
Matahari telah memancarkan sinarnya dengan terangnya, menyambut dunia dengan sinarnya. Elisya tengah dalam perjalanan menuju penjara yang memang sudah direncanakan Arvie.
"Akhirnya Elisya bisa hirup udara segar lagi..."ucap Elisya girang.
"2 hari lagi kita ke rumah utama Sya..."ucap Arvie.
"Amerika? Serius?..."tanya Elisya yang dibalas anggukan oleh Arvie.
"Ah gak sabar pengen ketemu Jeny, udah lama gak ketemu dia. Dia sahabat Elisya, Elisya pernah janji akan sering-sering kesana nyamperin dia. Eh malah gak pernah ada waktu..."ucap Elisya sedih.
"Nanti sekalian suruh nginep aja Sya..."saran David.
"Yee lo gak bisa denger nama cewek..."kesal Farhan yang mengundang gelak tawa Elisya.
Mobil yang dikendarai Arvie sudah sampai di kantor polisi terbesar di negara itu. Tentunya ada banyak orang kepercayaan Qiandra disana.
"Silahkan masuk tuan..."ucap seorang polisi membungkukkan badannya hormat kearah Arvie.
"Dimana Johannes..."tanya Arvie tegas.
"Mari ikuti saya..."jawab polisi itu.
Elisya berjalan dengan diampit oleh Arvie dan Dicky dikedua sisi kanan dan kiri. David yang menjaga dari belakang Elisya dan Farhan yang berjalan didepan Elisya.
Sampai lah mereka dijeruji besi yang sempit dan gelap. Disini benar-benar mengerikan. Ruangan bawah tanah tanpa ada cahaya matahari yang masuk. Hanya ada sebuah lampu disana.
Johannes ada didalam jeruji besi yang mengerikan itu. Arvie bisa memastikan jika Johannes tak akan bisa lolos dari sini. Tentunya dengan ribuan pengawal yang Arvie arahkah untuk mengamankan Johannes.
Elisya menghela nafas, mencoba menguatkan dirinya.
"Gimana om? Enak gak disini?..."tanya Elisya dengan nada mengejek.
Johannes marah, "Sialan, kamu menjebak saya...."teriak Johannes.
"Gue pastiin lo akan membusuk disini..."ucap Arvie santai.
Johannes tertawa lancang,
__ADS_1
"Setidaknya saya sudah membunuh kedua orang tua kalian..."ucap Johannes bangga.
Elisya meringis menahan rasa sesak yang menyeruak dalam dirinya namun dengan sekuat tenaga ia menahannya.
"Selamat membusuk dipenjara om, karma is real. Kita akan impas. Tapi Elisya gak akan biarin om mati dengan mudah. Elisya akan arahin pengawal Elisya buat siksa om setiap harinya sampai om sendiri yang memohon untuk segera dibunuh..."ucap Elisya dengan senyum menyeringai.
Detik selanjutnya mereka pergi dari sana. Bersamaan dengan Johannes yang terus-menerus berteriak agar dilepaskan. Namun itu mustahil.
Elisya tiba-tiba saja memeluk Dicky yang berjalan disampingnya. Lalu menangis terisak. Wanita itu sudah berusaha berlagak kuat didepan Johannes, padahal perkataan Johannes benar-benar melukai hatinya.
"Hey my girl, don't cry..."ucap Dicky mengusap lembut rambut Elisya.
"Hiks hiks, Elisya kangen mamah papah..."isakan Elisya terdengar sangat menyedihkan.
"Gak papa, semuanya akan baik-baik aja. Tenang oke, gue ada disini, kita semua ada disini buat lo..."ucap Dicky menenangkan.
Mata Arvie bahkan sudah memerah karena melihat adiknya sesedih ini, ia merasa gagal membahagiakan Elisya.
"Kita pulang sekarang, Elisya perlu istirahat..."putus Arvie.
Dicky pun menuntun Elisya berjalan perlahan sambil mengusap pelan sisa air mata dipipi Elisya.
