
"Ada apa rame-rame?" Tanya seseorang yang membuat Elsa dan Levin menoleh ke asal suara.
"K-kak Sandy!? Kak Sandy aku mohon, aku mohon biarkan aku pergi dari sini.." ucap Elsa sambil menghampiri Sandy.
"Elsa!? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Sandy.
"Kak, kakakmu menyuruhku untuk mengasuh anakmu! Aku mau mengasuh anakmu, aku akan memberikan kasih sayang kepadanya sama seperti anakku sendiri, tapi biarkan aku membesarkannya di rumahku, aku mohon."
"Kamu menyuruhnya seperti itu kak?" Tanya Sandy.
"Kenapa!? Dia harus bertanggung jawab!"
"Bertanggung jawab apanya kak!? Aku bilang l, aku tidak pernah menyalahkan Elsa atas apa yang sudah aku alami!" tegas Sandy.
"Aku melakukan ini untuk Dika!"
"Demi mendapatkan kasih sayang untuk Dika, kamu membuat anak lain berada di posisi seperti Dika kak." ucap Sandy.
"Aku bisa menjaga Dika sendiri." Lanjutnya.
"Kamu? Menjaga Dika? Kamu yang seringkali kambuh dan menyakiti dirimu sendiri? Kamu fikir aku tega membiarkan Dika di rawat oleh orang sepertimu?" ucap Levin.
Elsa benar-benar terkejut mendengar ucapan Levin. Menyakiti diri sendiri? Elsa benar-benar tidak mengerti apa yang di bicarakan Levin.
"Kalau begitu biarkan Elsa membawanya dan membesarkannya dengan anaknya." ucap Sandy.
"Apa!? Bagaim.." kata-kata Levin terputus seketika.
"Bagaimana bisa? Tentu saja bisa kak! Toh kamu juga sibuk dengan pekerjaanmu, jadi lebih baik Elsa membawa Dika. Jika kamu dan aku merindukannya maka kita bisa pergi ke rumahnya." ucap Sandy.
Levin tidak mengatakan apapun, tapi Sandy tau betul kalau kakaknya itu masih berat untuk melepaskan Dika.
"Pulanglah Elsa! Maafkan kelakuan kakakku, pulanglah jaga anakmu." ucap Sandy.
"Benarkah? Terimakasih banyak kak Sandy, terimakasih karena sudah mengijinkanku pulang." ucap Elsa dengan perasaan senang.
"Baiklah!" teriak Levin membuat Elsa dan Sandy menoleh ke arahnya.
"Aku akan membiarkanmu membesarkan Dika." ucap Levin kembali.
"Syukurlah, aku titip Dika ya Els, kami akan datang berkunjung saat merindukan Dika." ucap Sandy.
"Tenang saja kak, aku akan menjaga Dika dengan tulus sama seperti anak-anakku." ucap Elsa.
"Terimakasih karena sudah membiarkanku pergi, kamu memang sangat baik sama seperti saat kita pertama bertemu." ucap Elsa kembali.
Setelah memberikan barang keperluan Dika, Elsa segera berpamitan kepada Sandy untuk pulang.
"Aku akan mengantarmu!" ucap Levin.
"Tidak! Aku tidak mau semobil dengan orang gila sepertimu!" ketus Elsa dengan tatapan tajam.
"Apa!?"
__ADS_1
"Sepertinya yang gila itu bukan kak Sandy tapi kamu!"
"Berani sekali kamu mengatakan hal itu kepada dokter yang sudah menyelamatkan nyawamu!" teriak Levin.
"Karena aku tau sifat aslimu seperti apa sekarang!"
Sandy menggelengkan kepalanya melihat tingkah kakaknya yang sangat kekanak-kanakan itu.
"Sudahlah kak, kenapa kamu menggunakan cara kekanakan seperti ini hah!?" ucap Sandy.
"Kekanakan katamu!?" ketus Levin.
"Elsa, pergilah supirku yang akan mengantarmu." ucap Sandy.
"Terimakasih."
Elsa segera pergi dari sana sebelum kedua laki-laki itu berubah pikiran.
"Apa kamu tega membiarkan anakmu di bawa begitu saja?" Tanya Levin.
"Apa kamu tega membiarkan Dika yang masih kecil itu tinggal dengan laki-laki seperti kita?" Sandy kembali bertanya kepada Levin.
"Sudahlah kak, keluarga Rey dan Sarah pasti bisa memberikan kasih sayang kepada Dika, setidaknya dia lebih baik disana daripada di sini kak."
"Lagipula apa yang kamu fikirkan dengan menculiknya hah!? Percuma kamu jadi dokter kak kalo pikirannya sempit!" ketus Sandy yang langsung naik ke atas kembali.
Levin hanya bisa melihat kepergian adiknya dengan kesal, dia melakukan hal bodoh itu untuk adiknya tapi malah mendapatkan hinaan.
