ELSA'S LOVE STORY

ELSA'S LOVE STORY
BAB 7


__ADS_3

Paginya, seperti biasa Elsa pergi ke sekolah bersama papanya, dia pergi sekolah dengan wajah yang ceria seperti biasanya.


Ada banyak sekali laki-laki yang menyapanya dan tentu saja Elsa membalas sapaan mereka.


“Hai Ran!” sapa Elsa kepada sahabatnya itu yang sudah berada di dalam kelas.


“Hai Els! Duduklah, aku memiliki informasi penting.” Ucap Rania.


Akhirnya Elsa segera duduk di sebelah Rania dan melebarkan telinganya untuk mendengarkan cerita yang akan di beritahu sahabatnya itu.


“Ada apa?” tanya Elsa.


“Kamu tau? Hari ini ada pertandingan basket, sekolah kita melawan sekolah lain.” Ucap Rania.


“Lalu? Hanya itu saja?”


“Ih kamu ini! Kan enak kita bisa cuci mata Els!”


“Kalau bukan kak Rey aku tidak mau lihat!”


“Aku dengar tim sekolah kita ada yang bernama Rey loh, siapa tau Rey itu adalah Rey yang kamu maksud.” Bisik Rania.


Mendengar ucapan Rania membuat kedua mata Elsa terbuka lebar-lebar dan berdiri sambil menggebrak meja hingga membuat Rania terkejut.


“Ayo kita ke lapangan basket sekarang!” ucap Elsa.


“Gila! Sekarang jam berapa, kelas aja belum mulai!”


“Lalu kapan mereka main?” tanya Elsa dengan wajah memelas.


“Nanti, saat jam istirahat semua kelas di bubarkan untuk mendukung sekolah kita.” Jelas Rania.


“Ah, aku jadi tidak sabar untuk melihat ayang bebebku main basket, pasti dia bakalan ganteng banget.” Ucap Elsa sambil menyatukan kedua tangannya dan memejamkan kedua matanya.


“Apaan sih Els, duduk malu di liatin yang lain tau!” ucap Rania sambil menarik-narik tangan sahabatnya itu.


Betul saja, tidak lama kemudian ada guru yang masuk ke dalam kelas hingga membuat Elsa terkejut dan langsung duduk di tempatnya.


Dia dengan semangat langsung membuka buku pelajarannya, dan dengan semangat dia mengikuti pelajaran itu.


Rania tersenyum senang saat melihat Elsa yang semangat mengikuti pelajaran karena ingin cepat melihat pujaan hatinya.


“Ternyata cinta bisa membuat orang lain jadi semangat belajar ya,,,, dan gila.” gumam Rania.


Jam istirahat pun tiba, dengan semangat Elsa terus-terusan mendesak Rania untuk cepat merapihkan buku-bukunya.


“sudahlah tidak usah di rapihkan, biarkan saja bukumu di meja.” Ucap Elsa sambil menarik tangan Rania.

__ADS_1


“Kamu ini bisa diam tidak? Bagaimana aku bisa cepat kalau kamu saja menarik-narik tanganku seperit ini!” ketus Rania sambil melepaskan tangannya dari genggaman Elsa.


“Maaf, aku sudah tidak sabar melihat kak Rey.” Ucap Elsa dengan wajah yang memelas.


“Huh, baiklah ayo kita ke lapangan basket!” ajak Rania dengan pasrah.


Dengan senang hati Elsa segera menggandeng Rania dan mengikutinya pergi ke lapangan basket.


Sesampainya di sana, Elsa seketika langsung lemas karena tidak mendapatkan tempat duduk yang bisa melihat Rey dari dekat.


“Yah.. bagaimana ini Ran, aku tidak bisa melihat Rey dari dekat.” Ucap Elsa dengan bersedih hati.


Lalu tiba-tiba saja Ken dan Key datang menghampiri Elsa.


“Kamu ingin menonton juga bukan? Aku sudah menyiapkan kursi untukmu!” ucap Key dengan datar.


“Kak Key, benarkah kak? Tapi aku juga membawa temanku kak.”


“Aku juga sudah menyiapkan satu tempat untuk temanmu.” Sambung Ken.


Mendengar hal itu, dengan semangat Elsa segera mengangguk dan menarik Rania untuk mengikuti kedua kakaknya itu.


Akhirnya Elsa senang sekali saat dia mendapat tempat duduk di paling depan, dia merasa sangat beruntung hari itu karena bisa melihat Rey dari dekat.


Elsa duduk di antara Rania yang berada di pinggir dan Ken, sedangkan Key duduk di sebelah Ken dengan wajah datarnya itu membuat siapapun yang menatapnya akan merasa ketakutan.


“Stt,, dia itu sebenarnya baik hanya saja sifatnya memang begitu.” Balas Elsa.


