
"Kamu hamil!" ucap Rania seketika membuat Elsa mematung di tempatnya.
Bukannya terkejut atau senang mendengar prediksi Rania, Elsa justru menaruh punggung tangannya ke kening sahabatnya itu.
"Kamu sehat Kan Ran?" Tanya Elsa.
"Apaan sih Els! Aku sehat lah!" ketus Rania sambil menepis tangan Elsa dari keningnya.
"Terus kenapa ngomong hal yang ga masuk akal kayak gitu?"
"Ga masuk akal gimana sih? Kamu udah punya suami, ya masuk akal lah kalo aku bilang kamu hamil!" ketus Rania.
"Tapi aku sama kak Rey baru menikah belum ada sebulan! Lalu bagaimana caranya aku hamil!?"
"Proses penempelan bakal janin ini disebut juga implantasi. Implantasi akan dimulai dalam waktu 8-10 hari setelah pembuahan! Artinya, prediksi jarak kehamilan setelah berhubungan adalah sekitar 15 hari atau 2 minggu setelah berhubungan suami Istri!" jelas Rania.
Elsa benar-benar terkejut mendengar penjelasan sahabatnya itu.
"Kamu beneran Rania?" Tanya Elsa.
"Ya bener lah! Kenapa?"
"Kenapa sekarang kamu jadi Pinter begini?"
"Kamu yang oon semenjak nikah ga tau apa-apa!" balas Rania.
"Kamu menikah udah hampir 3 minggu! Kamu lupa kalau kamu bulan madu yang tadinya seminggu jadi nambah seminggu lagi?" Tanya Rania.
"Hah? Masasih? Emang aku nambah seminggu ya?"
"Tau ah gelap! Susah emang ngomong sama orang yang lemot!" ketus Rania.
"Udah mending kita berangkat sekarang aja yuk! Kamu juga sekalian cek aja di sana." sambung Rania.
"Aku takut Ran, kamu tau kan kalau mamaku dulu sulit sekali punya anak? Aku takut kalau aku juga begitu, dan saat di tes nanti malah hasilnya mengecewakan." ucap Elsa.
Mendengar sahabatnya berbicara seperti itu membuat Rania menatapnya dengan sedih.
"Kamu tidak boleh bicara seperti itu Elsa! Aku yakin kamu hamil, karena dulu ciri-ciri kehamilanku sama sepertimu! Mungkin ini terlalu cepat untuk di tes, tapi tidak ada salahnya mencoba! Jika hasilnya tidak memuaskan, bulan depan kita bisa tes ulang!" tegas Rania.
"Tapi tetap saja aku takut!"
"Kalo takut, mau sampai kapan Els?"
"Oke oke aku akan coba periksa ya." ucap Elsa.
Mendengar ucapan sahabatnya membuat Rania tersenyum senang dan memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
"Dafa Dafi ga ikut?" Tanya Elsa.
"Mereka ga suka sama adiknya karena perempuan, jadi kita ajanm yuk!"
"Eh! Mereka mau ikut kok Ran.." ucap Elsa yang di balas anggukan oleh Dafa dan Dafi.
"Yakin? Bukannya kalian berdua tidak mau adik perempuan?" Tanya Rania.
"Mau kok ma! Tante Elsa bilang kalo kita harus bersyukur karena kita di percaya untuk menjaga adik!"
Rania menoleh ke arah Elsa yang hanya tersenyum mendengar ucapan anak dari sahabatnya itu.
Akhirnya keduanya segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kandungan Rania yang sudah membesar dan beberapa bulan lagi akan segera melahirkan.
Saat Rania sedang di periksa oleh dokter Obgyn, Elsa ikut masuk ke dalam untuk melihat keadaan anak sahabatnya yang berada di dalam kandungan itu.
Seketika air mata Elsa menetes melihat layar yang menunjukkan seorang bayi mungil sedang berputar di sana.
"YaAllah, apa aku juga akan di percaya mendapatkan bayi kecil seperti itu?" gumam Elsa sambil menghapus air mata yang ada di pipinya.
Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Rania menyuruh dokter yang menanganinya memeriksa keadaan Elsa, Rania juga menceritakan semuanya kepada sang dokter.
"Nyonya Elsa bisa berbaring di sini, karena baru dua minggu setelah pembuahan, kemungkinan alat tes kehamilan tidak bisa mendeteksi janin tersebut, jadi kemungkinan hasilnya akan negatif. Lebih baik langsung saya USG saja." jelas dokter tersebut.
