
Tanpa terasa dua hari berlalu begitu cepat. Keadaan Elisya sudah kembali sehat. Sebenarnya mereka dua hari yang lalu mereka berencana untuk kembali ke Rusia dan 2 hari setelahnya akan kembali lagi ke Amerika. Namun ada perubahan rencana. Arvie memutuskan untuk tetap berada di Amerika hingga seminggu kedepan. Tentunya untuk merayakan ulang tahun Elisya adiknya.
Rumah Utama Qiandra malam ini terasa begitu dingin.
Elisya menghela nafasnya pelan, menyentuh beberapa benda dalam rumah nan mewah bak istana itu. Rumah dengan berjuta kenangan. Di dinding juga banyak sekali terpampang foto keluarga besar Qiandra.
Rasa sesak begitu menyeruak dalam dirinya, kembali ke rumah ini semakin mengingatkan nya tentang kenangan bersama orangtuanya. Sangat menyakitkan sungguh! Ia tak bohong!
Arvie datang dari belakang. Sambil membawa masuk koper.
"Sya, masuk kamar lo sekarang. Istirahat dulu..."perintah Arvie.
"Iya bang..."jawab Elisya lalu berjalan gontai memasuki kamarnya.
Suasananya masih sama, tak ada yang berubah. Semua letak bonekanya, baju-bajunya, dan buku-buku nya masih tersusun rapi ditempatnya. Elisya sangat merindukan rumah ini beserta ribuan kenangan indahnya bersama orangtuanya.
Elisya duduk di atas kasur empuk oversize miliknya. Meraih sebuah foto diatas meja disamping kasurnya. Foto Elisya, Arvie, dan kedua orangtuanya yang tengah liburan dengan tawa bahagia.
Elisya mengusap foto itu, kemudian memeluk foto itu erat bersamaan dengan air matanya yang mengalir.
"Mah pah hiks Elisya kangen. Mama bilang mama bakalan pulang, lalu kenapa mama ninggalin Elisya mah hiks. Papah juga janji akan selalu ada buat Elisya, sekarang papah kemana hiks..."tangisan itu terdengar sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya. Begitu menyayat hati.
Dicky tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Ia berniat ke kamar Elisya untuk mengantarkan koper gadis itu. Namun ia malah mendengar tangisan pilu gadis kecilnya itu.
Dicky meletakkan koper Elisya lalu duduk dihadapan gadis itu. Meraih tubuh Elisya dalam pelukannya. Elisya tak berontak, sungguh ini mampu membuatku sedikit lebih tenang. Ia tak mau ditanya ada apa dengannya? Yang ia butuhkan sekarang hanyalah sebuah ketenangan.
"Rindu terberat adalah rindu pada orang yang mustahil untuk kita temui. Esya, di dunia ini tidak ada yang abadi. Semuanya akan datang dan pergi tanpa kita tau kapan saat itu tiba..."
"Lo tau, hujan itu indah namun tak akan bertahan lama. Sama halnya dengan pelangi yang datang setelah hujan. Ia begitu indah namun hanya sesaat. Mereka sama-sama tidak abadi, tapi mereka selalu bersama di waktu yang ditentuin..."jelas Dicky.
"Manusia selalu saja dituntut dewasa oleh keadaan. Namun kedewasaan itulah yang membuat kita terbiasa dalam menghadapi setiap masalah. Jangan merasa sendiri. Tuhan selalu ada untuk kita. Tidak ada yang melarang seseorang untuk merindukan orang lain, tapi rindu itu akan menyiksa diri sendiri..."peringat Dicky.
Tangisan Elisya perlahan mereda, namun masih menyembunyikan wajahnya didada bidang Dicky.
"Lo percaya mitos gak?..."tanya Dicky.
Elisya mengangguk dalam pelukan Dicky.
"Liat kejendela itu, sang bulan dan bintang sedang bekerja sama menghias indahnya langit. Langit tidak akan indah tanpa mereka. Katanya kalau kita rindu sama orang yang udah gak ada, lo cukup liat bintang yang paling terang, maka mereka ada disana..."ucap Dicky.
Elisya mendongak menatap salah satu bintang yang bersinar dengan terangnya.
__ADS_1
"Mah pah kalau itu kalian, tunggu Elisya mah. Suatu saat nanti kita akan berkumpul kembali. Disurga..."lirih Elisya pelan lalu tersenyum tulus. Sosok Dicky membawa pengaruh besar dalam kehidupannya. Pria itu benar-benar mampu menenangkan Elisya dalam keadaan terendah sekalipun.
"Esya..."lirih Dicky pelan dengan tatapan sayunya.
Elisya kembali mendongak menatap wajah Dicky, masih dalam posisi yang sama, dengan Dicky yang mendekap tubuh Elisya. Tapi Dicky sudah sedikit melonggarkan pelukannya.
"Gue pengen jadi bulan..."ucap Dicky random.
