
Rey masih berada di ruangan bayinya, dia mengadzani anak-anaknya satu per satu. Sakit rasanya saat melihat salah satu anaknya berada di dalam inkubator dengan banyak alat yang ada di tubuh mungilnya.
"Kenapa kamu harus mengalami hal seperti ini nak.. Maafkan papa karena sudah membuatmu seperti ini, harusnya papa saja yang sakit seperti ini bukannya kamu." ucap Rey sambil menatap anaknya dari luar inkubator.
"Tuan Rey!" panggil Jef sambil mengetuk kaca ruangan karena saat itu hanya Rey yang boleh masuk ke dalam ruangan bayi.
Awalnya Rey tidak sadar sama sekali karena dia terlalu senang menatap wajah bayinya. Sampai seorang perawat yang ada di sana menghampiri Rey dan mengatakan kalau Jef sedang memanggilnya.
"Jef? Ada apa?" Tanya Rey yang sudah keluar dari ruangan bayi.
"Nyonya Elsa.." Belum saja Jef menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Rey langsung berlari dengan wajah panik tanpa mendengarkan ucapan Jef hingga habis.
"Tuan tunggu!! Aku mau bilang operasi nyonya Elsa sukses!!" teriak Jef namun percuma saja, karena Rey sudah lari secepat kilat.
"Yah,,, padahal aku belum selesai ngomong." gumam Jef sambil menggelengkan kepalanya.
Sarah berjalan mendekati Jef dengan wajah penasaran karena dia hanya mendengar teriakan Jef saja.
"Ada apa Jef?" Tanya Sarah.
__ADS_1
"Aku mau ngasih tau kalo nyonya Elsa sudah selesai operasi, tapi belum selesai ngomong malah kabur duluan dia." jelas Jef.
"Elsa sudah selesai operasi!? Benarkah itu? Ayo kita segera ke sana!" ucap Sarah dengan bersemangat.
"Tunggu!" ucap Jef sambil menahan tangan Sarah.
"Apa lagi Jef?"
"Kalau kita ke sana terus siapa yang menunggu di sini?" Tanya Jef.
"Ada perawat yang menunggu di sini, kita cuma sebentar aja kok." ucap Sarah.
Jef diam sejenak lalu menatap ruangan bayi untuk sementara waktu lalu menyetujui ajakan Sarah.
Di sisi lain Rey yang berlari dengan sekuat tenaga akhirnya sampai di depan ruang operasi dengan nafas yang terengah-engah.
"Wow! Rey kamu ini kenapa buru-buru begitu!?" Tanya Ken.
"Elsa! Gimana Elsa!?" Tanya Rey dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di artikan.
__ADS_1
"Tenanglah Rey! Elsa baik-baik saja.." ucap Hani.
"Hah!? Baik-baik saja? Benarkah?" Tanya Rey.
"Benar Rey, operasinya sukses, dokter Levin sudah mengangkat kanker yang ada di rahim Elsa." jelas Hani.
"Lalu Elsa? Bagaimana keadaannya? Apa dia sudah sadar?" Tanya Rey.
"Sayang, maaf ya.. Elsa mengalami koma dan dokter Levin tidak bisa memprediksi kapan Elsa akan bangun." ucap Hani dengan berat hati.
"Apa!? Lalu bagaimana dengan anak-anak kami ma? Mereka membutuhkan Elsa!" ucap Rey dengan air mata yang sudah membendung.
"Sabar sayang, Elsa pasti akan baik-baik saja.."
Semua orang yang ada di sana sedih melihat Rey yang benar-benar kacau. Mereka hanya bersyukur karena operasi berjalan dengan sukses, tapi mereka tidak memikirkan keadaan anak-anak Elsa jika Elsa belum sadar juga.
"Hikss,, hiksss,.." Rey mulai menangis, hatinya hancur memikirkan istrinya dan juga kedua anaknya.
Rose mendekati Rey dan memeluk tubuh menantunya untuk membuatnya sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Kamu tenang ya Rey, mama akan membantumu untuk mengurus kedua anakmu sayang.. Mama janji kalau anak-anakmu tidak akan merasa kekurangan kasih sayang." ucap Rose.
Rey hanya terdiam sambil menatap mama mertuanya lalu kembali menangis.