
Sudah cukup lama Dicky berboncengan dengan Elisya sembari mengelilingi negara indah ini.
Dicky memang jarang sekali ke Amerika, namun ia cukup banyak mengetahui berbagai tempat dinegara ini. Tujuan utamanya adalah ingin mengajak Elisya ke Lake McDonald yaitu salah satu danau yang ada di Montana.
Danau McDonald adalah danau terbesar di Taman Nasional Glacier. Letaknya di 48 ° 35′N 113 ° 55′W di Flathead County di negara bagian Montana, AS. Danau McDonald kira-kira panjangnya 10 mil, dan lebarnya lebih dari satu mil dan kedalaman 472 kaki, mengisi lembah yang dibentuk oleh kombinasi erosi dan aktivitas glasial.
Pemandangan yang begitu memanjakan mata bagi setiap pengunjung yang datang. Setelah perjalanan yang memakan banyak waktu Dicky sudah berhasil mencapai tempat tujuannya.
Mata Elisya sedari tadi berbinar-binar menyaksikan keindahan negara kelahirannya ini. Sungguh ini sangat mengagumkan.
Dicky meraih tangan Elisya dan menggenggam nya erat. Menuntun Elisya melihat-lihat pemandangan ditempat itu.
"Suka?..."tanya Dicky tiba-tiba.
Elisya mengangguk, "Suka banget, Elisya seneng banget bisa kesini lagi..."jawab Elisya antusias sekali.
"Gue ikut seneng..."ucap Dicky sambil merapikan rambut Elisya yang tertiup angin dan menutupi wajah cantiknya.
"Makasih bang Iky..."ucap Elisya senang lalu memeluk tubuh kekar Dicky dari samping.
"Apapun itu selagi bikin lo seneng, gue juga seneng..."jawab Dicky.
"Mau selfi bareng bang Iky boleh gak? Elisya gak punya foto sama abang..."rengek Elisya.
Dicky memang termasuk pria yang tidak suka berfoto. Kemanapun ia pergi ia tak pernah mengambil foto dirinya sendiri, baik itu sebagai kenang-kenangan atau sekedar mengabadikan momen. Ia sangat enggan melakukan itu. Tapi karena kali ini Elisya yang meminta, akhirnya ia menyerah.
"Sini telponnya..."pinta Dicky.
Elisya senang bukan main, ia langsung menyodorkan ponselnya kearah Dicky.
Dicky mengangkat telpon Elisya berniat mengambil foto selfi. Dicky hanya sedikit menarik sudut bibirnya tanpa bergaya apapun.
Cekrek
Mata Dicky melotot karena kaget. Bukan karena hasil foto yang jelek. Tapi Elisya mengecup pipinya singkat hingga berhasil tertangkap kamera.
Ya, Elisya berinisiatif mengecup singkat pipi Dicky. Sehingga hasil foto menampilkan ekspresi Dicky yang nampak kaget dan Elisya yang tengah mengecup pipi Dicky. Foto yang sangat indah bukan.
"Gadis nakal, sudah berani duluan ya..."ledek Dicky.
__ADS_1
"Heheh maaf abang..."ucap Elisya sambil tertawa kecil.
Elisya kembali menyimpan telponnya dalam tasnya. Lalu memeluk lengan kekar Dicky. Sungguh ia sangat bahagia, bisa ke tempat seindah ini bersama dengan orang spesial seperti Dicky.
Senyum Elisya tak luntur-luntur. Entah apa yang membuat gadis itu terlalu senang hari ini. Entah karena pemandangan yang begitu menawan, atau karena Dicky yang tengah mengusap pelan rambutnya.
Elisya tengah duduk bersama Dicky dengan kepalanya bersandar di bahu Dicky. Dicky terus menerus mengusap pelan rambut Elisya.
"Elisya seneng, Tuhan berbaik hati sama Elisya. Dengan mempertemukan Elisya dengan orang seperti bang Iky. Elisya pernah kecewa teramat dalam karena cinta pertama Elisya pada orang yang salah..."ucap Elisya sendu.
"Hanya laki-laki bodoh yang nyakitin cewek sebaik lo Sya, dan gue gak mau jadi salah satu dari laki-laki bodoh itu..."jawab Dicky.
Elisya tersenyum,
"Sekarang Elisya ngerti, Tuhan biarin ka Vano nyakitin Elisya, buat ngasih tau kalau ka Vano emang bukan yang terbaik buat Elisya..."Elisya nampak mencurahkan isi hatinya.
"Lo percaya kalau Tuhan akan ganti sesuatu yang hilang dengan sesuatu yang lebih baik lagi?..."tanya Dicky.
Elisya mengangguk cepat. "Percaya kok, buktinya Tuhan kirim cowok sebaik bang Iky dikehidupan Elisya, Elisya bersyukur banget..."jawab Elisya jujur.
"Gue gak peduli siapa cinta pertama lo Sya, tapi gue pengen jadi yang terakhir..."ucap Dicky sambil menatap lekat wajah Elisya dari samping.
