ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 83


__ADS_3

Elsa POV


Aku sering sekali mendengar cerita orang tuaku dan juga keluargaku yang lain kalau mamaku sulit untuk memiliki anak, papa dan mama berjuang mati-matian agar mereka bisa memiliki keturunan.


Saat aku mengetahui kalau ada janin yang bersarang di rahimku, rasanya benar-benar seperti mimpi! Tidak percaya dan bahagia tercampur jadi satu.


Aku bahagia ternyata aku dengan cepat bisa mendapatkan anak, aku kira aku akan menurunkan penyakit mamaku.


Namun ada hal yang lebih parah di bandingkan sulit memiliki anak, yaitu saat janin di rahimku mulai tumbuh, ada kanker yang ikut tumbuh di dalam sana. Hatiku hancur berkeping-keping mengetahui hal itu.


Rasanya hancur saat mengingat betapa bahagianya suamiku saat mengetahui hal ini. Jika tau akhirnya seperti ini mungkin aku tidak akan pernah memberitahu suamiku.


"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin melepaskan anak ini karena aku sudah sangat mencintainya."


Aku bisa memiliki anak lagi setelah operasi nanti? Mungkin benar! Tapi kemungkinan aku tidak bisa memiliki anak lagi juga hampir setengahnya.


Dan aku memilih untuk tidak melepaskan anak ini sampai kapanpun, walaupun aku harus bertaruh nyawa aku akan tetap menyelamatkan anakku!


Rey POV


Rasanya sangat bahagia saat Elsa mengatakan kalau kami akan memiliki bayi yang menggemaskan. Awalnya aku tidak berharap banyak, terlebih saat mengetahui kalau Elsa ada di dunia ini juga karena usaha kedua orang tuanya yang sangat besar.


Elsa juga pernah berkata sebelum kami menikah.. "Mamaku pernah di vonis sulit untuk memiliki anak, dan kemungkinan akupun akan sulit memiliki anak."


Namun setelah mendengar hal itu aku tidak pernah goyah, aku memang ingin menikahi Elsa walaupun awalnya bukan dasar cinta.


Menurutku anak adalah titipan, jika memang kami belum di percaya untuk memilikinya maka kami akan berusaha dengan lebih maksimal lagi.


Namun kebahagiaanku hanya sementara, Elsa memiliki kanker di rahimnya. Tentu saja aku sangat ingin menyelamatkan keduanya, namun jika harus memilih mungkin aku akan memilih menyelamatkan istriku.


Wanita yang baru saja aku nikahi, wanita baik yang baru saja membuatku jatuh hati padanya. Aku sangat mencintainya, mungkin rasa cintaku padanya lebih besar daripada rasa ingin memiliki keturunan.


Tapi bagaimana? Elsa sangat mencintai anak ini, dia sangat bersikeras untuk menyelamatkan anak ini. Aku benar-benar buntu, aku sudah tidak bisa berfikir dan memilih siapapun! Aku hanya ingin keduanya selamat bagaimanapun caranya.


*


*


*


"Els! Sayang, bangunlah aku mohon..." ucap Rey sambil menggenggam tangan istrinya yang sedang berbaring di atas tempat tidur pasien.


"Tenanglah tuan, saya sudah memberinya suntikan untuk menenangkannya.. Nyonya Elsa butuh beristirahat sedikit lebih lama." jelas dokter tersebut.

__ADS_1


"Dok, apa kita tidak bisa menyelamatkan keduanya? Apapun caranya aku akan lakukan, berapapun biayanya akan aku bayar!" ucap Rey.


"Tuan, ini bukan masalah biaya.. Nyonya Elsa bisa saja selamat, tapi ini benar-benar menyiksanya, nyonya Elsa akan semakin lemah dan kurus."


"Anda harus benar-benar memperhatikan nyonya Elsa, jangan sampai dia stress dan kelelahan.. Jika nyonya Elsa bekerja maka usahakan untuk istirahat lebih dulu." lanjut dokter tersebut.


"Tapi Elsa sangat mencintai pekerjaannya dok, pasti sulit untuk menyuruhnya beristirahat."


"Pasti dia mau tuan, apapun selama itu bisa menyelamatkan anaknya pasti nyonya Elsa akan bersedia." tegas dokter tersebut.


"Baiklah dok, saya akan coba bicara dengan Elsa nanti." ucap Rey.


"Kalau begitu saya tinggal dulu tuan, saya mau menyiapkan beberapa hal untuk pemeriksaan nyonya Elsa lebih lanjut." pamit dokter tersebut yang di balas anggukan oleh Rey.


Rey menatap lekat wajah cantik sang istri dan membelainya dengan lembut sambil meneteskan air mata.


Untuk pertama kalinya Rey meneteskan air matanya. Hatinya sama hancurnya saat mendengar kabar tidak menyenangkan itu, terutama saat melihat istrinya yang pucat dan tidak berdaya.


