ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 119


__ADS_3

Malam hari pun tiba, suasana di rumah Rey malam itu sangat ramai dan juga berisik dengan suara anak-anak. Apa lagi anak Kenan dan Ken juga dating ke rumah itu dan menambah keramaian di dalam rumah tersebut.


Papi Kalandra dan mami Khansa juga datang, keduanya sangat senang bertemu dengan Gilang, Giffari dan Dika sampai keduanya tidak mau melepaskan pelukannya dari ketiga anak laki-laki itu.


“Mama! Kenapa kakek dan nenek ini memelukku terus?” protes Gilang kepada Elsa.


“Gilang, ga boleh begitu!” sahut Giffari.


“Gilang ga sopan ngomong kayak gitu di depan orang tua.” Ucap Elsa.


“Hahaha, kenapa dia mirip sekali dengan Rey kecil?” Tanya Kalandra sambil menertawakan tingkah Gilang.


“Maaf papi, mami.. Gilang memang sedikit menyebalkan.” Elsa meminta maaf kepada Kalandra dan Khansa karena ucapan anaknya itu.


“Tidak apa-apa Elsa, namanya juga anak kecil.. Kamu bisa menasehatinya baik-baik karena anak sepertinya tidak bisa jika di marahi.” Jawab Khansa.


“Karren juga seperti itu, persis sekali! Awalnya mulutnya manis sekali, tapi saat bertemu dia pasti mengerjai orang lain.” Sambung Kalandra.


“Nah! Kalau sampai seperti Karren kamu harus memberi nasehat dengan tegas, karena sikapnya bisa membahayakan orang lain jika di teruskan.” Sahut Khansa.


“Tapi Karren anak yang imut mami, dia tidak mungkin membahayakan orang lain.. Mungkin dia hanya ingin perhatian seperti Elsa dulu.” Ucap Elsa.


“Entahlah, kami saja sampai pusing menasihatinya terus.” Ucap Kalandra.


Elsa hanya tersenyum mendengar ucapan papi Kalandra, lalu menyuruh ketiga anak laki-lakinya untuk bermain di taman dengan saudara-saudara mereka.

__ADS_1


Semakin malam, para keluarga besar semakin berdatangan. Hingga di rasa semua orang sudah berkumpul akhirnya mereka memutuskan untuk memulai acara malam itu.


Sedangkan para anak-anak bermain di halaman yang berada tidak jauh dari para orang tua, sehingga mereka masih bisa memantau anak-anak mereka yang sedang bermain.


Karren melihat Gilang yang sedang termenung melihat para orang tua berbincang-bincang, sedangkan saudaranya yang lain sedang asik bermain.


“Heh kamu! Kenapa kamu tidak bermain?” Tanya Karren kepada Gilang.


Gilang sama sekali tidak menggubris pertanyaan Karren hingga membuatnya kesal, namun Karren berusaha untuk menarik nafas agar tidak marah-marah karena dia sudah berjanji kepada maminya.


“Hei! Kamu ini dengar apa engga sih!? Ga punya kuping ya!?” ketus Karren.


“Namaku bukan heh bukan hei! Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?!” balas gilang dengan ketus.


“Ya manggil orang juga harus yang sopan, aku punya nama!”


“Kamu ini lebih muda dariku, kenapa kamu tidak sopan!?”


“Aku akan sopan sama orang yang punya sopan santun juga!” ketus Gilang yang langsung pergi meninggalkan Karren yang masih kesal di tempatnya.


Mendengar ucapan Gilang membuat Karren kesal hingga mengepalkan kedua tangannya sambil melihat kepergian Gilang.


“Dia benar-benar menyebalkan!” gumam Karren dengan tatapan tajamnya bak lasser.


“Kamu kenapa Karren?” Tanya Alya dari belakang.

__ADS_1


“Aku habis ketemu gunung es kak Al!” ketus Karren yang langsung pergi meninggalkan Alya sendirian.


Alya hanya menatap bingung ke arah Karren yang sudah menjauh dari pandangannya tanpa mengetahui maksud dari saudaranya itu.


“Gunung es? Kita kan di Indonesia, mana ada gunung es?” gumam Alya sambil menggelengkan kepalanya lalu segera pergi berkumpul dengan yang lainnya.


Karren pergi ke pinggir kolam yang ada di rumah itu dengan perasaan yang masih kesal karena ucapan Gilang. Di sana ada Darren yang sedang memberi makan ikan yang ada di dalam kolam.


“Kamu kenapa?”


“Aku kesal!”


“Aku tau, kamu memang selalu kesal setiap hari.” Ucap Darren dengan santainya.


Mendengar ucapan Darren membuat Karren kesal dan langsung menatapnya dengan tajam.


“Lihat kan? Sekarang aja kamu sudah kesal.” Ucap Darren.


“Kamu ini sama saja menyebalkan!”


“Jangan marah-marah, kata mamaku kalau tukang marah nanti cepat tua..”


“Diam kamu! Arrgghh,, kenapa aku di kelilingi sama gunung es!” teriak Karren yang membuat Darren terkeju dan menatap Karren dengan tatapan aneh.


“Apa kamu sudah gila Karren? Aku bisa meminta papaku menelfon rumah sakit.” Ucap Darren yang membua Karren semakin kesal dan langsung meninggalkan Darren tanpa berkata apapun lagi.

__ADS_1


__ADS_2