Elisya tersenyum tulus, "Boleh gak sih kalau Elisya gamau kehilangan bang Iky?..."tanya Elisya random. Ia berniat memancing perasaan Dicky. Karena jujur saja ia ingin kepastian, sebuah status yang jelas. Ia ingin tahu apa hubungannya dengan Dicky. Ia tak ingin cintanya bertepuk sebelah tangan. Apalagi sampai meruntuhkan harapannya sendiri.
Dicky tersenyum, "Gue juga takut kehilangan lo..."jawab Dicky.
Elisya tentu saja senang mendengar jawaban itu, tapi bukan jawaban itu yang ia harapkan. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu. Kenapa ia selalu saja tidak peka. Padahal Elisya sudah sering kali memancing perasaannya. Menyebalkan!
🕓🕓🕓
"Arvie mana sih, dari tadi gak keliatan tuh anak..."tanya David yang mondar mandir mencari keberadaan Arvie.
"Gatau gue, Istirahat kali. Kita cari kelantai atas aja. Disana ada kamar tamu, siapa tau ada disana tuh anak..."usul Farhan.
David nampak menimang-nimang usul Farhan. "Bener juga ya, kenapa gue gak kepikiran kesana..."ucap David membenarkan.
Mereka berdua akhirnya berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Di lantai atas ada banyak kamar tamu. Namun hanya ada satu kamar tamu yang sering Arvie gunakan yaitu kamar pertama.
"Vie, lo didalam gak? Kapan nih ngedekor kamar Elisya. Takut kelamaan nanti..."teriak David sambil menggedor-gedor pintu kamar itu.
Benar saja, Arvie keluar dari sana dengan rambut yang sedikit berantakan. Khas orang bangun tidur.
"Berisik lo Vid, bisa diam gak? Bella lagi tidur..."protes Arvie.
__ADS_1
David langsung menatap ke arah Farhan. Mereka saling tatap-menatap satu sama lain. Memandang Arvie dengan tatapan mencurigakan.
"Bella ada didalam?..."tanya David mengintrogasi.
"Iya dia lagi tidur!..."jawab Arvie sekenanya.
"Tidur berdua?..."tanya Farhan penasaran.
"Ia tidur bareng..."jawab Arvie lesu karena ia masih mengantuk.
"Wah ini gila sih, lo berdua tidur bareng. Omg Arvie nyebut lo nyebut..."ucap David histeris seperti ibu-ibu arisan.
"Beneran udah tidur bareng? Nekat banget lo gila. Udah ditolak malah pakai cara ginian..."jawab Farhan tak kalah histeris.
Arvie yang kesal mendorong pelan kedua dahi temannya itu menggunakan jari telunjuknya.
"Lo berdua mikir apa sialan! Gue cuman sebatas tidur doang, gak ngapa-ngapain. Cuci tuh otak lo berdua. Kotor banget pikiran lo..."kesal Arvie.
David menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya kirain, lo juga sih bilangnya tidur bareng..."ucap David.
"Makanya tuh otak bersihin..."protes Arvie.
"Udah ah sekarang kita ke kamar Elisya dekorasi ulang tahun dia. Nanti pas dia datang bilang ada kalau ada sedikit masalah sama pintu kamar dia. Biarin dia tidur dikamar lain dulu untuk malam ini. Untuk Bella, Lisa sama Sam biarin tidur di lantai atas dulu dikamar tamu. Biar Elisya gak curiga untuk malam ini Elisya tidur dikamar kosong samping kamar lo aja Vie. Itu sih saran gue biar kita bisa mantau Elisya juga..."jelas Farhan panjang lebar.
"Gue setuju-setuju aja sih. Buruan deh kita kelarin. Biar nanti bisa keluar beli hadiah buat Elisya..."ajak David.
"Gue udah beli sih..."sahut Farhan.
"Kita ke kamar Elisya sekarang. Gue pengen ini cepet kelar. Masih banyak yang pengen gue lakuin..."putus Arvie lalu berjalan mendahului kedua temannya menuruni anak tangga. Membiarkan Bella yang masih tertidur lelap dikamar itu.
Ternyata Sam dan Lisa juga sudah bangun dan siap untuk membantu mendekor kamar Elisya.
"Eh kalian udah bangun?..."tanya Arvie.
"Udah bang, Bella mana ya?..."tanya Lisa.
"Ada dilantai atas, di kamar pertama, kecapekan dia. Lo bangunin dia dulu deh. Dan lo sama ikut sama gue, David, dan Farhan. Kita ngedekor kamar Elisya sekarang. Semuanya udah siap kan?..."tanya Arvie.
"Okedeh Lisa bangunin Bella dulu..."jawab Lisa cepat lalu berlari menaiki anak tangga.
"Udah siap semuanya bang, tinggal ngedekor doang..."jawab Sam.
__ADS_1
"Oke kita lakuin sekarang, biar gak makan banyak waktu..."ajak Arvie.