
Bel istirahat berbunyi nyaring. Siswa-siswi mulai berhamburan menuju kantin. Elisya pun ikut keluar kelas. Matanya menyapu setiap sudut sekolah tapi tak terlihat sosok Vano sedikit pun.
Kenapa secepat ini semuanya berubah? Vano yang dulu selalu menunggunya didepan kelas setiap jam istirahat dan mengajaknya kekantin, kini sudah tak ada lagi. Bahkan untuk menjemput Elisya sekolah pun Vano melupakannya.
Ada apa dengan semua ini. Elisya benar-benar tak mengerti dengan masalah yang selalu menimpa hubungannya dengan Vano. Ia berusaha untuk terus mempertahankan hubungannya. Tapi, apakah Vano memperjuangkan nya? Apakah ia sanggup jika harus berjuang sendiri? Entahlah, Elisya pun tak tau apa yang akan terjadi dengan hubungannya nanti.
Lamunan Elisya buyar saat seorang wanita yang tak lain adalah Bella menepuk pundaknya pelan.
"Ngelamun mulu, yuk ke kantin..."ajak Bella.
Elisya mengangguk dan mengikuti langkah Bella menuju kantin.
Sesampainya dikantin, keadaan kantin sudah penuh. Hanya ada satu meja yang kosong dibagian pojok. Akhirnya Bella dan Elisya menuju kesana.
"Lo duduk disini dulu, gue pesenin makanan..."
Elisya mengangguk beriringan dengan Bella yang meninggalkan nya duduk sendiri.
Tiba-tiba Vano datang sambil menggenggam erat pergelangan tangan Elisya. Tepat dibagian Elisya terluka karena pecahan pot bunga kemarin. Elisya meringis menahan sakitnya.
"Auu ka Vano lepas, tangan Elisya sakit kak..."jerit Elisya.
Vano malah semakin mempererat genggamannya. Ia sudah dipenuhi emosinya.
"Kamu bisa nggak sih gak usah gatel-gatel sama cowok lain Sya. Kamu itu pacar aku, jangan jadi cewek murahan yang mau dipeluk sembarangan sama cowok lain. Hargain aku sebagai cowok kamu..."bentak Vano keras.
Elisya menunduk, Hancur sudah semuanya. Hati Elisya sesak menahan sakit. Vano membentaknya sekarang, didepan umum? Oh shit! rasanya sakit sekali.
Elisya berusaha mati-matian membendung air matanya agar tidak tumpah. Seluruh perhatian kantin kini teralihkan pada mereka berdua. Ada menatap dengan puas dan ada juga yang merasa kasihan.
"Ka Vano salah paham kak, itu gak seperti yang kak Vano bayangin..."jawab Elisya pelan.
__ADS_1
"Nggak usah membela diri lagi Sya, foto itu sudah jelas. Kamu pelukan sama Sam Elisya, aku kecewa sama kamu..."ucap Vano lalu pergi meninggalkan Elisya yang membeku ditempatkan.
Ia benar-benar dipermalukan saat ini. Dibentak? Didepan umum? Tidak ada yang baik-baik saja pada diri Elisya saat ini. Ia menatap nanar kepergian Vano. Percuma saja jika ia terus membela diri, Vano juga tak mempercayai nya.
Setelah kepergian Vano semua siswa siswi kembali melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.
Elisya tak mampu lagi membendung air matanya. Bahkan untuk menopang badannya sendiri pun ia tak sanggup lagi. Badannya merosot kelantai. Ia terduduk dilantai sambil terus terisak dalam tangisnya.
Bella yang baru saja selesai memesan makanan kaget bukan main melihat keadaan Elisya. Ia dengan cepat menghampiri Elisya dan membantunya bangkit lalu menuntunnya duduk dikursi kantin.
"Lo kenapa kaya gini, cerita sama gue Sya..."tanya Bella khawatir.
"Hiks gue cape Bel, Vano bentak gue didepan umum. Hati gue sakit banget..."ucap Elisya sambil memegangi dadanya yang semakin terasa sesak.
Dilengan bagian bawahnya pun keluar sedikit darah segar bekas lukanya kemarin yang masih belum mengering betul. Akibat cengkraman tangan Vano yang kuat membuat lukanya terbuka lagi.
