
Setelah Elsa di nyatakan koma, Rey memutuskan untuk menetap di negara itu bersama kedua anaknya dan juga Jef dan Sarah yang tetap bersama mereka.
Hari ini Rey sudah berada di rumah sakit untuk melihat istrinya.
"Hai, selamat pagi istriku sayang..." sapa Rey dengan senyum lebar menghampiri istrinya.
Rey menaruh bucket bunga mawar merah yang sangat besar di sebelah tempat tidur Elsa. Rey menatap dalam ke wajah istrinya sambil membelai rambutnya yang lembut.
"Sayang, apa kamu masih tidak mau bangun? Sudah sebulan kamu tertidur, emang ga capek? Anak-anak kita juga sudah mulai mengerti tentang keadaan di sekitarnya." ucap Rey yang mencoba untuk menahan tangisnya.
"Sayang, aku sudah memberi nama kepada anak-anak kita."
"Anak pertama kita aku kasih nama Gilang Baskara dan Giffari Baskara, Gilang artinya laki-laki yang teguh sedangkan Giffari adalah pengampun dan lembut hatinya, sedangkan Baskara adalah pemberi cahaya, karena mereka berdua adalah pemberi cahaya untuk kita agar tetap bertahan sampai hari ini." ucap Rey yang mulai meneteskan air matanya.
"Giffari memang tidak sama dengan anak lainnya, saat Gilang sudah di ijinkan pulang, Giffari masih harus di pantau sampai seminggu baru dia di ijinkan untuk pulang." jelas Rey.
__ADS_1
"Giffari tidak boleh kelelahan karena jantungnya lemah, tapi aku yakin kalau nanti Gilang akan menjaga adiknya dengan baik."
"Kamu ga mau melihat anak-anak kita tumbuh? Mereka akan tumbuh menjadi laki-laki yang tampan sama sepertiku! Jika kamu tidak mau kalah saing denganku, maka cepatlah bangun dan buat mereka lebih menyayangimu dari pada aku."
Rey terus saja menceritakan semua kejadian yang dia alami dan anak-anaknya alami, setiap hari Rey pasti datang untuk menjenguk istrinya sampai semua karyawan rumah sakit mengenal Rey dengan baik.
"Oh iya sayang, Jef dan Sarah akan segera menikah, mereka juga akan menjadi orang tua Gilang dan Giffari, ini adalah keinginan kamu kan menjodohkan mereka? Ayo bangun sayang, kamu harus menjadi orang yang paling bahagia di acara pernikahan mereka!"
Rey tidak pernah lelah berbicara dengan istrinya yang masih tidak sadarkan diri, tapi dia tau kalau istrinya sebenarnya masih bisa mendengarnya.
Tanpa sadar Elsa yang sedang tidak sadarkan diri itu tiba-tiba ikut meneteskan air mata, namun Rey tidak melihatnya karena dia sudah berjalan keluar dari ruangan Elsa.
Drrtt,, drrtt.. Telfon Rey berdering dan dilihatnya orang yang menghubunginya, dengan segera Rey mengangkat telfonnya.
"Halo mama Rose, ada apa?" Tanya Rey.
__ADS_1
"Hai sayang, bagaimana keadaanmu?" Tanya Rose.
"Baik ma, ini Rey habis menjenguk Elsa."
"Bagaimana keadaan Elsa? Apa sudah ada perkembangan?"
"Belum ma, dia masih tidak sadarkan diri.." ucap Rey dengan nada sedihnya.
"Sabar ya Rey, kami semua di sini selalu mendoakan yang terbaik untuk Elsa.. Mama memang hancur melihat anak mama seperti itu, tapi mama yakin kalau kamu dan anak-anakmu lebih hancur melihat Elsa seperti ini." ucap Rose.
"Terimakasih ma,, Rey selalu sabar menunggu Elsa bisa berdebat lagi sama Rey."
"Bagaimana keadaan Gilang dan Giffari? Kenapa kamu tidak mengijinkan mama membawa mereka? Jika mereka mama bawa, kamu bisa lebih memperhatikan Elsa dan kesehatanmu."
"Justru karena Gilang dan Giffari lah Rey masih bisa bertahan ma, kalau mereka jauh dari Rey, mungkin Rey sudah tidak punya harapan lagi."
__ADS_1
Sulit, memang sulit rasanya berada di situasi seperti itu bagi Rose. Rose ingin sekali menyuruh Rey mencari seseorang yang bisa menjaganya dan juga anak-anaknya, namun hati rasanya berat harus menyuruh menantunya mencari wanita lain di saat anak satu-satunya sedang terbaring di rumah sakit.