Rania hanya menganggukkan kepalanya mengerti dengan ucapan Elsa, sedangkan Elsa menoleh ke arah Ken yang berada di sebelahnya.


“Kak Ken, apa kakak tidak ikut bermain basket juga?” tanya Elsa.


“Tidak, aku tidak terlalu menyukai basket, aku hanya bermain futsal sama seperti abang Kenan.” jelas Ken yang di balas anggukan oleh Elsa.


Elsa menoleh ke kanan dan ke kiri, dia mencari keberadaan Rey yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya.


“Kemana kak Rey, kenapa dia tidak terlihat?” gumam Elsa di dalam hatinya.


Baru saja Elsa memikirkan hal itu, seketika tim basket sekolahnya memasuki lapangan. Di sana terlihat Rey yang sangat tampan dengan bola basket di tangannya.



“Yaampun, kenapa dia harus setampan itu..” gumam Elsa.


Rania yang melihat sahabatnya seperti singa kelaparan itu hanya bisa menggelengkan kepala, dan tersenyum.


“Segitu sukanya kamu sama kak Reymu itu?” bisik Rania.

__ADS_1


“Tentu saja! Aku sangat menyukainya, dia itu adalah pahlawan tampanku!”


“Lihatlah, ada banyak laki-laki yang lebih tampan dari kak Reymu itu.”


“Tidak! Aku tidak bisa melihat laki-laki lain selain kak Rey!”


Rania hanya diam tidak mengatakan apapun lagi, dia juga tidak mau berdebat dengan Elsa yang sudah cinta mati kepada Rey.


Permainan pun di mulai, Rey bermain dengan bagus karena memang Rey adalah salah satu anggota tim yang paling baik dan bisa di andalkan.


Elsa terus memperhatikan Rey tanpa berpaling sedikitpun, bahkan saat Rey tersenggol dan hampir jatuh pun dia hampir berdiri dan berteriak karena terlalu khawatir dengan keadaan Rey.


Hingga permainan pun selesai, tim sekolah Elsa memenangkan pertandingan, Elsa melihat kebahagiaan di wajah Rey yang membuatnya ikut bahagia.


“Tampan sekali! Andai tawa itu untukku, mungkin aku akan pingsan di hadapannya.” Gumam Elsa.


Elsa ingin sekali memberikan minuman dan handuk kecil untuk Rey, namun saat Elsa sudah setengah berdiri dia terkejut saat Rey melihat ke arahnya sambil tersenyum hingga membuat Elsa kembali duduk di bangkunya dengan harapan yang sangat besar.


“Ran, bagaimana ini kak Rey berjalan ke arahku.” Bisik Elsa kepada Rania.


Mendengar ucapan Elsa membuat Rania melihat ke arah Rey dan benar saja, Rey berjalan ke arah mereka.


“Wah iya kamu benar! Dia berjalan kemari! Jangan-jangan dia ingin menghampiri kamu Els, apa kita perlu bertukar tempat duduk?” tanya Rania.


“Tidak! Jangan, biar kamu di situ saja aku takut terlalu kepedean.”


Rey terus berjalan hingga akhirnya dia menaiki tangga tempat duduk penonton, namun betapa terkejutnya Elsa saat melihat Rey yang melewati kursi barisannya dan malah berhenti di kursi barisan kedua dari kursi Elsa.


“Nala, sebenernya aku udah lama suka sama kamu tapi aku belum berani ngungkapin perasaan aku, dan sekarang aku sudah memantapkan hatiku untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu.” Ucap Rey.


Elsa berusaha untuk tidak melihat ke belakang, tapi dia masih bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh Rey, hatinya sakit dan tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


“Aku menyukaimu, apa kamu mau menjadi pacarku?” tanya Rey seketika hingga membuat jantung Elsa berdegup kencang.


Rania yang mengetahui hal itu langsung menggenggam tangan Elsa dengan erat, dia berusaha untuk menguatkan sahabatnya agar tetap kuat.


“Els, jangan sampai menangis di sini.” Bisik Rania.


“Sakit sekali Ran, rasanya aku tidak bisa bernafa.” Balas Elsa.


Dan yang semakin membuat Elsa sakit adalah saat wanita tersebut juga menerima perasaan Rey dan akhirnya mereka berdua berpacaran.


“Bagaimana bisa laki-laki sedingin kak Rey bisa seromantis itu.” Batin Elsa di dalam hatinya.


Elsa sudah tidak bisa menahan lagi, dia ingin sekali menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, akhirnya Elsa berdiri dan meninggalkan tempat itu dengan sedikit berlari hingga membuat Rania mengikutinya.


Sedangkan di sisi lain, Rey yang melihat kepergian Elsa hanya bisa tersenyum sinis karena dia berhasil membuat Elsa menyadari tempatnya.

__ADS_1


__ADS_2