
Rey dan Jef keluar dari ruangan dan segera menemui Key, Sarah dan ketiga anak Rey yang sedang menunggu di ruang tunggu yang ada di restaurant tersebut.
“Rey, Jef..” ucap Key saat melihat Rey dan Jef masuk ke dalam ruangan itu.
“Papa, papa baik-baik saja? Apa orang jahat itu macem-macem sama papa?” tanya Giffari sambil melihat seluruh tubuh papanya di ikuti dengan Dika dan juga Gilang.
“Kalian ga salah? Bukannya papa yang harusnya mengatakan hal itu? Papa ini lebih dewasa dari kalian loh.” Ucap Rey.
“No, no! Kita harus menjaga papa karena papa tidak bisa melakukan apapun tanpa mama, kasihan mama jadi kita yang akan menjaga papa sekarang.” Ucap Gilang.
Jef, Key dan Sarah menahan tawa mendengar ucapan anak Rey itu, terutama saat melihat wajah Rey yang sedang menahan rasa kesal menghadapi ketiga anaknya yang terlalu cerdas itu.
“Wah benarkah itu? Jadi papa kalian ga bisa apa-apa tanpa mama kalian ya?” tanya Key memancing ketiga anak Rey.
“Hm aunty! Giffa pernah denger kalo mama bilang papa itu bayi gurita.” Cetus Giffari.
“Bhahaha! Rey, kamu ini bayi gurita ya?” ejek Key.
“Diam Key, kalau tidak aku akan meninggalkanmu di sini!” ketus Rey yang langsung membuat Key terdiam.
“Ga apa-apa aunty, nanti Dika temenin naik taxi kok kalo papa ga mau nganter.” Sahut Dika.
Rey hanya bisa memijat keningnya tanpa mengatakan apapun lagi, karena menurunya walaupun dia meladeni keitiga anaknya justru semakin membuatnya pusing.
“Sudah ayo pulang, mama kalian sudah khawatir memikirkan kalian yang tiba-tiba hilang.” Ucap Rey yang langsung menggandeng Giffari, sedangkan Dika dan Gilang mengikutinya dari belakang.
“Kalian hati-hati ya, Jef kamu sebaiknya bawa Sarah ke rumah sakit dulu, perut Sarah pasti kram karena terkejut melihat kejadian tadi.” Ucap Key.
“Iya, kami mau ke rumah sakit dulu lalu kami akan mampir ke rumah tuan Ken.” Ucap Jef.
Rey dan Key menganggukkan kepala lalu segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah Ken.
Sesampainya di rumah Ken, ketiga anak Rey segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa menunggu Key dan Rey turun dari mobilnya.
__ADS_1
“Lihatlah, anak-anakmu pasti langsung menghampiri Elsa dan memelas kepadanya agar tidak di marahi.” Ucap Key.
“Ya sudah pasti! Mereka memang kadang menggemaskan tapi kadang menyebalkan juga.” Balas Rey.
“Mami!!” teriak Karren yang berlari dari dalam rumah lalu memeluk tubuh maminya dengan erat.
“Karren sayang, kamu nakal ga di sini?” tanya Key.
“Engga kok mi, Karren ga nakal kok..” jawab Karren.
“Sudahlah ayo masuk ke dalam, nanti papi akan menjempu kita di sini setelah pulang kerja.” Ucap Key yang di balas anggukan oleh Karren.
Setelah berada di dalam rumah Ken, Rey melihat ketiga anaknya yang sedang mengerumuni istrinya, Dika yang memijat kepala Elsa, Gilang yang memijat tangan Elsa dan Giffari yang memijat kaki Elsa seperti sedang mencari pembelaan.
“Wah sepertinya aku harus memasukkan ketiga anakku ke sekolah artis sih..” gumam Rey yang masih bisa di dengar oleh Key.
“Ide yang bagus tuh! Coba aja di masukin ke sekolah artis anak-anakmu Rey.”
Elsa yang bingung karena ketiga anaknya memijatnya dengan lembut langung menyadari kehadiran Rey yang sudah berada di hadapannya.
“Iya sayang.” Balas Rey sambil duduk di sebelah istrinya.
“Anak-anak sudah mijitin mamanya dong, ayo duduk semua jangan harap mama akan luluh setelah kalian pijat seperti tadi.” Ucap Elsa yang sebenarnya tau maksud dari ketiga anaknya yang memijat tubuhnya.
“Yah mama, kan kita udah mijetin mama tadi…” rengek Giffari.
“Emang itu mama yang minta pijitin? Kan kalian sendiri yang tiba-tiba dateng terus langsung mijitin mama.” Ucap Elsa.
“Yaelah mama curang.” Sambung Gilang.
“Kok bisa curang? Mama ingetin ya sayang, kalau kita melakukan kesalahan maka kita harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita. “ jelas Elsa.
“Mama benar, kita kan laki-laki jadi harus bertanggung jawab kalau berbuat salah.” Sahut Dika.
__ADS_1
“Jadi, apa hukuman yang cocok untuk anak-anak kita ini sayang?” tanya Rey dengan nada yang mengejek sambil menatap wajah ketiga anaknya yang mulai tegang.
“Kita hukum di rumah aja kayaknya sayang, kalau di marahin di tempat ramai aku takut mereka akan terkejut dan bisa saja mereka malu dengan teman-temannya.” Ucap Elsa.
Rey hanya mengangguk mengiyakan ucapan Elsa, sedangkan ketiga anak laki-laki mereka hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya.
"Hai Rey.. Kamu mau menjemput istri dan anak-anakmu?" Tanya Ken yang sedang menuruni tangga dan melihat Rey duduk di ruang tamu.
"Hai Ken, iya nih aku mau menjemput mereka.. Terimakasih karena sudah menerima mereka bertamu di rumahmu." ucap Rey.
"Apa kamu gila? Kenapa harus berterimakasih? Mereka juga keluargaku, mereka bukan tamu." ucap Ken yang di balas tawa oleh Rey.
"Anak-anakku terlalu aktif dan itu pasti merepotkan kamu." ucap Rey.
"Engga kok, anakku juga aktif hanya saja selama ini dia hanya sendirian, tapi saat anak-anakmu datang Darren sangat bahagia karena memiliki teman bermain." jelas Ken.
"Kalian makan malam di sini ya, karena aku sudah menyiapkan makan malam untuk kalian semua." ucap Andini yang berjalan dari dapur.
"Duh ngerepotin aja kak Andin..." ucap Elsa.
"Gaada ngerepotin Elsa, udah ayo kalo mau mandi mandi dulu aja.. Rey bisa pakai baju Ken, Key dan Elsa bisa pakai bajuku." ucap Andini.
"Terimakasih Ndin.." ucap Key.
"Terimakasih kak Andin.." ucap Elsa.
"Ken udah nyiapin kamar masing-masing untuk kalian semua, kalian bisa istirahat di kamar kalian masing-masing dulu." ucap Andini.
"Terimakasih aunty Andini..." teriak Dika, Gilang dan Giffari yang langsung berlari menaiki tangga menuju kamar mereka.
"Ya ampun anak-anak jangan lari-larian ga sopan!!" teriak Rey dari bawah.
"Sudah Rey biarkan saja namanya juga anak-anak.. Nanti anak-anak pakai baju Darren dulu ya Els." ucap Andini yang di balas anggukan oleh Elsa.
__ADS_1
Setelah itu mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat sebelum waktunya makan malam.