Elisya

Elisya
First kiss


__ADS_3

Elisya tak berani bertanya, ia hanya diam saja.


Vano mulai mengambil gitarnya.


"Sya sini duduk didepan kaka, biar kaka ajarin main gitar..."ucap Vano.


Elisya merasa senang mendengarnya.


Elisya dengan cepat mengubah posisi duduknya tepat didepan Vano, terlihat seperti duduk dipangkuan Vano.


Vano pun seolah memeluk Elisya dari belakang sambil memegangi tangan Elisya dan gitarnya.


Vano mulai menjelaskan satu persatu kunci gitarnya. Tanpa saja wajah Vano tepat berada disamping leher Elisya. Aroma tubuh Elisya yang wangi, mulus, dan putih membuat Vano merasa gerah. Dengan cepat Vano mengubah posisi mereka.


"Sya kamu duduk disamping kaka, sampai sini dulu, nanti kaka ajarin lagi..."ucap Vano menahan dirinya.


Elisya yang tak mengerti hanya menurut saja.


Vano berusaha mencairkan suasana.


"Sya mau kaka nyanyiin lagu..."tawar Vano.


Mata Elisya berbinar-binar mendengar itu.


"Boleh kak?..."tanya Elisya.


"Iya boleh kok..."jawab Vano.


Elisya pun menghadapkan tubuhnya kearah Vano.


Vano mulai memainkan gitarnya sambil menyanyi


Pagi hari menyapa dengan indah


Ku tersenyum melihat kau masih lelah


Sudah dengan berbagai cara


Agar tak terlewatkan hari yang indah


Banyak hal yang tlah kita lewati


Di setiap harinya


Denganmu ku mengerti arti cinta


Arti cinta sesungguhnya


Tumbuh di setiap saat


Dan mengerti makna cinta


Makna cinta yang abadi


Kan kujaga cinta ini


(Seperti syair lagu Rizky Febian-makna cinta)


Elisya tersipu malu, rasanya ia bermimpi dinyanyikan oleh Vano, wajahnya menjadi merah padam.


Saat Vano menyelesaikan menyanyinya Vano menatap ke arah Elisya.


"Keren kak, Elisya suka..."puji Elisya malu-malu.


Vano hanya tersenyum.


Mereka berdua menatap sang bulan yang ditemani dengan gemerlap bintang.


Vano menatap wajah Elisya dengan seksama, sangat cantik terkena cahaya bulan membuat Elisya seakan bercahaya.


"Sya, ada yang lebih indah dari bulan..."ucap Vano.


Elisya menatap lekat mata Vano

__ADS_1


"Apa ka..."tanya Elisya penasaran.


"Kamu..."jawab Vano singkat.


Sedangkan Elisya rasanya terbang saat ini juga.


"Kak Vano ihh suka banget bikin jantung Elisya detaknya cepet..."jujur Elisya.


Vano tertawa melihat kepolosan Elisya, ia bahkan terlalu jujur sekali.


Elisya merasa kesal dan memukul-mukul dada bidang Vano pelan.


Vano mencoba menahan tangan Elisya.


Tiba-tiba wajah Vano berdekatan dengan wajah Elisya, sampai dahi mereka sama-sama menempel.


Deg deg


Jantung mereka berdetak dengan sangat cepat.


Mereka saling menatap beberapa saat, membuat Vano mulai kehilangan kesadarannya.


Vano mulai mendekatkan wajahnya, lebih dekat dan kini bibir Vano sudah bersentuhan dengan bibir Elisya.


Vano yang sudah dipenuhi gairah mulai ******* pelan bibir Elisya. Elisya mulai terbawa suasana dan mulai membalas lumayan Vano walau masih sangat kaku.


Vano yang merasa Elisya tidak menolak menarik tengkuk Elisya agar lebih memperdalam ciumannya.


Tangan Vano mulai memegang tangan Elisya.


Vano ingin melakukan yang lebih dari itu, tapi tiba-tiba


"Semua siswa dan siswi diharapkan berkumpul..."terdengar suara Sam memberikan pengumuman.


Vano yang tersadar langsung melepaskan pagutannya.


Elisya masih menatap Vano tak bergeming, bagaimana bisa ia hanya diam saja saat Vano menciumnya. Ia benar-benar sudah gila.


Vano menatap intens wajah Elisya lalu mengusap bibir Elisya yang sedikit basah karena ulahnya.


Cup


Vano mencium bibir Elisya sekilas, ia seakan merasa kecanduan dengan bibir mungil Elisya.


Sedangkan wajah Elisya sudah merah karena menahan malunya.


"Manis..."ucap Vano sambil tersenyum.


"Kak Vano, itu tadi first kiss Elisya..."Elisya mulai sadar.


"Kaka juga baru pertama kali melakukannya dan hanya padamu..."sahut Vano sambil mengusap kepala Elisya pelan.


Vano memang jadi incaran para wanita-wanita disekolahnya, tapi Vano adalah tipe laki-laki setia dan tidak sembarang dalam memilih wanita.


