Elisya

Elisya
87


__ADS_3

Detik demi detik berlalu dengan cepat. Sekarang hari sudah menunjukkan pukul dua siang. Elisya sudah tersadar dari obat penenang. Jika kalian pikir ia kembali histeris, tidak!


Elisya hanya duduk sambil memeluk kedua lututnya. Matanya menatap ke arah jendela yang transparan. Tatapannya kosong. Tubuhnya ada disana namun pikirannya entah kemana. Ia seperti orang yang kehilangan semangat hidup. Hidupnya hancur dalam hitungan detik. Masalah demi masalah selalu menimpanya. Belum cukup Vano menyakitinya teramat dalam, sekarang ia malah mendapatkan kabar duka. Apa yang lebih menyakitkan dari ditinggalkan pergi oleh kedua orang tua sendiri. Rasanya ia tak punya tenaga lagi untuk melakukan apapun. Tubuhnya lemah, untuk bicarapun rasanya ia tak mampu.


Matanya sembab, bahkan sedikit bengkak dan memerah karena terlalu lama menangis. Kondisinya sangat mengenaskan. Tak ada lagi Elisya yang biasanya ceria, tertawa bahagia. Kini ia hanya termenung, melamun dengan rambut acak-acakan. Bahkan sisa-sisa air matanya masih terlihat dipipinya.


Soal makan jangan ditanyakan lagi. Ia bahkan tak ingin makan sama sekali. Berbicara saja ia enggan. Meskipun Arvie membujuk nya mati-matian, Elisya tetap tak mau makan walau sedikit. ***** makannya hilang seketika. Rasanya ia tak merasa lapar sama sekali. Padahal ia belum makan dari kemarin.


"Bel lo pulang dulu, dari kemarin lo disini. Lo juga butuh istirahat yang cukup. Nanti malam kerumah gue..."lirih Arvie.


"Gue pengen nemenin lo Vie..."jawab Bella tak terima.


"Gue akan lebih ngerasa bersalah kalau sampai lo sakit. Pulang dulu nanti malam kerumah gue..."ucap Arvie penuh penekanan.


"Lis lo juga pulang. Nanti malam kita kumpul lagi dirumah gue..."perintah Arvie.


Bella pasrah. Ia akhirnya menyetujui usul Arvie.


"Lis yuk pulang bareng gue aja..."ucap Bella yang disetujui oleh Lisa.


Hanya tersisa Elisya dan Arvie didalam ruangan itu. Arvie mendekatkan kursi ke samping brankar Elisya.


"Kakak sama terlukanya kaya lo Sya. Hati gue rasanya hancur liat lo kaya gini. Lo yang selalu gue manjain. Sekarang malah gini. Gue pengen kita kuat Sya. Ini udah takdir. Gue juga sama kaya lo. Kita sama-sama dipermainkan oleh takdir. Tapi tolong kuat Sya. Ikhlasin mamah papah, biar mereka tenang disana..."


Arvie menghela nafasnya. Hatinya sangat sakit mengatakan itu. Jujur saja ia juga belum ikhlas dengan kepergian kedua orang tuanya. Namun ia harus kuat.


"Dengan kita putus asa, itu gak akan ngerubah apapun. Gak akan bisa kembaliin mamah papah. Tugas kita hanya melanjutkan perjalanan hidup Sya..."sambung Arvie lagi.


Namun hasilnya nihil. Masih tak ada respon sama sekali dari Elisya. Gadis itu masih setia memeluk erat kedua lututnya. Tatapannya kosong. Ia seakan mati rasa. Bahkan lidahnya kelu untuk berucap.


Pintu terbuka. Terlihat David memasuki ruangan dengan santai lalu duduk disofa.


"Tugas beres..."ucapnya lantang.


Arvie tersenyum kecil mendengar itu. Setidaknya rasa marahnya sedikit berkurang. Vano memang pantas mendapatkan itu.

__ADS_1


"Tolong urus administrasi, gue pengen bawa Elisya pulang malam ini juga. Gue udah konsultasi ke dokter dan diperbolehkan..."perintah Arvie.


"Siap bos..."jawab David.


🕓🕓🕓


Dikamar Vano ada seorang dokter yang tengah mengobati lukanya.


"Vano kok bisa gini sih Ngel..."tanya Yunita khawatir.


"Angel gak tau tante, tadi pas pulang sekolah tiba-tiba aja ada cowok pakai baju hitam halangin jalan kita tante. Pas Vano turun malah jadi gini nih tan..."jawab Angel takut.


"Gimana keadaan anak saya dok?..."tanya Yunita khawatir.


"Tidak ada luka yang serius. Hanya beberapa luka kecil saja. Nanti tinggal dikompres saja..."jawab sang dokter.


"Terimakasih dokter, mari saya antar kedepan..."ucap Yunita lalu keluar dari kamar Vano.


Bersyukur Vano sudah sadar sekarang. Angel dengan cepat duduk diatas kasur Vano.


Vano malah tersenyum, "Gue gak papa. Jangan dibatalin dong. Gue kan kuat..."ucap Vano.


"Kalau gitu gue pulang dulu ya, mau nyiapin buat makan malam nanti. Lo istirahat ya Van..."ucap Angel.


Vano hanya mengangguk bersamaan dengan Angel yang keluar dari kamarnya.


🕓🕓🕓


Hari sedikit mendung. Setelah perdebatan panjang dengan sang dokter akhirnya Elisya diajak pulang sore itu juga. Tentunya dengan berbagai macam syarat dan dibawah pengawasan dokter Riri.