🕓🕓🕓
"Makan dulu..."ucap seorang laki-laki yang menyodorkan sepiring makanan pada Angel. Laki-laki yang sudah menemani Angel selama beberapa bulan terakhir.
"Thanks ya Ki, gue bersyukur banget lo ada disini gue, nemenin gue si cewe penyakitan..."ucap Angel sendu.
Ya pria itu adalah Riski, teman akrab dari Samuel. Wakil ketua OSIS. Sebenarnya Riski memang sudah lama menaruh hati pada Angel namun Angel tak pernah meresponnya. Dan sekarang pria itu membuktikan seberapa tulus cintanya, bahkan ia menerima dengan senang bagaimanapun keadaan Angel.
"Apapun buat lo Ngel, jangan pernah insecure sama diri lo sendiri. Lo sempurna dimata gue..."jawab Riski.
"Gue gak tau lagi gimana hidup gue kalau gak ada lo, gue gak akan pernah ngerasain dicintai sedalam ini. Gue sayang banget sama lo..."ucap Angel menangis terharu.
"Jangan sedih, jaga kesehatan lo Ngel, jantung lo lemah. Lo gak boleh sedih atau banyak pikiran..."pesan Riski.
"Gue pengen banget ketemu Vano sahabat kecil gue, gue juga pengen ketemu Elisya. Gue pengen minta maaf ke mereka walaupun gue harus sujud dikaki mereka sekalipun. Selagi itu bisa bikin mereka maafin gue, gue akan lakuin. Gue terlalu jahat buat dimaafin, Elisya pasti benci banget sama gue Ki..."ucap Angel sedih.
__ADS_1
"Lo harus sembuh dulu, baru kita nyari Elisya. Janji akan terus bertahan ya cantik, gak boleh sakit lagi..."pesan Riski.
Angel meletakkan piring makanannya. Lalu meraih tubuh Riski ke pelukannya.
"Gue sayang banget sama lo Ki..."ucap Angel.
"Gue juga sayang banget sama lo..."ucap Riski sambil mengelus rambut Angel.
🕓🕓🕓
Disebuah cafe yang penuh dengan gemerlap lampu warna warni. Bella, Lisa dan Sam tengah berbincang membahas ulang tahun Elisya.
"Gue udah bilang ke Arvie, dan kata Arvie dia pengen rayain ulang tahun Elisya di rumah utama Qiandra Amerika..."ucap Bella.
"Okey gue setuju, udah lama juga gak kesana. 2 hari lagi kita kesana. Tapi gak boleh sampai Elisya tau. Biar suprise aja..."ucap Lisa antusias.
"Gimana soal persiapannya..."tanya Sam.
"Kayanya gak usah terlalu mikirin itu deh, soalnya bang Arvie pasti udah siapin pesta mewah buat Elisya. Kita mikirin harus kasih Elisya hadiah apa?..."tanya Lisa.
"List dulu deh barang-barang kesukaan Elisya..."ucap Bella.
"Elisya suka es krim, tapi gak mungkin dong ngasih es krim..."ucap Sam mempertimbangkan usulnya.
"Kalau baju atau aksesoris lainnya, tuh anak udah banyak banget tau nggak. Mahal-mahal lagi..."keluh Lisa.
"Gimana kalau kita bikinin sketsa dengan foto keluarga Qiandra. Jadi disana ada orang tuanya, Arvie, dan Elisya tentunya. Pasti dia suka. Soalnya dia pasti kangen banget sama orang tuanya kan?..."usul Bella.
"Ide bagus, gue setuju sih. Sketsa yang sederhana tapi elegan..."ucap Lisa antusias.
"Elisya juga suka coklat..."ucap Lisa.
"Okey kalau gitu kita kasih sketsa keluarga aja, sama buket bunga mawar besar dipenuhi coklat didalamnya..."ucap Sam.
"Setuju banget..."jawab Bella.
"Kalau gitu kita cari tempat yang bisa bikinin sketsa yang bagus dulu. Yuk berangkat..."ajak Lisa.
__ADS_1
"Yuk..."jawab Bella cepat.