***
"Apa aku tadi di culik? Tadi itu penculikkan bukan? Wah! Gila aku ga nyangka kalo dokter Levin bisa melakukan hal seperti itu." ucap Elsa kepada dirinya sendiri.
Elsa menatap wajah Dika dengan seksama, dia merasa kasihan mendengar cerita tentang anak yang ada di pangkuannya itu.
"Dika, kamu ikut sama tante ya.. Kamu bisa bermain dengan anak-anak tante nanti dan menjadi saudara mereka." ucap Elsa.
Dika hanya tersenyum seperti mengerti dengan ucapan yang baru saja Elsa ucapkan.
Tidak lama kemudian, sampailah Elsa di rumahnya. Elsa bernafas lega saat dirinya sudah sampai rumah dengan selamat.
Elsa segera keluar dari mobil, ada banyak sekali pengawal Rey yang seperti akan melakukan misi penting.
"Nyonya!?" ucap para pengawal itu dengan serentak hingga suaranya bisa terdengar sampai ke dalam rumah.
"Elsa? Elsa!!" teriak Rey sambil berlari ke arahnya.
Baru saja Rey mau memeluk tubuh istrinya tiba-tiba dia menyadari kalau Elsa sedang menggendong bayi kecil.
"Els, ini anak siapa?" Tanya Rey.
"Aku akan menjelaskan semuanya di dalam ya sayang, aku lelah sekali." ucap Elsa.
Sarah yang tadi mengikuti Rey berlari langsung mengambil Dika dari gendongan Elsa dan mengikuti Rey dan Elsa masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Rey menggandeng Elsa dan menuntunnya untuk duduk di sofa ruang tamu, baru saja Elsa bernafas sebentar tiba-tiba dia tersadar akan kamera yang di sembunyikan di rumahnya.
"Kak! Suruh pengawalmu mencari kamera tersembunyi yang ada di rumah ini sekarang!" teriak Elsa.
Awalnya Rey merasa aneh, namun dia tetap melakukan apa yang di suruh oleh Elsa tanpa bertanya kenapa.
Benar saja, pengawal Rey menemukan kamera tersembunyi di sudut-sudut ruang tamu. Dengan amarah yang tertahan Rey menyuruh pengawalnya untuk mengecek di seluruh kamar.
"Bagaimana kamu tau kalo ada kamera tersembunyi di rumah Elsa?" Tanya Rey.
"Aku di culik tadi, aku di ancam dan di perlihatkan kalian yang sedang khawatir karena hilangnya aku." jelas Elsa.
"Apa!? Di culik!?" ucap Rey, Sarah dan Jef secara bersamaan.
Akhirnya Elsa menceritakan semuanya kepada mereka, menceritakan dari awal hingga dia tiba di rumahnya sekarang ini.
"Dokter Levin kakak Sandy? Tidak mungkin!" ucap Rey.
"Aku akan menghajarnya!" ketus Rey.
Elsa yang melihat suaminya emosi langsung meraih lengan Rey.
"Jangan! Jangan lakukan apapun kak Rey, dia melakukan ini khilaf mungkin." ucap Elsa.
"Els.."
"Jangan kak, jika kita membuatnya masuk penjara juga, dia akan semakin jadi." Mohon Elsa.
Akhirnya Rey menuruti ucapan Elsa, dia kembali duduk di sebelah Elsa dan memeluknya dengan erat.
"Maaf karena membuatmu ada di posisi seperti ini sayang, maaf karena aku tidak bisa menjagamu." ucap Rey.
"Yaampun jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi kepadaku sayang, sekarang aku tidak apa-apa jadi kedepannya pasti baik-baik saja." ucap Elsa.
Elsa melihat Dika yang sedang di gendong oleh Sarah.
"Anak itu, namanya Dika. Apa tidak masalah jika kita membesarkannya di sini bersama Gilang dan Giffari?" Tanya Elsa.
Rey tersenyum ke arah Elsa sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja tidak masalah sayang, dia tidak bersalah jadi aku tidak punya alasan untuk tidak menyetujuinya." ucap Rey.
"Terimakasih sayang, kamu baik sekali deh gimana aku ga makin cinta coba." puji Elsa.
Sarah dan Jef saling menatap satu sama lain dengan perasaan geli.
"Sarah, ayo kita ke atas aja." ajak Jef.
"Iya Jef, ayo ke atas! Mataku bisa rusak ada di sini." ucap Sarah.
Sarah dan Jef segera berjalan ke atas untuk menidurkan Dika, sedangkan Elsa dan Rey masih dengan kemesraannya di ruang tamu.
__ADS_1
Karena kakak-kakak ga mau liat Elsa berjuang lagi, akhirnya author berbaik hati untuk menyatukan Rey dan Elsa kembali yaa..💙