
Kini mereka berempat sedang dalam perjalanan menuju ke pantai. Ya, sebelum berangkat mereka sempat mengajak Bella untuk ikut berpartisipasi dalam acara mereka akhir pekan ini. Elisya sangat bersyukur sekali disaat-saat seperti ini masih ada Sam dan kedua sahabatnya yang selalu menemaninya. Walaupun orang tuanya tengah berada diluar negeri, namun ia tak merasa kekurangan sedikit pun. Perlahan ingatan menyakitkan nya tentang Vano sudah mulai sedikit memudar. Bahkan senyuman cukup manis sedari tadi sudah terbit dibibir mungilnya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup memakan banyak waktu akhirnya mereka sampai disebuah pantai yang indah dan luas. Suasana yang masih asri ditambah angin yang cukup deras membuat suasana disana semakin sejuk.
"Wah disini seger banget udaranya, sejuk..."ucap Bella antusias.
"Bener banget, ihh suka banget..."ucap Lisa tak kalah senang.
"Kalian bertiga duduk dulu disini nih..."ucap Sam sambil menghamparkan tikar yang cukup untuk mereka duduk berempat.
Disanalah mereka duduk sekarang. Dibawah pohon kelapa yang cukup rindang, hingga terlindung dari cahaya matahari. Cuaca yang sangat mendukung, tidak terlalu panas dan juga tidak hujan. Seakan sang semesta menyertai perjalanan mereka.
"Gue beliin es kelapa dulu buat kita semua, kalian tunggu disini bentar..."pamit Sam.
"Lisa bantu kak, nanti kan susah bawanya..."ucap Lisa ragu-ragu.
Sam tersenyum kecil, "Ayo..."ajak Sam lalu menarik tangan Lisa pelan. Oh my God! Kenapa harus memegang tangannya. Ini tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Elisya tertawa meledek melihat Lisa yang mendadak salah tingkah karena Sam menarik tangannya.
"Lisa kenapa sih Sya?..."tanya Bella penasaran.
Elisya berhenti tertawa lalu menatap ke arah Bella.
"Suka tuh anak sama kak Sam..."jawabnya jujur membuat Bella ikut tertawa.
"Pantes langsung gelagapan..."ejek Bella tak ingin kalah.
"Gue mau cari toilet umum bentar, udah kebelet nih. Gue tinggal bentar deh ya Sya..."pamit Bella.
__ADS_1
Elisya mengangguk menyetujui. Elisya menatap hamparan laut yang begitu luas. Langit yang biru dan kicauan burung-burung ikut serta menghiasi keindahan pantai ini.
Rambutnya yang tergerai indah, ia melepaskan kacamata hitam yang menurutnya membuat penglihatan nya terbatas. Ia menghembuskan napasnya berkali-kali. Sungguh! Ia merindukan sosok Arvie kakak satu-satunya itu, juga kedua orang tuanya.
Andai Arvie tau, Vano yang selama ini ia percaya untuk menjaga Elisya malah menyakiti adik kesayangannya itu.
Entah kenapa akhir-akhir ini semesta sedang tidak baik pada Elisya. Menghantamnya begitu keras seolah menyuruhnya untuk mundur!
Ikhlas? Omong kosong. Tidak ada yang benar-benar ikhlas merelakan orang yang sangat kita sayangi untuk perempuan lain. Begitu juga dengan Elisya. Ia begitu menyayangi Vano tapi nyatanya, ia tak sespesial itu bagi Vano.
Elisya duduk termenung diatas tikar yang terhampar. Sang angin masih terus menerpa wajah mulusnya hingga rambutnya sudah sedikit berantakan karena tabrakan angin itu. Namun, hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.
Disebuah gubuk yang cukup besar, disanalah tempat penjual es kelapa. Sam dan Lisa tengah duduk dikursi panjang yang tersedia disana. Sedari tadi mata Sam tak lepas dari Elisya. Ia menatap Elisya dari kejauhan. Entah apa yang sedang Sam pikirkan. Hanya dia yang tau.
