
Bel berbunyi. Menandakan jam pulang sekolah telah tiba. Siswa-siswi mulai berhamburan menuju gerbang sekolah dan parkiran.
Elisya melangkahkan kakinya keluar kelas. Tanpa disangka ada Sam yang sudah tersenyum manis menyambutnya didepan kelas.
Elisya menghela nafasnya pelan, jika saja Vano yang seperti ini tentu dia akan sangat bahagia. Ia rindu Vanonya yang dulu. Vano yang selalu memprioritaskan dirinya di atas kepentingan apapun. Semuanya terasa berubah kini.
"Eh ko ngelamun sih, pulang yuk..."ucap Sam sambil menyenggol lengan Elisya pelan.
Lamunan Elisya buyar, ia tersenyum ke arah Sam.
"Yuk..."jawabnya singkat.
Sam dan Elisya berjalan beriringan menuju gerbang. Seperti biasanya Vano selalu menjaga Angel sesuai janjinya. Hal sekecil apapun tentang Angel terasa sangat penting baginya. Elisya tak terlalu mempedulikan itu. Ia lelah dengan semua ini. Percuma saja jika ia harus memarahi Vano mati-matian. Toh Vano tidak akan pernah berubah! Tetap saja mengedepankan kepentingan Angel dari pada dirinya sendiri.
Sam membukakan pintu mobil untuk Elisya.
"Makasih ka..."
Sam mengangguk, "Apa sih yang nggak buat kamu Sya..."goda Sam.
Sam mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sesekali melirik Elisya yang melamun sambil menatap kearah kaca mobil.
Elisya hanya menanggapi nya dengan senyuman. Moodnya benar-benar hancur hari ini. Bayangan Vano yang membentaknya didepan umum dan mencengkeram tangannya erat masih terbayang di kepalanya. Bahkan Vano tak peduli saat Elisya menjerit kesakitan.
Elisya menatap nanar kearah luka yang ada dilengannya.
"Gue salah apa sih Vano, kenapa malah gini..."gumam Elisya.
"Mau makan dulu atau langsung pulang?..."tanya Sam yang tengah menyetir sambil memecah keheningan.
Elisya melirik ke arah Sam yang kini tersenyum kearahnya. "Langsung pulang aja, Elisya capek kak. Lagi pengen istirahat aja dirumah..."jawab Elisya sekenanya.
Sam tersenyum, tangannya terangkat mengusap kepala Elisya. "Jangan terlalu dipikirin. Masalah selalu gitu. Datang dan pergi saat waktunya tepat. Kita cuman bisa menerima dengan ikhlas. Aku tau kamu kuat Sya, masa cuman karena masalah ini kamu jadi kaya gak semangat gini. Kaka harap kamu bisa tenangin diri dulu. Besok lo udah harus ceria lagi. Oke?..."kalimat-kalimat penenang itu keluar dari mulut Sam dengan senyuman tulus dibibirnya. Tangannya tak berhenti mengusap kepala Elisya.
Elisya tersenyum, "Kadang Elisya mikir kak, kenapa kebahagiaan itu gak pernah bertahan lama. Elisya gak nyerah, dan juga gak mau ngeluh. Elisya cuman capek aja. Kadang masalah datang terus-menerus seolah-olah gak izinin kita buat istirahat..."ucap Elisya mengeluarkan segala yang ia rasakan.
Sam tertawa kecil, "Dalam kehidupan semuanya wajar Sya. Semua orang akan datang dan pergi dalam hidup kita. Kebahagiaan dan kesedihan akan datang kehidup kita secara bergantian..."Sam menghela nafas. "Dunia suka berlebihan bercandanya. Kita harus dituntut kuat dalam setiap keadaan Sya..."sambung Sam lagi.
Elisya mengangguk mengerti, "Elisya senang, walaupun ka Arvie gak ada disamping Elisya, aku masih punya kak Sam yang selalu ada buat aku..."ucap Elisya senang.
Sam terkekeh lalu mengacak rambut Elisya gemas, "Jangan sedih lagi ya cantik, kamu berhak bahagia. Semuanya ada ditangan kamu, kamu yang bisa nentuin masa depan kamu nanti..."pesan Sam.
Elisya berdecak kesal, "Jadi berantakan nih rambut Elisya..."keluhnya kesal tetapi begitu menggemaskan hingga mengundang gelak tawa dari Sam.
Sam menghentikan mobil tepat didepan rumah Elisya.
"Makasih ya kak, udah dianterin. Mau mampir dulu nggak?..."tawar Elisya.
"Lain kali aja Sya, kaka masih ada urusan. Jangan sedih lagi, istirahat dirumah..."ucap Sam dengan senyuman tulusnya.
__ADS_1
"Siap bos..."jawab Elisya cepat sambil tangannya seperti sedang hormat.
Sam melambaikan tangan kearah Elisya lalu mulai menjalankan mobilnya.
Perasaan Elisya sedikit lebih tenang sekarang. Kalimat-kalimat dari Sam benar-benar berhasil menenangkannya.
🕓🕓🕓
Hari sudah mulai menggelap. Warna jingga yang tadinya menghiasi langit senja kini sudah hilang ditelan kegelapan, bersamaan dengan sang bulan yang mulai memperlihatkan keindahannya. Ditemani oleh hamparan bintang yang begitu menambah kesan indah malam ini.
Elisya menjuntai kan kakinya ditepi kolam. Mata indahnya mengerjap menatap sang rembulan. Pikirannya melayang entah kemana.
"Bintang yang indah..."lirih Elisya.
