ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 132


__ADS_3

"Lusa kita piknik yuk, anak kita sudah mulai mengerti sekarang dan mulai belajar berjalan, jadi kita harus memiliki banyak kenangan bersama." ucap seorang laki-laki yang sedang menyetir kepada istrinya yang berada di sebelahnya.


"Benar pa! Kita harus memiliki banyak kenangan sebelum akhirnya dia besar dan tidak mau di manja lagi." balas sang istri sambil menoleh ke kursi belakang untuk melihat sang anak.


Sang istri melihat posisi tidur anak mereka seperti tidak nyaman, jadi dia menyuruh suaminya untuk menepikan mobilnya sebentar.


"Pa berhenti dulu dong, aku mau benerin posisi kepala anak kita itu kasihan miring gitu nanti sakit lehernya."


Tanpa banyak bertanya sang suami segera mengangguk dan mencari tempat untuk menepi. Namun saat dirinya hendak menginjak pedal rem, tiba-tiba saja sang suami terkejut.


"Pa, kok belum berhenti sih?" Tanya sang istri.


"Ma, kayaknya ga bisa deh! Kayaknya ga bisa di rem! Remnya blong!!" teriak sang suami.


Mendengar ucapan suaminya membuat sang istri terkejut, dia khawatir jika mereka akan menabrak sesuatu dan membahayakan mereka bertiga.


Sang istri menoleh ke belakang dan ingin pindah agar bisa melindungi sang anak, namun sebelum itu terjadi, suaminya berteriak kencang dan menabrak sebuah tiang listri yang besar.


Hari itu sudah tengah malam, tidak ada siapa-siapa di sekitar mereka. Seperti sengaja sang suami menabrakkan sisinya agar istri dan anaknya selamat.


Ciittt!!!! BRUGHHH!!! Suara benturan terdengar sangat kencang.


"M-Maa,.. K-kamu b-baik-baik saja?" Tanya seorang laki-laki yang sudah terlihat sangat lemas dengan darah yang bercucuran di wajahnya.

__ADS_1


"Papa.. Mama baik-baik saja pa.. Pa,, wajah p-papa berdarah.." ucap sang istri yang berada di sampingnya.


Keadaan sang istri memang baik-baik saja, hanya beberapa memar yang ada di kepalanya namun masih bisa di tahan.


"Anakku! Anak k-kita ma.." ucap laki-laki tersebut.


Sang istri menoleh ke kursi belakang dan melihat keadaan anaknya yang masih tertidur, entah memang tertidur atau pingsan saat itu.


Kecelakaan tunggal itu terjadi begitu saja, benturan keras terjadi di bagian supir yang kebetulan saat itu sang suami yang menyetir sendiri.


Itulah kenapa hanya keadaan sang suami yang mengalami luka parah di kepalanya, sedangkan istri dan anaknya terlihat baik-baik saja.


Tuan Maulana saat itu benar-benar tidak bisa keluar karena bagian tubuhnya terjepit di setir mobil.


"Han kita tertidur pa.." ucap sang istri.


"Tidak papa! Aku dan Han akan selalu menemanimu di sini."


Yap! Han, Raihan Maulana. Putra dari tuan Maulana dan istrinya Hanin, anak semata wayang mereka yang sangat mereka sayangi.


"No! K-kalian m-masih bisa selamat! K-keluarlah.. Bawa anak k-kita bersamamu.." ucap tuan Maulana kepada sang istri dengan nafas yang terengah-engah.


"Lalu bagaimana denganmu?" ucap istrinya sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Tidak apa, aku b-baik-baik saja di sini.. K-kalian keluarlah cepat!"


Tuan Maulana mencoba untuk membantu sang istri keluar secara perlahan karena untungnya posisi sang istri sangat memudahkannya untuk keluar.


"Keluarlah..."


"Hikss,, papa.., mama akan menghubungi seseorang untuk membantu kita."


"S-sudah cepat keluarlah Hanin! Aku s-sudah t-tidak k-kuat.."


Mendengar ucapan suaminya, akhirnya Hanin segera keluar dari mobil dan berjalan dengan kaki yang sedikit pincang membuka pintu belakang dan mengambil Han kecil yang sedang tidak sadarkan diri duduk di kursi khusus baby.


Setelah mengambil anaknya, Hanin segera menghubungi sang adik untuk memberitahu tentang keadaannya.


"Halo kak.." ucap seseorang dari sebrang telfon.


"Hana, tolong! Tolong bantu kakak, kakak mengalami kecelakaan, kakak iparmu sedang terjebak di dalam mobil karena kakinya tercepit, tolong segera kirim bantuan karena kakak tidak tau nomer bantuan!" ucap Hanin dengan nafas yang terengah-engah.


"Apa!? Segera kirim lokasimu kak, aku dan mas Adit akan segera ke sana!" balas Hana.


Hana, adalah adik kandung dari Hanin, mereka berdua tumbuh di keluarga yang kaya raya.


Hanin menikah dengan Maulana yang juga anak seorang pengusaha, sedangkan Hana menikah dengan kekasihnya yang berasal dari orang biasa, namun Hana sangat mencintai kekasihnya itu dan orang tua mereka mau tidak mau menyetujui pernikahan mereka.

__ADS_1


Hanin segera mematikan telfonnya dan mengirimkan lokasinya kepada sang adik. Setelah itu dia mencoba untuk memeluk erat Han dan membuatnya tetap hangat di malam itu sambil menangis di sebelah mobil sang suami.


"Aku mohon, aku mohon selamatkanlah suami dan anakku..." gumam Hanin yang semakin mengeratkan pelukannya kepada Han.


__ADS_2