
Langit sudah menggelap menandakan hari sudah malam.
Angel nampak mengetuk-ngetuk pintu rumah Vano.
"Vano...tante ini Angel..."panggilnya.
"Eh Angel masuk na..."jawab Yunita ibunya Vano lalu mempersilahkan Angel masuk.
"Vano nya ada tante?..."tanya Angel.
"Oh ada ko, Vano dikamar tuh..."jawab Yunita jujur.
"Angel mau nyusulin Vano dulu..."pamit Angel dibalas anggukan oleh Yunita.
Angel bergegas menuju kamar Vano. Angel langsung membuka pintu kamar Vano yang memang tidak dikunci. Itu sudah menjadi kebiasaan Angel. Vano tersentak kaget,
"Vano..."panggil Angel manja.
"Eh Angel, ngapain Ngel?..."tanya Vano yang sedang memetik gitarnya.
"Ngapain kata lo, biasanya kan gue juga sering ke kamar lo Van..."kesal Angel.
"Iya tau, tumben aja gitu nyariin gue..."jawab Vano cuek.
"Lo ko ninggalin gue sih, biasanya juga antar jemput gue..."gerutu Angel.
"Oh iya gue lupa tadi, maaf ya Angel, soalnya gue anterin Elisya tadi..."ucap Vano sambil tersenyum saat mengingat sosok Elisya.
"Elisya mulu, besok akhir pekan kan Van, kita jalan yuk! Kaya biasa. Gue mau belanja..."ajak Angel antusias.
Vano menghela nafasnya pelan,
"Gue gak bisa Ngel, gue udah janji sama Elisya mau jalan-jalan besok..."jawab Vano jujur.
Angel mendengus kesal,
"Elisya lagi Elisya lagi, kenapa dia terus sih. Biasanya kan tiap akhir pekan kita selalu jalan berdua Van..."kesal Angel.
"Ya maaf ya Ngel, tapi gue bener-bener gak bisa..."ucap Vano.
Entah mengapa Angel merasa kehilangan sosok Vano, Vano yang selalu ada untuknya. Selalu menemani kemanapun ia pergi, dan selalu ada waktu untuknya. Kini tidak seperti itu lagi, Vano lebih sibuk dengan Elisya sekarang.
"Ko gue jadi marah gini ya, masa ia gue cemburu sama Vano..."gumam Angel.
Ya memang begitulah. Seseorang akan menyesal jika sesuatu perlahan mulai menghilang, termasuk perhatian.
"Terserah lo deh Van, gue mau pulang dulu..."Angel menahan emosinya.
__ADS_1
Vano tersenyum lalu mengangguk tanpa rasa bersalah, membuat Angel semakin emosi dan buru-buru meninggalkan rumah Vano.
🕓🕓🕓
Disebuah Mall Samuel dan Riski terlihat bingung,
"Gue beliin apa ya Ki buat Elisya?..."tanya Sam bingung.
"Gue juga bingung sih, kalau coklat gimana?..."saran Riski.
Samuel menghela nafasnya pelan,
"Kalau dia gak suka gimana, gak semua cewe kan suka makan coklat Ki..."keluh Sam.
"Kalung aja deh Sam, yang sederhana aja tapi elegan gitu..."goda Riski.
"Boleh juga tuh, gue nyari dulu deh bentar..."
"Yuk gue bantu, siapa tau aja lo perlu saran gue yekan..."pede Riski.
Sam tertawa melihat kelakuan temannya itu.
"Ki liat tuh, bagus kan tuh..."tunjuk Sam.
"Yang mana bego, gue gak liat..."kesal Riski.
"Iya Sam bagus sih, lo beli aja lah..."saran Sam.
"Pas kan queen gitu, Ratu di hati gue..."ucap Sam dilebay-lebay kan.
"Alah sia boy..."ejek Riski memperagakan orang ingin muntah.
Sam tertawa,
"Yaudah lo tunggu sini, gue beli dulu..."pamit Sam.
"Mba bungkusin yang ini ya, ini kartu atm saya..."ucap Sam sambil menyodorkan kartu atm miliknya.
Setelah selesai mereka pun keluar dari Mall itu.
"Thanks ya bro, udah bantuin gue lo..."ucap Sam.
"Alah santai aja kali, gue pamit duluan ya. Ada urusan..."pamit Riski.
"Oke, hati-hati lo bawa motor, kalau lo mati gue males ngelayat..."canda Sam.
__ADS_1
Riski meninggalkan Sam sendiri. Sam pun memutuskan untuk kerumah Elisya seperti tujuan utamanya.
🕓🕓🕓
Dikediaman Elisya, ia tampak murung duduk disofa sambil menonton televisi.
Revina yang melihat wajah murung putrinya langsung mendekati Elisya.
"Sayang, ko mukanya ditekuk gitu. Ada masalah apa sih..."
Elisya mendongakkan kepalanya menatap sang ibu.
Seketika tangisnya pecah sambil memeluk Revina. Revina kaget dan panik melihat putrinya yang tiba-tiba terisak dipelukannya.
"Sayang, kalau ada apa-apa cerita sama mamah sayang, jangan dipendam sendiri..."
Merasa sedikit tenang Elisya melepaskan pelukannya,
"Mah Elisya kecewa banget sama Lisa mah..."lirih Elisya pelan.
"Kenapa sayang jelaskan sama mamah..."ucap Revina.
"Lisa udah menghina Elisya mah, dia udah ngata-ngatain Elisya..."jelas Elisya.
"Sekarang kamu tenang dulu, ceritakan semuanya sama mamah..."tanya Revina lagi.
Elisya pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ketinggalan sedikit pun. Revina cukup kaget mendengar cerita putrinya.
"Apa Elisya salah mah suka sama ka Vano, dari awal juga Lisa bilang gak papa mah. Sekarang malah gitu..."ucap Elisya masih terisak.
Revina mengelus lembut rambut sang putri, memberikan ketenangan pada Elisya.
"Kadang ya Sya, gak semuanya teman itu selamanya baik sayang. Mamah juga sering ngalamin kaya kamu dulu. Kita gak boleh ngeluh, kita harus bisa ambil pelajaran dari setiap masalah. Kalau seandainya Lisa gak mau temenan sama kamu lagi berarti dia gak baik buat kamu.
"Gitu ya mah..."tanya Elisya.
Revina tersenyum,
"Gini sayang. Teman yang baik itu adalah teman yang bahagia saat melihat kita bahagia, bukan malah menghina dan menjauhi kita. Semangat ya sayang. Kamu pasti bisa ngatasin masalah ini. Semuanya akan baik-baik saja..."ucap Revina menenangkan.
Elisya kini sudah mulai sedikit tenang,
"Makasih ya mah..."lirih Elisya pelan.
"Udah dong anak mamah gak boleh cengeng. Harus kuat, semangat dong..."ucap Revina.
Elisya tersenyum dan merebahkan kepalanya dipangkuan sang ibu. Revina tersenyum melihat sifat manja putri bungsunya itu, lalu mengelus-elus kepala Elisya lembut sambil menonton televisi.
__ADS_1