Elisya

Elisya
93


__ADS_3

Angel langsung berdiri karena kaget, ia bahkan sudah gelagapan sekarang.


"Van, lo sejak kapan berdiri disitu..."tanya Angel panik.


"Gak usah basa basi lagi, gue udah denger semuanya. Munafik lo Ngel..."ucap Vano lantang.


Angel berlari meraih tangan Vano, namun Vano malah menepisnya dengan kasar.


"Gue bisa jelasin Vano dengerin gue dulu..."ucap Angel tak terima.


"Gak ada yang perlu dijelasin lagi Ngel, gue gak nyangka lo sejahat ini. Gue udah lakuin semuanya buat lo, ngejagain lo, manjain lo, tapi lo? Perempuan licik..."ucap Vano berdecih.


"Gue ngelakuin semua ini karena gue sayang sama lo Van, gue cinta sama lo..."ucap Angel yang sudah mulai terisak dalam tangisnya.


"Cinta? Omong kosong. Lo brengsek tau nggak. Lo egois, lo mengorbankan orang lain demi kepentingan lo pribadi..."bentak Vano.


"Van please gue sayang banget sama lo. Lo juga suka kan sama gue..."tanya Angel.


"Ternyata selama ini lo salah nilai kebaikan gue Ngel, gue emang sayang sama lo tapi sebagai sahabat. Rasa cinta gue cuman buat Elisya bukan buat lo. Gue kecewa sama lo Ngel, lo adalah orang yang paling gue percaya, gue jaga. Orang yang selalu gue bela, ternyata malah mengkhianati gue sedalam ini. Menghancurkan seluruh hidup gue..."mata Vano sudah memerah karena menahan emosinya.


"Lo bohong kan Van, lo itu cinta sama gue, satu sekolah juga tau itu. Lo sampai bela gue dari pada Elisya..."ucap Angel masih dengan bangganya.


"Lo gila Ngel, cara lo cukup untuk membuktikan kalau lo murahan, lo licik. Lo pikir dengan lo pura-pura sakit lo bisa bikin gue cinta sama lo? Jangan mimpi. Gue cuman kasian sama lo. Sebatas kasian..."teriak Vano.


"Hiks Van maafin gue..."ucap Angel melemah.


"Gue benci sama lo Ngel, mulai sekarang jangan pernah muncul dihadapan gue lagi. Gue gak pernah punya sahabat pengkhianat dan brengsek kaya lo. Kita batalin semuanya..."putus Vano.


"Van lo gak bisa gini dong..."protes Angel.


"Lo fitnah Elisya dengan kejinya, dan lo masih berusaha membela diri lo yang jelas-jelas emang salah. Sahabat mana yang ngehalangin kebahagiaan sahabatnya sendiri dengan cara sekotor ini..."ucap Vano benar-benar tak menyangka.


"Van gue mohon, gue cuman pengen lo jadi milik gue..."ucap Angel melemah.

__ADS_1


"Lalu gimana sama kebahagiaan orang-orang yang udah lo hancurin. Lo hancurin kebahagiaan gue, kebahagiaan Elisya. Asal lo tau gue cinta banget sama Elisya. Elisya itu hidup gue. Rumah ternyaman bagi gue, dan karena ada lo dihidup gue, gue jadi kehilangan dia. Lo Argghhhh..."teriak Vano lalu pergi meninggalkan kamar Angel.


"VANO..."teriak Angel.


"VANO GUE SAYANG SAMA LO HIKS HIKS..."teriak Angel histeris. Ia bahkan sudah mengacak-acak seisi kamarnya. Karin yang sedari tadi hanya diam kini bergegas menenangkan Angel yang semakin lama semakin histeris. Sedangkan Vano ia sudah pergi mengendarai mobilnya entah kemana.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Di ruangan VVIP Elisya dirawat. Padahal tidak ada luka serius padanya. Hanya saja Arvie yang khawatir terlalu berlebihan.


"Elisya baik-baik aja kak, kebentur dikit doang..."ucap Elisya dengan polosnya.


"Gue akan kasih pelajaran sama Bianca, berani-beraninya dia nyentuh adik gue, sialan..."protes Arvie.


"Kakak udah gak usah, Elisya baik-baik aja..."mohon Elisya.


"Ky, sore ini lo ajarin adik gue bela diri. Biar kalau ada yang gangguin dia, langsung bunuh aja..."ucap Arvie lantang.


