Elisya

Elisya
62


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu cukup lama Sam bersama dengan Elisya dan Lisa sudah tiba diparkiran sekolah.


Lisa bernafas lega karena keadaannya sudah cukup membaik sekarang. "Kaka antar ke kelas ya Sya, Lis..."ucap Sam.


Elisya menggeleng pelan, "Gak mau ah, ngerepotin kak Sam mulu. Kan gak enak Elisya nya..."rengek Elisya.


Sam tertawa kecil, kenapa gadis ini selalu saja menggemaskan dimata Sam. Sam mengacak pelan rambut Elisya. "Gemes banget sih. Kaya anak kecil..."ledek Sam.


Elisya cemberut, "Kak Sam ih, Elisya udah besar..."ucap Elisya tak terima.


Disisi lain Lisa nampak mengalihkan pandangannya kearah lain, agar tak melihat kedekatan Elisya dan Sam.


Ada apa dengan dirinya? Bukankah ia menyukai Vano? Lalu kenapa rasanya sedikit sesak melihat interaksi Elisya dan Sam yang seolah-olah mengabaikan dirinya.


Memang Sam pernah beberapa kali menolong Lisa. Itulah mungkin yang membuat Lisa sedikit mengagumi sosok Sam yang memang selalu memperlakukan wanita dengan lembut. Entah sekedar kagum atau mungkin suka! Entahlah hanya Lisa yang tau perasaan nya sendiri.


"Lis kenapa ngelamun sih..."ucap Elisya membuyarkan lamunan Lisa.


Lisa mendadak gugup, "G-gue gak papa..."jawab Lisa dengan terbata.


Elisya mengangguk-anggukan kepalanya, "Yaudah kalau gitu ayo kita ke kelas, ka Sam makasih udah nganterin. Soal video itu makasih juga kak..."ucap Elisya senang.


Sam tersenyum, "Semangat belajarnya ya cantik..."ucap Sam.


Elisya tertawa kecil, Sam benar-benar memperlakukan nya sangat istimewa.


"Siap komandan..."jawab Elisya cepat.


Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, membuang segala pikiran buruk yang ada di kepalanya. Ia tak boleh mengecewakan Elisya lagi kali ini. Sahabatnya itu begitu baik padanya. Jika memang benar ia mengagumi Sam. Maka ia akan berusaha mengubur perasaan itu dalam-dalam. Anggap saja Sam hanya menyayangi Elisya saja. Lisa tak mau berharap lebih.


Sam memang baik pada siapapun, Lisa tak boleh menganggap lebih semua kebaikan Sam padanya. Itu hanya akan membuatnya berharap terlalu tinggi. Perasaan nya pada Vano hanya sebatas obsesi. Tapi Sam, laki-laki itu sering menolong Lisa. Memberikan rasa nyaman pada gadis itu. Lisa mengerti itu hanya sebuah kebaikan kecil dari Sam. Namun, kenapa ia berharap lebih? Salahkah ia jika menyukai Sam? Apa ia egois menginginkan Sam untuk menjadi miliknya?

__ADS_1


Ralat! Mungkin bukan memiliki, ia hanya ingin Sam berada didekatnya sama seperti Sam yang selalu ada didekat Elisya. Ia iri? Sepertinya begitu. Elisya selalu saja beruntung! Tidak seperti dirinya.


Tanpa terasa mereka sudah tiba didepan kelas, yang disambut tatapan sinis oleh Bella.


"Gue khawatir sama lo Sya, gimana keadaan lo..."tanya Bella khawatir.


Elisya tersenyum, "Gue baik ko Bel, ini Lisa kemarin sakit. Tapi sekarang udah sembuh..."jawab Elisya.


Bella berdecih pelan, "Lo terlalu baik Sya, ngapain masih mau temenan sama dia. Dia udah khianatin lo Sya..."tegas Bella.


Lisa menunduk dengan perasaan bersalah. Bahkan ia sangat menyesalinya.


Elisya lagi-lagi tersenyum. "Udah gak papa ko, sekarang kita temenan oke. Sahabatan bertiga..."tutur Elisya senang.


Lisa mendongakkan kepalanya, "Maafin gue Bel, gue nyesel udah jahatin Elisya. Maafin ya..."ucap Lisa memohon.


Sekarang Bella mengerti, dari tatapan mata Lisa terlihat jelas gadis itu sangat menyesali perbuatannya.


Mereka bertiga berpelukan penuh sayang. Ketiga sahabat yang saling menyayangi satu sama lain.


"Oke sekarang lo harus cerita sama gue Sya, apa yang terjadi sama lo kemarin. Gue gak bisa tinggal diam liat lo diginiin sama Angel..."ucap Bella penuh emosi.


"Iya bener, gue juga mau balas Angel..."sambung Lisa.


