..."seketika Vano langsung menutup mulutnya, ia merasa menyesal karena mengatakan itu pada sang ibu.


Sedangkan Yunita terlihat sangat senang.


"Nanti kapan-kapan ajak kerumah ya Vano, yaudah kamu istirahat dulu, mama mau kekamar..."pamit Yunita.


"Gak mau mahh..."ucap Vano sedikit berteriak beriringan dengan Yunita yang sudah meninggalkan Vano.


Yunita hanya terkekeh melihat kelakuan putranya itu.

__ADS_1


__ADS_2