"The real nyawa di tangan Arvie..."ejek David.


"Ya..."jawab Dicky menyetujui, seperti biasa pria ini masih sangat dingin.


"Yuk ah pulang, biar Elisya bisa istirahat. Gue juga mau kerja nih..."ucap Sella.


"Gue anterin ya Sel..."tawar David.


"Boleh-boleh aja sih kalau gak ngerepotin..."jawab Sella.


"Gak akan ngerepotin Sel, seneng banget malahan tuh anak..."sahut Farhan.


Siapa sangka jika David seorang playboy kelas kakap, sudah lama menaruh perasaan pada gadis sederhana seperti Marsella. Namun David masih belum berani mengungkapkan perasaannya. David bahkan pernah berjanji pada Farhan, jika dia bisa mendapatkan Marsella, maka ia akan memutuskan semua pacarnya dan berusaha menjadi pria paling setia bagi Marsella.


"Yaudah yuk pulang..."ajak Arvie.

__ADS_1


Karena kondisi Elisya memang baik-baik saja, jadi ia langsung diperbolehkan pulang. Dengan catatan jika ada keluhan lain, atau terasa pusing. Harus dibawa kembali ke rumah sakit untuk mengecek keadaan.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Disinilah Vano berada, ditempat ia menenangkan diri setiap ada masalah yang menghampirinya. Di hutan yang cukup rimbun dengan danau nan indah. Pemandangan disini masih asri, ditambah kicauan burung-burung dan udara yang sangat sejuk. Suara gemercik air yang sangat menenangkan.


Namun tidak dengan Vano, pria itu nampak acak-acakan. Sangat jauh dari kata tenang. Ia berkali-kali memukul pohon besar yang ada disampingnya hingga disela-sela jarinya sudah dipenuhi dengan darah, akibat terlalu keras menghantam pohon.


Ia duduk tersandar dipohon. Ia bahkan tak merasakan sakit sama sekali. Padahal kondisi tangannya cukup mengenaskan dipenuhi darah segar yang terus mengalir.


Vano memeluk lututnya, menelungkup kan wajahnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Bayangan kebersamaan nya dengan Elisya semuanya muncul dipikirannya. Bagaimana perasaan gadisnya itu sekarang.


Percayalah Vano merasa dirinya adalah pria paling brengsek karena memperlakukan Elisya dengan sangat buruk. Bagaimana bisa ia menyakiti wanita yang sangat ia cintai.


Vano memukul-mukul kepalanya sendiri. Rasanya apapun yang ia lakukan tak akan bisa menggantikan rasa sakit yang dirasakan Elisya. Demi Tuhan, ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup Vano.


Kenapa dulu ia tidak mempercayai Elisya? Bahkan sahabatnya pun mengkhianati dirinya. Vano menangis, tubuhnya bergetar. Jika boleh Vano ingin menukar seluruh hidupnya demi menggantikan rasa sakit yang telah ia goreskan di hati Elisya.


"ARGHHHH..."teriak Vano sambil mengacak kasar rambutnya sendiri.


"MAAFIN GUE SYA, GUE CINTA BANGET SAMA LO. PLEASE MAAFIN GUE..."teriak Vano dengan kondisi yang sangat memprihatikan.


Tak ada lagi Vano yang biasanya selalu cool, dan tampan. Kini pria itu nampak acak-acakan, wajah bersimbah air mata, tangan yang penuh darah. Sangat mengenaskan.


Hari yang memang sedari tadi mendung, kini meluapkan segala isinya. Hujan turun dengan derasnya. Namun Vano sama sekali tak beranjak untuk berteduh. Ia masih menangis, menangis sejadi-jadinya ditengah derasnya guyuran hujan. Ia bahkan tak memperdulikan bagaimana kondisinya nanti, yang ada dalam pikirannya hanyalah dimana Elisya? Apakah gadis itu masih mau bertemu dengannya? Apakah Elisya mau memaafkannnya? Sungguh Vano sangat mencintai Elisya.


πŸ•“πŸ•“πŸ•“


Yuhuuu gimana sama bab iniπŸ₯³ Penyesalan nan sangat ditunggu-tunggu bukanπŸ₯³ gimana ya kelanjutannya? pada penasaran gak sih?


Yuk coment sebanyak-banyaknya ya!!!


spam komen dan like okeπŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2