Elisya

Elisya
47


__ADS_3

Setelah kepulangan Sam, Elisya kembali menuju kamarnya. Duduk disamping ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Hari ini moodnya benar-benar sedang tidak baik. Sampai sekarang Vano bahkan tidak menghubunginya sama sekali.


Seketika senyuman terbit dibibir Elisya saat telpon nya berdering. Ada video call dari Arvie. Dengan cepat ia meraih telpon genggamnya diatas meja dan mengangkat panggilan sang kakak.


"Hallo adik kecil..."


Mata Elisya berbinar-binar melihat sosok Arvie walau hanya lewat telpon saja.


"Elisya kangen..."rengeknya.


"Baru juga gue sampai disini, udah kangen aja lo. Gimana kabar lo Sya. Vano nyakitin lo lagi..."


Elisya menghela nafasnya pelan, "Ka Vano bentak Elisya kak..."ucapnya jujur.


"Gue sebenernya emang gak suka sama tuh anak, jangan jadi cewek lemah Sya. Lo harus jadi cewek kuat. Lo adik gue satu-satunya. Apapun masalah yang datang sama lo, lo harus kuat..."


Elisya mengangguk mengerti, "Elisya ngerti kak, Kakak emang yang terbaik buat Elisya..."


"Udah istirahat sana, gue juga mau istirahat..."


Panggilan berakhir.


Arvie memang kadang terkesan cuek dan dingin, tapi percayalah ia punya cara tersendiri menunjukkan rasa sayangnya pada adik satu-satunya itu.


Elisya meletakkan telponnya kembali, "Ka Arvie bener, gue harus kuat buat diri gue sendiri. Gue harus bisa hadapin masalah gue. Gue gak boleh terlalu berharap sama siapapun. Apalagi ka Vano..."lirih Elisya pelan.


"Elisya, ini ada nak Bella yang datang..."teriak Revina dari luar kamar.


Elisya kaget, ada apa Bella kerumahnya. Tumben sekali.


"Suruh masuk aja mah, pintunya gak dikunci ko..."jawab Elisya.


Bella masuk kekamar Elisya perlahan. Elisya bangkit dan duduk disisi ranjang nya.


"Duduk sini kak, tumben kak Bella kerumah. Gak bilang-bilang sama Elisya..."tanya Elisya heran.


Bella tersenyum tulus, "Gue khawatir aja sama lo. Gue ngeliat sendiri pas lo berantem sama Vano diparkiran sekolah tadi. Gue takut aja lo sedih..."ucap Bella khawatir.


Elisya tersenyum, "Elisya gak papa ko kak..."


"Bisa gak sih Sya, lo panggil gue Bella aja. Gak usah pakai kakak gitu. Usia kita juga gak terlalu jauh. Pakai lo gue aja. Biar kita lebih dekat..."saran Bella.


"Iya deh kak, eh maksudnya Bella..."ucap Elisya canggung.


Bella tersenyum lalu meletakkan tangannya dibahu Elisya, "Gue tau lo cewek kuat. Gue minta lo gak usah terlalu sopan sama Angel. Ngomong pakai lo gue aja. Angel itu licik banget Sya. Gue takut lo di apa-apa in sama dia..."


"Lo nggak usah khawatir, gue bisa jaga diri kok Bel..."jawab Elisya.


"Dan satu hal lagi, gue sebenernya berat bilang ini ke elo, tapi gue bener-bener harus ngomong ini. Gue minta lo gak terlalu berharap banyak sama Vano, setahu gue dulu Vano sempat ngejar-ngejar Angel. Seandainya semua diluar dugaan kita, atau Vano berpaling ke Angel, gue gak pengen lo nangisin dia. Masih banyak yang peduli sama lo Sya. Gue gak mau Vano nyakitin lo..."jelas Bella panjang lebar.


Tatapan Elisya berubah sendu. Bella benar, berbagai kemungkinan bisa saja terjadi. Elisya tak bisa menaruh harapan terlalu tinggi pada Vano. Namun, perasaannya tak bisa berbohong. Ia begitu menyayangi sosok Vano.


"Gue ngerti kok, gue juga akan belajar untuk nggak terlalu berharap sama Vano, walaupun sebenarnya gue sayang banget sama dia Bel..."


