
Para wanita sudah sampai di mall yang mereka tuju, mereka semua segera pergi ke butik terkenal yang ada di mall tersebut.
“Kak, dari tadi aku kepikiran nih! Suami kalian semua yakin bisa di andalkan?” tanya Elsa tiba-tiba.
“Yaelah Els, kita lagi senang-senang malah ngomongin itu! Anggep aja hari ini kita kembali gadis lagi.” Ucap Key.
“Bagaimana bisa perut besar seperti ini di bilang masih gadis!” ketus Elsa sambil menunjuk ke arah perut Rania yang besar.
“Ya, anggep aja dia gendut! Udahlah jangan bahas lagi Key, biarkan laki-laki itu merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu rumah tangga seharian!” ucap Key lagi.
Elsa hanya menggelengkan kepalanya melihat para ibu-ibu muda itu, akhirnya Elsa hanya mengalah dan melanjutkan melihat-lihat pakaian yang ada di butik itu.
“Eh Ran, anter aku ke toilet yuk bentar aku kebelet banget nih.” Ucap Elsa kepada Rania yang berada di sebelahnya.
“Baiklah ayo, tapi kita ijin dulu ke kak Belinda yuk!” ucap Rania yang di balas anggukan oleh Elsa.
Setelah berpamitan kepada Belinda akhirnya Rania dan Elsa pergi ke toilet, setelah beberapa menit berada di toilet sambil mengobrol Elsa dan Rania memutuskan untuk keluar dari toilet dan kembali ke butik, namun di jalan dia bertemu dengan Karina.
“Loh Elsa? Kamu ngapain di sini?” tanya Karina.
“Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kenapa kamu di sini? Ini kan masih jam kantor.”
“Ah, Rey lagi ada urusan di luar jadi aku makan siang sendiri dan memutuskan untuk makan di restaurant yang ada di mall ini sekalian liat-liat.” Ucap Karina.
“Ah begitu..”
“Oh iya, aku dengar tentang kejadian penculikan itu Els, aku turut prihatin ya, apa kamu sudah baik-baik saja sekarang?” tanya Karina.
“Hm, aku sudah baik-baik saja setelah menjalani perawatan.” Jawab Elsa.
“Aku tidak menyangka ternyata Sandy adalah laki-laki seperti itu, semoga kedepannya kamu mendapatkan laki-laki yang baik ya Els.” Ucap Karina.
Mendengar ucapan Karina membuat Elsa menyadari kalau Rey belum memberitahu Elsa dan pastinya dia juga belum memberitahu orang kantor tentang pernikahannya.
“Jadi dia belum tau tentang pernikahanku dan kak Rey.” Batin Elsa.
“Els, sudah yuk kembali ke butik pasti yang lain udah nanyain kita.” Ajak Rania.
“Oh iya kamu benar, kalau begitu aku pergi dulu ya kak Karin..” ucap Elsa dengan senyum manisnya.
Karina hanya tersenyum membalas ucapan Elsa, dan berbalin menatap punggung Elsa dan Rania hingga tidak terlihat lagi.
“Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang baik, selain Rey!” gumam Karina yang langsung berbaik untuk melanjutkan langkahnya.
__ADS_1
Sedangkan Rania dari tadi hanya diam sambil sesekali melirik Elsa hingga membuat Elsa risih di buatnya.
“Ada apa? Pasti ada yang mau kamu tanyakan kepadaku bukan?” tanya Elsa yang menghentikan langkahnya.
“Hm, wanita tadi siapa?” tanya Rania.
“Dia Karina, sekretarisnya kak Rey.”
“Dia tidak tau acara pernikahanmu dengan kak Rey?”
“Dari ucapannya barusan sepertinya dia tidak tau dan aku yakin karyawan kak Rey juga belum ada yang tau tentang hal ini.”
“Kenapa kamu diam saja tadi? Kenapa ga bilang kalau kamu dan kak Rey akan segera menikah!?”
“Terus? Apa gunanya aku ngomong? Wanita sepertinya akan semakin menggila jika mengetahui tentang pernikahan ini, biarkan saja dia terus mempercayai apa yang ingin dia percayai, suatu hari nanti juga dia akan tau tentang pernikahanku.” Ucap Elsa.
“Hm kamu ini! Kalau aku pasti sudah marah dengan kak Rey karena dia tidak mau memberitahu tentang pernikahannya kepada karyawannya.”
“Kenapa harus marah? Aku juga belum memberitahu karyawanku di Paris dan di sini.” Ucap Elsa sambil berjalan mendahuli Rania.