"Kita ke UKS sekarang..."tuntun Bella. Tak ada penolakan dari mulut Elisya.
Sam bergegas mencari Elisya keberbagai sudut sekolah hingga akhirnya ia melihat Bella yang menuntun Elisya menuju UKS. Ia bergegas menghampiri Bella dan Elisya.
"Sya maafin aku ya, ini semua gara-gara kaka..."ucap Sam nampak frustasi.
Elisya menggeleng pelan, "Ini semua bukan salah ka Sam, mereka cuman salah paham. Malahan Elisya berterimakasih karena kemarin kak Sam udah nenangin Elisya..."lirih Elisya pelan.
"Ini cuman salah paham Sam, dan parahnya Vano gak percaya sama Elisya. Lo liat tangan Elisya. Ini karena Vano Sam. Luka dia jadi berdarah gini. Padahal kemarin udah gue obatin..."jelas Bella.
"Udah gue gak papa Bel, ka Vano cuman salah paham..."lerai Elisya.
Sam menggenggam tangannya menahan emosi, cukup sudah. Ia harus memberi pelajaran pada Vano sekarang. Sam memang mengalah dan mengikhlaskan Elisya memilih Vano. Tapi untuk dijaga dengan baik bukan disakiti seperti ini.
"Gue akan kasih Vano pelajaran Bel, dia udah keterlaluan..."
__ADS_1
"Gue setuju sih, gue enek banget liat mukanya..."sambung Bella.
Elisya baru saja ingin menahan kepergian Sam, namun nihil, Sam langsung berlari mencari keberadaan Vano.
"Ayo masuk..."ucap Bella menuntun Elisya memasuki UKS.
🕓🕓🕓
Ditempat lain Vano tengah duduk dengan kedua temannya Aldi dan Hendra. Sam datang langsung memukul keras wajah Vano hingga Vano tersungkur kedinding.
Emosi Vano memuncak seketika, "Brengsek, lo mukul gue..."Vano membalas pukulan Sam tak kalah keras. Terjadilah aksi baku hantam disana. Aldi dan Hendra dengan cepat melerai keduanya.
"Cukup Van cukup, lo bisa dipanggil kepsek kalau gini. Tahan emosi lo Van..."ucap Aldi sambil memegang kuat tangan Vano.
Berbeda dengan Hendra yang sedang menahan Sam agar menghentikan perkelahian ini.
"Bicarain baik-baik aja Sam..."lerai Hendra.
"Cowok brengsek kaya dia, gak bisa bicara baik-baik..."ucap Sam lantang.
"Shit, lo duluan bego, berani-berani nya meluk-meluk cewe gue. Cari mati lo hah..."ucap Vano tak kalah lantangnya.
"Pacar macam apa lo hah, sama cewe sendiri lo gak percaya Van, lo malah bentak dia, nyakitin fisik dia. Lo punya otak gak sih, mikir gimana perasaan dia sekarang..."emosi Sam.
"Harusnya lo yang mikir, ngapain lo meluk cewek orang..."teriak Vano.
"Lo bodoh Van, kemana lo saat Elisya lagi terpuruk. Lo tau? Dia pulang sendiri sambil jalan kaki dengan baju yang basah kuyup karena kehujanan. Dia nangis ditengah jalan sendirian. Lo cowoknya kan? Lo kemana saat dia perlu? Nganterin dia pulang aja lo gak ada waktu! Cowo macam apa lo hah! Lo malah sibuk sama Angel sampai lupain pacar sendiri. Mikir Van, gimana terlukanya Elisya gara-gara lo. Kalau lo gak bisa bahagiain dia lepasin! Biar gue yang bahagiain dia..."Emosi Sam benar-benar menggebu-gebu saat ini.
Vano bungkam saat mendengar semua penuturan Sam. Ada rasa bersalah yang menyeruak dalam hatinya karena telah membentak Elisya tadi. Bahkan sampai membuat Elisya meringis kesakitan karena ulahnya. Penjelasan Sam benar-benar menohok dihati Vano.
"Kenapa hah, lo diam. Kalau sampai lo nyakitin Elisya sekali lagi. Gue gak akan segan-segan rebut dia dari lo. Camkan itu..."teriak Sam lalu menepis kasar pegangan Hendra pada tubuhnya dan berjalan meninggalkan Vano yang membeku ditempatnya.
__ADS_1