
Malam kian larut, membuat Bella mencoba mencairkan suasana diantara mereka.
"Gimana kalau kita main truth or dare aja..."usul Bella mencoba memecah keheningan.
"Gue setuju aja sih..."sahut Elisya antusias.
"Nggak ah gue males..."sahut Lisa tak bersemangat.
"Ihhh gak boleh gitu, ikutan ya Lis, demi gue..."bujuk Elisya.
Akhirnya dengan berat hati Lisa pun menyetujuinya.
Putaran pertama sudah diputar oleh Sam. Dan berhenti tepat didepan Bella.
"Yah kok gue sih..."keluhnya.
Elisya tertawa meledek.
"Gak boleh protes, sekarang lo milih truth atau dare?..."tanya Elisya.
"Truth aja deh, tapi jangan ngelunjak ya, gue habisin lo..."ancam Bella yang mengundang gelak tawa semuanya.
"Oke gue duluan ya, emm apa tadi? Truth ya? Lo suka nggak sama abang gue, Arvie?..."tanya Elisya dengan tatapan meledek.
Bella kaget bukan main, bukan hanya kaget tapi juga malu secara bersamaan.
"Ihh lo kok tega banget sama gue Sya, punya dendam apa lo sama gue..."rengek Bella.
"Tinggal jawab aja apa susahnya sih Bel..."bela Sam.
"Gue tuh gak tau juga, kalau kagum? Iya gue akui gue kagum sama sosok Arvie cuman kalau suka gue belum yakin juga sih..."jawab Bella sejujur-jujurnya.
"Oke gue percaya deh sama lo, sekarang siapa lagi yang mau nanya?..."tanya Elisya.
"Sekarang gue deh nih. Lo pernah suka sama gue gak?..."tanya Sam dengan pedenya hingga mendapat pukulan cukup keras dilengannya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Bella. Sedangkan Elisya dan Lisa hanya menertawakan keduanya.
"Lo tuh kepedean banget sih, sok kegantengan tau gak..."kesal Bella.
Sam membenarkan bajunya.
"Lah emang gue ganteng..."jawabnya pede diselingi dengan nada bercandanya.
"Yaudah deh, kalau suka gak pernah sih. Gue cuman sempet penasaran aja dulu sama lo. Tapi gak sampai suka ya..."ucap Bella penuh penekanan di kalimat terakhir.
"Sekarang gue, kalau seandainya lo suka sama seseorang, tapi orang itu sukanya sama sahabat lo, apa yang lo lakuin?..."tanya Lisa sontak mendapat lirikan dari Elisya dan Sam. Tentu saja mereka paham arah pertanyaan Lisa.
"Gue pernah diposisi itu. Cinta emang gak bisa dipaksakan. Sekuat apapun lo berusaha kalau hatinya emang bukan buat lo ya gak bakal bisa, tapi gak ada salahnya sih berusaha. Kalau seandainya usaha lo gak ada hasil, mending ikhlasin aja..."jawab Bella santai.
Mereka terdiam beberapa saat, suasana rasanya kembali canggung sejak terlontar nya pertanyaan barusan. Tentu dengan jawaban Bella yang mampu menohok hati sang empunya.
__ADS_1
Permainan masih berlanjut, putaran kedua sudah dimulai. Sialnya botol berhenti tepat didepan Elisya. Membuat Elisya menghembuskan nafasnya kasar.
"Gue duluan deh, lo masih sayang gak sama Vano?..."tanya Sam.
Elisya menghela nafasnya pelan, pertanyaan dari Sam seolah membuka lukanya yang sudah mulai membaik.
"Kalau gue bilang gue gak sayang berarti gue munafik. Hubungan gue dan Vano yang bisa dibilang cukup lama itu, gak akan semudah itu ngehilangin rasa sayang gue ke dia. Gue gak pernah lupa gimana perlakuan dia ke gue kemarin-kemarin. Cuman kalau untuk pertanyaan kak Sam tadi, jelas gue masih sayang tapi gue lagi usaha buat lupain dia. Terkadang kata maaf hanya kalimat penenang, disaat hati yang dikecewakan sudah tak ingin kembali lagi..."jawab Elisya penuh perasaan ditambah kata-kata yang pas dengan perasaannya dikalimat terakhir.
