Elisya

Elisya
54


__ADS_3

Hari demi hari telah Elisya lalui. Tanpa terasa hubungannya dengan Vano sudah menginjak usia ke 4 bulan.


Jika kalian berpikir semuanya baik-baik saja setelah kedatangan Vano malam itu, kalian salah besar! Vano tetaplah Vano yang sekarang. Setiap harinya ia selalu menjaga Angel bahkan bisa disebut selalu disampingnya.


Jika malam itu Vano membuat Elisya seraya melayang tinggi ke langit, maka sekarang Vano menghempaskannya dengan keras ke bumi.


Sering kali Elisya protes dan mengatakan jika ia cemburu dan untuk kesekian kalinya juga Vano meminta maaf pada Elisya. Namun nihil! Ia tetap mengulangi kesalahan yang sama.


Elisya masih bertahan sejauh ini, Entah sekuat apa hati gadis itu harus menyaksikan kedekatan kekasihnya dengan Angel itu. Bahkan rasanya ia sudah bosan menyaksikan hal itu. Percuma saja ia menghabiskan tenaganya untuk memarahi Vano. Akhirnya tetap saja sama, Vano yang meminta maaf dan kembali mengulangi kesalahan yang sama. Akh! drama yang membosankan!


Pemandangan Vano yang memperlakukan Angel secara berlebihan itu hampir menjadi hal yang biasa bagi Elisya sekarang. Entah apa yang membuatnya masih mempertahankan hubungannya sejauh ini!


Bahkan sering kali Vano membatalkan janjinya secara sepihak hanya karena Angel yang tiba-tiba menelponnya karena mengeluh sakit. Jika kalian berharap Vano tetap menepati janjinya, kalian salah! Vano membatalkan janji sesuka hatinya. Bahkan pernah suatu waktu ia meninggalkan Elisya sendiri di cafe saat tengah makan bersamanya. Hanya karena alasan, Angel tiba-tiba tidak enak badan dan membutuhkan Vano disamping nya.


Sering kali Elisya kecewa pada harapannya sendiri. Jika malam itu Vano memperlakukan seolah ia adalah satu-satunya wanita dalam hidup Vano. Kini Elisya merasa ia hanya salah satunya. Bahkan seperti tempat pelarian disaat pemeran utamanya sibuk mungkin! Huft menyedihkan bukan?


Pagi ini seperti biasanya Elisya menunggu taksi didepan rumahnya. Perlu digaris bawahi Elisya memang suka memakai angkutan umum ketimbang membawa mobil sendiri. Dengan niat untuk menyembunyikan identitasnya dan tidak pamer. katanya sih!


Mata nya menoleh kekanan dan kekiri menunggu taksi online yang sudah ia pesan. Percayalah sudah hampir sebulan terakhir Vano sangat sibuk dengan Angel. Bahkan melupakan untuk menjemputnya. Vano bahkan hanya beberapa kali saja menghubungi Elisya.


Elisya menghembuskan nafasnya pelan, membuang semua pemikiran buruknya pada Vano. Mungkin rasa sayangnya menutupi segalanya.


Lamunan Elisya buyar saat sebuah taksi berhenti tepat di depannya.


"Dengan mba Elisya, benar?..."tanya supir taksi itu.


Elisya mengangguk lalu memasuki taksi itu.


Selang beberapa menit taksi itu sudah berhenti tepat didepan gerbang sekolah Elisya. Elisya pun turun.


"Ini uangnya pak, terimakasih ya pak..."ucapnya sopan.

__ADS_1


"Iya mbah..."sahut supir taksi itu.


Elisya menatap ke arah gerbang sekolah. Ia menghela nafasnya pelan seolah mempersiapkan diri untuk apapun yang terjadi hari ini. Entah melihat Vano yang terlalu memperhatikan Angel, dan masih banyak lagi.


Entah sampai kapan gadis itu kuat menyaksikan semua itu. Mungkin ada saatnya ia akan lelah dan memutuskan menyerah, ck mungkin!


Dengan ragu Elisya melangkahkan kakinya memasuki area sekolah. Ia melangkahkan kakinya pelan sambil bersenandung kecil.


Sam yang tengah mengobrol dengan Riski di depan kelasnya melihat kedatangan Elisya.


"Ki gue kesana dulu, mau nyamperin Queen gue..."ucap Sam pede.


Riski berdecih, "Ck, tampang-tampang sadboy lo mah..."ledek Riski.


Sam tak mempedulikan itu, ia berlari menyusul langkah kecil Elisya. Hingga suara nya memekik ditelinga Elisya.


"Pagi cantik..."sapa Sam.