Sedangkan Jef yang tidak tau apapun hanya menunggu di dalam mobil sambil sesekali melihat ke arah jam tangannya.


"Kenapa lama sekali? Apa periksa kandungan memang selama ini?" gumam Jef.


Setelah menunggu beberapa menit lebih lama lagi, akhirnya Jef memutuskan untuk masuk ke dalam karena takut terjadi sesuatu di dalam.


"Oh, anda bisa langsung naik lift ke lantai 3 tuan." ucap suster tersebut.


"Terimakasih." ucap Jef yang langsung melanjutkan jalannya menuju lift.


Sesampainya di lantai 3, Jef melihat Rey yang sedang duduk di depan ruangan sambil menundukkan kepalanya. Dengan segera Jef menghampirinya dan duduk di sebelah atasannya itu.


"Tuan? Apa ada sesuatu?" Tanya Jef.


Rey yang mendengar suara Jef langsung menoleh ke arahnya dan seketika air mata Rey kembali membasahi pipinya.


"Jef, bagaimana ini? Elsa, dia memiliki kanker di rahimnya.." ucap Rey dengan nada yang lemah.


Jef terkejut, baru saja di dalam mobil tadi dia melihat senyum ceria di wajah Rey dan Elsa, namun seketika senyuman itu berubah menjadi air mata.


"Tuan, saya turut prihatin dengan kabar duka ini... Apa yang harus saya lakukan tuan? Apa anda ingin saya mencari dokter terbaik untuk menangani nyonya?" Tanya Jef.


"Pertama aku ingin mengatakan hal ini kepada orang tua kami dulu Jef, terutama orang tua Elsa, aku tidak mungkin membawa Elsa berobat tiba-tiba tanpa meminta ijin kepada orang tua kami." jelas Rey.


"Masalah dokter terbaik tuan tenang saja, saya akan mencari kemanapun dokter itu, saat orang tua tuan dan nyonya sudah setuju maka kita tinggal berangkat." ucap Jef yang di balas anggukan oleh Rey.

__ADS_1


"Terimakasih Jef! Kamu memang yang terbaik!" ucap Rey.


Jef hanya tersenyum mendengar ucapan atasannya itu, lalu tiba-tiba perawat wanita keluar dari ruangan Elsa dan mengatakan kalau Elsa sudah sadar.


Dengan segera Rey berdiri dari tempat duduknya dan masuk ke dalam ruangan sambil menghapus air matanya.


"Sayang... Istriku sayang.." ucap Rey sambil menggenggam tangan Elsa dengan erat.


Elsa tidak menjawab panggilan suaminya, dia justru memalingkan wajahnya.


"Kenapa kamu memalingkan wajahmu sayang?" Tanya Rey.


Tidak lama kemudian, Elsa melihat Jef masuk ke dalam ruangannya.


"Jef, tolong bilang pada atasanmu kalau aku tidak mau bicara dengan seseorang yang ingin membunuh anakku!" ketus Elsa.


Rey dan Jef terkejut mendengar ucapan Elsa, apa maksudnya membunuh? batin Jef yang tidak tau apapun.


"Sayang maafkan aku, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku tidak ingin membunuh anak kita sayang.." ucap Rey.


"Kamu mau membunuhnya kak! Kamu mau membunuhnya hanya untuk menyelamatkan aku!" ketus Elsa.


"Sayang, maaf! Saat itu aku hanya mementingkan egoku, dan aku tidak akan melakukannya lagi." ucap Rey yang tidak di jawab oleh Elsa.


"Aku akan berjuang bersamamu, mempertahankan anak kita sayang! Aku akan berusaha untuk mencari dokter terbaik agar kalian berdua bisa selamat." ucap Rey.


Mendengar hal itu membuat Elsa langsung menoleh ke arah Rey dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Beneran? Kamu beneran akan mempertahankan anak kita?" Tanya Elsa.


"Bener sayang, jadi jangan marah lagi ya... Dan kamu harus benar-benar banyak istirahat, kalau bisa jangan bekerja selama kamu hamil." ucap Rey.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan?"


"Aku akan meminta papa dan abang untuk menangani perusahaanmu, sedangkan perusahaanku akan aku titipkan kepada Ken dan papaku." jelas Rey.


"Kenapa kamu juga harus menitipkan perusahaanmu? Aku di rumah sendiri juga ga apa-apa sayang.." ucap Elsa.


"Aku akan membawamu berobat di luar negeri sayang, Jef akan mencarikan dokter terbaik untuk menangani kamu." jelas Rey.


"Berarti papa dan mama akan mengetahui keadaanku?" Tanya Elsa yang di balas anggukan oleh Rey.


"Tidak! Mereka tidak boleh tau,, mereka akan menyuruhku untuk melepaskan anak ini kalau mereka tau!" ucap Elsa dengan wajah paniknya.

__ADS_1


__ADS_2