Elisya

Elisya
77


__ADS_3

Acara barbeque an malam itu pun dimulai. Semuanya terlihat sibuk dengan tugas masing-masing.


"Lis lo potong-potong buah ini aja, biar gue yang bantu kak Sam sama Bella bakar dagingnya..."usul Elisya.


Lisa mengangguk lalu mengambil alih pisau yang ada ditangan Elisya. Ia mulai mengupas satu persatu buah yang telah mereka beli sepulang dari pantai tadi.


Dari kejauhan ia dapat melihat dengan jelas, Sam yang nampak sangat khawatir saat Elisya mencoba membakar dagingnya. Sam bahkan begitu menjaga Elisya dengan baik.


Ingin rasanya Lisa menertawakan dirinya sendiri. Menyukai laki-laki yang cintanya bukan untuknya. Hatinya meringis menahan sesak yang tiba-tiba saja menyeruak memenuhi hatinya. Namun, ia mencoba tetap tersenyum. Ini sudah menjadi keputusan nya. Ia tak ingin menjadi penghalang dalam hubungan Sam dan Elisya. Ia akan mundur.


"Sshh..."Lisa meringis tatkala darah mengalir di jari telunjuknya. Karena tidak hati-hati hingga pisau mengenai kulitnya. Rasa perih mulai menyerangnya. Ia melepaskan pisau yang sudah terkena tetesan darahnya.


Ketiga orang yang tadinya tengah sibuk membakar daging sontak menengok serentak ke arah Lisa yang terdengar meringis menahan sakit. Dengan langkah tergesa-gesa mereka menghampiri Lisa.


"Astaga Lis kok bisa gini..."ucap Elisya panik.


Lisa tersenyum kecil, "Nggak papa kok. Salah gue juga tadi gak pokus..."jawabnya.


"Sini gue bantu obatin Lis, nanti lukanya bisa infeksi lagi..."ucap Sam khawatir.


Sam mengulurkan tangannya meraih tangan Lisa yang terluka. Tapi baru saja kulit mereka bersentuhan Lisa sudah menepisnya dengan kasar.


"Aku baik-baik aja. Gak usah sok peduli..."jawab Lisa ketus


"Gue cuman mau bantuin lo Lis? Ayo sekarang ikut gue..."ucap Sam lalu mencoba meraih tangan Lisa lagi. Namun lagi-lagi Lisa menepisnya kasar.


"Aku bisa sendiri kak, aku gak perlu rasa kasian dari kakak..."jawab Lisa lantang. Bahkan luka dijarinya tak sebanding dengan rasa sesak yang menyeruak dijiwanya.


"Lis..."tegur Elisya membuat Lisa langsung menatap kearah sahabatnya itu. Elisya menggeleng pelan, seolah memberitahu kalau apa yang Lisa lakukan sangat berlebihan. Padahal niat Sam baik, hanya untuk menolongnya. Dapat dilihat jelas kekhawatiran yang tercetak diwajah Sam.


Seolah mengerti kode yang diberikan Elisya. Lisa menghela nafasnya pelan. Ia sadar ia terlalu berlebih memperlakukan Sam. Ini salahnya karena tak bisa mengontrol emosi.

__ADS_1


"Maafin aku kak, aku gak bermaksud kasar. Tapi aku bisa sendiri, gak perlu dibantu. Kalian lanjutin aja bakar-bakaran nya. Gue mau kedalam dulu ngobatin tangan gue..."ucap Lisa lalu bangkit dan mulai berjalan memasuki rumah.


Baru saja Sam berniat ingin menyusulnya, Elisya sudah menahan tangannya.


"Dia perlu waktu sendiri..."lirih Elisya pelan.


Sam lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya kasar. Jujur saja ia tak suka dengan sikap Lisa kepadanya. Kenapa gadis itu sangat menghindarinya. Sam bahkan tak mengerti bagaimana perasaan nya. Hanya saja ia tak ingin berjauhan dari Lisa seperti sekarang.


Disinilah Lisa duduk sekarang. Diruang tamu sambil memegang kotak P3K dipangkuannya. Sesekali ia meringis menahan pedih yang menyerangnya. Namun ia berusaha menahannya. Tanpa terasa air matanya mengalir deras dipipi mulusnya. Entah ada apa dengannya, ia hanya ingin menangis saat ini tanpa tau penyebabnya. Bisa karena tangannya yang rasanya pedih sekali atau hatinya yang rasanya sangat sesak.


🕓🕓🕓


"Mah Angel bosan banget disini terus. Angel pengen sekolah..."rengek Angel pada sang ibu.


Desi menghela nafasnya pelan. Kenapa putri nya ini keras kepala sekali.


"Untuk besok gak boleh sekolah dulu. Lusa baru boleh..."final Desi.


Vano berjalan mendekati brankar Angel lalu mengacak kepala sahabatnya itu perlahan.


"Sekolahnya lusa aja ya, nanti besok gue temenin disini..."bujuk Vano.


Mendengar akan ditemani Vano mata Angel berbinar-binar. "Beneran lo mau nemenin gue disini..."tanya Angel antusias.


"Ia beneran..."jawab Vano yakin.


Angel yang terlalu senang sontak memeluk Vano dengan erat hingga selang infusnya sedikit tertarik dan mengeluarkan sedikit darah di punggung tangan Angel.


"Pelan-pelan Angel, tuh liat kan tangan lo jadi berdarah. Hati-hati dong..."protes Vano.


Meski terasa sedikit sakit namu Angel tetap tersenyum melihat Vano yang begitu memperhatikannya.

__ADS_1


"Hehe senang banget soalnya..."jawabnya cengengesan.


"Sekarang makan dulu nih, gue suapin..."ucap Vano lalu mengambil mangkok bubur yang ada diatas meja sebelah brankar Angel.


Dengan senang hati Angel menerima suapan dari Vano. Bahkan ia merasa sangat puas dengan jerit payahnya selama ini. Meskipun ia harus menggunakan cara terlicik sekalipun. Asal ia bisa merebut Vano kembali.


🕓🕓🕓


Dengan mata yang memerah karena menangis tadi, Lisa membasuh mukanya. Merasa cukup akhirnya ia berjalan menyusul teman-temannya.


Melihat Lisa yang berjalan perlahan dengan tangan yang sudah diberi plester. Sam sontak berjalan menyusul Lisa.


"Masih sakit nggak?..."tanya Sam khawatir.


Lisa menghela nafasnya pelan lalu mencoba tersenyum.


"Udah nggak..."jawabnya singkat.


Sam menghela nafas lega melihat luka Lisa kini sudah diobati dengan benar.


"Yeayy dagingnya udah matang. Sekarang ayo kita duduk..."teriak Bella senang.


Elisya tersenyum lalu ikut menarik Lisa agar duduk bersama disusul oleh Sam.


Sam menyodorkan daging yang sudah dipotong dan ditusuk dengan garpu kearah mulut Lisa. Lisa sontak kaget lalu berusaha merubah mimik wajahnya menjadi biasa saja.


"Aku masih bisa makan sendiri..."ucap Lisa. Lalu berusaha memotong dagingnya perlahan. Meskipun rasanya sangat sakit namun ia tak mau terlihat lemah.


Sam yang merasa diabaikan pun menarik uluran tangannya dan memakan daging yang tadinya ia potong untuk Lisa.


Suasana menjadi canggung setelahnya. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2