
“Mama,, maafkan Giffa karena sudah mengatakan hal yang tidak baik..” ucap Giffari dengan wajah memelas.
“Apa kamu mengerti di mana kesalahanmu?” tanya Elsa.
Giffari hanya menganggukkan kepalanya dan memeluk tubuh Elsa yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
“Giffa, kamu, Gilang, dan Dika adalah harta yang paling berharga buat mama dan papa.. Kami tidak bisa hidup tanpa kalian, lalu bagaimana bisa kamu mengatakan kalau kamu ingin mati? Kamu sehat seperti ini saja mama sudah sangat bersyukur.” Ucap Elsa.
“Iya mama,, Giffa sudah salah.”
“Brugg!! Mama!” Teriak Gilang yang berlari sampai menabrak pintu kamar Elsa.
“Yaampun Gilang, bisa ga pelan-pelan aja jangan lari begitu..” ucap Elsa.
“Hikss,, mama maafkan Gilang kalau selama ini Gilang selalu nakal.. Gilang juga akan memarahi Giffa kalau dia ngomong kayak tadi lagi..” ucap Gilang yang sudah menangis tersedu-sedu.
Bukannya kasihan, Giffari dan Elsa justru menahan tawa saat melihat Gilang menangis untuk pertama kalinya.
“Kamu menangis bang?” tanya Giffari.
“Tidak! Aku hanya kelilipan saja habis berlari!” ketus Gilang sambil menghapus air matanya.
“Sudah-sudah,, ayo kita turun nanti kalian berdua terlambat ke sekolah.” Ucap Elsa.
Akhirnya, Elsa dan kedua anaknya turun ke bawah menghampiri Rey dan Dika yang ada di ruang tamu.
“Bagaimana? Sudah menyesal?” tanya Rey kepada kedua anaknya.
“Udah dong, kami udah baikan sama mama pa..” ucap Giffari.
“Mulai sekarang, kita harus jadi anak yang baik dan bisa membanggakan papa dan mama, oke?” ucap Dika kepada kedua adiknya.
Gilang dan Giffari mengangguk sambil tersenyum mengiyakan ucapan Dika.
“Mama, terimakasih karena sudah merawat Dika dari kecil.. Walaupun Dika bukan anak kandung mama, tapi mama ga pernah bedain Dika. Dika sayang mama..” ucap Dika yang membuat Elsa benar-benar terkejut mendengarnya.
“Kenapa kamu ngomong kayak gitu sayang? Kamu akan selalu jadi bagian keluarga ini, kamu juga akan selalu menjadi kakak terbaik untuk Gilang dan Giffari.” Ucap Elsa lalu mencium kening Dika dengan lembut.
“Udah jangan sedih-sedihan lagi, sekarang ayo kita berangkat semua nanti terlambat..” ajak Rey.
Rey dan Elsa harus berangkat bekerja, sedangkan ketiga anaknya harus pergi ke sekolah barunya. Rey dan Elsa selalu meluangkan waktu untuk keluarganya walaupun mereka sibuk bekerja.
__ADS_1
“Sayang, kamu berangkat ke kantor dulu aja, aku masih harus mengantar anak-anak menemui guru mereka dan aku juga harus tau di mana kelas mereka.” Ucap Elsa.
“Loh, terus kamu gimana sayang?” tanya Rey.
“Aku bisa naik taxi online nanti, aku juga udah bilang kak Nala untuk mengatur jadwalku.” Ucap Elsa.
“Baiklah kalau begitu, anak-anak jangan nakal, dengerin semua omongan guru kalian oke?” ucap Rey kepada ketiga anaknya.
“Siap papa!” seru ketiganya.
Setelah berpamitan, Rey segera melajukan mobilnya menuju perusahaannya dan meninggalkan istri dan anak-anaknya.
“Ayo masuk!” ajak Elsa sambil menggandeng Giffari.
Sedangkan Dika dan Gilang berjalan di depan Elsa dan Giffari sambil menoleh ke kanan dan ke kiri melihat suasana sekolahnya.
“Sekolah ini besar sekali.” Ucap Dika kepada Gilang.
“Hm,, pasti papa dan mama sudah menghabiskan uang banyak agar kita masuk ke sini.” Ucap Gilang.
“Kita harus menjadi anak yang paling pintar di sekolah ini dan membuat papa dan mama bangga!” seru Dika.