Tibanya dirumah Arvie langsung mengantar sang adik ke kamarnya untuk istirahat. Dirumah itu hanya ada David dan Dicky.


"Gue mau keluar bentar, ada urusan penting. Vid lo ikut gue. Dan lo Ky, gue percayakan adik gue sama lo. Jaga dia buat gue..."ucap Arvie.


Dengan berat hati Dicky menyetujui nya. Karena jujur saja ia sangat malas berurusan dengan perempuan. Ia bahkan tak pernah berpacaran sama sekali. Entah kenapa pandangan nya pada perempuan selalu buruk setelah perbuatan ibunya yang telah membuangnya sedari kecil. Itu sangat kejam kedengarannya. Jika bukan Arvie yang meminta, Dicky tentu akan menolak mentah-mentah. Namun karena ini adalah adiknya Arvie. Maka Dicky menyetujuinya.

__ADS_1


Selama ini Dicky adalah sosok pria dingin yang memang sangat menutup dirinya. Ia membangun benteng yang tinggi untuk dirinya dan perempuan manapun. Ia bahkan tak tertarik dengan perempuan manapun. Sejauh ini tak ada yang mampu mencairkan pria dingin itu.


Setelah kepergian Arvie dan David. Dicky sama sekali tak berani memasuki kamar Elisya. Ia hanya berdiri didepan pintu kamar Elisya. Namun, yang membuatnya heran adalah sedari tadi tak ada suara apapun dari kamar Elisya. Baik itu tangisan atau teriakan. Hanya senyap dan tenang.


Tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca dari kamar Elisya. Hal itu membuat Dicky kaget dan langsung masuk ke kamar Elisya. Pemandangan pertama yang ia liat hanya pecahan pot bunga yang berserakan dilantai. Namun Dicky tak menemukan Elisya sama sekali. Kemana gadis itu?


Mata Dicky tertuju pada sosok wanita dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan tengah bersiap melompat dari atas balkon kamarnya. Dengan cepat Dicky berlari dan meraih tubuh mungil itu kepelukannya. Hingga tubuh Elisya jatuh tepat diatas tubuh Dicky.


Dicky menghela nafas ngos-ngosan. Telat sedikit lagi maka Elisya bisa saja kehilangan nyawanya. Seketika tangis Elisya yang tidak terdengar dari tadi pagi pecah. Elisya kembali histeris membuat Dicky repleks memeluk tubuh mungil itu erat kepelukannya. Untuk pertama kalinya pria itu memeluk wanita seperti ini.


"Lo gila ya, gue tau lo lagi hancur sekarang tapi bukan berarti itu sampai buat lo berpikir buat akhirin hidup lo..."ucap Dicky.


Perlu diberi penghargaan, untuk pertama kalinya pria itu berbicara panjang lebar.


"Lo mikir dong, masih banyak orang diluar sana yang gak punya orang tua. Masih banyak orang diluar sana yang jauh lebih hancur dari pada lo. Apa mereka berpikir buat bunuh diri? Sekalipun enggak! Gue dibesarkan tanpa kasih sayang kedua orang tua gue! Apa gue ngakhirin hidup gue? Nggak...."


"Dunia ini hanya perjalanan, lo nggak bisa putus asa seperti ini. Lo masih punya Arvie yang sangat sayang sama lo. Punya materi biar lo gak ngerasa kekurangan. Ini adalah takdir Tuhan. Kita sebagai manusia gak ada hak buat protes. Hak kita cuma menjalani apa yang sudah digariskan..."


Elisya semakin terisak dipelukan Dicky.


"Gue tau lo hancur, lo depresi, lo sedih. Oke lo boleh nangis, lo boleh teriak sepuasnya. Tapi setelah ini lo harus jalani hidup lo. Bikin orang tua lo disana bangga sama lo. Tuhan sayang sama mereka. Lo harus dewasa. Lo harus bangkit..."lirih Dicky tepat disamping telinga Elisya.


Sungguh luar biasa. Pria es seperti Dicky mau mengeluarkan kalimat yang sangat panjang dan lebar. Sangat langka.


"Lo tau, Arvie sedih banget waktu lo gak makan dari kemarin. Lo sadar gak betapa khawatir nya dia. Dia juga sama kehilangannya kaya lo. Tapi apa dia ngeluh? Nggak! Dia berusaha sekuat mungkin karena dia gak mau terlihat lemah dihadapan lo. Dia pengen lindungin lo. Arvie adalah orang yang berjasa dalam hidup gue. Tolong berpikir lebih dewasa..."Dicky menghela nafasnya pelan.


Tangisan Elisya mulai mereda. Benar saja kata Dicky. Selama apapun ia menangis itu tak akan bisa mengubah kenyataan. Ia hanya perlu bangkit dari keterpurukannya.


"Gue minta lo sekarang mandi, lo pengen Arvie bahagia kan?..."


Elisya mengangguk membenarkan.


"Sekarang lo mandi, jangan pernah ngelakuin hal gila ini lagi. Gue rasa lo cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah. Gue tunggu di ruang makan..."ucap Dicky lalu menuntun Elisya memasuki kamarnya.


Benar saja Elisya menurut. Ia berjalan gontai menuju kamar mandi. Masih dengan mata yang sembab karena habis menangis.

__ADS_1


Dicky berjalan keluar kamar Elisya menuju dapur. Entah apa yang dipikirkan gadis itu hingga berniat mengakhiri hidupnya. Sungguh menyedihkan.


__ADS_2