Elisya

Elisya
Pujian


__ADS_3

Elisya terlihat sudah menghabiskan semua makanannya.


Vano kembali setelah membayar makanannya.


"Udah abis Sya?..."tanya Vano.


Elisya mengangguk.


"Mau ikut aku..."tawar Vano.


Elisya kaget bukan main, pertama kalinya seorang Vano mengajaknya ikut bersamanya.


"Ke-kemana k-ka..."jawab Elisya terbata-bata.


Vano mengacak rambut Elisya pelan.


"Menikmati pemandangan disana..."tunjuk Vano.



Vano pun melangkahkan kakinya diiringi oleh Elisya dibelakangnya.


Selama perjalanan tidak ada percakapan, mereka seolah sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah sampai pada tempat yang dituju.


"Wah indah banget ka pemandangannya..."ucap Elisya spontan.


"Kaya kamu..."ucap Vano masih setia dengan nada cueknya tapi tetap saja itu terdengar sebagai sebuah pujian.


Pipi Elisya merona menahan malu, jika saja Sam yang mengatakan begitu ia sudah terbiasa, tapi kali ini seorang Devano Mahesya yang terkenal dengan keangkuhan nya.


Elisya rasanya ingin pingsan saat ini juga.


Vano yang menyadari pipi Elisya memerah sedikit menarik senyum disudut bibirnya.


"Kenapa..."tanyanya singkat.


"Ngga papa ko ka, kaget aja denger kaka bilang muji Elisya..."ucap Elisya jujur.


"Emang indah, cantik..."ucap Vano sambil mencubit pipi Elisya.


Vano tak pernah sedekat ini dengan siapapun apalagi dalam waktu yang bisa terbilang singkat. Tapi entah kenapa ia haja merasa nyaman berdekatan dengan Elisya dan moodnya membaik.


"Kaka udah dong mujinya, Elisya udah mau pingsan ni..."ucap Elisya sontak membuat Vano terkekeh.


Elisya langsung menarik tangan Vano dan meletakkan tangan Vano di dadanya.


"Tuh detak jantung Elisya gak normal nih..."


Vano yang merasakan benda sintal disana langsung menarik tangannya, dengan susah payah Vano menelan saliva nya.


"Nih cewe polosnya sampai segitunya..."gumam Vano.


Elisya yang heran melihat Vano terdiam pun angkat bicara.


"Kak Vano kenapa..."tanya Elisya lalu lebih mendekat ke samping Vano.


Melihat wajah Elisya yang mendekat menatap wajah Vano, ia mendorong kepada Elisya dengan jari telunjuknya agar menjauh sedikit.


"Jangan dekat-dekat dong Sya, nanti ada yang bangun..."


"Ngga papa ka, orang kita cuman berdua disini, gak akan ada yang bangun..."jawab Elisya dengan polosnya.


"Dasar polos..."ucap Vano singkat lalu melangkahkan kakinya lagi.


Elisya yang melihat Vano berjalan lagi sontak langsung mengikutinya.


"Kak tungguin Elisya dong..."ucap Elisya dengan wajah cemberut.


Vano menoleh kebelakang dan memperhatikan wajah Elisya.


"Kenapa..."tanya Vano.


"Kak Vano jago main gitar kan..."tanya Elisya.


"Tahu dari mana kamu..."tanya Vano balik.


"Kemarin Elisya liatin kak Vano nyanyi sambil main gitar..."ucap Elisya keceplosan lalu langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


"Ohh jadi ada yang suka ngeliat aku diam-diam ya..."ucap Vano tersenyum.


"Ee- ngga gitu kok ka, Elisya cuman gak sengaja liat, ia gak sengaja ka..."Elisya gugup.


"Kenapa nanya begitu..."tanya Vano lagi.


"Boleh gak kak kalau Elisya mau minta diajarin main gitar..."tanya Elisya sungkan lalu menundukkan wajahnya, ia takut Vano marah.


Vano yang menyadari ketakutan Elisya mengangkat dagu Elisya dan menatap matanya.


"Boleh, tapi nanti kalau kaka ada waktu..."


Elisya tersenyum sangat manis,


"Makasih kak..."ucap Elisya sontak memeluk tubuh Vano.


Deg deg


Jantung Vano mulai berdetak dengan cepat. Ia bingung harus membalas pelukan Elisya atau diam saja.


Elisya pun sontak melepaskan pelukannya.


"Maaf ya kak, Elisya gak sengaja, seneng soalnya..."


"Iya..."jawab Vano cepat.


"Ada apa denganku, gadis ini hampir membuatku gila..."gumam Vano.


Sedangkan Elisya mengutuki dirinya sendiri karena memeluk Vano seperti tadi. Jantung nya rasanya sudah ingin keluar dari tempatnya. Tapi Elisya sebisa mungkin menetralkan dirinya.


Hening...


Tidak ada yang memulai pembicaraan


Tiba-tiba tangan Elisya ditarik oleh Vano


"Ayo ikut aku Sya, mau berenang gak?..."tawar Vano.


"Elisya takut sih kak, kayanya airnya dalem banget kak, biasanya kan Elisya cuman mandi di kolam kecil..."ucap Elisya merendah.


"Mana ada kolam kecil dirumah mewah kaya kamu Sya..."gumam Vano.


