Elisya

Elisya
97


__ADS_3

Sang bulan sudah muncul menyinari indahnya bumi malam ini. Hamparan bintang yang ikut serta menambah keindahan malam ini. Seperti janjinya Dicky benar-benar mengajak Elisya jalan-jalan.


Berbeda dari kebanyakan pria. Dicky lebih suka tempat yang tenang dan damai. Ia tidak terlalu suka keramaian seperti taman atau mungkin pasar malam.


Dicky mengajak Elisya ke Lake Ladoga.



Danau Ladoga merupakan danau air tawar yang berlokasi di Republik Karelia, di sebelah barat laut Rusia.


Danau ini mempunyai luas 17.700 km² dengan kedalaman danau maksimal mencapai 230 meter.


Sekitar Danau Ladoga ini dipenuhi dengan pepohonan sejenis pinus dan danau ini punya air yang begitu jernih.


Dicky dan Elisya menjelajahi danau ini menggunakan perahu. Suasana disini sangat tenang dan damai. Dicky menyukai ketenangan. Ia tidak suka keramaian, itulah sebabnya kenapa ia mengajak Elisya kesini.


Elisya tersenyum lebar sambil terus memandangi ke arah Dicky yang mengayuh perahu dengan pelan sambil menatap keindahan danau ini.


Dalam hatinya Elisya benar-benar bersyukur. Tuhan begitu baik padanya. Mengirimkan Dicky yang mampu membuat Elisya perlahan mulai melupakan sosok Vano dihidupnya.


"Bang Iky sering kesini?..."tanya Elisya.


"Jarang..."jawab Dicky.


Elisya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya menyapu setiap sisi danau yang sangat indah. Senyum di bibirnya tak luntur sedari tadi.


Dicky terdiam. Matanya terpaku pada sosok Elisya yang tersenyum bahagia didepannya. Dicky ingat betul bagaimana depresinya wanita didepannya ini saat kedua orangtuanya meninggal dulu. Dicky senang keadaan Elisya sudah jauh lebih baik.


Senyuman terbit dibibir Dicky seraya menatap kearah Elisya yang sibuk memoto pemandangan sekitar nya.


Wanita didepannya ini benar-benar memberikannya ketenangan. Semenjak kehadiran Elisya di hidup Dicky pria itu sudah tidak sedingin dulu lagi. Dicky tak pernah jatuh cinta kepada siapapun. Bahkan ia tak mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta. Namun saat melihat Elisya Dicky merasakannya ketenangan dalam diri Elisya. Matanya yang meneduhkan. Rasanya Dicky tak mau kehilangan gadis didepannya ini.


Dicky hanya ingin menjaganya seumur hidupnya. Tak peduli itu perasaan apa, entah itu yang dinamakan cinta atau bukan, yang jelas Dicky hanya ingin kebersamaan ini berlangsung seumur hidupnya. Bersama Elisya tentunya.

__ADS_1


Cukup lama mereka berbincang-bincang dan menghabiskan waktu bersama. Hingga Dicky memutuskan untuk pulang. Karena baginya angin malam kurang baik untuk kesehatan Elisya.


🕓🕓🕓


Pagi ini begitu cerah. Matahari sudah menampakkan sinarnya, menghangatkan seluruh bumi.


Hari ini Arvie dan ketiga temannya masuk kelas pagi. Itulah yang memaksa mereka untuk bangun lebih awal.


Elisya sudah cantik dengan balutan sweater lengan panjang ditambah celana panjang. Dengan rambut yang tergerai indah. Wanita itu selalu saja cantik.


"Ayo berangkat bang..."ajak Elisya semangat. Sejak pindah ke Rusia Elisya memutuskan untuk berhenti bersekolah. Ia lebih memilih berdiam diri di apartemen atau sesekali ikut sang kakak ke kampus.


Arvie dengan telaten membukakan pintu mobil untuk adik kesayangannya. Masih belum ada yang mengetahui indentitas Elisya sebagai adik Arvie. Semua orang hanya tau jika ia adalah kekasih Arvie.


Setelah cukup memakan banyak waktu, akhirnya Arvie memarkirkan mobilnya seperti biasa.


Kedatangan mereka sudah disambut tatapan sinis oleh Bianca dan Celine. Wanita itu masih gencar mengejar Elisya sampai mengetahui siapa gadis itu sebenarnya. Elisya memang selalu saja diam, tak melawan sama sekali. Walaupun umur mereka terpaut cukup jauh, namun Elisya sama sekali tidak takut. Ia hanya malas melawan Bianca dan temannya ini.


