Elisya

Elisya
68


__ADS_3

Sepertinya Sam harus mandi air dingin setelah ini. Huft sangat menyebalkan sekali.


"Sam..."panggil seorang wanita paruh baya yang masih nampak cantik diusianya yang bisa dibilang tak muda lagi.


Dokter Riana atau yang sering dipanggil dokter Riri adalah tante dari Sam sendiri. Tentu dokter kepercayaan keluarga Sam.


"Eh tante Riri, tante tolongin temen Sam. Dia pingsan tante..."jelas Sam.


Dokter Riri pun mengikuti langkah Sam menuju kamar Elisya. Disana Elisya sudah memakai baju sweater cukup tebal.


Dokter Riri mulai memeriksa tubuh Elisya. Elisya masih juga tak kunjung sadar. Wajahnya masih saja pucat pasi. Tubuhnya juga sangat dingin.


"Gimana tante..."tanya Sam khawatir.


"Tidak ada masalah yang cukup serius pada teman kamu Sam. Mungkin ini karena terlalu banyak pikiran dan juga pola makan yang terganggu. Apa dia sudah makan?..."tanya dokter Riri.


Sam menggeleng pelan.


"Dari pulang sekolah sampai sekarang, belum makan sama sekali tante..."jawab Sam jujur.


"Dia kecapekan Sam, kurangi rutinitas yang terlalu menguras tenaganya. Jangan terlalu memikirkan sesuatu secara berlebihan. Itu berpengaruh buruk pada kesehatan nya..."jelas Dokter Riri.


"Lalu apa yang harus Sam lakukan tante?..."tanya Sam.


Dokter Riri menulis beberapa resep obat diatas kertas. Lalu memberikannya pada Sam.


"Kamu bisa tebus obat ini di apotik terdekat Sam. Sebentar lagi teman kamu juga akan sadar. Tolong jaga pola makannya dengan baik..."jelas dokter Riri lagi.


"Baik tante, terimakasih ya tante..."ucap Sam.


Dokter Riri mengangguk lalu tersenyum ramah. Ia menepuk pelan pundak Sam.


"Jangan khawatir..."ledek nya.


Membuat Sam tertawa kecil. "Mari aku antar ke depan tante..."tawar Sam.


Dokter Riri menggeleng pelan.


"Kamu disini aja, jaga temen kamu. Lagian tante juga sama om kesini. Itu om lagi nunggu didepan..."

__ADS_1


"Tante sama om Irwan kesini?..."tanya Sam.


Lagi-lagi dokter Riri mengangguk.


"Ya sudah tante pulang dulu. Kalau ada apa-apa hubungi tante lagi ya. Jangan lupa pesan tante tadi..."pamitnya.


"Siap tante..."jawab Sam cepat.


🕓🕓🕓


Di dapur Lisa tengah berdiri sambil memegangi dadanya. Ya, sejak kejadian tadi jantung Lisa berdetak sangat cepat. Lisa akui Sam benar-benar laki-laki baik.


"Duh gue kenapa sih, gue gak boleh suka sama kak Sam. Dia punya Elisya. Lupain Lisa. Gue gak boleh kecewain Elisya lagi. Sam itu laki-laki baik dan cocok buat cewek sebaik Elisya. Gue gak boleh mikir yang nggak-nggak..."gerutu Lisa menenangkan dirinya.


"Gue cuman cewek jahat, gue gak cocok buat laki-laki sebaik kak Sam. Gue sakit mental. Gue juga punya masalalu kelam. Gak mungkin ada yang mau sama gue..."lirih Lisa sendu.


"Siapa bilang gak ada?..."suara bariton yang begitu familiar ditelinga Lisa. Membuat Lisa dengan cepat menoleh ke belakang.


Ya, dia adalah Sam. Setelah dari kamar Elisya ia berniat menyusul Lisa didapur. Untung saja Sam tak mendengar semuanya yang dibicarakan Lisa. Ia hanya mendengar beberapa bait terakhir saja.


Lisa mendadak gugup. "K-kaka dari k-kapan disitu..."tanya Lisa panik.


"Barusan..."jawab Sam Santai.