“Apa?! Gilang, kita ini masih SD. Di sini tidak ada pelajaran untuk menjadi hacker!”
“Kalau begitu, aku akan memakai komputer di perpustakaan saat jam istirahat.”
Dika hanya bisa menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan adiknya itu.
Ketiga anak Rey dan Elsa memang benar-benar memiliki IQ dan EQ yang sangat tinggi, mereka memiliki kemampuannya masing-masing. Dika sangat mahir membuat penelitian zat-zat racun atau ramuan yang bisa menyembuhkan penyakit seseorang layaknya professor.
Gilang memiliki kemampuan berbicara menggunakan hampir semua bahasa asing yang ada di dunia, Gilang juga sangat mahir menggunakan computer dan bercita-cita untuk menjadi hacker terhebat di dunia.
Sedangkan Giffari memiliki kemampuan berhitung yang sangat hebat, Giffari selalu paling terdepan jika mengerjakan soal matematika.
Rey dan Elsa sangat bersyukur mendapat anak-anak yang sangat cerdas, namun mereka juga khawatir jika ada orang jahat yang mengetahui tentang kemampuan anak-anaknya dan mereka akan melakukan hal jahat kepada anak-anaknya itu.
“Mama, di sini ruang gurunya.” Ucap Gilang kepada Elsa.
“Iya sayang, ayo kita masuk.” Ajak Elsa.
Mereka berempat masuk ke dalam ruang guru dan menemui wali kelas anak-anaknya.
__ADS_1
“Anda tidak perlu mengantar anak-anak anda sendiri nyonya.” Ucap guru tersebut.
“Tidak apa bu, saya juga mau mengatakan sesuatu kepada anda.” Ucap Elsa.
“Oh, duduklah nyonya.. Ada apa?”
“Saya mau jika anak-anak saya berada di kelas yang terpisah.” Ucap Elsa.
Ketiga anaknya terkejut mendengar ucapan mamanya, selama ini mereka tidak pernah terpisah jadi bagaimana bisa mereka terpisah begitu.
“Kenapa ma? Kenapa harus terpisah?” tanya Dika kepada Elsa.
“Karena mama yakin kalau kalian berada di kelas yang sama, kalian tidak akan bersosialisasi dengan teman-teman yang lain, kalian akan bermain bertiga tanpa memperdulikan teman yang lain.” Jelas Elsa.
“Jadi mama melakukan ini untuk kebaikan kalian, mama ga mau kalian bertiga terlalu bergantung satu sama lain karena itu tidak baik.” Lanjutnya.
Mendengar penjelasan mamanya membuat ketiga anak laki-laki itu terdiam dan menundukkan kepalanya.
“Baiklah kalau itu keinginan anda, saya akan segera memisahkan kelas mereka nyonya.” Ucap guru tersebut.
“Terimakasih bu.” Ucap Elsa.
Elsa segera mengajak ketiga anaknya keluar dari ruang guru untuk berbicara dengan mereka.
“Sayang,, kalian bertiga tau kalau mama sangat menyayangi kalian, mama melakukan ini untuk kebaikan kalian.. Kalian bisa mengerti kan?” ucap Elsa kepada ketiga anaknya.
“Hm,, mama pasti melakukan yang terbaik untuk kita.” Ucap Giffari.
“Baiklah, kami akan menuruti ucapan mama.” Sambung Dika.
Elsa senang karena dua anaknya sudah menyetujui dan menerima keputusannya, kecuali Gilang yang masih diam sambil menundukkan kepalanya.
Elsa memegang dagu Gilang dan menyuruhnya untuk menatap wajahnya.
“Gilang sayang,, kamu ga setuju sama keputusan mama?” tanya Elsa dengan lembut.
“Kalau kak Dika dan Giffa setuju ya mau bagaimana lagi.” Ucap Gilang yang membuat Elsa tersenyum mendengarnya.
“Baiklah karena semuanya sudah setuju, mama tinggal dulu ya.. Kalian bertiga harus menuruti ucapan guru kalian, jangan terlalu menyepelekan pelajaran kalian oke?” ucap Elsa yang di balas anggukan oleh ketiganya.
Setelah berpamitan kepada anak-anaknya, Elsa segera menitipkan anak-anaknya kepada guru wali kelasnya masing-masing lalu Elsa segera memesan taxi online dan berangkat menuju perusahaannya.
__ADS_1