Elisya

Elisya
45


__ADS_3

Tanpa terasa jam pulang sekolah sudah tiba, Elisya bergegas merapikan tas sekolahnya dan berjalan menuju gerbang sekolah. Ia sebenarnya tidak masalah jika harus jalan kaki kesekolah, tetapi ia sudah terbiasa di antar jemput Vano. Ia memang sedang marah pada Vano tapi ia tetap setia menunggu Vano didepan gerbang sekolah.


Ditempat lain drama Angel masih berlanjut, ia tak pernah mau berjauhan dengan Vano. Selalu saja menempel disamping Vano dengan berbagai alasan. Vano pun nampak tak keberatan saat sahabat kecilnya itu bermanja padanya. Sesuai janjinya pada tante Desi ibunya Angel untuk terus menjaga Angel.


"Mba Elisya ya?..."lamunan Elisya buyar saat supir taksi berhenti tepat di depannya.


"Iya pak ada apa ya?..."sahut Elisya bingung.


"Mari naik mba..."ucap supir taksi itu.


Elisya mengernyitkan keningnya bingung, "Tapi saya gak mesan taksi loh pak..."


"Pesanan atas nama Elisya loh ini mbak, yang mesan atas nama Devano. Saya disuruh ngantar mbaknya pulang..."ucap supir taksi itu sopan.


Elisya tertegun sebentar, otaknya mencerna setiap kata yang dilontarkan supir taksi itu. Kemana Vano? Kenapa harus meminta supir taksi untuk mengantarnya.


"Bapak gak udah antar saya deh, saya bisa pulang sendiri..."jawab Elisya.


"Jangan gitu dong mbak, masa saya makan gajih buta ini, kerja ngga malah dapat bayaran. Ongkosnya udah dibayar sama pacar mbak lo..."ucap supir taksi itu bingung.


Elisya menghela nafasnya pelan, "Pak anggap aja itu sedekah ya pak, terimakasih ya pak. Saya permisi dulu..."pamit Elisya.


"Alhamdulillah lah kalau gitu..."supir taksi itupun pergi meninggalkan Elisya.


Elisya melangkahkan kakinya kembali memasuki area sekolah. Dirinya masih dilanda kebingungan. Apa alasan Vano tak mengantarnya pulang. Ia berjalan menuju parkiran. Ternyata disana ada Vano yang tengah membantu Angel memasuki mobil.


Elisya berjalan menghampiri Vano, ia menepuk pundak Vano pelan. Vano menengok ke arah belakang.


"Loh kamu ko belum pulang Sya, supir taksi yang jemput kamu mana..."tanya Vano bingung.


"Kenapa harus supir taksi sih. Kenapa gak kamu yang nganterin aku pulang..."tanya Elisya menahan emosi.


"Sya tolong ngertiin aku kali ini aja, Angel lagi nggak enak badan Sya. Aku harus cepat-cepat ngantar dia pulang..."jawab Vano.

__ADS_1


"Kapan sih aku nggak ngertiin kamu, selalu aja aku yang ngalah. Sebenarnya aku tuh bingung, pacar kaka itu aku apa ka Angel sih..."ucap Elisya lantang.


"Ya kamu lah, tapi sekarang Angel lagi butuh aku Sya..."


"Aku juga butuh ka Vano. Kenapa gak ka Angel aja yang naik taksi terus kamu nganterin aku pulang hah?..."bentak Elisya.


"Aku gak punya banyak waktu Elisya, aku harus cepat-cepat antar Angel pulang. Dia lagi sakit..."bentak Vano.


Elisya tertawa getir, "Segitunya ka Vano belain ka Angel, sampai bentak-bentak aku kaya gini..."


"Maaf Sya aku gak bermaksud bentak kamu tapi ini benar-benar darurat banget, udah ya aku pulang duluan. Kasian tuh Angel udah pusing banget dari tadi..."Vano masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan Elisya.


Angel tersenyum senang melihat pertengkaran kedua insan itu. "Heh ini belum seberapa Elisya, gue akan bikin lo jauh lebih sakit hati dari ini..."gumam Angel.


Vano masuk ke dalam mobil, "Lo nggak papa Ngel?..."tanyanya khawatir.


Angel langsung pura-pura kesakitan, "Kepala gue pusing banget Van, ayo buruan pulang..."rengeknya manja.


