Elisya

Elisya
46


__ADS_3

Mobil Sam berhenti tepat didepan rumah Elisya, bersamaan dengan hujan yang kian mereda. Ia melepas sabuk pengaman Elisya. Elisya terlihat pucat pasi, sangat jelas terlihat bahwa ia kedinginan sekarang.


"Kaka gendong ya Sya..."tawar Sam.


Elisya menggeleng pelan, "Elisya bisa jalan sendiri kak..."lirihnya pelan.


Sam tak mau memaksa, ia hanya membantu Elisya berjalan. Elisya membuka pintu rumahnya perlahan.


"Mamah..."panggil Elisya pelan namun mampu didengar oleh Revina.


Revina panik bukan main saat melihat wajah Elisya yang pucat pasi. "Nak Sam ini kenapa, ayo masuk..."ucap Revina.


"Mah Elisya mau ke kamar dulu. Ganti baju, Elisya gak papa ko mah, cuman kehujanan aja tadi dijalan..."Elisya memaksa kan senyuman nya.


"Sam kamu duduk disini dulu ya, tante mau bantu Elisya ganti baju dulu..."pamit Revina.


"Baik tante..."ucap Sam terpaksa mengiyakan. Padahal jelas sekali terlihat wajah Sam yang khawatir secara berlebihan.


Revina menuntun Elisya berjalan ke kamarnya.


"Mamah tunggu disini, Elisya ke kamar mandi bentar..."ucap Elisya.


Revina mengangguk sambil mencari-cari pakaian tebal untuk meminimalisir rasa dingin yang dirasakan putrinya.


Elisya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit ditubuhnya,


"Sayang pakai baju ini, biar gak terlalu dingin. Mamah turun duluan ya, mama buatin teh hangat untuk kamu..."ucap Revina.


"Iya mah..."jawab Elisya lalu tangannya meraih baju yang telah dipilih kan ibunya dan masuk kembali kedalam kamar mandi bersamaan dengan Revina yang meninggalkan kamar Elisya.


Untung saja rasa sakit dilengan Elisya sudah berkurang, hingga ia tidak terlalu susah dalam mengenakan pakaian.


Hanya perlu waktu beberapa menit Elisya sudah keluar dari kamar mandi, ia duduk didepan cermin riasnya. Rasa malas menyerangnya, bahkan untuk mengeringkan rambutnya saja ia malas sekali. Ia hanya menyisir rambutnya pelan lalu meraih sebuah lipbam dan mengoleskan nya dibibir mungilnya agar tak kelihatan terlalu pucat.


Pikirannya sedang campur aduk, sambil terus merenungi hubungan nya dengan Vano yang semakin kesini semakin jauh. Vano yang lebih perhatian kepada Angel dari pada dirinya sendiri. Ada rasa sakit yang menjalar dihatinya. Matanya menatap nanar dirinya sendiri lewat cermin.


"Elisya salah apa sih ka, kenapa ka Vano gini sama Elisya..."lirihnya pelan.


Bibirnya bergetar menahan isakan demi isakan yang keluar dari mulutnya. Tangannya berusaha menghalau tetes demi tetes air mata yang jatuh membasahi pipinya.


Sedangkan Sam nampak tak tenang diruang tamu.


"Elisya ko lama banget ya, gue susulin aja. Takut aja apa-apa..."Sam bangkit dari tempat duduknya, melangkahkan kakinya menuju kamar Elisya.


Sesampainya dikamar Elisya, hati Sam terasa teriris-iris. Melihat wanita yang ia sayangi tengah menangis didepan cermin riasnya.

__ADS_1


"Sya..."panggil Sam.


Elisya kaget lalu dengan cepat menghapus air mata yang membasahi pipinya.


"Eh kak Sam, sini masuk..."ajak Elisya.


Sam menghela nafas kasar. Ia merasa gagal menjaga Elisya saat melihatnya menangis seperti ini. Sam berjalan mendekati Elisya.


"Kaka udah bilang kan Sya, jangan nangis lagi..."lirih Sam pelan.


Elisya hanya diam, tatapannya kosong. Lidahnya kelu untuk berucap. Sam memperhatikan tetesan air yang jatuh dari rambut Elisya. Ia berinisiatif mengambil hairdryer diatas meja rias Elisya, lalu dengan telaten mengeringkan rambut Elisya.