Elisya terkejut mendengar ajakan Vano,


"Ka Vano ko jadi baik ya sama aku..."gumam Elisya dalam hati.


Merasa tidak mendapat jawaban Vano menatap Elisya.


Elisya langsung salah tingkah


"Ii-ya kak..."jawabnya cepat.


Mereka berdua pun turun menuju pantai.


Vano lebih dulu memulai berenang, tubuhnya kini sudah setengah didalam air.


Ia pun merentangkan tangannya ke depan.


"Sya ayo sini..."


Elisya sedikit takut tapi ia bukan orang yang mudah menyerah. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju Vano dan langsung berpegangan pada tangan Vano.


"Elisya takut kak, dalem banget nih pasti..."keluh Elisya.


"Ada kaka..."jawab Vano singkat tapi mampu mengobrak-abrik hati siapapun yang mendengarnya.


Vano makin membawa Elisya ketengah.


Elisya berenang sambil memegang tangan Vano erat.


Vano menyelam sebentar lalu berdiri lagi seraya mengibaskan rambutnya yang basah.


Elisya sontak menatap Vano hampir tanpa berkedip


"Kak Vano ganteng juga ternyata..."gumam Elisya.


Tapi dengan cepat Elisya mengalihkan pandangannya, ia tak ingin tertangkap basah saat sedang memperhatikan Vano.


Vano berniat ingin melepas tangan Elisya, saat ia melepas tangan Elisya, Elisya kaget dan sontak memeluk erat tubuh Vano seperti seorang bayi koala.

__ADS_1


Deg deg, jantung Vano mulai bermasalah


Vano tertawa kecil melihat ketakutan Elisya. Tanpa sadar tangannya membalas pelukan Elisya dan mulai membawanya ke tepi.


Saat sampai ditepi pantai, Elisya masih saja memeluk Vano dengan erat.


"Mau sampai kapan meluk kaka..."tanya Vano.


Elisya yang baru sadar bahwa ia memeluk Vano langsung melepaskan pelukannya dan turun dari tubuh Vano.


"Maaf kak Elisya takut..."jujur Elisya.


"Ya udah kita duduk dulu disini..."saran Vano.


Vano tengah menatap Elisya lekat.


"Cantik..."gumamnya.


Elisya yang sadar Vano tengah menatapnya, lalu memercikkan sedikit air ke wajah Vano.


Lalu ia berlari


"Sya kamu nakal ya, sini kamu..."ucap Vano sambil berlari mengejar Elisya.


Mereka pun berlarian seperti dua sejoli yang dimabuk asmara.


Saat tengah berlari tanpa sengaja kaki Elisya terinjak batu yang cukup runcing hingga kakinya mengeluarkan sedikit darah.


Ia langsung duduk memeriksa kakinya


"Aw sakit..."ucap Elisya pelan.


Vano yang melihat Elisya terduduk langsung menghampirinya.


"Kenapa Sya..."tanya Vano terlihat panik.


"Ini kak, kaki Elisya luka dikit, tapi gak papa ko..."jawab Elisya seraya tersenyum.


Vano yang melihat kaki Elisya mengeluarkan darah langsung kaget


"Astaga Sya, ini kaki kamu berdarah, makanya jangan nakal, tunggu disini sebentar..."ucap Vano lalu berlari entah kemana.


Elisya yang bingung melihat tingkah Vano hanya menurut saja sambil membersihkan kakinya dengan sedikit air.


Cukup perih tapi Elisya gadis yang kuat. Ia tak ingin Vano tau kalau ia merasakan sakit.


Tiba-tiba Vano datang membawa kotak P3K, setelah itu Vano langsung duduk disamping Elisya lalu meletakkan kaki Elisya diatas pahanya.


Elisya yang mendapat perlakuan seperti itu wajahnya memerah menahan malu. Jantungnya sudah berdetak dengan sangat cepat.


Vano dengan telaten membersihkan luka dikaki Elisya dan mulai memerbannya.


"Nah sudah, lain kali jangan lari-lari lagi..."ucap Vano sambil mengacak rambut Elisya.


"Kak Vano jangan baik-baik gitu dong sama Elisya..."ucap Elisya cemberut.


Vano mengernyitkan keningnya


"Kenapa..."tanya Vano.


"Nanti kalau Elisya suka sama kak Vano gimana, terus jatuh cinta gimana, emang kak Vano mau tanggung jawab, ngga kan? Nah nanti Elisya sakit hati lagi..."jelas Elisya dengan wajah cemberut.


Vano tersenyum mendengar penuturan Elisya


"Emang kamu cinta sama kaka..."tanya Vano santai.


"Gak tau sih kak, orang Elisya gak pernah pacaran..."jujur Elisya.


Vano tiba-tiba tersenyum saat mendengar itu


"Gadis polos..."ucap Vano.


"Ayo kaka antar kekamar, biar kamu bisa istirahat, baju kamu basah, nanti masuk angin..."jelas Vano.


"Iya kak..."jawab Elisya mulai berdiri tapi tiba-tiba keseimbangan tubuh Elisya mulai berkurang.


Tapi Vano dengan sigap langsung menangkap tangan Elisya.


"nih pegang..."ucap Vano sambil memberikan kotak P3K itu pada Elisya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba Vano langsung membopong tubuh Elisya. Sedangkan Elisya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vano karena merasa sangat malu.


__ADS_2