Bella menepuk-nepuk pelan pundak Elisya, "Gue yakin lo bisa. Lo harus jadi cewek kuat, lo gak boleh lemah..."pesan Bella.


Elisya tertegun sebentar mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Bella. Perkataan Arvie terngiang-ngiang di kepala Elisya.

__ADS_1


"Tadi kak Arvie juga ngomong gitu sama gue, kok sama ya..."goda Elisya.


Bella mendadak gelagapan. "Apaan sih lo. Kebetulan aja kali..."elak Bella.


Elisya tertawa kecil, "Di dunia ini gak ada yang kebetulan, semua udah takdir..."ejeknya.


Bella menggeleng kuat, "Udah ah. Ini ko jadi bahas Arvie sih. Gue kan kesini mau hibur lo..."ucap Bella cemberut.


Elisya tersenyum haru, "Thanks ya Bel, lo udah mau hibur gue. Gue seneng banget lo jadi baik gini..."jujur Elisya.


Perkataan Elisya ternyata mampu menohok hati Bella. Tatapannya berubah sendu, "Gue tau gue pernah jahat sama lo, dan sumpah gue nyesel banget. Maafin gue ya..."ucap Bella memohon.


"Ih gue udah maafin lo kali Bel, tenang aja..."jawab Elisya sambil tertawa-tawa kecil.


Bella berdiri, "Gimana kalau kita jalan-jalan Sya, bosen tau dirumah mulu. Kita ke mall yuk! Gue bawa mobil ko..."ajak Bella antusias.


Elisya yang melihat Bella sangat antusias tak enak hati jika harus menolah ajakan Bella. Akhirnya ia mengangguk, "Elisya ambil tas dulu..."ucapnya.


Bella tersenyum senang, Elisya mengambil tas dengan warna senada dengan pakaian yang ia kenakan lalu mengambil telponnya diatas meja.


"Yuk!..."ajak Elisya.


Bella refleks menggenggam erat tangan Elisya mengajaknya berlari-lari kecil keruang tamu.


"Mah Elisya pergi bentar sama Bella..."teriak Elisya sambil terus berlarian.


Revina geleng-geleng kepala melihat kedua anak itu.


"Hati-hati..."teriak Revina dari kejauhan.


"Ayo masuk..."ajak Bella yang langsung diikuti oleh Elisya.


"Bel pelan-pelan dong. Lo kaya orang mau balapan aja. Serius gue belum nikah tau. Gue belum siap mati..."teriak Elisya sambil berpegangan ke sampingnya.


Bella tertawa kencang, "AAAAARGGGG..."Teriak Bella keras.


"Lo tau Sya, disaat gue lagi banyak masalah gue selalu gini. Teriak di mobil kaya gini. Lo coba deh. Lo bakalan lega..."tutur Bella.


Sekarang Elisya mengerti kenapa Bella melakukan ini.


Elisya akhirnya menurut iya ikut berteriak seperti Bella dan benar saja, ia merasa plong sekarang. Seakan beban pikirannya sedikit berkurang.


Berteriak-teriak seperti itu mungkin tak akan menyelesaikan masalah, tapi percayalah itu membuat hatinya sedikit lega.


Bella menghentikan mobilnya di sebuah mall besar dikota itu.


"Ayo Sya, kita masuk. Nanti kita nonton ya sekalian..."Bella terlihat benar-benar antusias.


Elisya mengangguk. Bella terus menggandeng erat tangan Elisya menuju tempat pakaian.


"Baju ini bagus nggak Sya, liat deh. Kita couple an mau gak?..."tawar Bella.


"Iya Bel bagus banget, kita ambil ini aja..."jawab Elisya.


"Ih gue mau itu Vano..."terdengar suara yang tak asing ditelinga mereka berdua. Itu adalah suara Angel.


Elisya dan Bella menoleh bersamaan menuju sumber suara. Benar saja saat ini Angel tengah bergelayut manja di tangan Vano sambil merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan.

__ADS_1


"Jangan makan itu, nanti lo sakit Angel, yang lain aja ya..."bujuk Vano. Siapapun yang melihat interaksi kedua insan itu pasti beranggapan jika mereka adalah sepasang kekasih.