Entah kenapa Vano malah ingin sekali melakukannya dan hanya dengan Elisya.


Sedangkan Elisya hanya malu-malu kucing.


"Ayo Sya, kita kesana, kaka takut khilaf disini..."goda Vano.


Elisya hanya tersenyum.


Lalu Vano menggendong Elisya lagi, gitarnya ia tinggal dan ia suruh temannya mengambilnya.


Kini Vano menggendong Elisya menuju tempat siswa siswi berkumpul.


Saat mereka datang semua mata tertuju pada mereka berdua.


Vano menurunkan Elisya perlahan,


"Bisa berdiri Sya..."tanya Vano.


Elisya mengangguk yakin.

__ADS_1


Vano pun mulai melepaskan tangan Elisya.


Tiba-tiba Hendra dan Aldi menghampiri mereka,


"Woy pacaran mulu, bisa bucin juga ya ternyata si tuan angkuh ini..."ledek Aldi.


"Bilangnya gamau..."sambung Hendra.


"Berisik lo berdua, pergi gih ambilin gitar gue disana..."perintah Vano singkat.


Hendra dan Aldi pun langsung mengambilkan gitar Vano.


Angel dan kedua temannya juga menyaksikan kejadian itu, tapi Angel tak peduli, ia bahkan merasa senang karena Sam mulai membenci Elisya.


"Tuh Ngel, bener kan kata gue, si Elisya lagi dekat sama Vano..."titah Karin.


"Gue sih bodo amat ya, yang penting tuh cewe gak deket-deket lagi sama Sam..."ucap Angel tersenyum sinis.


"Emangnya lo gak takut kehilangan Vano Ngel?..."tanya Bella.


"Ya enggaklah ngapain takut, orang gue sukanya sama Sam bukan Vano, jadi mau Vano perhatian sama siapapun gue gak peduli..."jawab Angel tegas.


Sedangkan Sam yang melihat itu mengepalkan tangannya.


"Heh dasar wanita murahan..."lirih Sam tersulut emosi.


Tiba-tiba Bu Siska dan beberapa orang guru lain mulai berkumpul.


"Anak-anak besok kita akan pulang ya, jadi setelah itu kalian bisa memulai aktivitas sekolah seperti biasanya, terimakasih atas partisipasinya dalam mengikuti acara ini, setelah ini kalian boleh bubar dan beres-beres ya, dicek lagi siapa tau ada yang ketinggalan..."pesan bu Siska.


"Baik bu..."jawab siswa siswi serentak.


"Lis tolongin Elisya ya, kaki dia luka..."ucap Vano.


"Baik kak..."ucap Lisa.


"Sya kaka mau beliin kalian makanan dulu ya..."ucap Vano.


Elisya hanya mengangguk lalu menuju kamarnya dibantu oleh Lisa.


Sesampainya dikamar Lisa membantu Elisya duduk disofa.


"Lis..." panggil Elisya.


"Iya Sya..."sahut Lisa.


"Lo gak papa? Lo kan suka sama ka Vano, lo gak marah sama gue..."tanya Elisya hati-hati.


"Ya nggalah Sya, gue tuh cuman kagum sama kak Vano, sebatas itu doang..."bohong Lisa menyembunyikan lukanya dengan senyuman.


Sebenarnya hatinya sakit mengetahui orang yang sudah lama ia sukai malah dekat dengan teman kecilnya, tapi ia berusaha tetap tegar.


Elisya bernafas lega


"Gue pikir Lo marah..."


"Santai aja kali Sya..."ucap Lisa.


Vano terlihat membawa beberapa bungkus makanan, ia mengantarkan makanan kekamar Angel, lalu menuju kamar Elisya.


Pintu kamar Elisya memang tidak dikunci, hingga Vano bisa langsung masuk.


"Nih Sya buat kalian berdua..."ucap Vano sambil meletakkan 2 bungkus makanan dan 2 botol air mineral untuk Elisya dan Lisa.


"Makasih kak, kaka udah makan..."tanya Elisya.


"Kaka bisa makan sama teman-teman kaka, kamu makan sama Lisa, lalu istirahat..."ucap Vano lalu mengacak pelan rambut Elisya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Elisya dan Lisa.


Elisya hanya mengangguk sedangkan Lisa terdiam kaku menyaksikan kejadian didepan matanya itu, tapi ya mau bagaimana lagi.


Setelah kepergian Vano, Elisya mulai makan bersama dengan Lisa. Mereka sedikit mengobrol tanpa terasa mereka berdua telah menghabiskan semua makanannya.


Lisa langsung beranjak membereskan bekas makannya itu, sedangkan Elisya berjalan pelan ke ranjang lalu duduk, dan membereskan beberapa pakaiannya lalu memasukkan nya kekoper nya.

__ADS_1


Merasa sudah beres mereka berdua memutuskan untuk istirahat, karena besok mereka akan segera pulang.


__ADS_2