
Malam hari, Elsa yang tidak bisa tertidur memutuskan untuk pergi ke halaman belakang. Di sana ada Ryan yang juga sedang duduk sambil menatap ke arah langit yang berwarna gelap.
"Pa.. Belum tidur?" ucap Elsa yang berjalan mendekati papanya.
"Hai anak papa, kamu kok nanya papa! Orang kamu juga belum tidur." balas Ryan.
Elsa tertawa mendengar ucapan papanya dan langsung duduk di sebelah papanya sambil merangkul lengan sang papa.
"Pa, kenapa papa belum tidur?"
"Papa ga ngantuk sayang, kamu sendiri kenapa ga tidur?"
"Elsa juga belum ngantuk pa hehe."
"Kamu tau kan kalau kami mau menjadikan Nala kakakmu?" Tanya Ryan.
"Hm tau kok pa."
"Papa dan mama tau semua kisah kalian bertiga, tapi kami juga menghargai keberaniannya karena sudah jujur, lagipula kami yakin kalau dia akan berubah." jelas Ryan.
"Iya pa, Elsa juga ngerti kok Elsa juga seneng punya kakak perempuan jadi Elsa punya temen dirumah hehe." jawab Elsa.
"Papa beruntung banget punya anak yang hebat seperti kamu sayang." ucap Ryan.
"Pa, lalu bagaimana dengan orang tua kak Nala?"
"Kami sudah bertanya padanya, dia bilang kalau orang tuanya yang menjualnya kepada suaminya saat itu."
"Benarkah? Kasihan ya pa, tidak semua orang beruntung mendapatkan keluarga yang baik seperti Elsa." ucap Elsa.
"Tapi sekarang dia sudah memiliki keluarga yang baik, punya adik yang baik juga kayak kamu kan?" ucap Ryan sambil mencubit hidung Elsa.
"Ih papa cubit-cubit aja deh! Oh iya pa rencananya Elsa mau menjadikan kak Nala asisten Elsa, boleh kan?" Tanya Elsa.
"Kenapa Nala bekerja? Lalu bagaimana dengan Niko?"
"Lagian kak Nala tetap mau mencari pekerjaan pa, makanya Elsa nawarin kak Nala jadi asisten Elsa."
"Tidak masalah kalau dia mau belajar."
"Iya pa, Elsa emang mau minta asisten papa buat ngajarin kak Nala, siapa namanya ya pa lupa."
"Tiko? Dia asisten yang sangat bertanggung jawab, Nala pasti akan cepat belajar jika Tiko yang mengajarinya." ucap Ryan.
"Asik! Terimakasih ya papaku sayang.." ucap Elsa yang langsung mencium pipi papanya lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Kamu sudah mau tidur?"
"Iya pa, papa juga jangan lama-lama di sini ga baik." ucap Elsa.
Ryan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Sedangkan Elsa berjalan masuk ke dalam untuk segera tidur.
***
Hari sudah pagi, cahaya matahari sudah masuk ke sela-sela tirai kamar Elsa hingga membuatnya terbangun.
__ADS_1
"Huaa, aku kesiangan! Ah gara-gara semalem tidur kemaleman nih!" gumam Elsa
Dengan segera Elsa langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi karena melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Setelah selesai bersiap, Elsa segera turun ke bawah dengan pakaian yang sudah rapih.
"Selamat pagi semua,, maaf Elsa kesiangan." sapa Elsa sambil berjalan ke meja makan.
Namun langkah Elsa terhenti saat melihat Rey yang sudah duduk di kursi makan bersama keluarganya.
"Wah, sepertinya rumahmu sudah pindah kemari ya kak Rey?" Tanya Elsa dengan sinis.
"Elsa, ga boleh bilang kayak gitu sama Rey!" tegas Rose.
"Els, dia calon suamimu loh masa kayak begitu sih ngomongnya." sambung Nala.
"Dia menyebalkan kak."
"Sudahlah duduklah Els jangan ribut pagi-pagi, Rey kemari mau jemput kamu dan Nala untuk berangkat ke perusahaan." ucap Ryan.
Dengan malas Elsa duduk di sebelah Rey karena hanya kursi itu sajalah yang kosong.
"Rey, setelah menikah nanti, kalian berdua akan tinggal di mana?" Tanya Ryan.
"Rey sudah membeli rumah di dekat perusahaan om, jadi Rey mau langsung membawa Elsa ke sana." jelas Rey.
