
Pagi kembali menyapa penduduk bumi yang mulai beraktivitas seperti biasanya.
Sesuai rencana hari ini Arvie dan teman-temannya beserta Elisya sedang dalam perjalanan menuju makam orang tua mereka.
Bella, Lisa maupun Sam tidak ikut kali ini, dikarenakan mereka sudah harus masuk sekolah seperti biasanya, mereka harus belajar ekstra untuk menghadapi ujian sekolah yang akan diadakan dalam waktu dekat ini.
Elisya terlihat tidak sehat hari ini. Matanya sayu, terlihat jelas kantong matanya. Menandakan gadis itu tidak cukup tidur. Namun tetap memaksakan diri untuk pergi ke makan orang tuanya.
Setelah memakan banyak waktu, akhirnya mereka tiba di pemakaman itu.
Pemakaman yang terlihat begitu bersih dan indah. Penuh dengan bunga-bunga disampingnya. Disana terpampang nyata foto kedua orang tuanya.
Hati Elisya berdenyut pelan, merasakan nyeri kala melihat senyum manis orang tuanya yang terpampang jelas di foto itu. Namun, Elisya lagi-lagi harus kuat.
Arvie yang seolah mengerti keadaan adiknya itu pun merangkul pelan bahu Elisya. Menuntun sang adik menuju ke samping makam itu.
Tanpa bisa ditahan air mata Elisya luruh saat berada disamping makam itu. Ia menangis sesenggukan sambil terus mengelus nisan sang ibu.
"Mamah Elisya kangen, mamah bilang bakalan pulang. Kalau aja Elisya tau yang mamah maksud dengan kata pulang itu adalah pulang selamanya, Elisya gak akan pernah izinin mama pulang. Biar Elisya aja yang nyusul mamah sama papah kesana hiks hiks..."Elisya menangis histeris sambil terus mengelus nisan kedua orang tuanya itu.
"Mah Elisya pengen ikut mamah sama papah aja, Elisya butuh kalian mah pah..."histeris Elisya.
Arvie tak kuat melihat adiknya yang serapuh ini. Ia benci situasi seperti ini, saat melihat kehancuran adiknya dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Arvie menangis? Ya! Pria itu kini tengah mengusap air matanya kasar. Ia merasa gagal membahagiakan adiknya itu. Ia tak boleh selemah ini didepan adiknya.
Arvie bangkit dan meninggalkan makam itu, berniat menenangkan diri dan menyembunyikan bahwa dirinya tengah menangis sekarang.
David dan Farhan dengan cepat menyusul sahabatnya itu. Namun tidak dengan Dicky. Pria itu enggan untuk meninggalkan Elisya sendiri dengan keadaan seperti ini. Dicky mendekat meraih tubuh rapuh Elisya dalam pelukannya.
Tak ada penolakan sama sekali. Elisya menerima pelukan Dicky masih dengan tangisanku yang tiada henti.
Sesak! Sangat menyakitkan rasanya melihat gadisnya serapuh ini.
__ADS_1
Dicky mengelus pelan batu nisan kedua orang tua Elisya. Sambil terus membiarkan Elisya menangis sesenggukan dipelukannya.
"Om tante, kemarin Elisya ulang tahun. Putri kalian sudah tumbuh dengan sangat cantik dan baik hati. Tapi kalian lihat kan? Dia serapuh ini tanpa kalian!..."lirih Dicky pelan seolah berbicara langsung dengan kedua orangtua Elisya.
Elisya masih tetap menangis terisak dipelukan Dicky.
"Tolong doakan kebahagiaan Elisya dari sana. Semoga kalian tenang disana. Saya akan menjaga Elisya semampu saya. Membahagiakan dia sebisa saya. Saya juga berjanji tidak akan menyakiti putri kalian..."sambung Dicky terdengar begitu tulus.
Tangisan Elisya mulai mereda. Namun masih ada suara isakan kecil. Dicky adalah sosok yang benar-benar mampu menenangkan Elisya dalam keadaan apapun.
"Om tante, saya sangat menyayangi dan mencintai putri kalian yang cantik ini..."ucap Dicky seraya mengelus kepala Elisya pelan.
"Saya bahkan berniat meminta izin pada kalian untuk menjadi pasangan hidup wanita cantik yang ada dipelukan saya ini. Mungkin cara bicara saya terkesan sangat formal..."terdengar suara kekehan kecil dari mulut Dicky.
"Sungguh saya menghormati kalian berdua. Sebagai orang tua dari wanita saya ini. Tolong restui kami. Saya akan berjuang untuk membuatnya tersenyum kembali..."ungkap Dicky lalu mengecup singkat dahi Elisya.