Setelah Vano mengantarkan Angel pulang kerumahnya, bukannya istirahat, Angel malah memaksa Vano menemani nya jalan-jalan.


Elisya menatap nanar kedua orang itu, " Ka Vano bahkan gak ngehubungin gue sama sekali, dan sekarang malah mesra-mesraan gini sama Angel..."lirih Elisya sendu.


Bella menggenggam tangannya kesal melihat Angel dan Vano.


"Lo ikut gue..."ucap Bella sambil menarik tangan Elisya menghampiri Vano.


Saat tepat berada disamping Vano, Bella berdehem.


"Pantesan lupa sama pacar sendiri. Sibuk sama cewe lain..."sindir Bella yang mampu memancing perhatian Vano dan Angel.


Angel yang menyadari kehadiran Elisya semakin mempererat pelukannya ditangan Vano.


"Eh ada Elisya. Maaf ya Sya, Vanonya gue pinjam bentar. Buat temenin gue jalan-jalan..."


Sedangkan Vano ia hanya diam seperti orang yang tidak merasa bersalah sedikit pun.


Elisya tersenyum getir, sudah cukup ia selalu diam begini. Ia harus kuat. Ia bukan cewek lemah.


"Lo tuh sebenarnya cantik Ngel, tapi sayang gagap teknologi..."ucap Elisya santai.


Angel mendengus kesal, "Maksud lo apa bilang gue gitu hah..."


"Emang bener kan, sini deh gue ajarin cara mesan ojek online biar gak ngerepotin pacar orang terus. Gak malu ya? Nanti dibilang perebut pacar orang, malah marah..."ucap Elisya sesantai mungkin.


Bella tersenyum melihat keberanian Elisya. Berbeda dengan Angel yang menahan emosinya mati-matian.


"Jaga mulut lo ya, kurang ajar banget lo sama gue..."bentak Angel.


"Ups gue salah omong ya Bel? Kok marah sih..."ucap Elisya sambil melirik ke arah Bella.


"Nggak salah sih Sya, situ tersinggung ya? Kok marah. Emang bener kan ngerepotin cowok orang? Gak malu? Ups kalau gue sih malu ya heheh..."ucap Bella cengengesan.


Akhirnya Vano angkat suara juga, "Udah cukup ya Sya, gak usah dipermasalahkan lagi. Aku cuman nemenin Angel ko..."bujuk Vano.


Elisya berdecih, ia membuang tatapannya ke arah lain. Ia sudah muak dengan semua ini.


"Lanjutin aja jalan-jalan sama sahabat kesayangan ka Vano ini. Aku apa atuh kak cuman pacar doang..."ucap Elisya disusul tertawa kecil setelahnya.


"Elisya cukup. Jangan berlebihan gini dong Sya..."ucap Vano lagi.


Elisya tersenyum getir, "Belain aja terus kak, kayanya sahabat kesayangan kakak itu gak punya malu..."ejek Elisya.


Bella tertawa puas, "Kalau lo gak punya malu, seenggaknya lo tau diri lah. Elisya disini pacarnya Ngel? Lo siapa ya? Em sahabat? Atau ngebet mau jadi pacar Vano hahaha..."ledek Bella.


Cukup sudah. Angel tak bisa menahan emosinya lagi. Ia mengangkat tangannya ingin melayangkan tamparan pada wajah Elisya namun Vano menangkap pergelangan tangan Angel.


"Cukup Angel, jangan pakai kekerasan. Elisya itu pacar gue Angel, jangan gini lah..."bentak Vano.


Bella tersenyum puas mendengar Vano membentak Angel. Memang selama ini Vano tak pernah membentak Angel. Ia selalu berbicara lembut pada Angel.


Angel tertegun, tangannya melemah. "L-lo be-bentak gue Van?..."tanyanya terbata-bata.


Sial, Vano kelepasan. Ia memang tak pernah membentak Angel sekalipun. "Nggak gitu Ngel, maksud gue-..."belum sempat Vano menyelesaikan ucapannya Angel sudah menghempas kasar pegangan tangan Vano lalu berlari keluar mall.

__ADS_1


Vano dengan cepat menyusul Angel keluar. Elisya tersenyum getir saat melihat kekasihnya bahkan terlihat sangat mengkhawatirkan Angel.


__ADS_2