ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 120


__ADS_3

Pagi hari di rumah Rey dan Elsa, sudah empat tahun mereka tinggal di indonesia, dan ketiga anak laki-laki mereka sudah mulai mendaftar untuk bersekolah di sekolah yang sangat bagus di Indonesia.


Rey, Elsa dan anak-anaknya memutuskan untuk tinggal di rumah yang di hadiahkan oleh Key, tentu saja itu semua karena paksaan dari Key yang tidak bisa mereka tolak.


“Anak-anak turunlah..” teriak Elsa yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.


“Morning sayang..” sapa Rey sambil mencium kening istrinya.


“Morning,, di mana anak-anak?” Tanya Elsa.


“Entahlah, mungkin masih bersiap.” Jawab Rey yang langsung duduk di kursi makan dan bersiap untuk mengambil piring.


“Eh tunggu!” ucap Elsa sambil memukul tangan suaminya.


“Aw, kenapa sayang?”


“Tunggu anak-anak sayang,, kita sarapan bersama, tunggu dulu aku akan memanggil mereka.” Ucap Elsa.


Elsa segera menaiki tangga untuk memanggil ketiga anaknya yang masih berada di satu kamar.


“Anak-anak,, kenapa lama sekali..” panggil Elsa sambil membuka pintu kamar anak-anaknya.


“Mama!!” sapa ketiganya secara bersamaan.


Elsa terkejut saat melihat ketiga anaknya sudah rapih dengan seragam sekolahnya, bahkan mereka sudah bisa memakai dasi sekolah tanpa meminta bantuan Elsa.


“Wah kalian sudah bisa memakai seragam sendiri? Mama kira kalian lama karena kesulitan memakai seragam.


“Tentu saja tidak ma,, kita ini hebat tau..” ucap Giffari dengan semangat.


“Iya tentu saja anak-anak mama sangat hebat.. Sudah ayo kita turun dan sarapan lebih dulu.” Ajak Elsa.


Ketiga anak laki-laki tersebut langsung menganggukkan kepala lalu berjalan keluar kamar. Elsa tersenyum melihat anak-anaknya, lalu dia merapihkan tempat tidur anak-anaknya lebih dulu lalu turun menyusul ketiga anaknya.


“Mama,, ayo makan..” ajak Dika sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sebelahnya.


Elsa hanya tersenyum lalu duduk di kursi yang berada di sebelah Dika.

__ADS_1


“Gilang, Dika,, kalian berdua harus menjaga Giffari oke?” ucap Rey di tengah-tengah sarapan kepada kedua anaknya.


“Papa,, Giffari bisa jaga diri sendiri!” ketus Giffari yang langsung menaruh sendoknya di atas piring.


Giffari benar-benar tidak terlalu suka karena perhatian yang di berikan oleh Rey dan elsa terlalu berlebihan menurutnya.


“Giffa, kami tau kalau kamu bisa menjaga dirimu sendiri, tapi kadang kamu tidak bisa mengontrol tingkat kelelahan kamu kalau sedang seru bermain.” Jelas Elsa.


“Giffari, kami benar-benar sangat menyayangimu.. Kami tidak mau sesuatu yang buruk terjadi kepadamu.” Sambung Rey.


“Tapi Giffari tidak suka merepotkan orang lain! Giffari tidak mau menjadi beban!” teriaknya.


“Giffa!! Jangan membentak papa dan mama.” Tegas Gilang yang akhirnya buka suara.


Mendengar peringatan dari abangnya membuat Giffari terdiam seketika.


“Abang dan kakak juga merasa kerepotan bukan menjagaku?” Tanya Giffari sambil melihat ke arah Gilang dan Dika.


“Aku tidak pernah merasa kerepotan menjagamu Giffa, aku adalah kakak paling tua tentu saja aku akan menjagamu dan juga Gilang.” Ucap Dika.


“pokoknya aku tidak mau merepotkan siapapun! Lebih baik aku mati saja kalau hidup hanya untuk merepotkan orang lain!” ucap Giffari tiba-tiba membuat semua orang terkejut mendengarnya dan menatap ke arah Giffari dengan tajam.


“Apa yang kamu bicarakan tadi Giffa!?” ketus Elsa.


“Bagaimana bisa kamu mengatakan hal seperti itu di hadapan papa dan mama! Apa kamu pikir kami merawarmu sampai sekarang hanya untuk mendengarmu mengatakan hal itu?!” ucap Elsa yang mulai merasa emosi.


