Elisya

Elisya
83


__ADS_3

Dengan wajah yang segar karena baru saja membasuh wajahnya, Elisya berjalan menghampiri ketiga sahabatnya.


Elisya kaget saat melihat Bella dan Lisa yang menangis terisak-isak. Lebih kaget lagi saat melihat kaki Lisa yang dipenuhi dengan perban.


"Ini kenapa, astaga kaki lo kenapa Lis..."tanya Elisya khawatir lalu mendekat kearah Lisa.


Lisa dengan sigap memeluk tubuh Elisya, dengan tangis yang semakin menjadi-jadi.


"Ini kenapa sih?..."tanya Elisya heran.


Sam mendekat kearah Elisya. Ia mengelus puncak kepala Elisya. Bahkan matanya sudah memerah sekarang. Ia tidak tega mengatakan semua ini, tapi ini harus. Elisya berhak tau.


"Orang tua lo naik pesawat dengan nomor penerbangan xxx?..."tanya Sam pelan.


Elisya mengangguk, "Ia bener, kakak tau dari mana..."tanya Elisya heran.


Sam tak kuat lagi, ada setetes air mata yang jatuh ke wajah tampannya.


"Tadi kita liat berita Sya, pesawat dengan nomor penerbangan xxx dinyatakan jatuh di wilayah daratan, pesawat mengalami ledakan keras. Kemungkinan besar gak ada yang selamat Sya..."lirih Sam pelan.


Diluar dugaan, Elisya malah tertawa kencang.


"Apaan sih kak, ini kakak pasti lagi prank Elisya kan? Ulang tahun Elisya masih lama lo kak..."ucap Elisya santai tapi matanya sudah berair menahan air mata.


Sam memeluk tubuh Elisya erat,


"Kakak tau ini gak mudah, tapi kamu harus terima kenyataan ini Sya..."lirih Sam lagi.


Sedangkan Lisa semakin histeris dalam tangisnya.


Bagai disambar petir di siang bolong. Sakit sekali rasanya. Elisya masih mencoba tersenyum walaupun air matanya sudah mengalir deras sedari tadi.


Dengan sisa tenaganya Elisya mendorong tubuh Sam melepas pelukannya. Elisya menatap kearah Lisa.


"Lis bilang ke gue kalau ini semua bohong, kalian prank gue kan..."ucap Elisya melemah.


Lisa terus menangis, ia tak sanggung berkata-kata lagi. Ia hanya menggeleng menandakan jika ini bukan kebohongan.


"Nggak-nggak ini nggak mungkin..."ucap Elisya lalu mendekati Bella.


"Bilang ke gue kalau ini bohong Bel..."ucap Elisya semakin melemah.


Bella sudah terisak dalam tangisnya.


"Sya, demi Tuhan gue berharap ini adalah sebuah kebohongan..."jawab Bella.


Elisya membeku ditempatnya. Kenapa semesta sejahat ini padanya.


"Jaga Elisya untuk kami Sam..."

__ADS_1


"Mamah sama papah pergi dulu..."


"Hari ini mamah sama papah mau pulang. Kamu jaga diri baik-baik ya sayang...."


Kata demi kata yang pernah dilontarkan sang ibu kini berputar di kepala Elisya.


Andai ia tau pergi yang dimaksud oleh orang tuanya adalah meninggalkan nya selamanya.


Andai ia tau jika maksud kata pulang dari orang tuanya adalah pulang selamanya.


Tapi kenapa Elisya tak mengerti maksud dari setiap kata itu.


Elisya terduduk dilantai dengan bersimbah air mata.


"Harusnya gue gak izinin mamah pergi..."lirihnya pelan.


"HARUSNYA WAKTU ITU GUE GAK BOLEHIN MEREKA PULANG, BIAR GUE AJA YANG NYUSUL KESANA..."


"KENAPA KALIAN NINGGALIN ELISYA, KENAPA..."


Teriakan Elisya menggema diseluruh penjuru rumah.


Sam berlari mendekap tubuh rapuh Elisya dalan pelukannya.


"Hey tenang dulu tenang..."ucap Sam.


"Andai Elisya tau waktu itu adalah pelukan terakhir, Elisya gak akan pernah lepasin pelukan itu, hiks..."tangis Elisya semakin menjadi-jadi.