"Maaf ya Sya, kaka gak bermaksud bikin kamu sedih lagi..."ucap Sam merasa bersalah.
"Santai aja kali kak, ayo siapa lagi?..."tanya Elisya kembali tersenyum.
"Gimana perasaan lo sama kak Sam..."balas Bella.
Elisya tertawa kecil, "Gue sayang banget sama kak Sam, gue udah anggap kak Sam kaya kakak kandung gue sendiri. Gue bersyukur Tuhan berbaik hati ngirim kak Sam ke kehidupan gue..."jawab Elisya tulus.
Sam tersenyum mendengar pengakuan ading kecilnya, ia mengacak pelan rambut Elisya.
"Iya ading kecil..."lirih Sam.
"Sekarang gue kan? Gimana rasanya kehilangan orang yang paling lo sayang dan ikhlasin orang itu buat cewek lain..."tanya Lisa lagi-lagi membuat yang lainnya merasa canggung.
Elisya mencoba mencairkan suasana.
"Emm gue benci sama kehilangan. Kalau bisa milih gue gak mau ditemuin sama yang namanya kehilangan. Rasanya sakit banget..."ucap Elisya lalu tertawa kecil.
"Ikhlas? Itu adalah kata ter omong kosong. Gak ada yang namanya ikhlas, yang ada hanya terbiasa dengan keadaan. Kalau ditanya gimana rasanya? Itu jelas sakit banget, dan semua orang pernah yang namanya kehilangan. Dan soal ikhlasin dia buat orang lain, selagi itu bikin dia bahagia kenapa enggak! Cinta bukan hanya soal memiliki tapi juga bagaimana caranya membuat dia bahagia walaupun gak sama kita..."sambung Elisya dengan senyuman manis setelahnya.
"Oke lanjut..."ucap Bella lalu mulai memutar botolnya lagi.
Botol berhenti tepat didepan Sam.
"Yah kok gue sih..."keluh Sam.
"Gue duluan, lo pernah pacaran berapa kali? Dan siapa mantan yang paling lo inget..."tanya Bella antusias.
Sam nampak berpikir, pertanyaan yang dilontarkan Bella juga berpengaruh pada Lisa. Tak bisa dipungkiri Lisa juga penasaran akan jawaban itu.
"Mantan gue ada dua doang sih. Yang pertama waktu kelas 3 SMP, ya bisa dibilang cinta monyet. Gue juga udah lupa. Yang keduanya waktu gue kelas X SMA, sekarang kan kita udah kelas XII Bel..."jawab Sam dengan tertawa kecil.
"Terus yang paling lo inget siapa?..."tanya Bella lagi.
"Ya nggak ada, gak ada yang gue inget, karena bagi gue mantan itu hanya masa lalu, gue cuma perlu ambil pelajaran dari hubungan gue yang lalu. Biar gue bisa lebih baik lagi saat gue jalin hubungan sama masa depan gue..."jawab Sam mendapat tepuk tangan dari Bella dan Elisya tapi tidak dengan Lisa.
"Sok bijak banget sih lo..."ledek Bella.
"Kakak ada suka sama cewek gak, ya diantara kita bertiga?..."tanya Elisya memancing.
"Emmm ada gak ya..."ucap Sam lalu tertawa.
__ADS_1
"Ada..."jawabnya.
Lisa meringis kecil, tentu ia tau siapa yang dimaksud oleh Sam, siapa lagi kalau bukan Elisya.
"Gimana caranya buat ngelupain perasaan kita ke seseorang?..."tanya Lisa pelan namun mampu didengar jelas oleh Sam.