Tak ada penolakan dari Elisya.


"Nah selesai, sekarang kita keluar ya Sya..."ajak Sam.


Elisya hanya mengangguk lalu berjalan meninggalkan kamarnya diiringi Sam dibelakangnya.


Sesampainya di sofa Elisya dan Sam duduk perlahan, Revina datang membawakan dua gelas teh hangat.


"Sayang ini minum tehnya biar gak dingin lagi, Sam ini buat kamu juga..."


Sam merasa tak enak hati, "Gak perlu repot-repot tante..."


Elisya meraih gelas diatas meja dan meminumnya pelan. Rasa dingin ditubuhnya sudah sedikit berkurang.


"Kamu ko bisa kehujanan sih Sya, Vano nggak nganter kamu?..."pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut sang ibu.


Sam ingin menjawabnya tapi Elisya memegang lengannya lalu menggeleng pelan, Sam mengerti jika Elisya menginginkan nya diam sekarang.


"Ka Vano nya sibuk mah, untung ada kak Sam yang nganter Elisya..."


Revina tersenyum, "Makasih ya Sam, tante bersyukur masih banyak yang peduli sama anak tante..."


Sam mengangguk, "Sam akan jagain Elisya terus tante..."ucap Sam yakin.


"Tante percaya sama kamu Sam..."jawab Revina.


🕓🕓🕓


Pesawat Arvie sudah mendarat di bandara Rusia. Ia memakai kacamata hitamnya lalu berjalan menarik kopernya. Tentu ia sudah mengabari Dicky si pria dingin untuk menjemput nya di bandara.


Dari kejauhan Dicky mengangkat tangan memberikan kode bahwa ia berada disana.


Arvie yang melihat itu melangkahkan kakinya menuju ke arah Dicky.

__ADS_1


"Gimana apartemen, aman? Ada masalah selama gue pergi?..."tanya Arvie pelan.


Dicky diam sejenak, "Ke mobil..."ucapnya singkat namun dapat dimengerti dengan jelas oleh Arvie. Ia mengerti jika Dicky tidak mau ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua.


Meskipun Dicky sangat dingin dan irit bicara, tapi Arvie mampu betul memahami setiap perkataan Dicky.


Dicky memasuki mobil disusul oleh Arvie.


"Farhan diserang..."ucap Dicky sekenanya.


Arvie melirik ke arah Dicky sekilas, Dicky mengangguk. Kini Arvie paham siapa yang melakukan ini. Hanya dengan mendapat anggukan dari temannya itu ia sudah mengerti biang masalahnya.


Dicky menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi menuju apartemen. Setelah memarkirkan mobilnya ia berjalan berdampingan dengan Arvie memasuki apartemen itu.


Dicky masuk ke apartemen dan duduk disofa. Disana sudah ada David yang membantu mengobati luka temannya Farhan.


"Pelan-pelan bego, sakit..."jerit Farhan.


David tertawa terbahak-bahak, "Gak usah lebay lo, cowo kok lemah sih..."


"Ngomong gitu lagi gue rebus mulut lo Vid, gak ada akhlak banget..."kesal Farhan.


"Gue datang..."ucap Arvie dari arah pintu. Sontak membuat David dan Farhan menoleh.


"Eh bro, gimana disana. Aman kan?..."tanya David.


"Hm..."hanya dibalas deheman oleh Arvie.


"Lo gak papa Han?..."tanya Arvie.


Farhan menggeleng, "Seperti yang lo liat. Babak belur gini gue..."jelas Farhan.


"Muka lo tuh emang pantes buat digebukin, gue aja kesel liatnya..."ledek David.


"Eh tuh mulut ya lemes banget. Nyebut Vid nyebut..."ujar Farhan.


"Oh iya kemarin si Bianca dateng kesini Vie, biasa nyariin lo. Tuh cewe gak ada capek-capek nya ya ditolak sama lo juga. Mana songong banget lagi, so kecantikan..."ucap David.


Arvie tak menghiraukan ucapan David itu.


"Besok kita latihan ditempat biasa, gue istirahat dulu. Kalian semua juga..."perintah Arvie.


"Yoi bro..."jawab David dan Farhan bersamaan. Berbeda dengan Dicky yang hanya diam saja.


Mereka berpencar menuju kamar masing-masing. Memang di apartemen itu ada empat buah kamar yang cukup besar untuk mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2