"Ini pasti mimpi kan, tampar gue Lis. Ayo cepetan bangunin gue..."ucap Elisya sambil menuntun tangan Lisa untuk menamparnya. Lisa tak kuat berkata-kata lagi. Ia ikut memeluk tubuh Elisya sambil terus menangis.


Detik setelahnya kesadaran Elisya sudah hilang. Membuat semuanya semakin panik.


"Sya, hey bangun. Sya bangun..."ucap Sam sambil menggerakkan pelan tubuh Elisya.


"Kita bawa kerumah sakit sekarang..."putus Bella.


Sam langsung membopong tubuh Elisya ke mobilnya, sedangkan Bella membantu Lisa berjalan menuju mobil.


Sam melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai dirumah sakit, Elisya langsung ditangani oleh tante Sam sendiri. Dokter Riri.


Mereka bertiga hanya bisa menunggu diluar ruangan, dengan Bella dan Lisa yang masih menangis.


Sam mengusap kepalanya kasar. Kenapa semua ini harus terjadi.


Bella akhirnya berinisiatif menelpon Arvie. Sedari tadi telpon Elisya ada ditangannya.


2 kali memanggil, namun belum juga tersambung. Bella rasanya ingin pasrah saja. Namun dipanggilan ketiga Arvie mengangkat nya.


"Vie..."panggil Bella sambil terus terisak.

__ADS_1


"Loh ini Bella, lo kenapa nangis? Elisya mana?..."


"Lo liat TV sekarang juga, dan lo bakal ngerti..."ucap Bella lalu mematikan ponselnya secara sepihak.


🕓🕓🕓


Di apartemen Arvie, Rusia.


"Siapa yang nelpon lo Vie..."tanya Farhan yang sibuk bemain game di telponnya.


"Bella, tapi pakai telpon adik gue..."jawab Arvie.


"Ngapain?..."tanya David penasaran.


"Lo nyalain TV bentar deh Vid..."perintah Arvie.


David pun dengan cepat menyalakan TV karena kebetulan remotenya ada disampingnya.


Sedangkan Dicky seperti biasanya hanya diam. Kulkas 12 pintu itu masih setia dalam diamnya.


TV dinyalakan. Dan berita itu tentu menyebar dengan cepat. Arvie tentu saja tau jika orang tuanya melakukan perjalanan ke Amerika beberapa hari yang lalu.


Mata Arvie melotot menyaksikan setiap berita yang disajikan. Bahkan ia melempar telponnya kearah layar TV membuat ketiga temannya kaget.


"Lo kenapa Vie?..."tanya Farhan yang langsung mematikan game nya. Mereka semuanya kaget karena sebelumnya Arvie tak pernah seperti ini.


"Itu pesawat yang ditumpangi nyokap bokap gue..."ucap Arvie lantang. Semua yang ada di apartemen itu syok. Arvie memang tak mengeluarkan air mata, namun percayalah ia bahkan sudah merasa kehilangan jiwanya.


"Astaga..."kaget David.


"Astaga Elisya..."teriak Arvie lalu berlari ke kamarnya.


Ketiga temannya tak tinggal diam, mereka semua ikut berlari menyusul Arvie takutnya Arvie berbuat nekat.


Arvie memasukkan beberapa pakaiannya dalam koper,


"Lo mau ngapain?..."tanya Farhan sambil menahan tangan Arvie. Tak ada respon sama sekali, pikiran Arvie seluruhnya tertuju pada Elisya. Bagaimana keadaan adik kecilnya itu saat tau kabar ini? Apa adik kesayangannya itu baik-baik saja.


Seolah mengerti tingkah Arvie, Dicky akhirnya angkat suara.


"Beresin baju kalian, kita ke Indonesia..."ucap Dicky singkat.


Dengan cepat mereka berlari membereskan pakaian masing-masing. Tak ada waktu lagi. Meraka tidak akan membiarkan Arvie pergi seorang diri meskipun dibawah pengawasan para pengawalnya.


Keberangkatan menggunakan jet pribadi pun dimulai.


Arvie memang tak ingin menggunakan jet kesayangannya, namun ini mendesak. Yang ada dalam pikirannya hanya bagaimana caranya agar dia bisa cepat bertemu dengan adik kesayangannya itu.


"Tahan emosi lo dulu..."ucap Dicky dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Arvie mengusap kasar rambutnya. Ia bersumpah akan membunuh siapapun, jika kecelakaan pesawat ini memang sudah direncanakan.


__ADS_2