Tentu saja Elsa emosi mendengar ucapan Giffari, bagaimana tidak? Ibu mana yang tidak emosi jika anaknya sendiri mengatakan jika dirinya mau mati di depannya, di depan wanita yang sudah berjuang melahirkannya sampai memperaruhkan nyawa.


“Sayang, pergilah ke atas.. Biar aku yang menasehati Giffa hmm..” ucap Rey dengan lembut.


Elsa yang setuju dengan ucapan Rey segera meninggalkan meja makan dan pergi masuk ke kamarnya agar tidak semakin emosi kepada anaknya.


Setelah memastikan Elsa sudah masuk ke dalam kamarnya, Rey langsung menoleh ke arah anak-anaknya yang diam saja karena melihat suasana sudah semakin canggung.


“Ini pertama kalinya kalian melihat mama marah bukan? Bagaimana? Sekarang papa ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua, sebenarnya mama tidak mau jika kalian mengetahui hal ini tapi sekarang papa sepertinya harus mengatakan kepada kalian yang sebenarnya.” Ucap Rey.


Sebelum anak-anak mereka lahir, Rey dan Elsa sudah sepakat untuk tidak mengatakan kepada mereka bagaimana usaha mereka terutama Elsa untuk memperjuangkan kelahiran anak kembar itu.

__ADS_1


Namun karena anak-anak mereka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi, akhirnya Rey memutuskan untuk menjelaskan secara perlahan kepada mereka.


“Saat mama mengandung Gilang dan Giffari, mama sakit.. Mama sakit kanker dan dokter memberi pilihan untuk menggugurkan kalian agar mama selamat, tapi mama ga mau, mama mau mempertahankan kalian dan melahirkan kalian walaupun nyawa mama taruhannya.” Jelas Rey dengan singkat.


Mendengar ucapan Rey membuat Gilang dan Giffari saling menatap satu sama lain, keduanya baru tau kalau mamanya sangat menyayangi mereka sampai harus mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan mereka.


“Bagaimana? Kamu masih mau mati saat sudah mengetahui perjuangan mamamu?” Tanya Rey kepada Giffari.


Giffari menatap Rey dengan tatapan sendu lalu menggelengkan kepala perlahan. Giffari segera berlari menuju kamar Elsa, sedangkan Gilang hanya menunduk masih merenungkan ucapan sang papa.


“Pa, apa papa berbohong hanya untuk membuat Giffa meminta maaf kepada mama?” Tanya Gilang kepada Rey.


“Hah? Apa menurutmu papa terlihat sedang bercanda?” Tanya Rey kembali.


Melihat wajah serius Rey membuat Gilang segera berlari meninggalkan meja makan untuk menyusul Giffari yang sudah masuk ke dalam kamar mamanya.


Rey hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua anaknya itu, lalu seketika Rey menoleh ke arah Dika yang saat itu sedang menundukkan kepalanya dengan ekspresi sedih.


“Kamu kenapa Dika?” tanya Rey sambil duduk di hadapan Dika.


“Pa,, apakah mama kandung Dika meninggal karena Dika?” tanya Dika yang membuat Rey terkejut mendengarnya.


“Sayang,, kenapa kamu bicara seperti itu?” tanya Rey.


“Uncle Levin pernah bilang kalau mama meninggal saat melahirkan Dika,, apa mama Dika bahagia sudah mempertaruhkan nyawanya hanya untuk melahirkan Dika?” tanya Dika.


Rey benar-benar terkejut mendengar anak berusia 6 tahun itu memberikan pertanyaan seperti itu kepadanya.


Rey segera berjalan mendekati Dika dan berjongkok agar bisa melihat wajah anak sambungnya itu dengan jelas.


“Dika sayang,, tidak ada seorang ibu yang menyesal karena sudah melahirkan anak laki-laki tampan dan hebat sepertimu.. Kamu adalah seorang anak laki-laki dan kakak laki-laki yang baik sayang..” ucap Rey.


“Lihat papa,, kamu adalah harta yang paling berharga untuk papa dan mama kandungmu, kamu juga harta paling berharga untuk papa dan mama.” Sambungnya.


“Benarkah pa?” tanya Dika sambil menatap wajah Rey.


Rey tersenyum sambil menganggukkan kepalanya merespon ucapan Dika, lalu dia memeluk tubuh Dika dengan sangat erat.

__ADS_1


__ADS_2