Elisya menoleh kearah sumber suara. "Eh kak Sam, kenapa kak?..."tanya Elisya bingung karena Sam menghampirinya sepagi ini.


Elisya tertawa kecil, "Gak enak ngerepotin kak Sam terus..."jawab Elisya jujur.


"Harus berapa kali sih dibilangin. Aku tuh malahan suka kamu repotin. Pokonya mulai besok aku yang antar jemput sekolah, gimana?..."tawar Sam.


Elisya menggeleng pelan, "Elisya yang gak suka ngerepotin orang kak. Nanti ka Vano salah paham lagi. Aku gak duka kaka berantem lagi cuman karena masalah ini..."tatapan Elisya berubah sendu.


"Sampai kapan sih Sya kamu mempertahankan hubungan kamu sama Vano. Aku aja sakit hati ngeliat dia cuekin kamu. Apalagi kamu Sya. Kamu gak capek apa?..."nada suara Sam mulai meninggi.


Elisya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Elisya capek kak, capek banget. T-tapi Elisya gak bisa. Elisya sayang banget sama ka Vano..."jujur Elisya.


Sam tertegun. Bahkan setelah disakiti berkali-kali perasaan Elisya pada Vano tak berkurang sedikit pun.

__ADS_1


Seperti ada sebuah pisau tajam yang menusuk tubuh Sam. Hatinya merasa tertohok mendengar penuturan Elisya.


Ia memang sudah mulai ikhlas dan merelakan perasaannya pada Elisya. Ia hanya ingin menjadi sosok seorang kakak bagi Elisya. Namun tak bisa dipungkiri perasaan Sam pada Elisya masih ada. Bahkan dadanya sedikit sesak saat Elisya mengungkapkan kejujurannya.


"Sayang boleh Sya, tapi jangan sampai kamu nyakitin perasaan kamu sendiri..."pesan Sam.


Elisya mengangguk, "Elisya ngerti kak. Kalau gitu Elisya ke kelas dulu. Gak usah dianterin Elisya bisa sendiri. Nanti pulang sekolah tunggu Elisya..."


Sam tiba-tiba tersenyum, "T-tunggu kamu..."ucapnya terbata.


Elisya lagi-lagi mengangguk, "Katanya mau nganterin pulang..."ledek Elisya sambil berlari kecil meninggalkan Sam sendiri.


"Yes..."lirih Sam refleks. Ia senang bukan main karena Elisya mau diantar pulang olehnya. Ia berjalan santai kembali ke kelasnya dengan perasaan bahagia.


Sesampainya didepan kelas, Elisya tak langsung memasuki kelas. Ia duduk dikursi panjang didepan kelas.


Jarak kelasnya dan Bella memang tidak terlalu jauh. Hingga membuat Bella bisa sesuka hatinya menghampiri Elisya.


"Ngelamun mulu..."tepuk Bella pelan dipundak Elisya. Lalu duduk disampingnya.


"Nggak kok Bel..."jawab Elisya singkat.


"Gue tau lo lagi mikirin Vano. Gue gak maksa lo buat ninggalin Vano. Gue menghormati apa pun keputusan lo kedepannya. Karena orang lain gak akan pernah tau dan gak akan pernah ngerti apa yang lo rasain. Gue cuman ngingetin lo aja, jangan pernah nyakitin diri lo sendiri, kalau lo ngerasa udah capek. Gue mohon berhenti, berhenti berjuang buat Vano. Cinta sama Bego itu beda tipis Sya. Jangan sampai lo biarin Vano memperlakukan lo kaya gini..."pesan Bella panjang lebar.


Elisya tersenyum menatap sahabat disampingnya ini. Meskipun Vano terkesan mengabaikan nya. Tidak masalah! Elisya masih memiliki orang-orang yang selalu ada untuknya. Seperti Bella dan Sam.


"Gue ngerti kok, dan gue belum mau nyerah. Ada saatnya mungkin kalau gue udah cape, gue bakalan berhenti! Akan ada saatnya gue udah gak kuat lagi sama keadaan. Thanks udah selalu support gue dan selalu ada disamping gue kaya gini..."ucap Elisya tulus.


Bella tersenyum meraih tangan Elisya. "Gue akan selalu ada buat lo. Gue kan sahabat lo. Bahagia terus ya Sya, gue sedih kalau liat lo ngelamun terus kaya gini..."jujur Bella.


Elisya terkekeh pelan, Bella selalu saja berhasil mengembalikan moodnya menjadi lebih baik.

__ADS_1


"Iya Bel, gue gak sedih lagi..."ucap Elisya.


Semoga saja itu benar, atau hanya sebuah kalimat untuk menenangkan Bella.


__ADS_2