
Sam menghentikan mobilnya tepat didepan rumah Elisya. Setelah turun dari mobil, Sam langsung membopong tubuh Elisya dan membawanya memasuki rumah. Elisya sedikit canggung mendapat perlakuan dari Sam, tapi tak bisa ia pungkiri kakinya memang benar-benar sakit.
"Bi bi bukain pintu dong bi..."ucap Sam sedikit berteriak.
Bi Ina berlari membukakan pintu.
"Non Elisya kenapa den..."
Sam membawa Elisya masuk dan perlahan mulai mendudukannya di sofa.
"Jatuh tadi bi, bi bisa minta tolong ambilin air hangat sama handuk kecil gak bi, saya mau ngompres kakinya, takutnya bengkak..."ucap Sam khawatir.
Dengan cepat bi Ina mengambilkan apa yang disuruh Sam, tak perlu waktu lama bi Ina sudah membawakan apa yang diperintahkan Sam, Sam langsung mengambilnya dari tangan bi Ina.
" Terimakasih bi..."ucap Sam sambil tersenyum.
"iya den sama-sama..."jawab bi Ina lalu kembali ke dapur.
Sam berjongkok didepan tubuh dengan Elisya lalu dengan sangat hati-hati ia mengompres lutut Elisya, ia tak ingin Elisya merasa sakit.
" Kak Sam udah kak, kaki aku gak papa ko, cuman sakit dikit aja kak..."ucap Elisya merasa tidak enak.
"Engga pokonya kaka mau kompres dulu, ngga sakit apanya, sampai memar gini..."ucap Sam.
Elisya tersenyum,
"Makasih ya kak, kaka selalu baik sama aku..."
"Iya gausah sungkan gitu..."jawab Sam tersenyum.
Merasa sudah cukup Sam bangkit dan duduk disamping Elisya.
"Jadi gimana kamu bisa ikut acara sekolah gak Sya..."tanya Sam.
"Bisa kok ka, luka kecil gini aja, palingan besok juga udah sembuh..."ucap Elisya terkekeh.
"Yaudah kalau gitu kaka pulang dulu ya Sya, kamu jangan terlalu banyak gerak, istirahat ya cantik..."ucap Sam seraya mengacak rambut Elisya gemas dan beranjak dari duduknya.
"Mau aku antar ke depan gak ka?..."tawar Elisya.
"Ga usah Sya, kamu istirahat ya..."Sam pun pergi sambil melambaikan tangannya.
"Ciee ada yang lagi seneng nih..."ucap Revina sang ibu yang sedari tadi memperhatikan perlakuan Sam pada Elisya.
"Eh mamah..."Elisya sedikit kaget.
Revina duduk disamping Elisya.
"Kenapa bisa jatuh sayang, sampai memar gini, mau mama antar ke dokter gak sayang..."Revina nampak khawatir.
__ADS_1
"Biasalah mah, ada masalah dikit tapi tenang ada Elisya bisa atasin kok, kaki Elisya juga usah enakan..."jelas Elisya.
"Mama seneng kamu bisa deket sama Sam, dia anaknya baik, juga perhatian banget sama kamu, keliatan banget dari matanya kalau dia suka sama kamu sayang..."ucap Revina.
"Mamah apa-apaan sih mah, dia itu cuman kaka kelas aku mah..."ucap Elisya dengan wajah merona.
"Kan kita gak tau nantinya gimana..."goda Revina.
"Udah ah mah jangan mikir yang aneh-aneh, bantuin aku kekamar mah, kaki aku masih sakit dikit..."rengek Elisya manja.
Revina sang ibu langsung membantu putri kesayangannya itu menuju kamar.
Elisya duduk dikamarnya.
"Yaudah mamah tinggal dulu ya sayang, kamu istirahat..."ucap Revina lalu mengecup pucuk kepala putrinya dan berlalu keluar meninggalkan kamar Elisya.
Elisya hanya membalas dengan anggukan dan senyuman tanda mengiyakan.
Setelah kepergian sang ibu Elisya nampak sedikit berpikir
"Emang bener ya kak Sam suka sama aku, masa sih, kayanya ngga mungkin deh, kak Sam kan ganteng, baik, perhatian lagi, dan juga idola sekolah..."Elisya terlihat sedang berperang dengan isi kepalanya.
Tak mau ambil pusing Elisya memutuskan untuk tidur dan berharap besok kakinya sudah baik-baik saja.
_____
Pagi pun tiba semua aktivitas berjalan seperti biasanya.
Saat Elisya menginjakkan kaki di gerbang sekolah, seluruh siswa-siswi sudah ramai berada dilapangan.
Merasa penasaran ia langsung ikut bergabung.
"Lis ini kenapa ya ko rame banget sih..."tanya Elisya.