"Gimana caranya ngelupain seseorang ya, huft kenapa harus dilupain sih? Toh biarin aja, karena konsepnya gini, semakin kita berusaha buat lupain orang itu maka semakin kita inget ke dia. Kita cuma perlu berdamai sama diri kita sendiri..."jawab Sam sekenanya.
"Oke karena kita bertiga udah kena. Tinggal Lisa nih, ayo tanya-tanya. Kita truth aja deh biar adil gak usah pakai dare..."ucap Bella.
"Kenapa lo gak pernah ngeluh sama kita? Mungkin lo capek sama keadaan atau gimana..."tanya Bella.
Lisa nampak berpikir, merangkai sebuah jawaban yang tepat untuk sahabatnya ini.
"Ngeluh gak akan bisa merubah keadaan. Jadi buat apa ngeluh. Kalau gue bilang gue gak capek sama sekali berarti gue bohong dong, hehehe..."ucap Lisa dengan tawa kecil, meskipun tawa itu menyimpan beribu luka yang tersembunyi.
"Ini udah jadi takdir gue, gue gak ada hak buat ngeluh. Gue cuman harus terbiasa sama keadaan. Gue cuma harus jalanin apa yang seharusnya aja. Karena gue gak punya pilihan dalam hidup gue. Gue hanya perlu bersyukur dengan apa yang udah Tuhan kasih ke gue..."jawab Lisa membuahkan tepuk tangan dari ketiga temannya.
"Lo keren parah Lis, lo hebat..."puji Bella.
"Gimana perasaan lo, waktu pertama kali kehilangan orang tua lo Lis?..."tanya Elisya. Ia tak bermaksud mengingatkan Lisa soal itu. Ia hanya ingin mendengar bagaimana gadis itu bisa bangkit dari rasa terpuruknya.
Lisa tersenyum, menghela nafasnya beberapa kali.
"Gue hancur saat itu. Rasanya dunia gue runtuh dan menimpa tubuh gue, gue ngerasa kehilangan pegangan, kehilangan semangat hidup. Rasanya sayap gue patah. Hati gue remuk. Gue sempet beberapa kali kepikiran mau mengakhiri hidup gue..."lirih Lisa lalu menghela nafasnya kasar.
"Tapi gue bersyukur Tuhan masih ngasih gue kesadaran. Karena apapun yang gue lakuin gak akan bikin orang tua gue kembali disamping gue. Toh dunia ini cuman sementara, gue cuman perlu melanjutkan perjalanan hidup gue. Gue berpikir gue masih punya nenek yang harus gue jaga, gue harus bangkit dari keterpurukan. Walaupun rasanya susah banget, tapi Tuhan selalu bantu gue. Dan sekarang gue bisa..."ucap nya yakin.
Elisya yang terharu memeluk erat tubuh Lisa.
"Lo harus kuat, kita semua ada buat lo..."lirih Elisya pelan.
Lisa dengan senang hati membalas pelukan sahabatnya.
"Giliran gue kan sekarang. Kenapa lo ngehindarin gue..."tanya Sam.
Lisa menatap kearah Sam seolah meminta penjelasan dari pertanyaannya barusan.
"Aku gak ngehindarin kakak kok, cuma perasaan kakak aja..."jawab Lisa cepat.
"Biasanya lo gak kaya gini ke gue Lis..."protes Sam.
"Emang biasanya aku gimana, ya kaya gini juga kan. Udah ah gue ngantuk guys. Kita tidur sekarang yuk, soalnya besok kan sekolah..."usul Lisa.
Sam menghela nafasnya kasar, ia tahu betul Lisa menghindari pertanyaan darinya. Elisya yang mengerti keadaan pun menyetujui usul Lisa.
"Kami bertiga tidur dikamar aku kak, kamu dikamar kak Arvie aja..."ucap Elisya.
"Yaudah..."jawab Sam.
__ADS_1
Permainan malam ini pun sudah berakhir, dengan perasaan yang berkecamuk. Mereka berempat memutuskan untuk tidur karena besok mengharuskan mereka sekolah.