
Sam kini tengah berada disebuah apotik dan menebus beberapa obat yang sudah dituliskan oleh dokter Riri.
Ia menghela nafas pelan saat menyadari ia masih mengenakan baju sekolah. Padahal hari sudah gelap.
Memang sedari pulang sekolah ia tak pulang sama sekali. Ia bahkan berniat untuk menginap dirumah Elisya untuk menjaga adik kecilnya itu.
Setelah selesai Sam mengambil telpon yang ada dalam kantong celananya. Karena tak ingin orang tuanya khawatir Sam memutuskan menelpon sang ibu.
"Hallo Sam, kamu dimana sayang. Udah jam segini kok belum pulang..."
"Sam mau nginep dirumah temen bunda, soalnya temen Sam lagi sakit. Bunda nggak usah khawatir. Sam baik-baik aja kok..."
"Kamu sudah makan sayang?..."
"Sudah kok bun, tenang aja..."jawab Sam bohong karena tak ingin ibunya khawatir.
"Ya udah kalau gitu, jaga diri baik-baik ya sayang..."
"Iya bun tenang aja, besok mungkin Sam pulang agak terlambat, berhubung besok akhir pekan jadi Sam ada rencana mau ajak temen Sam jalan-jalan..."
"Baiklah kalau gitu, bunda tutup dulu ya sayang. Ini bunda sama ayah lagi makan malam..."
"Iya bun..."
Sam pun bergegas kembali kerumah Elisya.
🕓🕓🕓
Lisa sudah selesai memasak makan malam. Ia juga sudah selesai membuatkan bubur untuk Elisya.
Dikarenakan kamar Elisya yang luas, juga ada sofa dan meja disana. Akhirnya Lisa memutuskan untuk menghidangkan makan malam dikamar Elisya saja.
Ia tengah sibuk menyajikan makanan dan minuman dimeja itu. Setelah semuanya dirasa cukup ia pun berniat membangunkannya Elisya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Sya bangun dulu yuk, lo belum makan..."ucap Lisa sambil menepuk pelan pipi Elisya.
__ADS_1
Elisya mulai membuka kedua matanya. Ia berusaha duduk dibantu oleh Lisa. Syukurlah rasa pusingnya sudah sedikit berkurang sekarang. Keadaan nya pun sudah lebih mendingan.
Perasaan Elisya sudah sedikit lebih tenang sekarang. Walaupun tak bisa dipungkiri hatinya tetap terasa sakit.
Elisya tiba-tiba memeluk tubuh Lisa. Lisa awalnya agak sedikit kaget, namun detik berikutnya ia menyadari sahabat nya ini memang perlu pelukan hangat darinya.
Lisa menyadari baju dibagian bahunya sudah terasa basah. Menandakan jika Elisya menangis terisak dibahunya.
Lisa mengelus-elus pelan punggung Elisya.
"Gue tau lo lagi hancur sekarang. Gue juga tau seberapa sakitnya hati lo sekarang. Tapi gue yakin lo kuat. Gue yakin lo bisa hadapin semua ini. Lo sahabat gue yang paling kuat. Lo salah satu penyemangat hidup gue setelah nenek gue..."lirih Lisa pelan disamping telinga Elisya.
Elisya perlahan mulai melerai pelukannya. Masih dengan pipi yang basah karena air matanya.
Lisa tersenyum, menghapus pelan sisa air mata yang ada di wajah sahabatnya. Lalu memegang kedua bahu Elisya.
"Kadang hidup itu kaya langit. Kadang mendung, tapi lo harus yakin. Gak selamanya langit akan mendung. Ada saatnya langit juga akan cerah..."
"Gue percaya lo bisa berdamai sama diri lo sendiri. Masih banyak yang sayang sama lo. Ada gue, Bella, orang tua lo, kak Arvie, kak Sam juga. Lo harus bangkit. Gue ngerti gak mudah untuk ngelupain kenangan indah bersama seseorang yang spesial bagi kita..."sambung Lisa lagi.
"Tapi susah bukan berarti gak bisa. Selagi lo mau berusaha buat lupain Vano, dan memulai hidup lo tanpa dia, gue yakin kok lo bisa. Jangan nangis lagi ya Sya. Lo cewek paling baik yang pernah gue kenal. Lo berhak bahagia walaupun gak sama Vano. Ada sesuatu yang indah menunggu lo dimasa depan nanti. Jadi gak boleh patah semangat..."sambung Lisa lagi.
Elisya tersenyum lalu meraih kedua tangan Lisa.
"Thanks ya Lis, gue bersyukur ada lo disamping gue saat keadaan gue lagi kaya gini. Gue juga minta maaf karena gak dengerin lo dari kemarin-kemarin buat mutusin-..."ucapan Elisya terhenti saat Lisa meletakkan telunjuknya di depan bibir Elisya.
"Udah, yang kemarin-kemarin gak usah diinget, sekarang yang terpenting adalah kesehatan lo. Kita makan dulu ya. Mau gue suapin atau makan bareng-bareng disofa..."tanya Lisa.
Elisya tersenyum manis, "Di sofa aja..."jawabnya cepat.
Lisa pun menuntun Elisya perlahan untuk duduk disofa.
Tanpa mereka sadari Sam sudah sedari tadi berada didepan kamar Elisya. Namun, saat mendengar Lisa tengah menenangkan Elisya. Ia pun mengurungkan diri untuk masuk. Ia tersenyum saat melihat usaha Lisa menenangkan sahabatnya itu.
Setelah Lisa dan Elisya sudah duduk disofa, akhirnya Sam ikut masuk ke kamar Elisya.
__ADS_1
"Eh kak Sam, yuk makan sama-sama kak..."tawar Lisa.
"Ini obat buat Elisya..."ucap Sam sambil menyodorkan obat yang ada ditangannya.
"Aduh ngerepotin banget sih, Elisya jadi gak enak..."ucap Elisya sungkan.
Sam tertawa kecil lalu mengacak pelan rambut Elisya.
"Gak ngerepotin kok..."ucap Sam.
Akhirnya mereka bertiga pun mulai sibuk dengan makanan masing-masing.
"Oh iya Sya, kaka rencananya mau nginep disini malam ini. Buat jagain kamu sama Lisa..."ucap Sam.
"Oh iya boleh kak..."jawab Elisya sekenanya.
"Sya, disini masih ada baju kak Arvie nggak? Kasian kak Sam masih pakai baju sekolah..."lirih Lisa pelan.
Elisya tersenyum, ia menyadari jika sahabatnya ini menaruh kekaguman pada sosok Sam.
"Ada kok dikamar sebelah, nanti kamu bantu kak Sam ambil baju disana ya..."ucap Elisya.
"Kaka pinjem gak papa kan Sya?..."tanya Sam agak ragu.
"Nggak papa dong..."jawab Elisya sambil tertawa kecil.
Tanpa terasa mereka bertiga sudah menyelesaikan makan malam mereka. Elisya pun sudah selesai minum obat.
"Sya lo langsung istirahat ya, biar gue yang beresin..."ucap Lisa.
Elisya mengangguk menyetujui penuturan Lisa. Karena memang kepalanya masih sedikit pusing. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke kasur nya.
"Oh iya Lis, didalam lemari aku ada selimut kok. Kalau butuh ambil aja..."pesan Elisya sebelum larut kedalam tidurnya.
Sam yang merasa kasian pada Lisa pun membantu Lisa membereskan bekas makan malam mereka. Mereka berdua berjalan menuju dapur karena tak ingin menganggu tidur Elisya
__ADS_1