"Apa!? Aku mau tinggal di sini aja!" ketus Elsa.
"Tapi ma..."
"Els!" tegas Ryan.
Elsa langsung mengalihkan padangannya dan menghela nafas panjang mendengar ucapan papanya.
"Oh iya kak, Niko di mana?" Elsa mencoba untuk mengalihkan pembicaraan saat itu.
"Dia ada di kamar Els sedang tidur, kata tante Rose dia sudah mencarikan pengasuh untuk Niko selama aku bekerja."
"Mama Nala! Cobalah memanggilku mama jangan tante."
"Maaf tan,, eh ma, Nala masih belum terbiasa."
"Hm,, lain kali di biasakan oke?" ucap Rose yang di balas anggukan oleh Nala.
"Sayang, kamu hari ini tidak ke perusahaan lagi?" Tanya Ryan.
"Tidak sayang, aku mau menunggu pengasuh Niko dan aku harus memastikan kalau pengasuh itu baik untuk Niko." ucap Rose.
"Baiklah, kalau begitu mau berangkat sekarang?" Tanya Ryan kepada Elsa, Nala dan Rey.
"Tentu saja, biarkan para wanita ini berangkat bersama Rey om, akan Rey pastikan mereka sampai dengan selamat." ucap Rey.
"Baiklah kalau begitu, setelah papa sampai ke perusahaan nanti, papa akan menyuruh Tiko untuk pergi ke perusahaan cabang dan membantu pekerjaan Nala."
__ADS_1
"Terimakasih banyak papa.." ucap Elsa.
"Sama-sama sayang.."
Akhirnya mereka semua berangkat bekerja, sedangkan Rose mengantar mereka sampai ke pintu depan.
"Ma, Nala titip Niko ya, maaf merepotkan." ucap Nala.
"Tidak merepotkan sama sekali Nala, mama senang akhirnya mama punya cucu hehe." ucap Rose sambil memamerkan gigi putihnya.
Setelah semuanya berangkat kerja masing-masing, Rose kembali masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamar Nala untuk mengecek keadaan Niko.
***
Di sepanjang jalan, Rey dan Elsa terus saja berdebat hanya karena hal sepele, sehingga membuat Nala yang duduk di kursi belakang menggelengkan kepalanya.
"Kalian berdua bisa ga sih sehari aja ga berdebat?" Tanya Nala.
"Kak, kayaknya kamu aja yang duduk di depan deh! Bawaannya emosi mulu kalo duduk di sebelah dia!" ketus Elsa.
"Tidak mau! Nanti yang ada orang salah paham denganku!" balas Nala.
Drrtt,, drrtt.. hp Rey yang ada di sebelahnya berbunyi dan Elsa sempat melihat Nama Karina yang ada di layar hpnya.
"Tuh di telfon sekretaris tercinta!" sundir Elsa.
"Kamu cemburu sama Karina?"
"Dih ngapain juga cemburu! Ga penting banget!" ketus Elsa.
Rey hanya tersenyum lalu mengangkat telfon dari Karina.
"Halo Karin? Ada apa?" Tanya Rey.
"Rey, kamu dimana? Jangan lupa jika hari ini kamu ada meeting dengan client!" ucap Karina dari sebrang telfon.
"Iya aku ga lupa! Aku akan segera ke sana setelah mengantar seseorang." ucap Rey yang langsung mematikan telfonnya.
Setelah menerima telfon dari Karina, suasana di dalam mobil menjadi canggung dan tidak ada yang bersuara sedikitpun.
Hingga tibalah mereka di perusahaan cabang Ryan, dan dengan segera Elsa turun dari mobil tanpa mengatakan apapun.
"Kamu seharusnya mencoba untuk mengalah padanya Rey, kenapa kamu senang sekali membuatnya marah begitu." ucap Nala sebelum keluar dari mobil.
"Aku suka melihat wajahnya yang sedang marah begitu." ucap Rey sambil tersenyum melihat Elsa yang sedang menunggu Nala di luar.
"Dasar laki-laki aneh!" ketus Nala yang langsung menyusul Elsa keluar.
Setelah Nala keluar dari mobil, Rey segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Nala menatap wajah Elsa yang masih melihat kemana mobil Rey berjalan.
"Hah! Kalian berdua sama-sama saling menyukai tapi sama-sama tidak mau mengalah!" gumam Nala.
"Els, ayo kita masuk ke dalam." ajak Nala.
__ADS_1
Elsa hanya menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam perusahaan bersama Nala.