Elisya menghela nafasnya pelan lalu menyodorkan telponnya kearah sahabatnya itu. Terpampang lah sebuah video tentang kejadian kemarin. Lengkap dengan segala pengakuan Angel tentang penyakit pura-pura nya itu.


Bella mengepalkan tangannya kuat, "Brengsek, bisa-bisanya Vano sekasar itu sama lo Sya, gue gak terima. Gue gak pengen ngehakimin lo Sya, tapi kali ini gue memohon dengan sangat, gue pengen lo tinggalin Vano. Gue gak bisa liat lo disakitin lagi Sya, udah cukup lo sesabar ini sama dia..."jelas Bella menggebu-gebu.


Elisya bungkam, ia lelah dengan semua ini. Namun hatinya tak munafik. Ia masih sangat menyayangi Vano. Merindukan segala perlakuan manis Vano padanya. Vano yang selalu memanjakan nya dan menjadi cinta pertamanya itu. Namun sekarang sudah tak lagi sama. Vano bukan Vano yang dulu lagi. Keadaan sudah merubahnya sekarang.


"Gue tau ko lo sayang sama Vano. Tapi cinta sama bego itu beda-beda tipis Sya, kadang kita harus pergi dan berusaha melupakan dari pada bertahan dengan berbagai macam luka..."sambung Bella lagi.

__ADS_1


Lisa menepuk pundak Elisya pelan, "Kita gak maksa lo buat ninggalin Vano. Tapi Sya Bella bener. Lo berhak bahagia. Lo baik Sya. Vano terlalu brengsek untuk cewek sebaik lo. Dia bahkan memperlakukan Angel layaknya ratu sedangkan lo? Lo gak dianggap Sya. Kita tau ini gak mudah buat lo. Tapi kita yakin lo bisa..."ucap Lisa lembut.


"Gue cuman pengen lo bahagia, walaupun itu tanpa Vano..."sambung Bella.


Elisya menundukkan kepalanya. Apa kata sahabatnya ini benar, bertahan dengan Vano adalah luka yang dipilih Elisya secara sengaja. Ia tau bersama Vano adalah luka, namun ia bertahan. Bodoh bukan! Tetapi kadang cinta memang berlebihan.


"Gue pengen kasih kesempatan lagi sama Vano, mungkin sebentar lagi. Disaat gue udah bener-bener capek. Saat itu juga gue bakalan berhenti dan gak akan gangguin Vano lagi. Bahkan untuk ketemu sama dia pun gue enggan..."lirih Elisya dengan tatapan sendu.


Bukannya berpikir kejauhan. Namun berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Mungkin saat itu akan tiba nanti. Saat-saat Elisya tak ada disamping Vano lagi. Ia berhak lelah. Kenapa hanya ia yang mempertahankan? Apakah Vano berjuang? Sepertinya tidak. Bahkan untuk memberi kabar pada Elisya, Vano hampir tak pernah lagi. Miris sekali bukan!


Mungkin ini bukan cinta tetapi sebuah kebodohan, namun bagaimana jika semua ini dihadapkan dengan urusan hati. Ia begitu menyayangi Vano meskipun benar ia sangat kecewa.


"Gue akan jadi orang pertama yang berharap waktu itu bener-bener akan terjadi secepatnya. Gue gak pengen Vano nyakitin lo lebih jauh lagi..."jawab Bella cepat.


"Gue pengen paksa lo nyerah, tapi perasaan emang gak bisa dipaksakan. Gue pengen lo ninggalin Vano Sya, tapi gue takut lo gak baik-baik aja tanpa Vano nanti..."ucap Lisa sendu.


"Gue yakin Elisya bisa tanpa Vano. Bertahan dengan rasa luka itu jauh lebih menyakitkan..."potong Bella cepat.


"Gue juga berharap gitu..."sambung Lisa.


Elisya mengangkat wajahnya menatap kedua sahabatnya. "Thanks udah khawatir sama gue. Gue bersyukur ada dua orang sahabat yang selalu ada disamping gue. Gue ngerti kalian gak pengen gue sakit hati. Tapi please, believe me. Gue bisa ko..."ucap Elisya meyakinkan.


Bella menghela nafasnya kasar, "Kalau sampai Vano nyakitin lo apalagi sampai berani kasar sama lo. Gue gak bisa diam lagi Sya..."


"Kalau sampai Vano berani nyakitin fisik gue, atau nampar gue. Gue janji gue bakal tinggalin dia selamanya..."ucap Elisya yakin.


Bella mengangguk. "Gue pegang omongan lo..."jawab Bella cepat.


"Kita percayakan semuanya sama lo Sya, tapi jangan berpikir kita akan diam aja kalau Vano nyakitin lo..."sambung Lisa.


"Sekarang kita masuk kelas, bentar lagi jam olahraga. Kita ganti baju dulu..."ajak Bella yang disetujui oleh kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2