Elisya mendongak, dengan mata yang masih berair dan hidung yang memerah seperti tomat karena sehabis menangis. Lihatlah betapa menggemaskan nya gadis kecil ini.
"Elisya sayang banget sama bang Iky..."lirih Elisya pelan.
πππ
Waktu berlalu begitu cepat. Bahkan sekarang sudah pukul 3 sore semenjak pulangnya Elisya dari makam kedua orangtuanya.
Teringat akan janjinya kemarin untuk menemui Vano sore ini, Elisya akhirnya mengurungkan niatnya untuk istirahat.
Elisya memutuskan untuk berganti pakaian dan bersiap untuk berangkat. Kebetulan letak taman itu tak begitu jauh dari rumah Elisya, membuatnya lebih mudah untuk pergi kesana. Tugasnya hanyalah bagaimana agar semua orang dirumah ini tidak mengetahui kepergiannya.
Semuanya terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. David dan Farhan seperti biasa sedang heboh bermain game online. Semenjak kepulangan dari makan orang tua Elisya, Arvie memilih berdiam diri dalam kamarnya. Sedangkan Dicky nampak sibuk membaca sebuah novel.
Dirasa aman Elisya mengendap-endap menuju pintu keluar. Syukurlah keberuntungan memihak padanya kali ini. Tak ada yang menyadari jika Elisya tengah pergi dan berlari menuju gerbang depan.
__ADS_1
Elisya dengan cepat memasuki taksi online yang memang sudah ia pesan. Elisya menghela nafasnya lega saat taksi itu berjalan menjauh dari rumahnya.
Ada perasaan takut yang teramat sangat dalam diri Elisya. Entahlah ia bingung dengan perasaannya sendiri. Ia takut bertemu dengan Vano, tapi ia juga harus menemui Vano. Ia tak akan membiarkan hidup Vano berantakan dan alasannya adalah dirinya. Lalu bagaimana dengan Dicky? Arghh kepala Elisya berdenyut nyeri kala memikirkan semua itu.
Karena keasikan melamun, Elisya hampir tak sadar jika taksi itu sudah berhenti tepat disamping taman itu. Elisya dengan cepat mengembalikan kesadarannya. Ia membayar taksi itu dan turun perlahan.
Terlihat sosok pria yang tengah duduk di bangku taman. Ya, dia adalah Vano. Cinta pertama Elisya dulu. Pria yang dulunya teramat sangat ia cintai, pria yang menjadi alasan kebahagiaan terbesarnya juga rasa sakit terdalamnya. Semuanya rasa cinta dan luka yang beradu menjadi satu dalam sebuah kenangan.
Elisya menghela nafasnya berkali-kali. Kala kenangan nya bersama Vano kian melintas dipikirannya. Elisya tak egois Vano memang mampu membahagiakan nya walau hanya dengan hal-hal kecil yang selalu Elisya rindukan.
Oh Tuhan, Elisya harus apa sekarang? Tolong bantu dia Tuhan.
Elisya menghela nafasnya berkali-kali. Mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan Vano. Sosok yang sudah lama sekali tak bertemu dengannya.
Vano terlihat sedikit lebih kurus, pria itu tak mementingkan makannya lagi. Bahkan ia tak seperti dulu yang selalu menjaga penampilan nya agar terlihat sempurna. Elisya bisa melihat dengan jelas sebesar apa rasa penyesalan yang telah Vano rasakan.
Elisya melangkahkan kakinya pelan. Semakin dekat ke arah Vano.
"Ka V-ano..."lirih Elisya sangat pelan.
Vano sontak berdiri, saat Indra pendengaran nya menangkap suara yang sudah lama ia rindukan. Vano menatap kearah Elisya dengan mata berkaca-kaca. Seolah tak percaya Tuhan berbaik hati padanya untuk kembali mengizinkan nya bertemu dengan Elisya. Elisya kehidupannya.
Berkali-kali Vano menepuk pipinya memastikan jika ia tak sedang bermimpi sekarang.
Ia tak bermimpi, Elisya! Wanita yang memegang kehidupannya. Kini berdiri tepat didepannya. Seketika tangisannya pecah.
"Ka V-an-o..."panggil Elisya dengan suara bergetar. Untuk pertama kalinya ia melihat Vano menangis didepannya. Pria dingin yang dulunya selalu memasang muka jutek dan pemarah pada Elisya, lihatlah ia serapuh ini sekarang.
Apa ini semua salah Elisya?
πππ
__ADS_1
Hallo readers π Gimana sama part ini? komen sebanyak-banyaknya yuk!
Maaf ya karena update nya lama. Saya sedang banyak pikiran akhir-akhir ini, but no problem. I'am fineπ€π