Mendengar hal itu membuat Rania menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya karena tidak mengerti dengan hubungan antara Elsa dan Rey.
***
“Wah, kamu membeli banyak sekali makanan Rey.” Ucap Bernard.
“Hm kak, makanlah! Aku yakin kalian semua pasti sudah kelaparan setelah mengasuh anak-anak kalian.” Ucap Rey.
Kebetulan semua anak-anak bayi sudah tertidur di strollernya masing-masing sehingga semuanya bisa menikmati makanan dengan tenang.
“Alya, Dafa, Dafi ayo kita makan bersama, kalian juga pasti lapar karena sudah lari-larian dari tadi.” ucap Rey.
Dengan semangat, Alya, Dafa dan Dafi berlari menuju meja makan. Saat itu Alya duduk di sebelah Kenan dan Dafi sedangkan Dafa harus duduk di sebelah Dafi karena hanya itu saja kursi makan yang kosong.
“Dafi, ayo kita bertukar tempat! Aku ingin duduk di sebelah kak Alya!” ucap Dafa.
“No! Aku uga mau duduk di belah kak Al!” ucap Dafi yang memang masih belum terlalu lancar berbicara di bandingkan dengan Alya.
“Dafi! Kak Alya punyaku!”
“No! Aku!”
“Stt,, sudahlah jangan ribut, sini Dafa duduk di tempat om Kenan aja ya jangan ribut lagi.”
__ADS_1
“Terus daddy duduk di mana dong?” tanya Alya.
“Daddy duduk di sebelah Dafi aja, jadi mereka berdua tidak akan bertengkar.” Ucap Kenan sambil mengelus rambut panjang Alya.
Alya hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan dirinya duduk di tengah-tengah Dafa dan Dafi.
“Kak Alya, ambilkan itu aku mau itu!” pinta Dafa dengan manja.
Dengan sabar Alya mengambilkan apa yang di inginkan Dafa dan Dafi, namun saat Dafa meminta di ambilkan makanan yang ada di dekat Dafa, Alya menolaknya karena sudah lelah meladeni saudara kembar itu.
“Huh kamu ini kan punya tangan, ambil saja sendiri!” ketus Alya.
“Alya sayang jangan begitu, masa sama adek-adeknya judes gitu.” Ucap Kenan mengingatkan.
“Alya capek daddy, bahkan Alya belum makan apa-apa dari tadi karena ngambilin makanan yang mereka mau!”
“Dafa, Dafi, kalian memangnya tidak bisa mengambil makanan sendiri? Kasihan kak Alya belum makan dari tadi gara-gara kalian berdua!” tegas Roy.
Lalu tiba-tiba saja Dafi menyodorkan piringnya yang berisi banyak sekali makanan yang dari tadi di ambilkan oleh Alya.
“Ini kak Al, makan punya Dafi aja ya.” ucap Dafi degan terbata-bata.
Alya menerima makanan itu dengan senang hati dan tersenyum manis ke arah Dafi, Dafa yang melihatnya langsung menatap dengan tatapan tidak suka dan ikut menyodorkan piring makanan miliknya kepada Alya.
“Nih kak Alya makan punya Dafa aja lebih enak!” ucap Dafa.
“No! Kak Al makan punyaku!” balas Dafi.
Mendengar kedua saudara kembar itu kembali berdebat membuat Alya pusing dan langsung berteriak membuat semua yang ada di sana terkejut.
“Diam!! Kalian berdua ini selalu saja berdebat, aku capek mau tidur aja!” ucap Alya yang langsung meninggalkan meja makan dan berjalan menuju kamarnya.
Dafa dan Dafi saling menatap tajam satu sama lain karena Alya pergi meninggalkan mereka.
“Ini karena kamu!” ucap Dafa.
“No! Ini gala-gala kamu!” balas Dafi.
Melihat tingkah ketiga anak kecil itu membuat Rey tertawa terbahak-bahak.
“Kamu ini kenapa ketawa begitu sih!? Alya marah malah ketawa.” ucap Kenan.
“Lihatlah kak, keponakanku masih sekecil itu tapi sudah menjadi rebutan! Bagaimana kalau dia sudah dewasa nanti!” ucap Rey.
__ADS_1
Mendengar ucapan Rey membuat yang lainnya ikut tertawa kecuali Kenan, dia justru khawatir kalau hal itu malah membuat anak perempuannya itu tidak nyaman kedepannya.