Vano langsung menjalankan mobilnya meninggalkan Elisya yang terdiam membatu ditempatnya. Ia masih tak menyangka kenapa Vano memperlakukan nya seperti ini. Hatinya terasa sangat sakit diabaikan hanya demi Angel.


Elisya tersenyum terpaksa, "Ka Bella duluan aja, Elisya ada urusan bentar..."bohong Elisya.


Bella mengangguk lalu tersenyum, "Yaudah gue duluan ya..."pamitnya.


Elisya mengangguk beriringan dengan kepergian Bella.


Langit sudah mulai sore, Elisya memutuskan untuk jalan kaki pulang kerumahnya. Dengan perasaan yang bercampur aduk Elisya berjalan seperti orang yang tak punya tujuan hidup. Ia benar-benar kecewa pada Vano.


Hujan tiba-tiba mengguyur dengan lebatnya, Elisya bahkan sama sekali tidak berniat menghindari hujan itu. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup diguyur hujan. Bersamaan dengan itu air mata Elisya yang jatuh ditengah lebatnya guyuran hujan. Ia melepaskan semua beban pikirannya.


"Kenapa sakit banget ya diginiin sama ka Vano..."lirihnya disela isakannya.


Elisya menoleh saat terdengar decitan rem mobil di sampingnya.

__ADS_1


"Astaga Elisya, kamu ngapain hujan-hujanan ditengah jalan kaya gini..."ucap Sam yang berlari keluar mobil membiarkan seragamnya ikut basah.


Ia menuntun Elisya masuk kedalam mobil, Elisya hanya menurut saja tanpa memberi respon sedikitpun. Setelah itu, Sam kembali masuk ke mobilnya. Ia meraih jaket yang ada dikursi belakang dan melilitkannya ketubuh Elisya yang menggigil kedinginan.


"Jangan hujan-hujanan gini dong Sya, kaka takut kamu sakit..."ucap Sam khawatir.


"Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku Sya. Jangan gini..."sambung Sam lagi.


Sam memang baru saja pulang dari sekolah. Tugas yang ia emban sangat banyak sesuai jabatannya sebagai ketua OSIS, itulah yang membuatnya sering pulang terlambat. Betapa terkejutnya Sam saat melihat Elisya hujan-hujanan ditengah jalan. Tanpa pikir panjang ia bergegas menghentikan mobilnya.


"Elisya gak papa ka..."ucap Elisya sambil memaksakan senyumannya.


Sam mengerti Elisya sedang sedih saat ini, tanpa pikir panjang ia merengkuh tubuh Elisya membawanya kedalam pelukannya.


Elisya sudah tak bisa menahan air matanya lagi, ia menumpahkan segala kekecewaannya pada Sam. Ia terisak dipelukan Sam.


"Cantiknya Sam gak boleh sedih dong. Jangan nangis kaya gini. Kamu tau nggak Sya, kadang kaka ngerasa gagal jadi cowo kalau liat wanita yang spesial dihidup kaka nangis kaya gini..."ucap Sam sambil terus mengelus puncak kepala Elisya.


Elisya masih terisak dipelukan Sam, pelukan yang sangat hangat seperti pelukan kakak kandungnya sendiri.


"Hiks hiks, ka Vano bentak Elisya kak..."ucap Elisya disela isakannya.


Sam menghela nafas kasar, "Gue nyerahin Elisya buat dijagain Vano, bukan lo bentak kaya gini..."gumam Sam dalam hati.


"Udah-udah jangan nangis lagi, kaka akan selalu ada buat kamu. Lampiasin semuanya sama aku Sya, asal jangan nangis kaya gini lagi. Kaka jadi ikutan sedih kan. Masa cantiknya aku nangis sih..."bujuk Sam.


Tangisan Elisya mulai mereda. Ia melerai pelukannya.


"Makasih ya kak, kaka selalu ada buat Elisya..."ucap Elisya tulus.


"Sekarang kita pulang ya, nanti kamu tambah kedinginan..."ucap Sam lalu mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Disebuah halte yang tak jauh dari sana ada seorang wanita yang tersenyum puas.

__ADS_1


"Rasain lo Sya, kita liat gimana respon Vano setelah liat foto-foto ini. Liat aja nanti, apa Vano bisa ngelawan traumanya sendiri..."ucapnya tersenyum puas.


__ADS_2