"Jangan berkecil hati. Semua cewek itu cantik, kan kalau ganteng namanya cowok..."ucap Sam berusaha menghapus ketegangan Lisa, dan berhasil suasana sudah mulai mencair sekarang.


Lisa tertawa kecil menanggapi perkataan Sam.


"Kaka bisa aja..."jawabnya singkat.


"Lo cantik ko..."tutur Sam spontan.


Oh ****! Siapapun tolong bawa Lisa pergi dari sini. Percayalah ia sudah mati-matian menahan rasa gugupnya saat berdekatan dengan Sam. Bagaimana bisa laki-laki dihadapannya ini sesantai itu saat memujinya.


"Nggak kok ka, Elisya yang cantik banget..."jawab Lisa sambil menetralisir kegugupannya.


"Hehe, iya. Kalian berdua cantik..."lanjut Sam.


Sambil menutupi pipinya yang memerah menahan malu. Lisa terus saja bergulat membuatkan teh hangat untuk Sam dan Elisya.

__ADS_1


"Nih udah kak. Kita ke kamar Elisya sekarang. Siapa tau dia udah sadar..."usul Lisa agar tak terlalu lama berdekatan dengan Sam. Ini benar-benar tidak baik untuk kesehatan nya.


Sam mengangguk kan kepalanya lalu berjalan mendahului Lisa. Lisa hanya mengikuti Sam sambil membawa nampan berisi dua gelas teh hangat.


Tanpa mereka sadari Elisya mengerjap-ngerjapkan matanya. Kepalanya sangat pusing sekarang. Ia memegang kepalanya yang pusing sambil mencoba untuk duduk.


Sam dan Lisa yang melihat itu bergegas menghampiri Elisya. Sam membantu Elisya untuk duduk. Sedangkan Lisa menaroh nampan yang dibawanya diatas meja disamping kasur Elisya.


"Are you oke?..."tanya Sam khawatir.


Elisya mengangguk seraya tersenyum.


"Jangan bikin kaka khawatir lagi Sya. Kaka panik banget tadi waktu kamu gak keluar dari kamar mandi. Sampai kaka telpon Lisa tadi kesini saking paniknya..."ungkap Sam.


Elisya tersenyum kecil.


"Maaf ya ngerepotin kalian..."lirihnya pelan.


Lisa menggeleng pelan. "Gak ada yang ngerasa direpotin. Sekarang gimana keadaan lo. Udah enakan?..."tanya Lisa.


"Kepala gue pusing banget Lis..."jujur Elisya.


"Kata dokter kamu cuman kecapekan aja Sya, pola makan kamu agak terganggu, dan terlalu banyak pikiran. Saran kaka kamu jangan mikirin masalah tadi dulu ya Sya..."saran Sam.


Dengan berat hati Elisya menyetujui pendapat Sam.


"Lis lo jagain Elisya bentar ya. Gue mau tebus obat dulu di apotik..."pamit Sam.


"Oh iya kak. Lisa juga mau bikinin bubur buat Elisya, kasian perut dia belum diisi apapun..."tutur Lisa sendu.


Sam tersenyum lalu bergegas keluar dari rumah Elisya.


"Sya, lo tunggu disini bentar. Gue mau buatin bubur buat lo ya. Sekalian makan malam buat kita semua. Gue udah izin kok sama nenek buat nginep disini malam ini..."jelas Lisa tulus.


Memang benar hari sudah mulai gelap sekarang. Untuk itulah Lisa memutuskan menginap dirumah Elisya. Bukan hanya itu, ia juga sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya.


"Makasih ya Lis..."ucap Elisya pelan.


Lisa mengangguk antusias, lalu berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Elisya kembali membaringkan tubuhnya, ia ingin tidur sebentar. Berharap setelah bangun nanti pusingnya agak sedikit berkurang.


Elisya benar-benar bersyukur banyak yang peduli padanya. Sam dan juga kedua sahabatnya. Sam memang sengaja tak menghubungi Bella karena tak ingin ia khawatir. Menurutnya sudah ada dirinya dan Lisa cukup untuk menjaga Elisya.


__ADS_2