"Kenapa..."lirih Elisya pelan.
"Dan lo bintangnya. Karena disaat gue sendirian menerangi sang malam yang begitu gelap lo datang sebagai bintang yang mampu melengkapi dan menambah keindahan sang langit. Gue pengen lo yang menerangi hidup gue yang gelap, sebagai pelengkap. Lebih dari teman, tapi teman hidup selamanya..."tatapan Dicky benar-benar mampu menghipnotis Elisya.
Jantung keduanya berpacu begitu cepat, bersamaan dengan jarak diantara mereka yang semakin menipis. Hal itu pun terjadi lagi, hanya sebuah ciuman tapi cukup lama.
Berbeda dari sebelumnya, Elisya nampak menikmati ciuman Dicky kali ini. Keduanya seolah terhanyut dalam dinginnya malam dan terbawa suasanya.
🕓🕓🕓
Diruang tamu. Arvie tengah berkumpul dengan David dan Farhan. Mereka tengah sibuk bermain game online kecuali Arvie.
Arvie tengah mengerjakan tugas kuliahnya.
"Dicky mana Vie?..."tanya Farhan penasaran.
"Gila lo Vie, cowok sama cewek dibiarin berdua dalam kamar. Gimana sih..."protes David.
"Gue percaya sama Dicky..."jawab Arvie lagi.
Detik selanjutnya terlihat Dicky turun dari tangga.
"Adik gue mana?..."tanya Arvie.
"Tidur..."jawab Dicky sekenanya.
"Kecapekan kali Vie, lo tau lah kondisi dia gimana..."jawab Farhan positif thinking.
"Besok ajak adik gue jalan-jalan Ky, gue sama Farhan, David akan ngurus berbagai persiapan buat ulang tahun adik gue. Gue gak mau yang terlalu mewah. Gue cuman pengen pesta kali ini berkesan buat dia. Besok juga Bella dan teman-temannya mau datang. Jadi lo ajak Elisya jalan-jalan dulu. Biar dia gak curiga..."perintah Arvie.
"Hm..."balas Dicky menyetujui lalu berjalan menuju kamarnya berniat untuk istirahat.
"Dingin banget tuh anak, giliran sama Elisya aja langsung memeleh, mencair. Giliran ama kita beuhh kaya kulkas 12 pintu..."ledek David.
__ADS_1
Farhan tertawa kecil,
"Biasa aja muka lo..."ejek Farhan.
🕓🕓🕓
Disisi lain Bella, Lisa dan Sam sudah mempersiapkan segala hadiah untuk Elisya.
"Udah beres nih, ughh seneng banget..."ucap Bella antusias.
"Akhirnya selesai juga, besok kita ke Amerika dong. Ahhh jadi gak sabar tau..."jawab Lisa tak kalah antusias.
"Lis, obat lo jangan lupa dibawa..."peringat Sam.
"Iya kak, udah aku bawa kok..."jawab Lisa cemberut.
"Besok bang Arvie akan jemput kita jam 8 pagi, gue pengen kalian berdua istirahat dulu. Takutnya malah kurang tidur nanti..."ucap Sam.
Mereka tengah berkumpul dirumah Lisa. Lebih tepatnya menginap.
"Gue tidur di sofa depan. Lo istirahat..."ucap Sam lalu berjalan keluar kamar Lisa.
"Kak ini selimutnya, biar gak kedinginan..."ucap Lisa sebelum Sam benar-benar keluar kamar.
"Makasih Lis, lo Istirahat biar gak kecapean..."pesan Sam lalu mengecup singkat kening Lisa.
Sedangkan Bella membalikkan badannya malas.
"Sopan kah begitu didepan gue? Gitu aja terus, dunia serasa milik berdua. Gue mah ngontrak doang..."kesal Bella lalu berbaring untuk tidur. Sedangkan Lisa dan Sam tertawa terbahak-bahak.
🕓🕓🕓
"Sayang jangan lupa jaga kesehatan ya, kamu itu belum pulih. Mama takut kamu kenapa-napa..."ucap Desi khawatir.
Angel tersenyum manis lalu memegang tangan ibunya.
"Mah Angel kan sama Riski. Kita akan baik-baik aja..."ucap Angel.
Riski tersenyum.
"Saya akan jagain Angel tante. Tante tenang saja. Angel akan menjadi tanggung jawab saya..."ucap Riski sopan.
__ADS_1
"Tante percaya sama kamu Riski. Tolong kabari tante jika kalian sudah sampai disana..."jawab Desi masih dengan perasaan khawatir.
Angel memang berencana akan liburan ke Amerika. Dan besoklah hari itu tiba. Karena itulah Desi nampak berat hati mengizinkannya. Namun Angel sangat ingin jalan-jalan ke negara itu. Akhirnya Desi pun mengalah. Ia mengizinkan Angel pergi kesana meskipun dengan perasaan khawatir yang amat sangat.