Bagaimana dengan Lisa? Jangan ditanya lagi. Tentu saja hatinya terasa sedikit sakit. Ia yang ada disamping Sam, tapi pandangan Sam hanya tertuju pada Elisya.
Lisa menghela nafasnya pelan, lalu menepuk pelan pundak Sam. "Kakak sayang banget ya sama Elisya?..."tanya Lisa ragu. Ia sebenarnya takut mendengar jawaban dari pertanyaan nya sendiri. Namun kejujuran lebih baik walaupun menyakitkan.
Damn! Jawaban singkat namun begitu menusuk relung hati Lisa. Ingin rasanya ia menertawakan dirinya sekencang-kencangnya. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Harapannya harus pupus lagi.
Lisa lagi-lagi harus memaksakan senyumnya. Kenapa dunia selalu mempermainkan nya, tak cukup kah segala penderitaan yang pernah ia alami dulu. Bahkan trauma nya masih membekas.
"Elisya cantik banget ya kak..."puji Lisa sambil ikut menatap Elisya.
"Iya, dia cantik banget..."lagi-lagi jawaban itu yang keluar dari mulut Sam.
Percayalah Lisa tengah mati-matian membendung air matanya agar tak tumpah. Ia tidak boleh memaksakan perasaannya. Namun tidak bisa dipungkiri hatinya juga terasa sakit.
"Kak aku kesana bentar aja. Kebelet banget..."bohong Lisa.
__ADS_1
"Mau gue temenin ngga?..."tawar Sam.
Lisa menggeleng lalu mengambil tasnya dan berlari kecil menuju ketempat yang cukup sepi. Lisa menumpahkan segala rasa sesaknya dibawah sebuah pohon yang rindang. Ia duduk sambil memeluk kedua lututnya dan menelungkup kan wajahnya dikedua lututnya.
Ia menangis terisak-isak. Kenapa cinta tak pernah berpihak kepadanya. Dulu Reza, orang yang membuat traumanya masih membekas hingga saat ini.
"Hikss, gue boleh gak sih capek. Kenapa masalah gak pernah berhenti nyamperin gue. Hiks hiks..."hatinya sangat sakit.
Rasanya ia ingin mundur saat ini juga. Percuma saja ia berusaha mati-matian untuk mengambil perhatian Sam, karena sekeras apapun ia berusaha perhatian Sam tetap akan kembali pada Elisya.
Cukup lama Lisa menangis seorang diri disana. Hingga merasa sedikit tenang akhirnya ia merapikan kembali penampilannya dan menuju tempat sahabatnya berada.
Disana sudah ada Elisya, Bella, dan Sam yang terlihat panik karena sedari tadi tidak menemukan Lisa.
"Hai..."sapa Lisa lalu tersenyum lebar.
"Lo dari mana aja sih, gue khawatir banget tau nggak..."ucap Elisya panik.
"Iya, kita nyariin lo kemana-mana tadi..."sahut Bella tak kalah khawatir.
"Lo baik-baik aja kan? Ini mata lo kenapa merah?..."tanya Sam penasaran.
Lisa tertawa terbahak-bahak.
"Apaan sih kalian lebay banget. Gue jalan-jalan kesana tadi. Foto-foto, eh malah kelilipan mata gue. Makanya lama..."sandiwara yang cukup bagus. Lisa berhasil membohongi semua orang dengan cara menyembunyikan lukanya.
"Yaudah deh sini duduk. Kita minum dulu. Gue beli cemilan juga nih tadi..."ucap Sam.
Mereka berempat kini tengah sibuk bercanda gurau sambil terus menikmati makanan dan minuman mereka. Semuanya terlihat sangat ceria meski tak ada yang tau luka apa yang berhasil disembunyikan oleh masing-masing hati.
__ADS_1
Tak ada yang berbeda dari sebelumnya. Hanya saja Lisa lebih banyak diam setelah kejadian tadi. Ia lebih banyak melamun, jika ditanya ada apa? Maka ia akan tersenyum dan meyakinkan sahabatnya seolah ia baik-baik saja.