Awalnya Elsa benar-benar takut, namun Rania berhasil membuat Elsa mengiyakan ucapannya.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan kepada Elsa, dia mulai menaruh alat USG di atas perut Elsa dan melihat layar yang ada di sana.
"Jadi maksud dokter, sahabat saya sedang hamil kan dok? Hanya saja kita masih harus melihat perkembangannya?" Tanya Rania memastikan.
Dokter kandung tersebut hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum ke arah keduanya.
Rania segera memeluk tubuh Elsa dengan erat, dia sangat bahagia karena sahabatnya akan menjadi ibu sama sepertinya. Sedangkan Elsa masih mematung karena tidak percaya dengan ucapan dokter tersebut.
"Hamil? Apa aku tidak bermimpi? Aku beneran hamil?" batin Elsa.
"Els, selamat! Aku sangat bahagia karena kabar ini! Mulai saat ini jangan terlalu kelelahan, jangan memikirkan apapun oke?" ucap Rania.
"Ran, apa benar aku hamil? Apa aku tidak bermimpi?" Tanya Elsa.
"Tidak Els! Kamu akan menjadi ibu!!"
"Hikss,, hikss bagaimana ini, aku sangat bahagia hikss.." ucap Elsa yang mulai menangis.
"Jadi kami mau punya adik lagi ya ma?" Tanya Dafa yang menerobos masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
"Dafa? Kenapa kamu masuk?" Tanya Rania.
__ADS_1
"Iya sayang, kalian akan memiliki 2 adik! Dari mama dan tante."
"Semoga saja adik dari tante laki-laki!" sahut Dafi.
Elsa dan Rania tersenyum mendengar ucapan si kembar, mereka berpamitan kepada dokter kandungan tersebut, lalu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah semakin malam.
"Ran, jangan beritahu hal ini kepada kak Rey dulu ya.." ucap Elsa.
"Kenapa Els? Kak Rey akan senang saat mendengar berita ini."
"Tapi aku masih harus memastikan keadaan janin di perutku berkembang dengan baik baru aku bisa memberitahunya." ucap Elsa.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengikuti permintaanmu." ucap Rania.
***
Jef yang sedang berada di apartmentnya sedang menikmati makan malamnya dengan tenang, lalu tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang sangat kencang berkali-kali hingga membuat Jef terkejut mendengarnya.
"Buju buneng! Itu orang apa maling yak ngetok pintu pake otot!" gumam Jef yang berjalan mendekati pintu.
Jef terkejut saat membuka pintu apartmentnya, Jef melihat seorang wanita yang berpenampilan kacau dan rambut yang berantakan dan beberapa luka di tubuhnya.
"S-siapa kamu?" Tanya Jef.
"T-tolong saya tuan!! Ada orang jahat yang ingin membunuhku.." ucap wanita tersebut.
Jef melihat sekelilingnya namun tidak ada orang di sana, tapi Jef juga kasihan dengan wanita itu jadi dia segera memasukkan wanita itu ke dalam apartmentnya.
Tidak lama kemudian ada suara orang berlari, Jef mengintip dari lubang yang ada di pintunya, dia melihat seorang laki-laki sedang memegang gagang sapu dengan wajah penuh emosi.
"Apa dia orang yang menyakitimu?" Tanya Jef.
"I-iya.."
"Tenanglah, kamu aman di sini! Aku tidak akan menanyakan apapun kepadamu, jadi istirahatlah di sini untuk sementara waktu." ucap Jef.
"Duduklah, aku akan menyiapkan kamar untukmu." lanjutnya.
Setelah melihat wanita itu duduk, Jef segera pergi ke kamar kosong yang ada di apartmentnya, dia merapihkan kamar itu agar bisa di tempati.
Tidak lupa Jef juga menyiapkan pakaiannya untuk di berikan kepada wanita itu.
"Pakailah, kamu bisa menggantinya di kamar! Aku sudah membersihkannya." ucap Jef.
"Terimakasih banyak." ucap wanita itu.
Jef langsung berbalik menuju kamarnya.
__ADS_1
"Sarah! Namaku Sarah! Aku tau ini tidak penting untukmu, tapi setidaknya kamu harus mengetahui namaku." ucap wanita tersebut.
"Jef! Aku Jef, sekarang istirahatlah jangan bercerita terlalu banyak karena aku tidak ingin menjadi dekat dengan orang asing!" ucap Jef yang langsung masuk ke dalam kamarnya.