Tiba-tiba pandangan nya tertuju pada bintang yang jatuh. Sebenarnya Elisya tidak terlalu percaya dengan pernyataan bahwa keinginan akan terkabul jika ada bintang yang jatuh. Namun, apa salahnya mencoba?
Elisya mulai menutup matanya.
"Gue pengen Vano ada disisi gue. Gue kangen banget sama dia. Huft, apa bisa permohonan kecil gue ini terkabul..."Elisya membuka matanya pelan.
Apakah permohonan nya terkabul, huft sepertinya tidak.
"Bisa..."suara bariton itu serasa tidak asing terdengar indah ditelinga Elisya.
Ia dengan cepat menoleh kebelakang. Vano? Benarkah?. Vano tengah berdiri dibelakang nya saat ini. Dengan sebuah boneka beruang yang cukup besar ditangannya.
Tidak! Ini kenyataan, bukan mimpi. Sosok yang tengah ia rindukan tengah tersenyum lebar sambil merentangkan tangannya seolah meminta Elisya memeluknya saat ini juga.
Elisya memang kecewa terhadap Vano, tapi hatinya tak munafik. Ia begitu merindukan sosok ini. Kekesalan nya seakan lenyap saat Vano tersenyum begitu manis kearahnya.
Elisya berdiri dan berlari menghambur pelukan ke arah Vano. Bahkan ia sudah terisak kecil didada bidang Vano.
"Cantiknya Vano ko nangis sih?..."Vano mengusap pelan kepala Elisya lalu mengecupnya singkat.
Elisya tak menjawab, ia menyembunyikan wajahnya didada bidang Vano. Menghirup aroma parfum Vano yang beberapa hari ini sangat ia rindukan.
"Elisya pikir ka Vano udah lupain Elisya..."Elisya mendongak dengan hidung yang memerah karena menangis.
Oh shit! Dia sangat menggemaskan. Mata yang basah. Hidung yang memerah seperti tomat. Rambut yang sedikit berantakan. Semakin menambah rasa bersalah di hati Vano.
Vano melerai pelukannya. Ia menaruh boneka itu dikursi yang ada disampingnya. Memegang kedua pipi Elisya. Lalu mengecupnya satu persatu. Vano mengecup kedua mata Elisya dan terakhir keningnya.
Vano kembali merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
"Mana mungkin kaka lupa sama pacar kaka sendiri. Maafin kaka karena udah gak percaya sama kamu. Maafin juga atas kesalahan kaka tadi di kantin. Kamu tau kan kaka punya trauma. Kaka gak bisa ngontrol emosi pas liat kamu pelukan sama Sam kaya gitu..."Vano mengeluarkan keluh kesahnya.
Vano melepas pelukannya. Meletakkan tangannya dikedua bahu Elisya.
"Jangan sedih lagi ya, kaka minta maaf..."sambung Vano.
__ADS_1
Elisya tersenyum haru, "ia dimaafin kok kak. Elisya sayang banget sama ka Vano. Elisya juga cemburu tau ngeliat ka Vano sama ka Angel..."Elisya berdecak kesal.
Vano tersenyum melihat wajah Elisya yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kaka lebih sayang sama kamu, jangan cemburu lagi ya. Angel itu cuman sahabat kaka, selamanya akan begitu, kamu percaya kan sama kaka?..."jelas Vano.
Elisya mengangguk, lalu kembali memeluk Vano erat. Seakan tak ingin melepaskan Vano sedetik pun.
"Elisya kangen..."rengeknya manja.
Vano terkekeh melihat sikap manja Elisya.
"Ini kaka bawain boneka buat kamu, jadi kalau kangen bisa peluk bonekanya..."ucap Vano.
Elisya dengan senang hati menerima boneka pemberian Vano itu. "Makasih kak, oh iya kak Vano ko tiba-tiba ada disini sih? Kapan datangnya?..."tanya Elisya heran.
"Pas denger cewek cantik lagi mengucapkan permohonan nya..."ledek Vano.
Percayalah! Elisya benar-benar malu saat ini. Wajahnya memerah menahan malu.
"Ka Vano ih..."
Vano tertawa kecil, "Kamu lucu banget kalau lagi malu-malu gini..."goda Vano.
Elisya mati-matian menahan malu. Bagaimana bisa Vano mendengar permohonan konyolnya itu. Akh! Memalukan!
Elisya tak menyangka jika permohonannya benar-benar terkabul. Tak kuat menahan malunya ia berlari masuk kerumah.
Vano tertawa kencang melihat tingkah Elisya yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Ia melangkahkan kakinya santai mengikuti langkah Elisya.
Sampailah Elisya diruang tamu, disana ada Revina yang tengah duduk.
"Mamah ih, ko gak bilang ka Vano dateng..."wajah Elisya cemberut menahan kesal.
Revina berdiri dan menghampiri putrinya itu.
"Kata Vano anak mama yang cantik ini lagi ngambek sama dia, jadi pengen kasih surprise katanya..."goda Revina.
Vano berdiri tepat disamping Elisya. "Sekarang tuan putri nya udah gak ngambek lagi tante..."sambung Vano.
Elisya tersenyum malu sambil menutup wajahnya dengan boneka besar yang diberikan Vano di tepi kolam tadi.
"Vano kamu duduk dulu sama Elisya. Biar tante bikinin minuman sama tante ambilin makanan..."
"Gak usah repot-repot tante..."Vano merasa tak enak.
"Nggak repot kok, ayo Elisya ajak Vano duduk..."suruh Revina.
"Iya mah..."jawab Elisya.
__ADS_1