
Ceklek
Pintu kamar Arvie dibuka oleh Dicky yang tiba-tiba saja datang.
"Kenapa Ky?..."tanya Arvie heran, tak biasanya Dicky datang ke kamarnya secara langsung.
"Esya mana Vie, gue gak liat dia sama sekali dari tadi..."keluh Dicky.
Arvie mengernyitkan alisnya bingung.
"Gue juga gak liat adik gue Ky..."jawab Arvie apa adanya.
Dicky berdecak kesal. Kemana lagi perginya gadis itu.
"Gue udah nanya David sama Farhan, gak ada yang liat Elisya..."protes Dicky mulai khawatir.
Arvie bangkit, menepuk pelan bahu Dicky menenangkan.
"Kayanya Elisya jalan-jalan deh..."tebak Arvie.
"Ia kemana Vie, gak biasanya kan dia gak izin sama lo dulu. Lo kan abangnya..."Dicky mengusap rambutnya gusar.
"Iya sih, Elisya selalu izin ke gue kalau mau pergi. Setau gue Elisya dulu sering banget duduk di taman yang gak jauh dari rumah ini. Itu tempat kesukaan dia. Coba lo kesana deh Ky, siapa tau aja tuh anak kesana..."usul Arvie.
Dicky nampang mempertimbangkan usul Arvie sebelum akhirnya ia mengangguk setuju.
"Gue pergi dulu..."pamit Dicky lalu bergegas berlari keluar rumah.
"Hati-hati bro..."teriak Arvie lalu menarik sedikit sudut bibirnya, tersenyum singkat.
Memang tak salah ia mempercayakan Elisya pada Dicky sahabatnya.
Dicky berlari kecil menuju pintu gerbang. Ia hanya mengendarai sepeda motor agar lebih cepat sampai ke taman itu.
Perasaan nya tidak enak, ia benar-benar takut Elisya kenapa-napa. Tidak biasanya gadis itu pergi tanpa memberitahu siapapun.
__ADS_1
Dicky takut terjadi apa-apa pada Elisya, karena melihat keadaan gadis itu yang kurang sehat beberapa hari ini.
Dicky mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Entahlah, namun hati Dicky yakin Elisya ada ditaman itu.
Tanpa terasa Dicky sudah sampai didepan taman itu. Ia bergegas turun untuk melihat apakah Elisya ada disini atau tidak. Ia bahkan sedikit berlari kecil mengelilingi taman untuk mencari keberadaan Elisya.
Baru saja Dicky ingin melangkahkan kakinya lebih jauh, matanya menangkap pemandangan yang mampu membuat hatinya terasa nyeri.
Dicky tersenyum hambar, sambil tertawa kecil seolah mentertawakan dirinya sendiri. Rasanya dunianya runtuh seketika.
Ya, Pemandangan pertama yang Dicky liat adalah Elisya dan Vano yang tengah berpelukan sangat erat. Keduanya sama-sama terisak dalam tangisnya. Bahkan Elisya menyembunyikan wajahnya didada bidang Vano.
Dicky mengepalkan tangannya. Memukul pohon besar disampingnya hingga disela-sela jarinya mengeluarkan darah segar.
Ingin rasanya Dicky tertawa keras, menertawakan betapa bodohnya dirinya. Kenapa ia tak sadar jika ia hanya orang baru dalam hidup Elisya. Sedangkan Vano adalah cinta pertamanya.
Dicky kira Elisya benar-benar mencintainya. Ia bahkan memperlakukan Elisya dengan sangat spesial. Namun nyatanya, gadis yang sekarang sangat ia khawatir kan tengah berada dipelukan pria lain.
Biasanya Dicky lah yang memiliki pelukan itu, lihat sekarang! Vano lah yang tengah memeluk Elisya begitu eratnya bahkan terlihat tak ingin melepaskannya sama sekali.
🕓🕓🕓
Hari sudah mulai gelap. Elisya pulang dengan mata yang sembab sehabis menangis.
Ia berjalan pelan memasuki rumahnya. Sampai pandangan nya tertuju pada Arvie yang tengah menatapku penuh kecurigaan.
"Dari mana aja lo, jam segini baru pulang. Ini udah gelap Elisya. Lo bisa gak jamin keselamatan lo diluar sana. Gak biasanya lo gak izin dulu sama gue mau keluar..."ucap Arvie tegas.
Elisya menundukkan kepalanya takut.
"Elisya cuman nenangin diri aja kok bang. Elisya baik-baik aja..."bohongnya. Elisya tak mau Arvie marah besar jika tau ia menemui Vano sore tadi.
"Jangan gini lagi Sya, lo bisa izin dulu ke gue. Gak gini caranya. Lo tanggung jawab gue sekarang..."ucap Arvie menasehatinya.
"Maafin Elisya bang. Lain kali Elisya izin dulu sama abang. Bang Iky mana bang?..."tanya Elisya karena sedari tadi matanya tak menangkap sosok Dicky sama sekali.
__ADS_1
"Dia pergi dari tadi sore, katanya nyariin lo karena khawatir. Sampai sekarang belum pulang..."jelas Arvie.
Elisya nampak kaget,
"Nyariin Elisya? Loh sekarang bang Iky dimana dong..."tanya Elisya mulai panik.
"Udah lo mandi dulu terus ganti baju. Kita makan malam. Dicky itu udah dewasa Sya, dia bisa jaga diri. Gak perlu khawatir..."ucap Arvie menenangkan.
Elisya hanya mengangguk patuh, meskipun dalam hatinya sangat mengkhawatirkan Dicky.
🕓🕓🕓
Dicky kini tengah berada disebuah pantai. Dengan angin yang cukup deras menerpa tubuhnya. Ia bahkan tak berniat untuk pulang sama sekali.
Beruntunglah keadaan pantai cukup sunyi malam ini. Bahkan hampir tak ada pengunjung yang datang.
Dicky menatap nanar kearah bulan yang tak didampingi bintang malam ini, seolah menggambarkan dirinya tanpa Elisya. Gelap dan sendiri.
"ARGHHHHHHH...."teriak Dicky sangat kencang seolah melepas segala beban yang ada dibenaknya.
"Lo anggap gue apa selama ini Sya, gue bahkan selalu ada buat lo. Kenapa lo gak ngehargain perasaan gue Sya..."keluh Dicky cukup kencang.
Lihatlah betapa rapuhnya pria ini sekarang. Ia duduk diatas hamparan pasir, tanpa memperdulikan celananya yang kotor.
Tangannya mengacak rambutnya kasar.
"Setelah nyokap gue yang kecewain gue, sekarang kenapa harus lo Sya. Lo cinta pertama gue, kenapa lo hancurin gue..."teriak Dicky terdengar sangat menyedihkan.
"Gue udah berusaha jadi pria terbaik buat lo Sya, pria yang gak akan pernah nyakitin lo. Gue selalu memperbaiki diri gue supaya bisa jadi pria sempurna di mata lo. Tapi nyatanya lo gak natap gue sama sekali..."keluh Dicky lagi sebelum akhirnya ia menghela nafasnya yang terengah-engah.
Cukup lama Dicky berdiam diri disana. Hingga jam menunjukkan pukul 21.00 malam. Padahal pantai ini cukup jauh dari kediaman Arvie.
Dicky bukan anak kecil lagi, ia tidak akan egois karena perasaannya sendiri. Bagaimanapun ia harus pulang sekarang juga. Ia tak mau sahabat-sahabatnya mencarinya.
Bahkan ia tak sadar jika telponnya sudah mati entah sejak kapan. Akhirnya Dicky memutuskan untuk pulang.
__ADS_1