"Ini loh Sya lagi liat pantai yang akan kita kunjungi buat acara sekolah nanti..."jawab Lisa antusias.
"Ohh gitu ya, jadi rencananya mau kemana...?tanyanya lagi.
"Gila Sya kita bakalan ke Raja Ampat yang terletak Papua barat, disana pemandangan nya indah banget loh Sya..."Lisa terlihat sangat senang.
Berbeda dengan Elisya yang nampak bingung. Selama ini ia hanya berlibur ke luar negri entah itu Perancis, Inggris, Rusia, Jepang dan masih banyak lagi, tetapi ia tak pernah mendengar nama Raja Ampat itu. Mungkin karena Elisya baru pindah ke Indonesia, ia pun merasa penasaran dengan tempat itu, seindah apa Raja Ampat, apakah lebih indah dari banyaknya pantai yang pernah ia kunjungi.
Elisya terlihat sibuk dengan isi kepalanya.
Melihat Elisya bengong, Lisa langsung menyenggol tangan Elisya.
"Eh Sya ko bengong sih..."
Elisya sontak terkejut.
__ADS_1
"Aku gak pernah dengar nama itu Lis..."
"Yaudah kali Sya kamu ikut aja, nanti juga tau ko..."jawab Lisa.
Dari kejauhan terlihat Sam berlari ke arah Elisya dengan ekspresi wajah yang tak bisa dibaca.
"Sya kamu kenapa berangkat duluan, aku tadi kerumah kamu tau, kaki kamu kan sakit kenapa malah jalan kaki..."pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut Sam dengan wajah panik dan terlihat sangat khawatir.
Elisya tersenyum melihat Sam sangat khawatir padanya.
"Elisya udah baik-baik aja ko ka, udah bisa jalan juga, makasih ya kak udah khawatir in Elisya..."
Deg, jantung Sam berpacu dengan cepat.
Ia baru saja kehilangan kendalinya karena merasa sangat khawatir. Entah kenapa ia begitu mengkhawatirkan Elisya, padahal selama ini ia tak pernah begitu peduli terhadap wanita manapun.
Sam terlihat salah tingkah karena ditatap oleh Elisya.
"Ayo kaka antar ke kelas, gimana Sya kamu udah persiapan buat berangkat ke tempat wisata kita?..."Sam mengubah topik pembicaraan.
Mereka pun berjalan beriringan.
"Belum kak, nanti pas sampai rumah Elisya packing barang-barang deh, kita kesana naik apa ya ka..."tanya Elisya dengan polosnya, karena ia benar-benar tidak tahu dimana letak Papua barat itu.
Sam mengacak rambut Elisya gemas.
"Kita akan naik pesawat Sya, kamu gak pernah kesana ya?..."
Elisya nampak cemberut
"Kaka nih kan rusak rambutnya, boleh gak kalau naik Jet pribadi aja kak..."
Sam sedikit terkejut tapi mencoba menetralkan tubuhnya.
"Jet pribadi, wanita yang terlihat sederhana ini pasti bukan orang biasa, tapi kenapa kesekolah malah jalan kaki, aku kagum sama kamu Sya..."gumam Sam dalam hati.
"Kak Sam ko malah bengong sih..."tanya Elisya membuyarkan lamunan Sam.
"Eh iya, ga boleh Sya, kita harus berangkat dengan pesawat bersama-sama..."jelas Sam.
"Yah kira in bisa berangkat sendiri, papah aku punya Jet pribadi ko ka..."ujar Elisya tanpa sadar.
"Kamu ini sebenernya siapa sih Sya, punya Jet pribadi itu kan hanya orang-orang yang sangat penting, ya mungkin ayahmu orang yang sangat kaya..."tanya Sam spontan.
Elisya langsung terlihat gelagapan, ia baru saja keceplosan, ia tak ingin mereka tau jika Elisya adalah putri dari pembisnis terkenal yang sangat kaya, Elisya tak ingin teman-temannya minder atau berteman dengannya karena harta.
"Ngga ka aku cuman becanda ko ka, aku ga punya Jet pribadi, aku tadi cuman bercanda..."jawab Elisya sedikit gugup.
"Nah aku udah sampai kelas nih ka, makasih ya kak udah nganterin aku, aku masuk duluan ya ka bye..."Elisya buru-buru masuk ke kelasnya untuk menghindari pertanyaan Sam yang lain.
__ADS_1
Sedangkan Sam hanya diam.
"Kayanya ada sesuatu yang kamu sembunyikan Sya, rumahmu mungkin tidak sebesar sebuah istana, terlihat sederhana tapi mewah, aku jadi penasaran bagaimana rumahmu waktu di Amerika, aku yakin sangat megah, dan rumahmu disini hanya tempat tinggal yang kamu beli untuk menutupi status kamu sebenarnya..."gumam Sam.