Elisya selalu mengingat nasehat Dicky, untuk tidak terpancing emosi, terkecuali memang sudah keterlaluan.


Arvie hampir saja membentak Bianca karena tak terima dengan pernyataan Bianca barusan. Namun Elisya memegang tangannya. Seolah menahan Arvie untuk diam. Elisya menongak ke arah Arvie lalu mengangguk. Memberi kode jika ia bisa menghadapi Bianca sendiri.


"Lo iri?..."tanya Elisya dengan santainya. Dengan mendekap 2 buku tebal didepannya. Ia memang sengaja membawa buku tebal itu untuk mengurangi rasa bosan saat menunggu abang-abang nya selesai memasuki kelas.


"Dih ngapain iri sama cewek gatel kaya lo. Murah banget, tidur sama 4 cowok. Wahh ******..."ejek Bianca.


Dicky masih menatap Bianca dengan datar, pria dingin itu memang benar-benar mampu mengontrol emosinya. Sedangkan David sudah mengepalkan tangannya emosi, tak terima jika adik kecilnya dihina. Namun Farhan menahan David.


Elisya masih diam sesekali tersenyum.


"Kenapa lo diam ha, malu kan lo? ****** murahan. Lo itu sampah. Gak tau diri..."bentak Bianca.


Elisya menatap kearah Dicky, mata mereka bertemu beberapa saat. Lewat tatapan itu Elisya seakan bertanya apakah ia boleh melawan Bianca. Detik selanjutnya Dicky mengangguk. Dengan kata lain mengizinkan Elisya melakukannya.

__ADS_1


Elisya tersenyum, kemudian tertawa kencang. Membuat Bianca dan seluruh mahasiswa yang mengelilingi mereka terdiam.


Elisya maju satu langkah. Lalu melempar secara kasar 2 buku tebal didekapannya kearah tubuh Bianca membuat gadis itu jatuh terduduk dilantai.


Semua orang disana tentu saja kaget. Untuk pertama kalinya ada yang berani melawan seorang Bianca. Sedangkan Arvie hanya tersenyum singkat.


Bianca meringis menahan sakit karena terduduk dilantai. Baru saja ia berusaha bangkit dan berdiri. Elisya sudah menginjak sebelah tangannya.


"Aww lepasin tangan gue..."ringis Bianca.


Elisya menunduk berjongkok tepat didepan Bianca dengan kaki yang semakin keras menginjak tangan Bianca. Elisya tersenyum lalu menepuk-nepuk pipi Bianca.


"Gue diam bukan berarti gue takut. Gue cuman males aja ngeladenin cewek banyak omong kaya lo..."ucap Elisya.


"Lepasin gue murahan..."bentak Bianca tak ingin kalah.


Elisya menjambak rambut Bianca membuat gadis itu mendongak.


"Murahan? Kita liat siapa yang pantas mendapatkan sebutan murahan. Lo ngejar-ngejar Arvie, sampai ditolak berkali-kali lo tetep aja ngejar dia. Sedangkan gue, gue gak perlu ngejar-ngejar kaya lo. Gue bisa milikin mereka semua. Lalu siapa yang murahan?..."ejek Elisya.


Wajah Bianca sudah memerah karena menahan emosi sekaligus malu dalam satu waktu.


"Kita emang beda umur, tapi bukan beda nyali. Jangan pernah berpikiran gue takut sama cewek lemah kaya lo..."lirih Elisya.


Elisya melepas jambakan rambut Bianca lalu mengambil 2 buku tebalnya yang terjatuh tadi. Kemudian Elisya bangkit berdiri. Melepaskan injakan kakinya pada tangan Bianca.


"Ini terakhir kalinya lo cari masalah sama gue. Siapa sih bokap lo? Pemilik kampus besar ini. Gue bisa bikin bokap lo bangkrut dalam hitungan menit asal lo tau. Jadi jangan pernah macam-macam sama gue. Sekali lagi lo gangguin gue, gue nggak akan main-main sama ucapan gue tadi. Habis lo sama gue..."tegas Elisya. Lalu kembali ketempatnya semula berdiri.


Arvie tersenyum puas, adiknya sudah hebat sekarang. Begitu juga dengan Dicky. Dicky tersenyum simpul, apa yang diajarkan nya selama ini benar-benar berguna.


Mahasiswa lain dibuat kaget oleh keberanian Elisya, sekaligus penasaran siapa Elisya sebenarnya?


"Yuk bang..."ajak Elisya.

__ADS_1


Elisya pun pergi didampingi dengan ke empat abangnya. Sedangkan Bianca memegangi tangannya yang memerah karena di injak oleh Elisya barusan.


__ADS_2